Menanti Cinta Untukku

Menanti Cinta Untukku
07 ADA YANG BERBEDA


__ADS_3

Jam setengah tujuh malam, Dimas sudah menjemput Alila dan langsung tancap gas ke lokasi restoran yang sudah ditentukan oleh Tama.


"Dim..."


"Hmm..?"


Dimas tidak menoleh sama sekali.


"Tadi siang, apa benar kamu mengikuti aku dan Tama?"


Dimas tidak menjawabnya.


Alila menyesal sudah menanyakan hal bodoh seperti itu. Mana mungkin Dimas yang dingin dan cuek itu mengikuti dirinya yang jelas-jelas hanya pergi bersama Tama, sahabat mereka sendiri. Dia terlalu berharap.


"Aku hanya rindu pada orang yang tidak mau dirindukan. Jadi aku pergi mencarinya."


Mendengar jawaban Dimas, spontan Alila menoleh ke arah Dimas yang tidak menunjukkan sikap apapun. Hanya diam dan menatap jalanan di hadapannya.


Mendadak lidahnya kelu, tak mampu berucap. Matanya masih terus menatap Dimas tak percaya. Hatinya serasa berubah menjadi taman bunga yang bermekaran.


(Benarkah? Kamu merindukan aku, Dim?)


"Maaf, Al. Tidak seharusnya aku melakukannya."


Pagi tadi, setelah berbalas pesan dengan Alila, Dimas merasa ada yang mengganjal di hatinya. Akhirnya dia memutuskan untuk segera pergi ke rumah Alila, tetapi dia hanya mengawasinya dari kejauhan. Dia melihat mobil Tama datang dan tak lama kemudian dia mulai mengikuti mobil Tama yang sudah keluar lagi dari rumah Alila.


Mereka berdua membisu dalam pikiran masing-masing.


"Terima kasih atas perhatianmu, Dim."


"Apa kamu suka?"


Alila tidak menjawab, hanya menganggukkan kepalanya dan segera memalingkan wajahnya ke arah jendela. Jantungnya berdegup sangat cepat.


Dimas tersenyum memperhatikan tingkah Alila.


(Aku senang kamu menyukai perhatianku, Al.)


Mereka sampai di tempat tujuan. Sebuah restoran seafood yang cukup mewah. Saat tiba di meja yang sudah dipesan oleh Tama, Sandy dan Nayla belum datang. Hanya ada Tama yang menyambut mereka.


"Tumben kalian yang datang duluan." Sapa Tama.


"Makanan sudah aku pesankan. Kalian tinggal pesan minuman saja sesuai selera."


Alila menatap Dimas yang sudah duduk berhadapan dengan Tama. Yang ditatap pun seakan tahu apa maksud Alila.


"Es lemon tea, Al."


Alila berjalan menuju meja pemesanan lalu tak lama kemudian sudah kembali ke meja mereka.


Dilihatnya Dimas dan Tama tengah ngobrol berdua.


"Besok kamu beneran sudah mulai bekerja, Tam?"


"Ya. Papa sudah mendesakku terus. Lagipula sekarang waktuku juga sudah banyak longgarnya, jadi bisa mulai belajar bisnis dan terjun langsung di kantor Papa."


"Kamu sendiri? Lamaran yang kemarin itu bagaimana, Dim?"


"Lusa pengumumannya."


Tak berselang lama, Sandy dan Nayla datang.


Setelah memesan minuman, mereka juga bergabung menjadi satu dengan formasi lengkap berlima.


"San, jadi kapan rencana menikah kalian?" Tanya Dimas.


Sandy dan Nayla saling berpandangan. Sandy menggelengkan kepala.


"Perubahan rencana sepertinya. Mungkin tahun depan."


"Kita mau fokus bekerja dulu satu tahun. Sama-sama adaptasi dulu dengan pekerjaan masing-masing."


"Yang penting tetap jaga rasa dan jaga hati satu sama lain." Sambung Nayla.


"Kita doakan yang terbaik buat kalian berdua. Juga yang terbaik untuk kita semua."


Alila melempar senyum untuk semuanya.


