Menanti Cinta Untukku

Menanti Cinta Untukku
2.7. CEMBURU AKUT


__ADS_3

"Mas Pandu ...?"


Alila terus mengamati lelaki itu. Jika memang benar dugaannya, penampilannya sudah jauh berbeda dari dua tahun yang lalu, saat Alila bertemu dengannya setiap hari.


"Iya, ini aku. Apa aku terlihat berbeda?" tanya lelaki yang benar bernama Pandu itu.


"Maaf, Mas. Aku hampir saja lupa, kalau tidak ingat dengan logat bicara Mas yang khas."


Alila sedikit mengingat lelaki itu karena mempunyai gaya bicara yang seperti orang asing, dengan logat bahasa Inggris yang masih kental. Memang lelaki itu asli orang Indonesia, tetapi dia lahir dan besar di luar negeri karena papanya yang bekerja sebagai diplomat.


"Apa kabar? Kamu bekerja di sini?" Lelaki itu bertanya lagi dengan tangan kanan yang terulur ke arah Alila.


Alila menyambut uluran tangannya dan mengangguk.


"Iya, Mas. Sudah hampir satu tahun, sejak aku lulus kuliah tahun lalu."


"Mas Pandu ada keperluan apa di sini?" tanya balik Alila.


Pandu membawa tas jinjing yang sepertinya berisi laptop dan dokumen pekerjaan.


"Ada rapat yang harus aku hadiri dengan para dewan direksi di sini. Aku mewakili pimpinan perusahaanku karena beliau mempunyai saham di Pandawa Grup ini."


Tiba-tiba seorang wanita seumuran Alila datang dan langsung menghampiri Pandu. Dia menyerahkan sebuah map dokumen kepada Pandu dan berbincang sebentar, kemudian langsung pergi lagi.


Alila hanya memperhatikan dan diam sampai Pandu kembali mengajaknya berbicara.


"Ada dokumenku yang tertinggal di kantor dan tadi sekretarisku menelepon jika sudah sampai di sini, karena itu aku kembali ke bawah dan justru bertemu denganmu."


Setelah berbicara beberapa saat, Pandu pamit untuk kembali ke lantai teratas.


"Boleh aku minta nomor ponselmu, Al?" pinta Pandu sebelum menyudahi pertemuan singkat mereka.


Alila berusaha menolak secara halus karena dia harus meminta ijin pada Dimas lebih dulu. Dia mengeluarkan ponselnya dan membuka layar panggilan dengan tombol angka yang sudah tersedia.


"Mas tulis saja nomor ponselnya di sini, biar aku simpan dan nanti aku yang akan menghubungi Mas Pandu." Alila menyerahkan ponselnya kepada Pandu.


Selesai menuliskan nomor ponselnya, Pandu segera mengembalikan ponsel Alila dan mereka pun berpisah untuk menggunakan lift yang berbeda.


.


.


.


Siang harinya, setelah berada di dalam sebuah cafe untuk makan siang bersama, pelan-pelan Alila menceritakan pertemuannya dengan Pandu tadi pagi.


"Pandu? Mentor kesayanganmu itu?" Nada suara Dimas seketika berubah dingin dan datar mendengar istrinya bercerita tentang Pandu.


"Mentor magang, Dim." Alila meralat ucapan suaminya agar tidak bertambah marah.

__ADS_1


"Ya, dia orang yang selalu kamu ceritakan padaku setiap hari, setelah kita pulang magang." Dimas masih ingat semuanya.


"Berarti dialah yang tadi pagi aku lihat memasuki lift dan menghilang dari pandanganku ...." Dimas menghubungkan cerita Alila dengan seseorang yang sekilas dilihatnya saat mengantarkan Alila pagi tadi.


Dulu dia dan Alila magang di perusahaan yang sama, di mana Pandu bekerja di sana dan akhirnya menjadi mentor Alila. Sedangkan Dimas menempati bidang kerja yang berbeda sehingga jarang bertemu dengan Alila meskipun mereka selalu berangkat dan pulang bersama.


Pandu juga menjadi orang pertama selain Tama, yang membuat Dimas tidak suka jika ada lelaki lain mendekati Alila apalagi menaruh hati pada sahabatnya itu.


Karenanya, dia selalu merasa tidak nyaman setiap kali Alila bersama Pandu atau hanya sekedar membicarakan lelaki itu, sekalipun itu hanya sebatas urusan pekerjaan selama masa magang mereka.


Dan sekarang, di saat mereka sudah menikah, Alila bertemu lagi dengan Pandu. Mungkin Alila tidak menyadari jika Pandu diam-diam menyimpan rasa suka kepadanya, tapi Dimas sudah mengetahuinya sejak dulu.


Dimas bisa melihatnya dari sikap dan perhatian Pandu kepada Alila yang berbeda dan lebih istimewa dibandingkan kepada teman-temannya yang lain.


"Apa yang kalian bicarakan?"


