
Di tempat lain, terlihat dua orang wanita yang berjalan sedikit berlari menuju sebuah ruangan khusus.
Ketika pintu terbuka, betapa terkejutnya Brian saat melihat ada malaikat tanpa sayapnya datang.
" Mom-my," seru Brian. Sementara Mama Dira sudah berlari menghampiri ranjang Brian dengan mata yang terlihat sembab. Tanpa berkata apapun, wanita paruh baya itu langsung memeluk erat putranya.
Putra yang sudah ia rawat sedari kecil sampai besar. Namun, tiga tahun terakhir ini mereka sudah tak lagi bersama.
Sebelum berangkat ke sini, Mama Dira sudah mensugesti dirinya agar tidak memperlihatkan kesedihan di depan putranya. Namun, Ia tetap saja tak kuasa menahan tangis itu tatkala melihat kondisi Brian yang seperti ini.
" Maaf Mommy baru datang," lirih Mama Dira yang merasa sangat bersalah karena tak bisa berada di samping Brian saat ia butuh dirinya.
" Mom-my jangan sedih dan meminta maaf, Bri tak suka itu," ujar Brian yang semakin membuat tangis Mama Dira pecah.
Jujur, Ia tahu betul bagaimana putranya itu. Saat ini dia memang berusaha untuk terlihat kuat dan tegar di depan, tapi di dalam sebenarnya ia juga rapuh. Tetapi tak mau memperlihatkan kerapuhannya itu.
Sedangkan di sisi lain ruangan, terlihat Kean yang juga tengah melepaskan rindu terhadap istri dan juga ketiga anaknya. Beberapa hari meninggalkan mereka, membuat Kean sangat rindu.
" Abang, sudah. Malu di lihat Anne," ujar Dinda yang mencoba melepaskan diri dari pelukan suaminya ketika menyadari jika adik iparnya tengah menatap ke arah mereka berdua.
" Biarkan saja," tandas Kean yang terlihat bodo amat. Karena saat ini, Ia hanya ingin memeluk istrinya agar beban yang tengah ia tanggung sedikit ringan.
" Karena semua sedang berpelukan, Aunty peluk kalian aja, ya ...," ujar Anne seraya mengambil Baheer dari dalam stroller. Anne mengambil keponakan laki-lakinya karena hanya dia yang sudah bangun. Sedangkan yang dua, masih tidur terlelap.
" Itu siapa, Anne? "tanya Brian ketika melihat Anne sedang menggendong bayi laki-laki.
" Masak Uncle sudah lupa sih! Ini aku Baheer, "ujar Anne dengan menirukan suara anak kecil guna mewakili Baheer untuk berbicara.
Brian terlihat tersenyum ketika mendengar suara lucu Anne. Tetapi, senyum itu mulai memudar ketika menyadari jika ingatan memorinya semakin tak bisa di kendalikan.
__ADS_1
" Uncle Bri mau gendong" tawar Anne yang kini sudah berada di sisi samping ranjang Brian.
Brian tersenyum, dan ingin menggendong Baheer. Tetapi, tiba-tiba jari tangannya terlihat bergetar semua. Ketika menyadari hal itu, Brian segera menyembunyikan tangannya agar tak ada yang tahu.
" Sepertinya lain kali saja ya, Baheer ...," ujar Brian yang mencari alasan.
" Sepertinya, sensor motorikku semakin melemah," batin Brian.
Setelahnya, mereka semua bercanda dan bercerita tentang apa yang telah terjadi di Indonesia. Mengetahui bahwa Papa Ken belum menyadari jika Anne dan Kean telah kabur berencana, membuat mereka sedikit lega.
...***...
Ke esokan paginya, tiba-tiba Brian meminta di pindahkan ke Mansion Marsello saja.
" Bri, memangnya kenapa dengan tempat di sini? Bukankah sangat bagus?" ujar Mama Dira yang kurang setuju dengan permintaan Brian.
Mama Dira, Kean, dan Anne terlihat saling pandang satu sama lain. Haruskah mereka menyetujui permintaan Brian?
" Baiklah, kita pulang ke mansion," seru Anne yang ingin selalu menuruti keinginan Brian. Mungkin Brian mulai jenuh dengan tempat ini sehingga membuatnya butuh tempat lain untuk menjalani pengobatan. Apalagi, bukankah Mansion adalah tempat tinggal Brian sedari kecil?
Mungkin dia memang sedang rindu dengan rumah yang memiliki banyak cerita hidupnya itu.
Melihat Brian yang tersenyum dan terlihat bahagia saaf mendengar Anne setuju, membuat semuanya jadi mengikut saja. Karena saat ini, kenyamanan, keselamatan dan kebahagiaan Brian adalah prioritas utama.
Setelahnya, Jeremy segera mempersiapkan semua keperluan untuk kembali ke Mansion Marsello.
" Mama baik-baik saja?" tanya Kean ketika menyadari raut wajah Mamanya yang terlihat begitu tegang.
Mama Dira menggeleng. " Nggak, Mama baik-baik saja, Kok," elak Mama Dira yang tak mau membuat putra sulungnya khawatir dan cemas.
__ADS_1
" Apa Mama belum siap untuk bertemu lagi dengan masa lalu? " Kean kembali bertanya. Namun, tidak mau menyebutkan secara gamblang nama orang itu.
" Nggak!" elak Mama Dira yang terlihat salah tingkah.
" Mama baik-baik saja, dan tidak ada masalah apapun. Mau tinggal di sini, Mansion, semuanya tak berarti apapun," terang Mama Dira.
" Baguslah kalau begitu!" jawab Kean singkat dan dingin.
Setelah semuanya siap, mereka semua segera pergi menuju mansion keluarga Marsello.
...****...
Di belahan dunia lainnya, terlihat dua pria beda usia di dampingi oleh beberapa pengawal yang mengekor di belakang tengah berjalan menuju jet pribadi yang telah siap untuk membawa mereka pergi.
" Selamat siang Tuan Kenzo," sapa para pilot beserta pramugari yang berjejer rapi di depan tangga masuk jet pribadi.
" Siang," jawab Papa Ken dingin.
" Om, apa Anne benar ada di New York?" tanya Pangeran yang belum mendapatkan penjelasan kenapa Mereka harus segera terbang ke New York.
" Ya, dia ada di sana!" jawab Papa Ken.
" Untuk menemui Brian!" namun, kalimat ini hanya bisa Papa Ken ucapkan di dalam hati.
Jika Anne, Kean, Mama Dira, Dinda, dan triplet benar-benar berada di New York untuk menemui Brian. Ia akan sangat kecewa dan bodoh karena begitu mudah di kelabuhi.
" Awas saja! "lirih Papa Ken dengan tangan yang sudah mengepal serta tatapan begitu tajam.
...****************...
__ADS_1