
"Jangan bilang jika Bee ikut-ikutan menyuruh Kak Brian untuk putus sama Anne!" sela Nala yang mulai bisa menebak gerak-gerik suaminya yang begitu aneh dan mencurigakan.
Lean mengangguk, membuat Nala melongo tak mengerti. Nala langsung melempar bantal yang ada di dekatnya ke arah Lean sebagai ungkapan kekesalannya.
" Esh ... Au, "rintih Nala ketika jahitan di perutnya terasa sakit akibat terlalu keras bergerak. Melihat Nala yang merintih, membuat Lean cemas dan segera menghampiri istrinya.
" Kamu kenapa, Bee? " cemas Lean sembari membantu mengusap perut Nala.
" Gak usah pegang-pegang!" bentak Nala yang masih merasa kesal dengan suaminya. Apalagi mengingat bagaimana terpukulnya Anne ketika di campakkan oleh Brian, membuat Nala semakin kesal pada suaminya yang ternyata adalah dalang di balik ini semua.
" Bee, maaf. Tapi aku melakukan ini semua juga demi kebaikan Anne. Lagian, yang tidak setuju dengan hubungan mereka juga bukan hanya aku, tapi Papa juga." Lean mencoba membela diri.
Kini, wajah Nala benar-benar terlihat sangat marah.
" Demi kebaikan Anne?" ulang Nala." Coba Bee jelaskan padaku apa yang di maksud dengan untuk kebaikan Anne? "
Lean terdiam, dia seakan bingung harus mengatakannya atau tidak pada Nala. Tapi, Lean melakukan ini semua lantaran tak ingin melihat Anne sedih dan khawatir jika mengetahuinya. Lean tahu betul bagaimana sifat adik bungsunya itu, dia tak akan menyerah atau pergi begitu saja jika mengetahui apa yang sebenarnya terjadi.
Beberapa hari yang lalu, di saat Brian dan Anne sama-sama sedang menata hati. Tanpa sengaja Lean berpapasan dengan Brian di rumah sakit.
" Mas, dokumen anda jatuh," panggil Lean saat menemukan sebuah dokumen hasil pemeriksaan yang di jatuhkan oleh seorang pasien. Di saat pria itu berbalik, betapa terkejutnya Lean ketika mengetahui siapa pria itu.
" Bri ...," lirih Lean saat mengetahui jika pria itu adalah Brian. Saat melihat raut wajah Brian yang terlihat begitu kacau, membuat Lean sedikit penasaran. Apa yanb telah terjadi padanya? Lean pun akhirnya beralih menatap dokumen coklat yang ia bawa.
Melihat Lean yang menemukan dokumen hasil pemeriksaannya, membuat Brian ingin merampas dokumen itu kembali. Namun, Lean justru tak memberikannya.
" Stop! Kamu diam di situ!" titah Lean dengan wajah serius seakan tak mau di bantah.
" Tapi, Kak ..." Brian masih berusaha untuk mengambil hasil pemeriksaannya karena ia tak mau Lean mengetahuinya. Padahal, Brian sudah berusaha untuk tidak melakukan pemeriksaan di rumah sakit tempat Lean bekerja, tapi entah kenapa dia masih saja bertemu dengan pria itu.
"Bri ..."
Akhirnya, Brian pun hanya bisa pasrah, mengingat siapa Lean yang pastinya akan mudah untuk mendapatkan hasil pemeriksaannya.
"Hasil pemeriksaan Multislice computed tomography (MSCT) ," gumam Lean yang langsung membuka isi di dalam map itu.
Seusai membaca hasil pemeriksaan Brian, raut wajah Lean berubah datar. Apa yang ia takutkan, akhirnya datang juga.
" Apa Anne tahu soal ini? "
__ADS_1
Brian menggeleng.
" Kalau begitu, jangan kasih tau dia!"
Brian hanya diam saja karena dia juga sudah berniat untuk merahasiakan hal ini.
Setelahnya, Lean mengembalikan hasil MSCT Brian. Lalu, segera pergi meninggalkan pria itu.
" Kak, "panggil Brian.
Lean menghentikan langkahnya, tanpa berbalik menghadap ke arah Brian.
" Bisa kita bicara? " tanya Brian.
" Soal apa? "Lean kembali bertanya dengan nada dingin. Orang yang biasanya suka bercanda, dan jahil saat bersama keluarga kini terlihat begitu serius layaknya Dokter Leanne yang terkenal tegas dan di siplin ketika berada di rumah sakit.
" Ada sesuatu yang ingin aku bicarakan. Tapi ... tidak di sini," papar Brian yang tak merasa nyaman jika mereka berbicara di koridor rumah sakit.
"Baiklah." Setelahnya, Lean kembali melanjutkan langkahnya dan di ikuti oleh Brian dari belakang. Kedua pria itu pergi ke sebuah cafe yang tak jauh dari Cafe.
