
Di saat Brian dan Anne sedang membicarakan soal KOMITMEN dan KEPASTIAN. Lain halnya dengan Pak Arzan yang terus menunggu Anne di tempat parkiran. Di tengah penantiannya, tiba-tiba sebuah panggilan masuk dari Papa Ken.
" Halo, Tuan," sapa Arzan lebih dulu pada seseorang di balik telepon.
" Dimana kamu?" tanya Papa yang terdengar dingin.
" Di kampus Tuan, memangnya ada apa?"
" Di kampus!" ulang Papa Ken dengan wajah terkejut. Bagaimana tak terkejut jika ia mengetahui bahwa sang putri berhasil kabur dari pengawasannya.
" Apa kamu tidak tahu kalau Anneta sudah pergi!" lanjutnya yang membuat Arzan tercengang.
" Maksud Tuan apa, ya? Bukankah___"
" Kamu saya pecat!" tandas Papa Ken tanpa basa basi. Dia paling tak suka dengan orang yang tak bisa diandalkan dan di percaya.
" Tuan...." Arzan mencoba memanggil Papa Ken, tetapi panggilan itu sudah di matikan secara sepihak.
Di saat Arzan tengah memikirkan apa yang sebenarnya terjadi, Ia tanpa sengaja melihat teman satu angkatan Anne, sekaligus teman yang pernah makan bersama beberapa hari lalu.
" Halo permisi," sapa Arzan pada wanita itu.
" Loh, kamu bukannya Bodyguardnya Anneta, ya?" tebak wanita sembari menunjuk ke wajah Arzan.
Arzan mengangguk.
" Kok masih di sini? Ada apa?" tanyanya sebagai basa basi.
" Apakah Non Anneta masih belum selesai? "tanya Arzan to the poin.
__ADS_1
" Anneta? Bukankah dia sudah pulang dari sejam yang lalu! "papar Kinara yang semakin membuat Arzan tercengang. Bagaimaa tidak, Ia sejak tadi sudah menunggu di sini sampai tak berani pergi kemana-mana, tapi tiba-tiba Anne bisa menghilang begitu saja dengan mudahnya?
" Kalian serius? " Arzan mencoba memastikan kalau apa yang ia dengar itu benar.
Kinara mengangguk.
Kini, Arzan mengerti kenapa Tuannya begitu marah dan langsung memcatnya. Ternyata karena dia sudah lalai dalam menjalankan tugasnya, tapi kenapa Anneta harus kabur? Dan kenapa ia tak mengetahuinya?
***
Di tempat lain, terlihat seorang pria paruh baya tengah merasa kecewa dan marah. Ia tak pernah menyangka jika putri yang selama ini baik, penurut, kini berubah penuh kebohongan dan tipu muslihat.
Sejak semalam, Papa Ken sudah merasa ada sesuatu yang aneh dengan putrinya. Apalagi saat melihat gelang baru yang di pakai oleh Anne, membuatnya semakin curiga dan segera menyewa Bodyguard tambahan untuk mengawasi putrinya dari kejauhan. Siang ini, Ia tak pernah menyangka akan mendengar sebuah kabar jika putrinya kabur bersama seorang pria. Seorang pria yang dulu pernah dia percaya untuk menjaga putrinya dan sudah ia anggap sebagai putra sendiri. Tapi kini, Ia justru membuat putrinya menjadi anak yang tak patuh dan penuh kebohongan. Sungguh, dia benar-benar kecewa.
Setelah menempuh perjalanan selama beberapa menit, rombongan Papa Ken sampai juga di tempat Anne dan Brian berada. Papa Ken langsung turun dari mobilnya dan di ikuti oleh beberapa Bodyguard.
Melihat Papanya datang, membuat Anne dan Brian terkejut. Bagaimana bisa, Papanya tahu keberadaannya sekarang?
" Kamu pergi sendiri atau Papa paksa pergi!" Papa Ken masih memberikan pilihan pada putrinya.
" Tapi, Pa____"
" Anneta!" bentak Papa Ken dengan raut wajah yang begitu menakutkan. Jujur, Anne tak pernah melihat Papanya semarah ini.
Melihat aura kemarahan tercetak begitu jelas dari wajah Papa Ken, membuat Brian menyuruh Anne untuk menuruti saja perintah Papanya.
Setelahnya, Anne pun pergi dengan di iringi oleh beberapa Bodyguard. Sedangkan Brian masih berada di tempatnya.
Sepeninggal Anne, Papa Ken mendekati Brian dengan tatapan yang begitu tajam sampai menusuk ke jantungnya. Rahang yang mengeras, mendoakan bahwa pria itu tengah menahan amarah.
__ADS_1
Plak
Tanpa di sangka-sangka, sebuah tamparan keras melayang di pipi Brian.
Ketika akan memasuki mobil, tiba-tiba Anne mendengar suara yang aneh sehingga membuatnya menoleh ke belakang. Betapa terkejutnya Anne saat melihat sang Papa menampar Brian. Di saat Anne ingin kembali, para Bodyguard langsung menahannya.
" Non, anda harus masuk. Sebelum kami Paksa!" seorang Bodyguard memberikan Anne peringatan.
" Saya kecewa sama kamu Brian!" tandas Papa Ken.
" Maafkan saya, Pa," ucap Brian dengan kepala tertunduk.
" Maaf? Apakah itu cukup!" kata Papa Ken.
" Bukankah sebelumnya sudah saya peringatkan untuk tidak mendekati Anne. Apa perkataan waktu itu belum jelas, huh?" marah Papa Ken yang kembali mengingatkan pembicaraan terakhir mereka.
Brian mendongakkan kepalanya agar bisa menatap netra pria paruh baya itu.
" Tapi saya dan Anne saling mencintai, jadi saya mohon restui hubungan kita, " pinta Brian dengan memasang wajah memohon belas kasih.
" Restu?" ulang Papa Ken dan diangguki oleh Brian.
" Saya akan merestui jika kamu sanggup memenuhi persyaratan yang saya berikan! " tandas Papa Ken yang berlalu pergi meninggalkan Brian.
Brian tersenyum kecut ketika kembali mengingat persyaratan yang pernah Papa Ken lontarkan padanya.
" Kenapa begitu sulit untuk bisa bersamamu, Anne? "batin Brian seraya menatap kepergian mobil berwarna hitam itu.
...****************...
__ADS_1