
Dikarenakan pemandangan Senja di tempat ini sangat bagus, Brian ingin melihatnya bersama Anne. Meski Dokter tak pernah mengatakan bagaimana kondisinya yang sebenarnya, tapi Brian tahu jika waktunya sudah tak lama lagi. Jadi, dia ingin menikmati sisa-sisa waktu itu sebaik mungkin bersama dengan seseorang pemilik hatinya.
Seseorang yang mengajarkannya apa itu cinta, pengorbanan, ketulusan, bahagia, sakit, dan masih banyak lagi. Bagi Brian, bertemu dengan Anne adalah sesuatu yang sangat ia syukuri dalam hidup ini.
Meski apa yang ia harapkan tak berjalan dengan lancar, tetapi Tuhan masih memberikannya kesempatan dan kebahagiaan walau sebentar. Toh, kita hanyalah manusia yang bisa berencana, selebihnya sang pemilik alam semesta yang menentukan bagaimana akhir dari cerita ini.
" Masya Allah, indah sekali," puji Anne saat melihat keindahan Senja yang saat ini ia lihat. Sementara di kejauhan, terlihat seorang pria dengan tubuh gagah terus memantau adiknya dari kejauhan.
Sesetuju-setujunya Kean dengan Brian, Ia tetap harus memantau Anne karena sampai detik ini dia masih tanggung jawabnya. Karena bagi seorang anak perempuan yang belum menikah, Ia akan menjadi tanggung jawab ayah dan juga saudara laki-lakinya.
" Anne, Brian, akankah kisah kalian akan berakhir bahagia?" gumam Kean yang mulai cemas dengan akhir kisah cinta adiknya.
Dari sikap dan juga tatapan Anne, Ia terlihat masih begitu mencintai Brian. Sekalipun pria itu tengah dalam kondisi lemah.
Melihat Anne yang bisa tersenyum bahagia saat bersama Brian, membuat Kean ikut senang.
Tiba-tiba, sebuah panggilan masih sehingga membuat Kean sedikit menjauh agar tak menganggu Anne dan juga Brian.
"Anne," panggil Brian.
" Ya," jawab Anne dengan tersenyum bahagia.
" Jika suatu hari nanti aku lupa padamu bagaimana?" Brian bertanya seperti ini karena kemungkinan besar ia akan lupa pada orang-orang di sekitarnya jika sel kanker itu terus menekan jaringan sel-sel otaknya. Bahkan, sekarang pun Brian sudah sering melupakan hal-hal kecil yang baru saja terjadi.
Anne bergeser pindah dari posisi yang bera di belakang Brian, menjadi berjongkok di depan kursi roda. " Jika Kakak melupakanku, maka aku akan membuat Kakak mengingat aku kembali," ucap Anne dengan tersenyum lebar.
Brian ikut tersenyum. " Apa Kamu bahagia saat bersamaku, Anne?" Brian kembali bertanya dengan tatapan yang semakin dalam.
"Em." Anne mengangguk.
" Aku bahagia saat bersama Kakak."
" Kalau dengan dia?"
Raut wajah Anne seketika berubah tatkala mendengar Brian membahas soal dia. Dia dalam artian Pangeran. Pria yang kini sudah menjadi tunangannya.
" Bisakah jangan membicarakan dia?"
" Kenapa?"
" Karena ___" Anne tertunduk seakan tak mampu menatap mata Brian ketika membahas soal Pangeran.
Brian mengangkat dagu Anne agar Ia tak menunduk.
" Jika kamu bahagia sama dia, katakan saja. Aku tidak masalah, justru aku senang. Setidaknya, ada seseorang yang akan menemanimu dan membuatmu bahagia ketika aku pergi nanti," pungkas Brian.
" Apa maksud Kakak?"
Brian menghela nafas. " Senja itu memang sangat indah, tapi sayang keindahannya hanya sebentar, " ujar Brian mencoba mengalihkan topik pembicaraan.
" Meski sebentar, Senja berjanji untuk datang esok hari, "lanjut Anne.
Anne memberanikan diri untuk mengenggam tangan Brian yang terlihat begitu pucat dan kurus. Berat badan Brian memang turun drastis, bahkan di balik topi rajutnya terlihat rambut yang mulai membotak.
__ADS_1
Brian sedikit terkejut saat merasakan ada tangan yang menyentuh dirinya. Ini, adalah pertama kalinya Anne mau mengenggam tangannya lebih dulu.
" Kak," panggil Anne dengan tatapan yang begitu dalam.
" Ya."
" Ayo kita menikah."
Satu kalimat yang tak pernah Anne sangka akan keluar dari mulutnya lebih dahulu.
