Menanti Cinta Untukku

Menanti Cinta Untukku
14 BERTEMU DIKA


__ADS_3

Esok paginya, Alila sudah rapi dan siap dengan pakaian kerjanya. Dandanan tipis natural dan rambut yang digerai alami, menambah maksimal penampilannya yang sederhana namun elegan.


Di meja makan, dia tampak heran melihat Alano sudah keluar dari kamar dengan gaya anak kampusnya yang segar dan percaya diri.


"Tumben pagi-pagi sudah keren, Lan. Ada kuliah pagi?"


"Yaps. Kuliah pagi dan sore hari di gedung Pandawa Grup."


Alano menjawab sambil menikmati nasi goreng buatan mama mereka.


Alila menatap adiknya serius.


"Pandawa Grup? Mau apa kamu ke kantorku?"


"Ciee.., yang punya kantor. Mentang-mentang sudah bekerja di sana.." Goda Alano.


"Jangan bercanda. Aku bertanya sama kamu, Lan!"


"Aku juga tidak bercanda, mbak. Tiap pagi dan sore aku akan ke sana terus."


"Ada apa?"


"Antar jemput mbak Al."


"Tapi aku bisa pergi pake taxi online saja, Lan."


"Tidak ada tapi. Titik."


Alano menyelesaikan sarapannya secepat kilat lalu minum air putih dan segera beranjak menuju garasi.


"Buruan dihabiskan, mbak. Aku tunggu di mobil."


Mau tak mau akhirnya Alila menuruti Alano. Setelah pamit pada mama papanya, dia segera menyusul adiknya yang telah menunggu di halaman depan.


Di perjalanan, Alila masih penasaran dengan sikap Alano.


"Kamu kenapa sih, Al. Pake acara antar jemput aku segala."


"Tidak mau?"


"Tidak!"


"Kalau diantar jemput mas Dimas mau?" Tanya Alano santai.


"Apaan sih kamu.."


Alila mendadak gugup disodori pertanyaan tentang Dimas. Wajah lelaki itu seketika hadir memenuhi pikirannya dan membuatnya tersenyum sendiri.


(Dim, aku berangkat bekerja. Doakan aku, ya.)


Alano melihat senyuman kakaknya itu. Sebenarnya dia tidak pernah mau tahu apalagi mencampuri urusan pribadi kakak satu-satunya itu. Tapi kali ini dia penasaran dengan hubungan Alila dan Dimas.


"Mbak Al sama mas Dimas pacaran apa tidak sih?"


Alila menoleh ke arah Alano yang masih tenang mengemudi.


"Mau tahu saja kamu..!"


"Tidak juga sih. Cuma jadi penasaran saja sama hubungan mbak Al dan mas Dimas yang sekarang. Kayak ada manis-manisnya gitu.." Seloroh Alano.


"Iklan saja kamu."


"Jujur sama aku mbak. Iya kan, sekarang hubungan mbak Al dan mas Dimas itu ada lebih-lebihnya?!"


Alano menatap kakaknya dengan wajah serius.


Alila terdiam. Tidak mungkin dia menceritakan semua pada adiknya. Dia ingin menyimpan dan menikmati sendiri seluruh perasaannya pada Dimas.


"Kalo diam berarti benar nih.." Alano menebak dengan yakinnya.


Alila tetap diam. Dia tidak menanggapi omongan adiknya. Dia menatap keluar jendela, menikmati suasana pagi di jalanan yang mulai ramai dengan lalu lalang kesibukan manusia.


Beberapa menit kemudian mereka sudah sampai di tempat kerja Alila. Alano mengarahkan mobilnya masuk sampai ke halaman gedung Pandawa Grup yang menjulang tinggi.

__ADS_1


Alano menghentikan mobilnya tak jauh dari pintu utama gedung. Alila segera keluar dari mobil. Sebelum dia menutup kembali pintunya, Alano mengingatkan lagi.


"Nanti sore aku jemput, mbak. Tunggu saja di lobby nanti aku kabari kalau sudah sampai. Oya, jangan lupa makan siang!"


Alila sudah mau membuka mulutnya untuk membantah tapi Alano kembali berucap.


"Titik."


Alano menarik pintu dari dalam hingga tertutup sempurna, lalu melajukan mobilnya meninggalkan Alila yang masih bingung dengan sikap dan perhatian adiknya yang tidak biasa.


Alila menghela nafasnya lalu berjalan masuk ke dalam gedung. Setelah melakukan absensi sidik jari, dia ikut mengantri di depan lift untuk menuju ruang kerjanya di lantai tiga.


.


.


.


Jam istirahat tiba. Alila keluar dari ruangannya bersama dua teman baru yang mulai akrab dengannya.


"Kita makan siang di kantin bawah saja yuk.." Ajak Olla.


"Memangnya ada berapa kantin di gedung ini?" Tanya Nadia.


"Setahuku ada dua, di bawah sama di lantai empat." Jawab Olla.


"Kamu sepertinya sudah lebih tahu tentang gedung ini daripada kita deh, La." Kata Alila.


"Eh, itu.., tidak juga. Tadi sempat dengar saja dari kakak-kakak di ruangan sebelah."


Olla seperti menyembunyikan sesuatu dari teman-temannya.


Setelah turun ke lantai bawah, mereka bertiga langsung menuju kantin yang luas di bagian ujung gedung.


Saat selesai memesan makanan, tiba-tiba ada suara seseorang di belakang mereka.


"Alila.."


"Dika.."


Alila hanya menyebut nama laki-laki itu dalam hati. Perasaannya seketika berubah menjadi tidak nyaman.


"Hai, Dika! Kamu kenal Alila?"


