Menanti Cinta Untukku

Menanti Cinta Untukku
10 MALAM PERPISAHAN


__ADS_3

Sehari sebelum keberangkatannya, Dimas kembali mengajak Alila pergi bersamanya. Mereka menuju ke sebuah restoran alam di tepi sungai wisata yang dikelilingi oleh taman bunga yang sedang bermekaran dan berwarna-warni sangat elok.


Mereka memilih tempat di sebuah gazebo lesehan di mana salah satu sisinya berhadapan langsung dengan aliran anak sungai yang dangkal dan sangat jernih.


Setelah menyerahkan nota pesanan kepada pramusaji, Dimas dan Alila duduk bersebelahan di tepi sungai. Kedua kaki mereka menggantung ke bawah, masuk ke dalam sungai dan merasakan riak-riak kecil yang terus mengalir melewati kaki mereka. Tangan mereka bertumpu lurus di ujung gazebo di samping kiri dan kanan tubuh mereka.


"Dim, terima kasih sudah mengajakku pergi ke tempat seindah ini."


Alila menatap hamparan taman bunga di seberang sungai.


"Kamu menyukainya, Al?"


"Ya, aku suka sekali. Tempat ini sangat indah dan tenang. Jauh dari keramaian dan polusi udara."


Alila menghirup udara segar di sekitarnya dalam-dalam, lalu menghembuskannya dengan perasaan lega di dadanya.


Dari sampingnya, Dimas tak berhenti menatap Alila yang tengah menatap keindahan alam di sekitarnya.


Hatinya mendadak terasa hangat, ada getar-getar halus di dalamnya yang semakin lama berubah menjadi debaran keras di dadanya.


(Bagiku ini sangat sulit, Al. Di saat aku mulai menyayangimu dan ingin selalu bersamamu, di saat itu pula aku harus pergi dan meninggalkanmu.)


Alila masih tidak menyadari perhatian Dimas padanya sedari tadi. Dia masih terus mengedarkan pandangannya jauh ke depan. Dia seakan lupa jika ini adalah hari terakhirnya bisa bersama dengan Dimas, karena besok pagi lelaki itu sudah harus berangkat ke Bandung dan mereka akan terpisah tiga bulan lamanya.


"Dim, lihat-lah--.."


Saat ingin menunjukkan banyak kupu-kupu yang terbang di depan sana, Alila menoleh ke arah Dimas dan ucapannya langsung terputus begitu melihat lelaki itu ternyata tengah menatapnya dengan lembut.


Jantung Alila berdegup sangat kencang. Mata Dimas masih terus menatapnya tanpa jeda. Seolah terhipnotis, Alila membalas tatapan itu dengan sorot mata penuh cinta yang tak kuasa dia sembunyikan.


Mereka berdua beradu pandang dalam jarak yang cukup dekat, bahkan tarikan dan hembusan nafas mereka pun terdengar satu sama lain. Seakan ada yang menuntun, tangan Dimas bergerak perlahan meraih tangan Alila di sampingnya. Jemarinya mencari celah di sela jemari Alila dan mulai menyatukan genggaman mereka.


Diam. Hening. Sunyi. Mereka larut dalam perasaan masing-masing. Tanpa kata. Tanpa suara. Hanya ada getaran irama yang terus berdenting mengalunkan lagu cinta di hati keduanya.


"Permisi, kami mengantarkan pesanannya.."


Suara ramah dua orang pramusaji mengusaikan momen romantis Dimas dan Alila.


Mereka berdua segera bergeser dan duduk di bagian tengah gazebo di mana hidangan sudah tersaji di atas meja.


Meski masih tampak rikuh satu sama lain, Alila mendahului mengambil minuman Dimas lalu menyerahkannya. Dimas menerima dan meminumnya hingga setengah gelas.


Alila menyiapkan sepiring nasi untuk Dimas sebelum mengambil lagi untuk dirinya sendiri.


Ada beberapa menu ikan bakar yang mereka pesan. Alila membiarkan Dimas memilih dan mengambilnya sendiri. Setelah itu Dimas segera memisahkan ikan-ikan itu dari duri dan bagian kepalanya. Dia memilah dan membuatnya menjadi potongan-potongan kecil siap makan.


Saat Alila akan mengambil ikan untuknya sendiri, Dimas menarik piring kosong yang dipegang Alila dan menggantinya dengan piring yang berisi potongan ikan tadi.


"Makanlah yang ini, Al. Sudah aku bersihkan durinya. Kamu tinggal menikmatinya."


"Terima kasih, Dim."


Dimas kemudian mengulangi lagi untuk dirinya, mengambil beberapa lauk dan segera menikmatinya bersama Alila.


Melihat lauk yang dipilih Dimas berbeda dengan lauk yang ada di piringnya, Alila mengambil satu suap potongan ikan di piringnya dan mengulurkan tangannya ke mulut Dimas.


"Cobalah ini, rasanya asam manis, enak."


Dimas membuka mulutnya dan menerima suapan tangan Alila.

__ADS_1


Ingin membalasnya, Dimas segera mengambil satu suap lauk di piringnya dan diarahkan ke mulut Alila.


"Kamu mau coba yang ini, Al?"


Alila tersenyum dan segera membuka mulutnya, menerima suapan dari tangan Dimas.


"Enak?"


Alila menganggukkan kepalanya.


Akhirnya suasana kembali mencair. Mereka menyelesaikan makan siangnya, menikmatinya dengan lahap dan ceria.


.


.


.


Malam harinya di rumah Dimas, lima sahabat sudah berkumpul bersama. Sandy datang bersama Nayla, sedangkan Tama datang sendirian. Sementara Alila datang diantarkan oleh Alano adiknya.