Seluruh pesanan sudah siap di meja. Tama mengajak semuanya langsung menikmati hidangan yang sudah tersedia.


Dimas diam saja dan terus menatap wajah Alila ketika Alila mulai mengambilkan nasi untuknya. Dia menerima apa saja yang dipilihkan Alila dan dituangkan di piringnya.


Setelah selesai menyiapkan makanan Dimas, Alila pun mengambil makanan untuk dirinya sendiri dan segera menyusul yang lain yang sudah mulai menyantap makanannya.


Sesekali Dimas menatap dan memperhatikan Alila yang duduk di sampingnya. Entah mengapa akhir-akhir ini dia sangat senang melakukannya.


(Hanya memandangmu saja hatiku sudah bergetar, Al.)


"Bagaimana makanannya? Kalian suka?" Tanya Tama.

__ADS_1


"Enak, Tam. Apalagi gratisan." Jawab Sandy cepat.


"Ini restoran rekomendasi dari papaku. Kebetulan kita belum pernah ke sini, jadi aku ajak kalian ke sini."


Kata Tama.


"Terima kasih, Tam. Hidangannya semua nikmat."


Alila juga memuji pilihan restoran Tama, membuat Tama tersenyum puas.


Dimas menatap Alila dan Tama yang saling melempar senyum. Ada rasa tidak nyaman hinggap di hatinya.


"Mulai sekarang kita mungkin tidak bisa sering bertemu dan berkumpul berlima seperti ini. Tapi jika ada waktu yang sama, kita harus segera berkumpul lagi, oke..?!"


Sandy menatap satu per satu sahabatnya termasuk Nayla di sampingnya.


"Aahh, jangan membuat terharu dong..! Jadi ingin menangis ini.."


Nayla terlihat sudah mulai berkaca-kaca, membuat Alila juga terbawa suasana.


"Sandy memang deh, membuat suasana hati menjadi sedih-sedihan seperti ini.."


Alila ikut meneteskan air mata, meskipun wajahnya tetap menampakkan senyuman.


Dimas yang sedari tadi hanya memperhatikan Alila, segera mengambil selembar tisu di meja dan memberikannya pada Alila tanpa berkata apapun.


Alila menerimanya dan menatap Dimas yang terus menatapnya, tanpa peduli dengan Tama yang mulai memperhatikan mereka berdua.


(Jika tidak ada yang lain, aku sendiri yang akan menghapus air matamu, Al.)


Pukul sembilan malam, mereka pun meninggalkan restoran. Tama melepaskan kepergian empat sahabatnya, baru kemudian dia ikut berlalu pulang.


"Al, kita mau ke mana?"


"Terserah kamu saja."


"Pulang?"


Alila menggelengkan kepala.


"Aku belum ingin pulang."


(Aku masih ingin berdua denganmu, Dim.)


"Seperti biasanya?"


Dimas melajukan mobilnya tanpa tujuan. Pikirannya juga sedang kosong. Dia hanya ingin menghabiskan waktu bersama Alila.


"Al.."


"Ya?"


"Mengapa kamu masih sendiri?"


Wajah Alila berubah tegang. Pertanyaan yang tidak disangkanya.


"Tidak apa-apa."


"Apa hatimu sedang menanti seseorang, Al?"


(Iya, Dim.)


Alila diam. Kedua tangannya saling meremas. Dia gugup dan tidak tahu harus menjawab apa.


"Apa kamu mencintainya?"


(Aku sangat mencintainya...)


"Al..."


"Dim, bisakah kita tidak membicarakannya?"


"Jika kamu sedang tidak mencintai siapa pun,


kamu pasti akan langsung menjawabnya, Al."


"Jika kamu diam, berarti memang ada seseorang di hatimu.."


Alila semakin salah tingkah. Dadanya bergemuruh dan terasa sangat sesak menahan perasaan yang berkecamuk saat ini.


Dimas menepikan mobilnya dan berhenti. Dia menatap wajah Alila yang terus menunduk.


"Al..."


"Al, aku minta maaf kalau aku lancang menanyakan hal pribadi padamu. Aku.., aku hanya..."


