Melawan Restu

Melawan Restu
MR Bab 95 : Bolehkah aku egois?


__ADS_3

Wajah Papa Ken terlihat begitu muram ketika tak kunjung berhasil mendapatkan informasi dimana keberadaan putranya.


Perasaan takut, khawatir, cemas, bercampur menjadi satu. Ia berharap jika putranya sedang dalam kondisi baik-baik saja dimanapun ia berada. Ia benar-benar tak dapat membayangkan jika sesuatu buruk terjadi pada Kean.


Kasihan istri dan anak-anaknya yang masih terlalu kecil. Kejadian ini membuat Papa Ken teringat kembali dengan kejadian di masa lalu. Dimana istrinya yang tiba-tiba menghilang, kemudian di ketahui jika ia masuk kedalam jurang.


" Tidak ...," Papa Ken menggeleng-gelengan kepalanya. Ia tak ingin kejadian itu sampai terjadi lagi.


Ia tak mau ada dirinya dan Anne kedua. Cukup sekali saja hal itu terjadi dalam hidupnya. Meski manusia tak ada yang hidup kekal, tapi setidaknya jangan sampai ada perpisahan semacam itu. Perpisahan dimana kita tak dapat melihat raganya untuk terakhir kali.


" Sudah pulang?" tanya Mama Dira tatkala melihat suaminya sudah pulang dari kantor.


Papa Ken mengangguk.


" Apa Papa sudah mendapatkan kabar tentang bang Kean?" tanya Dinda dengan wajah cemas.


Papa Ken menggeleng dengan kepala tertunduk.


Ada rasa lega di hati Mama Dira dan Dinda ketika mengetahui bahwa Papa Ken belum menemukan Kean. Itu pertanda bahwa Kean berhasil kabur dengan aman bersama Anne.


Namun, hati Dinda tiba-tiba merasa bersalah juga tatkala melihat wajah Papa mertuanya yang terlihat begitu khawatir. Tetapi Ia tak bisa berbuat apa-apa karena Kean melarangnya untuk mengatakan yang sejujurnya pada Papa Ken.


Papa Ken berjalan mendekati menantu perempuannya itu, lalu memegang pundaknya.


" Kamu tenang saja ya, Din. Bagaimana pun caranya, Papa akan berusaha menemukan Kean secepatnya dan membawanya pulang dalam keadaan utuh,"janji Papa Ken dengan tulus.


Dinda hanya bisa mengangguk. " Maafin Dinda ya, Pa." Batin Dinda dalam hati yang merasa begitu bersalah.


Setelahnya, Papa Ken melangkahkan kakinya pergi meninggalkan Mama Dira dan juga Dinda. Melihat Papa Ken yang pergi begitu saja tanpa menanyakan soal Anne, membuat Mama Dira merasa lega. Setidaknya, untuk sekarang ia tak perlu bingung harus mencari alasan apa untuk berbohong soal dimana keberadaan Anne.


" Kamu gak usah terlalu tegang, Din. Rileks saja," ujar Mama Dira sembari merangkul pundak menantunya yang terlihat begitu tegang.


" Dinda hanya merasa takut dan bersalah, Ma."

__ADS_1


" Sudah gapapa, lagian. Ini semua terjadi juga karena Papamu yang begitu kerasa kepala dan menyembunyikan semuanya. Andai dia mau merestui hubungan Anne dan Brian, pasti tidak akan ada hal seperti ini." Mama Dira mencoba meyakinkan menantunya jika ia tak perlu terbebani dengan hal ini.


Dinda hanya diam saja karena ia sedang berada dalam kondisi bimbang.


...***...


Di belahan dunia lainnya, terlihat seorang pria tengah menatap wajah cantik yang telah lama ia rindukan.


Tatapan Brian terus tertuju pada wajah cantik yang membuatnya memiliki rasa takut. Takut jika ia akan pergi lagi dalam hidupnya.


Dalam kondisi seperti ini, bolehkah Brian bersikap egois? Ia ingin terus bisa bersama dengan wanita yang sangat ia cintai.


" Sebentar lagi akan ada bola mata yang lepas dari tempatnya," sindir Kean yang tak di hiraukan oleh Brian.


" Kak," panggil Anne.


" Iya, Anne," jawab Brian lembut.


" Makan dulu," ujar Anne yang sudah menyiapkan meja dan makanan Brian.


" Tanganmu masih berfungsi, 'kan?" bukan Anne yang bertanya melainkan Kean.


" Kak, bisakah jangan menganggu keromantisan yang ada?" protes Brian yang lama kelamaan cukup sebal juga dengan kehadiran Kean yang lebih ketat dari seorang Bodyguard.


Kean menghentikan aktivitasnya, kemudian melipat kedua tangan di depan dada serta memberikan tatapan tajam kearah Brian.


" Apa perlu aku membawa Anne pulang?" ancam Kean.


" Kak, bukankah hanya meminta suap?" Brian mencoba membujuk Kean agar tak terlalu ketat.


" Sudah-sudah!" Anne mencoba menjadi penengah.


" Kak Brian mau aku suapi?"

__ADS_1


Brian langsung mengangguk, sementara Kean sudah melotot.


" Kalau begitu, akan aku suapi. "


" Anne ..., " seru Kean.


" Kak, ini hanya sekedar menyuapi seorang pasien. Jadi, tidak usah di perdebatkan!" tandas Anne yang membuat Kean bingung harus berkata apa lagi.


" Kenapa? Kakak mau aku suapi juga? Kalau begitu, gantian! "pungkas Anne yang membuat Brian tertawa.


" Gak perlu! Aku bukan PASIEN! " tandas Kean dengan menekan kata pasien.


Setelahnya, Anne pun menyuapi Brian dengan telaten. Meski rasa makanan tetap hambar pada indera pengecapnya, Brian tetap merasa ada yang berbeda.


Ada rasa bahagia saat melihat Anne dengan telaten menyuapi ya seperti ini. Namun, ketika Anne akan membersihkan meja makan, tanpa sengaja tatapan Brian jatuh pada sebuah cincin berlian yang melingkar di jari manis Anne.


Brian diam membeku, Ia seakan di sadarkan kembali jika wanita ini sudah tak bisa lagi ia dapatkan. Pasalnya, dalam agama islam seorang pria tak bisa lagi melamar seorang wanita yang telah di pinang oleh laki-laki lain.


" Kak," panggil Anne ketika melihat Brian yang terus menatapnya dalam diam.


"Eh, ya?"


" Kenapa?" Anne mengikuti arah tatapan Brian, dan baru menyadari jika Brian tengah menatap cincin lamaran dari Pangeran.


Anne pun segera menutupinya, bahkan ia sampai mencoba untuk melepaskan cincin itu, tetapi tak bisa.


" Tak perlu di sembunyikan atau di lepas, karena aku juga sudah tahu jika kamu adalah tunangan pria lain," papar Brian yang membuat dada Anne kembali sesak.


Untuk saat ini, apa yang dikatakan Brian memang benar. Jika statusnya adalah tunangan dari pria lain, tetapi untuk hati masih milik Brian. Karena pada dasarnya Anne belum mencintai Pangeran.


Lalu, bagaimana kisah ini selanjutnya? Akankah Anne memutuskan pertunangannya dengan Pangeran? Tapi, alasan apa yang akan Anne katakan pada pria itu? Meski belum cinta, Anne masih tetap punya rasa takut untuk menyakiti.


Jika boleh meminta, Anne tak ingin ada yang tersakiti diantara mereka bertiga, tetapi sepertinya itu mustahil.

__ADS_1


...****************...


__ADS_2