Melawan Restu

Melawan Restu
MR Bab 85 : Ternyata kamu masih mencintaiku


__ADS_3

Jika Anneta tengah memperbaiki lukisan kenangannya bersama Beian, lain halnya dengan Brian mulai menjalani rangkaian pengobatan agar bisa tetap hidup.


Dikarenakan posisi Kanker yang saat ini sulit untuk di jangkau, dan begitu cepat menyebar, membuat Brian tak bisa menjalani operasi. Jadi, dia hanya bisa menjalani pengobatan dengan Kemoterapi, yang dilakukan bersamaan dengan radioterapi .


Karena ini masih pengobatan awal, Dokter masih belum bisa memberikan dosis yang tinggi. Namun, hal itu tetap membuat Brian mengali mual, muntah, dan perubahan emosi. Dia akan mudah marah hanya karena hal sepele.


Wajah Brian terlihat begitu pucat, dengan tubuh yang terlihat begitu lemas akibat menahan rasa sakit dan tak nyaman ketika obat itu terus masuk ke dalam tubuhnya.


" Jer, bisakah putarkan vidio-vidio Anne?" pinta Brian.


" Baik, Bos."


Setelahnya, Jeremy membantu memutarkan beberapa kumpulan vidio saat bersama Anne. Sebelum down, Brian sudah sempat mengedit vidio-vidio kebersamaannya dengan Anne menjadi satu layaknya film pendek.


Ketika melihat vidio itu, Brian seakan bisa sedikit mengalihkan perhatian dan rasa sakitnya. Apalagi saat melihat senyum Anne yang begitu indah, dapat membuat Brian seakan bisa kembali berada pada momen itu. Momen singkat yang sangat berarti.


" Kak, Bisa katakan padaku sekali lagi jika kamu mencintaiku?" tanya Anne.


" *Jangankan sekali, Aku bahkan bisa mengatakan hal itu berkali-kali bahwa aku sangat mencintaimu."


"Bhadrika Anneta Fabian, aku mencintaimu, sangat mencintaimu. Bahkan, kalau bisa sampai akhir nafas ini, hanya kamulah satu - satunya wanita yang aku cintai." teriak Brian agar Anne tahu bahwa cintanya* sangat besar.


" Jika seperti itu, maka cintai aku sampai nanti. "


" Tentu. "

__ADS_1


Tanpa terasa, buliran bening nan hangat itu kembali menetes membasahi pipinya yang mulai terlihat tirus. Jangankan Brian, Jeremy saja mencoba menahan sesak dadanya tatkala melihat vidio Brian dan Anne.


" Kasihan sekali, bos. Dia sangat mencintai Anne, tapi sayangnya mereka tak bisa bersatu karena terhalang restu. Bahkan, sekarang harus di tambah lagi dengan kondisinya yang seperti ini. Sungguh kasihan sekali, padahal bos adalah orang yang baik, tapi kenapa jalan hidupnya harus seperti ini? "


Dalam hatinya, Jeremy sungguh mengasihani Brian. Namun, Ia berusaha untuk menutupi itu semua karena tahu jika Brian tak suka di kasihani.


" Anne, Bagaimana kabarmu di sana? "batin Brian dalam hati.


" Jer, bisakah bantu lihat akun media sosial Anne? "


Jeremy pun mengikuti setiap perintah Brian. Dikarenakan Anne memblokir semua akses media sosial Brian, dengan terpaksa Brian harus membuat akun baru dengan identitas wanita agar tetap bisa memantai keadaan Anne dari jauh.


Melihat postingan Anne yang memperlihatkan jika ia sedang baik-baik saja, membuat Brian lega dan bahagia.


" Jer, tolong perbesar foto itu!" pinta Brian.


Brian mencoba memperhatikan lukisan itu, lalu tiba-tiba Seulas senyum terbit dari bibir pucat nya.


" Anda sedang bahagia, bos?" tanya Jeremy yang menyadari jika Brian tengah tersenyum bahagia.


" Ya, ternyata dia masih mencintaiku," lirih Brian yang menyadari jika lukisan itu berkaitan dengan dirinya.


Setelahnya, Brian meminta ponsel itu untuk membaca tulisan di kolom komentar.


@Kinara Anne, sepertinya aku belum pernah melihat lukisanmu yang ini}

__ADS_1


@Putri321 Apa ini lukisan terbarumu, beautiful sky?}


@Deniz Jika itu lukisan baru, kenapa harus di restorasi?}


Brian kembali membaca balasan komentar yang baru di kirim oleh Anne.


@Beautiful Sky ini bukan lukisan terbaru, hanya sebuah lukisan koleksi pribadi.


Sementara Brian, mencoba untuk mengirimkan pesan pada Anne lewat Dm. namun, tiba-tiba penglihatannya kabur, tangannya seakan tak bisa di gerakkan, kepalanya pun ikut terasa sangat sakit yang luar biasa.


" Bos, anda kenapa?" Tanya Jeremy panik ketika melihat Brian yang tiba-tiba memegangi kepalanya.


" Dokter," teriak Jeremy yang mencoba memanggil Dokter.


Bukan hanya memanggil, Jeremy juga memencet tombol darurat agar para Dokter segera datang untuk mengecek kondisi Brian yang tiba-tiba mengalami sakit.


" Aaaa ..." teriak Brian ketika merasakan sakit yang begitu hebat di kepalanya.


" Tuan Brian, tolong anda tenang."


" Tenang? Kepala saya sakit sekali!" bentak Brian penuh emosi.


Melihat kondisi Brian yang semakin tak bisa di kondiaikan, membuat sang Dokter terpaksa menyuntikkan obat penghilang rasa sakit pada infus Brian.


Tak lama kemudian, tubuh Brian yang menegang tiba-tiba lemas dan tak sadarkan diri.

__ADS_1


...****...


__ADS_2