Sebelum melanjutkan pembicaraan, Lean dan Brian memesan minuman lebih dulu sebagai penghilang dahaga di kala cuaca kota Jakarta yang begitu panas.
Brian menarik sudut bibirnya tatkala melihat raut wajah Lean yang begitu dingin seperti Kean. Jika dalam kondisi seperti ini, mereka sedikit terlihat mirip. Tapi, lain halnya ketika Lean dalam mode jahil, humoris, tengil, dsb.
" Kakak pasti sudah tahu 'kan tentang hubungan Bri dan Anne?"
" Em," jawab Lean singkat.
" Kalau begitu, Bagaimana tanggapan Kakak?" tanya Brian takut-takut jika Lean juga sama halnya dengan Papa Ken.
" Tanggapan seperti apa yang kamu maksud?"
" Tanggapan___" entah kenapa Brian tiba-tiba jadi gugup bercampur bingung harus menjelaskan seperti apa. Pasalnya, atmosfer diantara mereka terasa begitu dingin dan menyesakkan sehingga membuat Brian tak dapat berpikir jernih.
" Apa soal Restu?" tebak Lean tatkala melihat Brian yang terlihat bingung.
Brian mengangguk.
Lean menarik nafasnya panjang. " Kalau soal itu, pastinya kamu sudah bisa menebaknya bukan?" sarkas Lean.
__ADS_1
" Maksud Kakak?" Brian terlihat bingung.
" Mungkin kamu mengira bahwa saya akan lebih mudah di banding Papa dan Kak Kean, mengingat bagaimana sikap saya jika di rumah. Tapi, sebenarnya kamu salah. Karena saya, bukan orang yang mudah jika sudah menyangkut keluarga, apalagi Anne," Papar Lean panjang Lebar.
Terkadang, orang yang terlihat humoris memang lebih menakutkan jika sudah serius.
" Tapi Kak, bisakah kalian memberikan saya satu kesempatan saja untuk membuktikan bahwa saya benar-benar mencintai Anne, dan akan membahagiakannya." Brian terlihat begitu memohon, berharap jika Lean akan mempertimbangkannya. Pasalnya, Papa Ken sudah tak bisa di bujuk sama sekali. Semakin Brian memohon, keputusannya justru semakin bulat untuk tidak merestui jika Brian tak bisa melakukan syarat yang di tawarkan. Dari beberapa syarat yang diajukan oleh Papa Ken, Brian hanya bisa melakukannya sebagian karena masih ada yang cukup berat untuk ia lakukan.
" Permisi ... ini minumannya, Kak," kata seorang waiters yang datang untuk memberikan pesanan Brian dan Juga Lean.
" Terimakasih."
Setelahnya, sang waiters segera pergi dari meja itu.
" Bri, masalah perbedaan sudah jelas. Di tambah lagi, dengan___" Lean memberi kode melirik ke arah dokumen yang ada di atas meja.
" Jadi, saya tak perlu menjelaskannya secara detail 'kan?"
" Apa hal ini juga akan menjadi penghalang?" Brian berkata sambil mengangkat dokumen hasil pemeriksaannya.
" Tentu saja! Karena sebagai Kakak, saya tidak akan mengizinkan adikku bersama dengan pria yang akan terus membuatnya sedih dan khawatir. "
Brian tersenyum kecut sambil menahan rasa sesak dalam dadanya.
" Dan jika kamu memang mencintai Anne, lepaskan dia! Karena cinta tak selamanya harus memiliki, " pungkas Lean sebelum beranjak pergi meninggalkan Brian yang masih termenung .
" Bee!"panggil Nala yang membuat lamunan Lean buyar.
" Kok malah melamun sih? Udah di tungguin juga! "kesal Nala.
" Maaf Bee, tapi aku tak bisa menjelaskannya sekarang!" pungkas Lean yang berlalu pergi keluar dari kamar. Saat ini, Lean memang belum siap untuk menceritakan apa yang sebenarnya terjadi pada Nala. Selain Nala adalah sahabat istrinya, Lean belum siap jika Anne sampai mengetahui hal ini.
Mungkin orang akan menganggap Lean egois, tapi dalam islam juga diperbolehkan menolak seseorang karena alasan kesehatan. Di sini, Lean sebagai Kakak hanya tak mau luka yang pernah ada terulang kembali lagi.
Ia pernah kehilangan seseorang yang sangat berarti dalam hidupnya, dan itu sangat menyakitkan. Butuh waktu yang sangat lama untuk menyembuhkan luka ih tu. Jadi, Lean tak mau melihat Anne merasakan hal seperti itu.
Meski takdir hidup manusia hanya Tuhan yang tahu tapi kita sebagai manusia boleh 'kan berusaha untuk mencegah sesuatu yang akan terjadi?
" Sebenarnya, apa yang sedang di sembunyikan sama Pipi?" gumam Nala yang belum menemukan jawaban yang jelas.
__ADS_1
...****************...