Melawan Restu

Melawan Restu
Kamu Jahat!


__ADS_3

"Lalita. Hari ini aku, Fahriza ingin memintamu menjadi istriku...Maukah kamu menikah denganku, menjadi teman hidupku. Mewarnai hari-hari bersama, seumur hidup kita?" Riza mengeluarkan sebuah cincin dari saku celananya.


Lita mematung. Entah terlalu bahagia atau terlalu terkejut, ia hanya menatap lekat cincin yang ada ditangan Riza. Bukannya menjawab iya atau tidak, Lalita malah menangis tersedu-sedu.


Riza tersenyum, sesuai perkiraannya. Tidak mungkin si cengeng kesayangannya tidak menangis. Riza segera memeluk Lita dan mengusap rambut panjangnya yang tergerai.


Setelah Lita sudah agak tenang, Riza mengurai pelukan. Menatap wajah Lita yang basah dan hidungnya yang beringus. Membuat Riza tidak tahan untuk tidak tertawa. Jangan salahkan dia, Riza sudah menahan tawanya sejak melihat wajah gugup Lalita tadi.


"Ihhh....jangan ketawa. Kamu jahat!" Lita mencubit perut kekasihnya dengan gemas. Riza mengaduh kesakitan di sela-sela tawanya.


"Iya, iya mamas jahat. Kalau Lita apa? Cengeng" Riza menghapus air mata dan ingus Lita dengan lengan jaketnya, lalu mengecup keningnya. Tak peduli dengan mereka yang memperhatikan sejak tadi sambil senyum-senyum.


Dunia milik berdua, yang lain ngekos!


"Nyebelin!" Lita memukul dada Riza dengan manja.


"Terus jawabannya apa?" tanya Riza sambil mengusap kepala Lita dengan lembut.


"Memang pertanyaannya tadi apa?" tanya Lita, pura-pura tidak tahu.


Riza berdecak, "Kan mas sudah bilang tidak akan ulangi lagi. Kalau tidak dengar ya sudah" katanya, pura-pura ngambek. Benar-benar pasangan tukang drama!


"Ihhh...kok gitu sih. Tidak romantis banget"

__ADS_1


"Mau tidak?"


Lita mengulum senyum, mengangguk dengan malu-malu. "Ya maulah! Aaaa.....malu" Lita menutupi wajahnya dengan kedua tangan. Riza tertawa, pacar yang mungkin sebentar lagi akan mejadi istrinya ini memang unik. Selalu membuat hari-hari Riza berwarna dengan segala tingkah lakunya.


Riza menarik tangan kanan Lita dan menyematkan cincin di jari manisnya lalu mengecupnya.


"I Love you" ucapnya. Menatap Lita dengan penuh cinta.


"Love you more" jawab Lita dengan senyum merekah di bibirnya. Hatinya berbunga-bunga.


Riza mendekatkan wajahnya ke wajah Lita. Dengan refleks Lita memejamkan kedua matanya, bibirnya bergerak maju. Bukannya ciuman manis justru sentilan di bibir yang ia dapatkan.


"Berharap apa kamu, kebanyakan nonton drama!" Riza tidak segila itu, berciuman di tempat umum agaknya tidak pantas dilakukan.


Sejak pertama kali pacaran, mereka tidak pernah membahas soal pernikahan. Mereka menjalani hubungan mengalir, mengikuti arus. Sebagai perempuan yang usianya sudah menginjak 25 tahun, tentu saja pernah terbersit di pikiran Lita, menginginkan sebuah pernikahan.


Hanya saja, Lita tidak tahu bagaiman cara membicarakannya dengan Riza. Ia terlalu malu, takut di bilang kebelet nikah. Padahal tidak ada salahnya jika seorang wanita meminta kejelasan dalam sebuah hubungan. Ya kalau prianya peka seperti Riza, kalau prianya cuek bebek. Sampai kapan kapal itu akan bersandar?Salah-salah malah menabrak gunung es dan karam kedasar laut.


.....


Lita menyampaikan lamaran Riza kepada kedua orang tuanya dan disambut baik olek Permata dan Ari, ibu dan ayah Lita. Permata menyukai Riza sejak Lita dan Riza masih pendekatan. Permata menilai, Riza yang sabar dan perhatian pas untuk putrinya yang manja dan cengeng. Sedangkan Ari, selama putri dan istrinya bahagia, dia akan mendukung keputusan mereka.


Tak jauh berbeda dengan keluarga Lita, kedua orang tua Riza juga sangat mendukung rencana pernikahan Riza dan Lita. Mereka bahkan meminta Riza untuk segera melakukan lamaran resmi. Bunga dan Fahri menyayangi Lita seperti putri mereka sendiri. Keduanya menyukai sifat Lita yang ceria.

__ADS_1


"Jadi kapan kita melamar kerumah Lita? Ibu tidak sabar pengen kenalan sama orang tua Lita" ujar Bunga dengan semangat. Mama Riza ini memang ramah dan mudah bergaul. Dia selalu suka jika bisa menambah teman atau saudara.


"Sabar dong Ma, Riza belum persiapan apa-apa ini"


"Serahkan semua sama Mama dan Yasmin. Kamu duduk manis, terima beres."


Riza tersenyum lebar mendengar ucapan Mamanya. Mamanya ini pengertian sekali. Meski bekerja di Mall sebagai supervisor, tapi Riza sangat tidak menyukai kegiatan berbelanja. Apa lagi jika dirinya harus memilih barang-barang wanita, pasti rasanya akan aneh.


"Ibu! Yasmin juga mau kawin" ucap adik Riza yang masih duduk di bangku kelas tiga SMA.


"Kawin kawin, memang kamu kucing minta di kawinin!" omel Bunga.


"Pegang telinga kiri pakai tangan kanan saja belum nyampe, sudah minta kawin" kata Fahri menambahi.


"Bisa, nih lihat, nih! Bisa kan?" Yasmin mempraktikkan perkataan Papanya.


"Nanti kakak beliin rumah-rumahan buat latihan berumah tangga" Riza menimpali.


"Yasmin sudah gede ya, sudah tidak main rumah-rumahan. Mentahnya saja, boleh? Buat beli Lighstick Astro" Yasmin menengadahkan tangannya di depan wajah dengan mata berkedip-kedip.


"Astro boy, sejak kapan punya Lighstick?" tanya Riza, merasa aneh.


Yasmin dan Fahriza saling lirik dengan wajah sama-sama bingung. Astro dan Astro boy yang mereka pikirkan adalah dua hal yang berbeda. Yang di maksud Yasmin boyband asal Korea Selatan bernama Astro, sedangkan yang di pikirkan Riza Astro boy tokoh kartun jaman dulu. Maklum, perbedaan usia keduanya yang cukup jauh membuat keduanya tidak sefrekuensi.

__ADS_1


__ADS_2