Deg
Jantung Brian seakan berhenti sejenak tatkala mendengar sebuah ucapan lamaran dari wanita yang sangat ia cintai.
Jujur, Brian tak pernah mengira jika Ia akan mendengar ucapan lamaran dari mulut Anne.
Senang? Tentu saja, siapa yang tak senang mendengar ajakan menikah dari orang yang sangat kita cintai. Tetapi, ada rasa takut dan juga sedih dalam rasa bahagia itu.
" Anne, bukankah kamu___"
" Aku akan membatalkan pertunangan dengan Pangeran. Setelah itu, mari kita menikah," papar Anne dengan wajah yang terlihat begitu serius.
" Tapi, Anne ... Kenapa kamu ingin menikah dengan pria berpenyakit seperti aku? Dan aku juga belum___"
" Karena aku masih mencintaimu, Kak. Dan aku ingin bisa merawatmu dengan bebas tanpa ada rasa takut dosa."
" Soal keyakinan, bukankah Kakak sudah siap untuk menjadi seorang mualaf?"
Soal hal ini, Brian memang sudah memantapkan hati untuk memeluk agama islam. Hanya saja, belum terealisasikan.
قُلْ هُوَ اللّٰهُ اَحَدٌۚ
Bacaan latin: qul huwallāhu aḥad
Artinya: Katakanlah (Muhammad), "Dialah Allah, Yang Maha Esa.
اَللّٰهُ الصَّمَدُۚ
Bacaan latin: allāhuṣ-ṣamad
Artinya: Allah tempat meminta segala sesuatu.
لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُوْلَدْۙ
Bacaan latin: lam yalid wa lam yụlad
__ADS_1
Artinya: (Allah) tidak beranak dan tidak pula diperanakkan.
وَلَمْ يَكُنْ لَّهٗ كُفُوًا اَحَدٌ
Bacaan latin: wa lam yakul lahụ kufuwan aḥad
Artinya: Dan tidak ada sesuatu yang setara dengan Dia ."
Setelah membaca arti dari surah itu, Brian seakan setuju jika Tuhan itu tidak beranak dan tidak pula di peranakkan. Dan tidak ada sesuatu yang setara dengan Dia. Jika Tuhan itu setara, maka apa bedanya Tuhan dan Makhluk?
Dari situlah, Brian mulai semakin cinta pada islam, dan tiba-tiba terdapat ketenangan tersendiri di dalam hatinya.
Hanya dengan dua penggalan ayat dalam Al-Qur'an, sudah mampu membuat hati Brian tersentuh. Hidayah itu, memang tak tahu datangnya darimana. Karena terkadang, hanya karena hal kecil dapat membuat orang berubah.
Note : Jika ada yang membaca novel ini non muslim, jangan di judge ya ... 😊 Jika kalian tak suka. Kalau ikut tersentuh, alhamdulillah.
...***...
Di tempat lain, terlihat seorang pria tampan yang terus berusaha menghubungi calon istrinya. Sejak malam pertunangan itu, tiba-tiba Anne menghilang begitu saja dan tak bisa di hubungi.
" Kemana Anne? Apa jangan-jangan ..." entah kenapa firasat Pangeran begitu tak enak tentang Anne.
Karena tak kunjung bisa menghubungi Anne, Pangeran pun mencoba menelpon Papa Ken. Setelah dering ketiga, panggilan pun akhirnya diangkat.
" Halo, Assalamualaikum, Om. " Salam Pangeran pada seseorang di ujung telepon.
" Waalaikumsalam, ada apa, Ran?"
" Begini Om, saya beberapa hari ini tidak bisa menghubungi Anne. Kalau boleh tahu, dia kemana, ya?"
" Anne?" ulang Papa Ken yang terlihat terkejut saat mendengar Pangeran menanyakan soal Anne padanya.
" Bukannya Anne sedang pergi ke rumah Nek Ratu bersama Mama, Kakak ipar dan keponakannya? "ujar Papa Ken yang justru kembali bertanya.
" Ke rumah Nenek? "ulang Pangeran memastikan.
" Ya, mereka kemarin pamit seperti itu pada saya. Tapi__" tiba-tiba Papa Ken merasa ada yang janggal. Pasalnya, Mama Dira pamit tanpa ada Anne.
Anne ...
Papa Ken jadi teringat kembali jika beberapa hari ini ia tak pernah bertemu dengan putrinya. Tapi, saat itu Mama Dira mengatakan bahwa Anne ada di kamar.
" Om," panggil Pangeran ketika Papa Ken tak melanjutkan perkataannya yang belum selesai.
" Pangeran, coba cari tahu apakah Anne benar ada di rumah Nenekmu apa tidak!" lanjut Papa Ken dengan wajah penuh kecurigaan.
__ADS_1
...****************...