Mulut Dimas tercekat. Seumur hidup, sepanjang dia menjalin hubungan dengan siapa pun, dia tidak pernah bersikap seperti ini. Dan dia juga tidak pernah merasakan sesuatu yang seperti ini.


Tapi sekarang, entah mengapa dia sangat ingin tahu perasaan wanita yang duduk di sampingnya. Dia tidak ingin ada lelaki lain yang dirindukan wanita itu. Dia tidak rela ada lelaki lain yang dicintai wanita itu.

__ADS_1


Dimas memukul setir mobilnya dengan keras hingga mengagetkan Alila. Dia mengacak-acak rambutnya lalu mengusap wajahnya dengan kasar.


"Dim..."


Suara Alila meluruhkan sebagian emosinya. Dia menoleh menatap Alila yang menatapnya dengan penuh kecemasan. Kini seluruh emosinya sirna seketika hanya dengan melihat wajah Alila.


"Al, maafkan aku.."


"Aku juga minta maaf, Dim.."


"Al, aku..."


"Dim, bisakah kita bersikap seperti biasanya saja?"


"Tidak bisa, Al."


Dimas menjawab dengan cepat. Alila tertegun menatap Dimas.


(Mengapa tidak bisa, Dim?)


"Aku tidak bisa, karena sudah ada yang berbeda di dalam sini, Al."


Dimas menunjuk ke arah dadanya sendiri.


"Di hatiku."


Alila tidak bisa lagi berkata-kata. Dia masih tidak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya.


"Aku juga belum bisa memahami perasaanku sendiri, Al. Karena baru sekali ini hatiku merasakannya. Hanya denganmu. Hanya saat bersamamu."


"Hatiku bahagia saat kamu bersamaku. Tapi hatiku sakit saat kamu bersama lelaki lain, Al."


Dimas menatap lembut mata Alila saat dia mengungkapkan perasaannya.


"Tapi Dim, sudah ada dia yang bersamamu.."


Alila pun merasakan hatinya sakit saat mengatakan itu.


"Tidak ada, Al. Aku tidak punya kekasih."


Dimas menjawab dengan nada tegas.


Alila diam, mencoba mencerna satu per satu kata-kata yang keluar dari mulut Dimas.


"Kamu tidak percaya, Al? Maaf jika selama ini aku menyembunyikannya darimu."


"Itu sudah lama terjadi, Al. Aku sudah sendiri, jauh sebelum kita menerima jadwal sidang skripsi dulu."


Alila tidak tahu lagi harus bagaimana. Semua terjadi begitu tiba-tiba dan mengagetkannya.


"Al, bisakah kamu memberiku kesempatan? Agar hatiku bisa mengenal hatimu lebih dekat lagi?"


Alila menatap dalam-dalam kedua mata Dimas. Mencoba mencari kebenarannya di sana.


Dua pasang mata itu kini saling menatap, dengan sorot mata yang saling mengasihi, membiarkan hati mereka saling bicara tentang semua rasa yang terpendam.


"Al..."


Dimas menanti jawaban Alila.


Alila terbawa perasaan bahagianya. Air mata mulai jatuh di kedua pipinya. Tapi dia tersenyum menatap lelaki di hadapannya.


"Ya, Dim."


Alila menganggukkan kepala tanpa ragu lagi.


Dimas tersenyum lega. Meskipun kata cinta belum terucap di antara mereka, dia percaya waktu akan membantunya untuk menemukan kebenaran atas perasaannya pada Alila.


"Terima kasih, Al."


Dimas menghapus air mata Alila dengan kedua tangannya.


Tak ada lagi suara. Hanya hening yang tercipta, menemani dua hati yang mulai bersanding bersama dalam ikatan rasa yang indah dan tak ingin terpisahkan lagi.


.


.


.


Note :


Jangan lupa untuk selalu menyemangati kami dengan Like, Komentar, Vote & Favorit ya..🙏💜🙏


Terima kasih banyak untuk semua pembaca yang telah berkenan membaca dan menikmati novel kami.


Salam cinta dari kami..


Author

__ADS_1


__ADS_2