
Hari ini, ketika Anne mendapat sebuah masalah dengan seorang geng wanita di kampus, tanpa sengaja ia di bantu oleh seorang pria yang kebetulan orang Indonesia. Dia juga merupakan salah satu mahasiswa pertukaran yang sedang menuntut ilmu di sini.
"Terimakasih ya ... karena sudah menolong Anne," ucap Seva yang sangat bersyukur dan berterimakasih karena ada orang lain yang menolong Anne di saat ia tak ada. Andai saja tak ada pria itu, dan terjadi sesuatu yang tak diinginkan pada Anne, dapat di pastikan jika ia tak akan selamat dari Papa Ken.
Tahu sendiri 'kan bagaimana kejamnya Papa Ken. Meski sekarang dia sudah tak terlalu sadis, tapi yang namanya Papa Ken tetaplah Papa Ken. Dia tak akan tinggal diam jika ada orang yang menyakiti keluarganya, apalagi menyakiti putri kesayangannya, pasti akan sangat murka.
Hari ini, Seva memang sedikit lalai dalam menjaga Anne karena kondisi tubuhnya juga kurang vit. Sejak pagi dia terus-menerus keluar masuk toilet.
" Sama-sama, lagipula sesama manusia 'kan harus saling tolong menolong, apalagi kita sama-sama dari Indonesia."
Anne dan Seva pun hanya membalas dengan anggukan kepala dan tersenyum ramah.
" Oh, ya, Anne. Tapi kenapa kamu bisa punya masalah dengan mereka? "tanya pria itu yang bernama Caka.
" Aku juga gak tau, Kak. Kenal aja tidak, "ujar Anne jujur.
" Oh, kalau gitu kamu harus hati-hati saja. Mereka itu cukup terkenal wanita - wanita jahat di kampus ini, " nasehat Caka dan diangguki oleh Anne.
Di tempat lain, terlihat seorang pria yang tengah menahan amarahnya tatkala menyaksikan wanita pujaan hatinya tengah berbincang cukup dekat dengan seorang pria.
" Siapa dia? Kenapa, Anne terlihat begitu dekat? "gumam Brian. Tanpa berlama-lama, Brian segera keluar dari mobilnya dan berjalan menghampiri Anne.
__ADS_1
" Anne ...," panggil Brian seraya berjalan menghampiri gadis itu dengan memasang wajah dingin.
"Siapa Anne?" tanya Caka.
" Oh, Kakakku," jawab Anne santai.
" Hai, Kak," sapa pria itu ramah.
" Aku bukan kakakmu!" ketus Brian dengan tatapan dingin.
" Ayo kita pulang," Brian segera menarik tangan Anne, dan membawanya pergi.
Melihat Brian yang bersikap kasar pada Anne, membuat Seva segera menghampirinya.
" Tuan Brian, lepaskan tangan Anne!"teriak Seva seraya berlari menghampiri Brian dan Anne.
" Jangan ikut campur! " pungkas Brian.
" Bagaimana saya tidak ikut campur, Anne adalah tanggung jawab saya, "papar Seva.
Karena malas berdebat, Brian segera memberi kode pada anak buahnya keluar untuk mengatasi Seva. Selama ini, Brian memang sengaja menyewa beberapa bodyguard untuk terus mengamati pergerakan Anne dan Seva dari jauh.
__ADS_1
" Kak, kamu mau apakan Kaka Seva? " protes Anne.
" Dia tidak akan kenapa - kenapa asal menurut!" tandas Brian.
Sesampainya di depan mobil, Brian segera menyuruh Anne masuk kedalam mobil.
" Aku tidak mau masuk!" tolak Anne.
"Anne, masuk atau aku bisa bersikap lebih dari ini!" ancam Brian seraya memajukan wajahnya. Melihat rahang Brian yang mengeras, dan tatapan yang begitu tajam, tentu membuat Anne takut dan segera masuk saja ke dalam mobil.
Dada Anne bergemuruh hebat ketika melihat Brian yang bersikap tak seperti biasanya. Padahal, biasanya Brian selalu bersikap lembut padanya tapi sekarang ... Dia sudah seperti singa yang tengah marah.
Setelah berada di dalam mobil, Brian segera menginjak pedal gas dan mengemudikan mobilnya melaju memecah jalanan.
"Ada apa dengan Kak Brian? Apa aku berbuat salah?" gumam Anne seraya melirik ke arah Brian yang masih memasang wajah dingin.
" Kak, jangan ngebut-ngebut!" teriak Anne ketika Brian menambah kecepatan mengemudinya. Namun, pria yang sudah diliputi oleh rasa cemburu dan amarah itu, tak memperdulikan ketakutan Anne. Dia terus mengemudikan mobilnya menuju tempat yang akan ia kunjungi.
" Ya Allah, selamatkan aku dari Kakak yang menakutkan ini! Aku masih muda, mimpiku masih banyak dan belum menikah, masak sudah mati duluan!" Doa Anne dengan mata yang terus terpejam serta memegang tali seat belt dengan erat.
...****************...
__ADS_1