
Mita bergegas menuju Nirvana Garden setelah menerima panggilan dari Riza. Gadis itu mengkhawatirkan keadaan Lalita. Mona dan Luna segera menyambut kedatangan Mita.
"Kakak bos..."
"Sttt..aku tahu, kalian lanjutkan saja menata barang-barangnya. Aku ke Lita dulu" Mita menepuk pundak Luna dan Mona, lalu menghampiri Lalita yang sedang duduk, merangkai bunga untuk hiasan sambil melamun.
"Lita" panggil Mita lirih, agar tak
"Oh, kamu di sini? Apa ada masalah?"
"Aku mengkhawatirkan mu. Dia...tadi menelfonku"
"Aku minta maaf"
"Untuk?"
"Dia pasti marah sama kamu...dan itu karena aku"
"Kenapa dia harus marah padaku? Kamu kukirim kesini untuk bekerja, bukan untuk menemui dia. Tapi aku heran, kenapa dia tiba-tiba datang ketempat ini. Aneh"
"Setauku, tahun-tahun sebelumnya, Manager tidak pernah mengambil bagian dalam acara Live untuk official partner seperti ini. Biasanya hanya staff-staff biasa yang ditugaskan untuk memantau. Dan para petinggi perusahaan akan fokus dengan acara utama, acara perayaan yang di siarkan Live di TV-TV nasional"
"Mungkin dia memang sedang mengecek persiapan dan tanpa sengaja melihatku di sini. Semacam kebetulan"
"Maaf ya, kalau tidak terpaksa aku benar-benar tidak akan mengambil resiko dengan melibatkanmu di acara ini. Harusnya aku lebih mempertimbangkan-"
"Mit, ini bukan salah siapa-siapa. Lagi pula sudah tugasku sebagai pegawai kamu melakukan pekerjaan yang berhubungan dengan butik. Jangan pernah merasa bersalah"
"Kamu... baik-baik saja kan?"
"Ah, pertanyaan macam apa itu. Tentu saja kamu tidak baik-baik saja"
"Aku harus baik-baik saja dan akan baik-baik saja"
__ADS_1
"Kalau kamu merasa tidak nyaman, biar Luna dan Mona yang melakukan pekerjaan di sini. Mereka pasti akan mengerti"
"Tidak, aku akan menyelesaikan pekerjaan di sini sampai selesai. Lagi pula apa yang harus kutakutkan, memangnya dia mau melakukan apa kalau bertemu denganku. Aku tidak melakukan kejahatan apapun"
"Kamu sudah mencuri...mencuri hatinya" Mita tertawa setelah mengatakan itu. Lita berdecak tapi bibirnya tersenyum mengejek, mengejek dirinya sendiri.
Lalita yakin, setelah apa yang ia lakukan pada Riza beberapa tahun lalu. Hati Riza yang dulu ada dalam genggaman nya, kini sudah terlepas. Entah siapa gadis beruntung yang menggantikan posisinya sekarang.
Riza remaja berpenampilan sederhana saja sudah banyak yang naksir, apalagi Riza dewasa yang kini sudah mapan dan terlihat semakin menawan dan keren. Pasti banyak gadis yang berusaha mendapatkan hatinya.
...
Pintu ruang kerja Riza diketuk saat pria itu sedang sibuk dengan setumpuk pekerjaannya. Wajah menyebalkan yang sedang sangat di benci Riza saat ini, muncul dengan senyum tanpa dosa dari balik pintu. Riza melirik sinis keara tamunya, lalu pura-pura sibuk dengan pekerjaannya.
"Selamat pagi, pak Riza"
"Tidak usah banyak basa-basi, Mit. Kita bukan teman lagi sekarang, aku membencimu"
"CK! Kalau tidak ada yang penting, silahkan keluar. Pintunya sebelah sana!"
"Ciee...ngambek"
"Za, aku minta maaf ya. Aku tidak bermaksud menyembunyikan Lalitamu selama ini. Aku hanya berfikir jika kalian sudah tidak ada hubungan apa-apa lagi, jadi aku tidak pernah menceritakan tentang Lalita yang bekerja di butikku"
"Aku tidak peduli. Benar katamu, kamu tidak perlu menceritakan apapun tentangnya padaku. Kami sudah selesai sejak saat itu"
"Terus...kenapa kamu marah?"
"Aku...aku hanya...memangnya kapan aku bilang kalau aku marah?"
"Kemarin waktu di telfon, lalu tadi saat aku datang. Kamu bahkan mengatakan kalau kita bukan teman lagi dan kamu membenciku"
"Memang aku bilang begitu?"
__ADS_1
"Harusnya tadi aku merekam semuanya, dasar tuang gengsi"
"Emmm....Za, tapi...kamu tidak membenci Lalita kan? Dia pasti punya alasan..."
"Aku tidak peduli, aku tidak mau membahas apapun tentang masa lalu. Buang-buang waktu!"
"Syukurlah, jadi kita bertiga bisa berteman kembali seperti dulu"
"No, tidak!"
"Kenapa begitu? Katanya-"
Ketukan pintu kembali terdengar, menghentikan perdebatan keduanya. Shania tersenyum manis saat membuka pintu ruang kerja Riza, namun senyumnya lenyap saat melihat Mita yang saat itu nampak cantik dan fashionable duduk berhadapan dengan Riza.
Entah kenapa, Shania tidak suka saat Mita mengunjungi Riza. Meskipun Shania tahu, jika butik Mita dan perusahaan papanya menjalin kerja sama. Jadi bisa dikatakan Mita punya urusan bisnis dengan perusaahnya, namun Shania tidak suka melihat keakraban yang terjalin antara Mita dan Riza.
"Selamat pagi Bu Shania"
"Hem, pagi. Bu Mita pagi sekali sudah berkunjung ke sini. Apa urusannya begitu penting dan mendesak?" tanya Shania dengan wajah jutek dan bernada penuh sindiran.
Mita tersenyum miring, ia tahu wanita cantik di depannya ini sangat tidak suka dengannya. Padahal Mita merasa tidak pernah melakukan hal buruk terhadap Shania
"Oh, iya. Sangat penting Bu Shania. Masalah hati"
Shania melotot mendengar penuturan Mita, hatinya semakin terbakar mendengar perkataan asal Mita. Riza memukul kepala teman sejak SMA nya itu dengan gulungan kertas. Hal itu semakin membuat panas hati Shania, dimatanya interaksi seperti itu antara Mita dan Riza terlihat sangat manis. Padahal jika difikir dengan akal sehat, bukankah itu termasuk kekerasan.
Mita menoleh kearah Riza sambil menaik turunkan alisnya.
"Kalau begitu saya permisi dulu Bu Shania. Riza, urusan kita belum selesai. Jangan lupa datang ke rumahku ya nanti malam"
"Permisi semua"
Mita tertawa tanpa suara saat sudah melewati pintu ruang kerja Riza, dia benar-benar senang sudah berhasil mengerjai Shania. Mita memang suka sekali berbuat iseng, sejak remaja dulu hingga kini menjadi wanita dewasa yang mapan.
__ADS_1