
Sejak makan siang bersama Leandra, Brian tiba-tiba menghilang begitu saja. Selama beberapa hari ini, pria itu tak pernah sekalipun menghubungi Anne seperti biasanya. Bahkan, pesan yang Anne kirim tak pernah di balas. Jangankan di balas, di baca saja tidak. Entahlah, Anne juga bingung dengan sikap Brian yang begitu cepat berubah-ubah. Kadang baik, perhatian, sweet, kadang juga tiba-tiba berubah menakutkan.
Di karenakan sudah beberapa hari tak pernah mendapatkan kabar, tentu saja membuat Anne merasa kesal bercampur rindu. Mungkin karena terlalu sering bersama sehingga membuat Anne merasa seperti ada yang berbeda jika tak ada Brian.
" Kak Seva," panggil Anne pada Seva yang tengah membuat puding di dapur.
"Ya, ada apa, Anne?" tanya Seva yang tetap melakukan aktivitasnya sampai selesai.
" Gak jadi deh," entah kenapa Anne tiba-tiba malu untuk mengatakannya.
" Ada apa, Anne? Bilang saja kalau ada yang ingin kamu katakan, jangan di pendam dan bikin orang jadi penasaran. "
Anne terdiam sejenak, mencoba berpikir kembali. Haruskan ia bertanya pada Seva tentang Brian? Bagaimana jika Seva juga tidak tahu dimana keberadaannya orang itu? Tapi, kalau tidak bertanya juga tak akan tahu.
" Emm... Itu, Kak Brian ada menghubungi Kakak?" tanya Anne ragu-ragu.
"Oh, Tuan Brian. Ada, memangnya kenapa?"
" Huh?" Anne terlihat terkejut ketika mendengar sebuah kenyataan kalau ternyata Brian menghubungi Seva, tapi tidak menghubunginya. Jangankan menghubunginya, membalas pesannya saja tidak.
" Kamu kenapa, Anne?"
" Gapapa," lirih Anne. " Kakak tahu dia kemana?" tiba-tiba Anne jadi kepo.
" Ada pekerjaan di luar kota, emangnya Tuan Brian tidak bilang sama kamu?"
__ADS_1
Anne menggeleng, lalu mengangguk membuat Seva jadi bingung mana jawaban yang benar. Iya, atau tidak?
" Kamu kenapa, Anne? Apa sedang merindukan Tuan Brian?" goda Seva.
Anne tertawa canggung saat mendengar ucapan Seva. " Mana mungkin aku rindu sama pria tukang aneh seperti itu!" elak Anne.
" Oh, baguslah. Soalnya Tuan Brian bilang kalau dia tidak akan pulang ke apartemen sebulan mendatang."
" Huh, sebulan?" pekik Anne dengan wajah yang terkejut.
Seva mengangguk sembari menahan tawanya saat melihat ekspresi terkejut Anne saat ini.
" Apakah dia sudah melupakan amanah dari Papa dan Mama untuk menjagaku? " lirih Anne yang masih terdengar oleh Seva.
Dia tak pernah mengira bahwa Brian akan berbuat seperti ini. Anne segera menelpon Brian, entah kenapa dia tidak terima dengan sikap Brian yang seperti ini. Namun, panggilan telepon Brian terus saja sibuk, hal itu membuat Anne semakin merasa kesal.
"Dasar pria aneh! Yaudah, awas saja kalau menghubungiku kembali, jangan harsap akan ku angkat!" gerutu Anne sembari menatap layar ponselnya.
Saking tak pekanya, Anne sampai tidak sadar bahwa sedari tadi Seva sedang melakukan panggilan telepon dengan Brian sehingga membuat pria itu ikut mendengar obrolan Seva dan juga Anne.
" Kenapa kalian berdua itu menggemaskan sekali, sama-sama merindukan tapi gengsi mengakuinya!" umam Seva dalam hati.
Brian memang sengaja melakukan hal ini karena ingin tahu bagaimana reaksi Anne jika dia tak memberikan kabar sama sekali. Apakah dia akan merindukannya atau tidak? Sebenarnya, meski tak saling bertukar kabar secara langsung dengan Anne. Brian masih terus memantau lewat Seva, dia sering meminta foto dan vidio aktivitas apa yang dilakukan Anne setiap hari selama ia pergi dinas.
" Sepertinya anda sedang bahagia, Bos," ujar Jeremy tatkala melihat yang Brian terus tersenyum bahagia.
__ADS_1
Brian hanya tersenyum. Melihat tingkah Anne yang begitu menggemaskan, membuat pria itu semakin rindu dan ingin sekali segera bertemu dengannya. Beberapa hari tak bersua, membuat ia sangat merindukannya, namun ditahan.
" Jer, setelah menyelesaikan urusan di sini, segera pesankan tiket pesawat untuk pulang," titah Brian.
" Baik, Bos."
Sebenarnya, Beberapa hari ini Brian sedang sibuk mengurus pekerjaan sekaligus kuliah pascasarjananya di luar kota. Begitulah kesibukan seorang anak tunggal dari salah satu pebisnis sukses di NY, walau belum menyelesaikan kuliah pascasarjananya, dia sudah di sibukkan dengan berbagai pekerjaan untuk membantu mengurus perusahaan sang papa.
...***...
Setelah semua urusannya selesai, Brian langsung kembali ke kota NY. Tak lupa pula, dia membelikan Anne dan Seva beberapa oleh-oleh.
Namun, setibanya di apartemen. Anne dan Seva belum pulang. Padahal, setahu Brian jadwal kuliah Anne seharusnya sudah selesai sejak tiga jam yang lalu.
" Kemana Seva dan Anne?" batin Brian.
Brian mencoba menghubungi Seva, tapi tak diangkat. Ia pun beralih menghubungi anak buah yang ia suruh memantau Anne dan Seva.
" Kalian tahu dimana Seva dan Anne berada?" tanya Brian dengan suara beratnya.
" Emm ... " sang Bodyguard pun bingung harus menjelaskannya bagaimana. Jadi, Ia mengirim Brian foto saja. Karena sebuah foto akan lebih mudah untuk memberitahukan Brian.
"Anne ...," lirihnya dengan tangan yang telah mengepal serta mata yang telah tertutup kabut kemarahan.
...****************...
__ADS_1