Olla tampak tersenyum senang melihat keberadaan Dika.


Dika hanya membalas dengan senyuman sementara tatapan matanya masih tertuju pada Alila yang berdiri di antara Olla dan Nadia.


"Dia teman kuliahku."


Dika menjawab singkat sambil terus menatap Alila.


(Dan wanita yang selama ini aku kejar cintanya.)


Alila yang merasa risih dengan tatapan Dika buru-buru memalingkan wajahnya ke samping. Di sana dia justru mendapati Olla yang tersenyum bahagia tengah memandang Dika dengan tatapan yang menyiratkan rasa cinta.


Sejenak dia terkejut namun segera menguasai keadaan. Dia menepuk pelan pundak Olla.


"Kalian sudah saling kenal?" Tanya Alila.


"Oh.., iya. Kami sudah kenal cukup lama, Al. Dika teman SMA-ku. Dan ayah kami juga bekerja di tempat yang sama."


Olla juga menjawab dengan mata yang tak lepas memandang Dika.


Nadia merapatkan tubuhnya ke tubuh Alila.


"Sepertinya Olla sangat menyukainya, Al. Lihat caranya menatap lelaki itu. Tatapan penuh cinta."


Nadia berbisik di telinga Alila. Alila menanggapinya dengan anggukan kepala.


"Tapi dia malah menatapmu dari tadi. Apakah dia menyukaimu?" Nadia terus berbisik pada Alila.


"Jangan sok tahu, Nad!"

__ADS_1


Alila tidak suka jika ada pembicaraan masalah hati yang melibatkan dirinya.


"Ayo buruan kita duduk, sebentar lagi makanannya akan diantar ke meja kita."


Alila menarik tangan Olla dan Nadia bersamaan dan membawa mereka menuju meja yang sesuai dengan nomor pesanan mereka.


Dika mengikuti mereka bertiga dan duduk di seberang meja mereka. Dia tidak memesan makanan, hanya menikmati minuman kemasan yang sudah dibelinya tadi.


"Ternyata kamu bekerja di sini, Dik."


Olla masih terus mengajak Dika bicara meski meja mereka berjarak.


"Seperti dirimu juga."


Jawab Dika dengan nada bicara yang sama dengan Olla, seolah saling mencibir satu sama lain.


Pesanan datang. Alila dan kedua temannya segera menikmati makan siang mereka, masih ditemani oleh Dika dari meja seberang. Mereka menghabiskan waktu istirahat yang masih tersisa dengan obrolan ringan seputar diri masing-masing untuk lebih mengenal satu sama lain.


.


.


.


Sore hari, jam empat tepat para karyawan perusahaan sudah keluar dari ruangannya. Mereka beramai-ramai keluar dari gedung untuk pulang melepas penat setelah seharian bekerja keras.


Alila masih duduk menunggu di dalam lobby. Alano sudah mengirim pesan jika dia sudah dekat dengan kantor Alila. Sementara Olla dan Nadia sudah lebih dulu pulang.


"Al, mau aku antar pulang?"


Dika muncul dari arah dalam dan dengan cepat sudah berada di depan tempat duduk Alila.


"Tidak, terima kasih." Jawabnya ketus tanpa melihat Dika.


Mengingat tingkah laku Dika selama ini kepadanya, membuat Alila malas berbicara dengannya meski hanya sekedar basa-basi.


Sejak tahu Dika juga bekerja di kantor yang sama dengannya, Alila semakin menjaga jarak. Dia sama sekali menutup kesempatan sekecil apapun agar Dika tidak lagi mendekatinya.


(Jika nanti kamu tahu tentang ini, apa yang akan kamu lakukan, Dim?)


Alila terus menatap ke arah luar, berharap adiknya segera datang agar dia bisa meninggalkan Dika saat itu juga.


"Al, aku masih setia menunggumu sampai kau mau menerimaku."


Kata-kata Dika yang baru saja didengarnya membuat Alila semakin merasa tidak nyaman untuk berlama-lama duduk di lobby.


Dia bangkit dari duduknya dan berjalan cepat keluar melewati pintu utama. Matanya terus menatap ke halaman, mencari-cari keberadaan mobil Alano yang tak kunjung terlihat.


Dika yang merasa diabaikan segera mengejar mengikuti Alila. Beruntungnya Alila, saat Dika hampir mendekatinya, mobil Alano sudah terlihat memasuki halaman gedung dan berputar menuju ke samping pintu utama.


Alila berlari kecil menghadang mobil adiknya yang belum sepenuhnya berhenti. Dia segera membuka pintu dan masuk ke dalam mobil. Alano pun melajukan kembali mobilnya keluar dari area gedung.


Di luar pintu utama, Dika berdiri dengan raut wajah yang kecewa, karena Alila tidak menanggapinya sama sekali. Dirinya juga penasaran, siapa yang telah menjemput Alila tadi. Namun dia tidak bisa melihatnya, entah pria atau wanita, tidak terlihat sedikit pun.


Kaca mobil Alano memang dibuat gelap dan tidak tembus pandang dari luar. Alano menyukainya karena sesuai dengan kepribadiannya yang dingin dan tertutup. Meskipun sebenarnya dia juga memiliki sisi yang hangat dan konyol hanya jika bersama orang-orang terdekatnya.


Yang lupa dengan Dika, ada pengenalan ceritanya di episode 2 ya..😘


.


.


.


Note :


Jangan lupa untuk selalu menyemangati kami dengan Like, Komentar, Vote & Favorit ya..🙏💜🙏


Terima kasih banyak untuk semua pembaca yang telah berkenan membaca dan menikmati novel kami.


Salam cinta dari kami..


Author

__ADS_1


__ADS_2