Mereka sengaja berkumpul karena besok pagi Dimas akan berangkat ke Bandung. Meskipun sekarang tidak bisa setiap hari bertemu seperti saat kuliah dulu, tapi mereka selalu menyempatkan waktu untuk bisa bersama di saat ada momen penting dari salah satu di antara mereka.


"Dim, baik-baik di pelatihanmu. Jangan terpikat dengan si eneng geulis yang ada di sana." Canda Sandy.


Dimas hanya tersenyum tipis menanggapinya.


(Mana mungkin aku bisa terpikat pada seseorang di sana, sedang hatiku saja telah terikat dengan seseorang di sini.)


"Jangan selingkuh, Dim. Kasihan yang ditinggal di sini lho.."


Nayla berbicara apa-adanya tanpa menyadari ada hati yang sedang merasa disinggung olehnya.


Sebenarnya yang dimaksud Nayla adalah kekasih Dimas karena dia juga yang lainnya memang belum tahu kalau Dimas sudah lama tidak punya kekasih.


Dimas hanya diam dan menahan senyuman melihat tingkah Alila yang duduk berseberangan meja dengannya.


Beberapa saat mereka berlima terus berbincang dan bercanda, hingga akhirnya tak lama kemudian Sandy, Nayla dan Tama berpamitan pulang dan memeluk Dimas satu per satu.


"Al, mau aku antar pulang sekalian?" Tama menawarkan diri.


"Tidak usah, Tam. Terima kasih. Aku menunggu dijemput Alano kok."


Alila menolak tawaran Tama dengan halus. Tadi dia memang sudah meminta adiknya untuk menjemput kembali di rumah Dimas.


Tama hanya tersenyum lalu segera masuk ke dalam mobil, menyusul Sandy dan Nayla yang sudah lebih dulu meninggalkan rumah Dimas.


Setelah Tama berlalu, Alila duduk di teras rumah. Sementara itu, Dimas masuk ke dalam rumah sebentar lalu keluar kembali dengan membawa kunci rumah dan kunci mobil.


Sampai di luar dia segera mengunci pintu rumahnya lalu menghampiri Alila.


"Ayo, aku antar pulang."


"Aku sudah meminta Alano menjemputku, Dim."


"Aku sudah memberitahu dia kalau aku yang akan mengantarkanmu pulang, Al."


Dimas berjalan ke arah mobil yang terparkir di luar garasi. Akhirnya Alila mengikutinya masuk ke dalam mobil.


Dalam perjalanan mereka berdua hanya terdiam. Mulai terasa aura perpisahan yang akan segera tiba saatnya.

__ADS_1


"Al.."


Dimas menatap Alila sekilas sambil terus mengemudi.


(Beginikah rasanya akan pergi meninggalkan dia yang kita sayangi..)


Alila yang dipanggil pun hanya menatap Dimas sekilas dan kembali menatap jalanan di hadapannya.


(Seperti inikah rasanya akan berpisah dengan seseorang yang kita sayangi..)


Tak ada suara keduanya hingga mobil sampai di halaman rumah Alila. Dimas segera meraih tangan Alila sebelum wanita itu keluar dari mobil.


"Al, maafkan aku.."


"Untuk apa?" Suara Alila mulai menyerak.


"Maaf karena aku tidak bisa menemanimu dan menjagamu seperti biasanya.."


Suara Dimas pun terasa berat. Tangannya sudah menggenggam jemari Alila.


Alila kembali menyandarkan tubuhnya ke belakang. Dia memejamkan mata mencoba untuk menahan air matanya. Dimas hanya bisa memandanginya dari samping sambil sesekali mempererat genggamannya.


Tak lama kemudian Alila membuka matanya. Dia melihat ke arah Dimas dan mencoba untuk tersenyum. Tangan kirinya sudah membuka pintu mobil.


Dimas melepaskan genggamannya dan membiarkan Alila keluar dari mobil lalu berjalan menjauh. Dia segera mengikutinya sampai ke depan pintu rumah Alila.


Mereka berdiri berhadapan dan menyatukan pandangan.


"Selesaikan tugasmu di sana dengan baik, Dim. Aku mendoakanmu dari sini."


"Terima kasih, Al. Tunggu aku kembali."


Dimas mendekat dan memeluk Alila.


Mereka yang tadinya hanya akan berpelukan sekilas seperti saat yang lain berpamitan di rumah Dimas, akhirnya larut dalam perasaan haru-biru.


Alila tak juga melepaskan pelukannya. Dia semakin mempererat ikatan kedua tangannya di pinggang Dimas. Dimas pun melakukan hal yang sama, mempererat pelukannya di tubuh Alila.


Setelah bisa mengendalikan perasaannya, Alila melepaskan pelukannya, demikian juga Dimas.


"Besok pagi aku akan meneleponmu, Al."


"Ya, Dim."


Akhirnya Dimas benar-benar melangkah meninggalkan Alila. Dia segera masuk ke dalam mobil diiringi pandangan Alila yang terus memperhatikannya dari ujung teras.


Dengan berat hati Dimas melajukan mobilnya keluar dari rumah Alila. Sesaat Alila masih berdiri terpaku menatap kepergian Dimas, sebelum akhirnya masuk ke dalam rumah dengan hati yang terasa hampa.


.


.


.


Note :


Jangan lupa untuk selalu menyemangati kami dengan Like, Komentar, Vote & Favorit ya..🙏💜🙏


Terima kasih banyak untuk semua pembaca yang telah berkenan membaca dan menikmati novel kami.

__ADS_1


Salam cinta dari kami..


Author


__ADS_2