Alila menggeleng pelan.


"Tidak ada, Dim. Hanya saling menyapa saja."


Alila makin ragu untuk menceritakan tentang nomor ponselnya yang ingin diminta oleh Pandu. Alila memang sempat mengganti nomor ponsel karena kehilangan ponselnya.


"Apa dia juga meminta nomor ponselmu lagi?"


Dalam hati Alila bersyukur karena Dimas lebih dulu menanyakannya sebelum dia bercerita.


"Iya, Dim. Tapi aku belum memberikannya. Aku harus meminta ijinmu dulu, kan?" jawab Alila sambil memperhatikan mimik muka suaminya yang terlihat semakin jengah.


"Aku tidak tahu. Kami hanya bertemu sebentar dan tidak membicarakan apa pun kecuali kabar masing-masing."


Dimas menggenggam tangan Alila yang duduk di sampingnya. Pandangannya meredup dan berubah lembut saat menatap mata indah istri tercintanya.


"Aku selalu percaya padamu, Al. Tapi aku tidak bisa percaya begitu saja pada lelaki yang mencoba mendekatimu."


Alila mengangguk dan tersenyum. Dia bisa memahami perasaan suaminya, apalagi Dimas adalah tipe lelaki yang sangat posesif sekaligus pencemburu akut.


Jangankan dengan lelaki lain, dengan Tama dan Sandy pun dia juga membatasi interaksi Alila dengan mereka.


"Aku juga percaya padamu, Dim. Apa pun yang kamu lakukan dan kamu putuskan pasti untuk kebaikanku dan kebaikan kita berdua."


Akhirnya setelah berbicara terus-terang satu sama lain, Dimas mengijinkan Alila memberikan nomor ponselnya pada Pandu dengan catatan dia harus selalu memberitahu suaminya setiap kali Pandu menghubungi.


.


.


.


Beberapa hari kemudian, saat sedang berjalan-jalan di salah satu pusat perbelanjaan, Dimas dan Alila dikejutkan dengan panggilan seseorang dari arah samping mereka.

__ADS_1


"Alila ...!!"


Alila diikuti Dimas segera menoleh karena merasa namanya dipanggil. Terlihat Pandu yang berdiri beberapa meter dari tempat mereka berhenti.


Seketika Dimas mempererat genggaman tangannya pada tangan Alila, seolah memberi tanda pada istrinya agar berhati-hati.


Pandu menghampiri mereka tanpa melihat tangan Alila dan Dimas yang menyatu di bawah. Dia terlalu senang bertemu lagi dengan Alila sehingga hanya fokus menatap wajah Alila. Wanita yang telah memikat hatinya sejak mereka bertemu di perusahaan tempat Pandu bekerja, dua tahun yang lalu.


"Kita bertemu lagi, Al."


Pandu mengulurkan tangannya yang mau tak mau disambut oleh tangan Alila. Namun sedetik kemudian tangan Dimas sudah bergerak cepat menggantikannya, membuat Pandu terkejut dan menatap Dimas.


"Oh, kamu ... aku ingat, kamu juga anak magang teman Alila. Apa kabar?"


Dimas tidak menjawab, hanya mengencangkan jabatan tangannya seolah ingin meremukkan tangan lelaki yang berdiri tenang di hadapannya tersebut.


Alila menyentuh lembut tangan kiri suaminya supaya Dimas melepaskan tangannya yang masih terus menekan tangan Pandu. Dimas bernafas kasar sembari menarik kembali tangannya.


"Mas Pandu sendirian?" Alila mengalihkan perhatian mereka dengan pertanyaan basa-basi.


"Ya. Kalian hanya berdua?" tanya Pandu.


"Ya, kami akan membeli beberapa keperluan rumah tangga kami." Dimas lebih dulu menjawab sebelum Alila.


Alila menahan senyumnya mendengar ucapan Dimas. Dia tahu suaminya sedang cemburu dan ingin segera memberitahu Pandu tentang hubungan mereka sesungguhnya.


"Keperluan rumah tangga? Kalian ...?" Pandu masih belum mengerti maksud ucapan Dimas.


"Alila adalah istri saya. Dan saya adalah suaminya." Dimas memperkeras suaranya agar Pandu mendengarnya dengan jelas.


Raut keterkejutan terlihat di wajah Pandu meskipun dia mencoba bersikap tenang dan biasa saja.


"Jadi ... kalian sudah menikah?" Kali ini Pandu menatap wajah Alila untuk mencari kebenarannya.


Alila mengangguk dan tersenyum.


"Iya, Mas. Kami sudah menikah."


.


.


.


Jangan lupa untuk selalu menyemangati kami dengan Like, Komentar, Bintang 5, Favorit dan Share / bagikan juga kepada yang lain.


Terima kasih banyak untuk semua pembaca yang telah berkenan membaca dan menikmati novel kami.


Salam cinta dari kami.

__ADS_1


💜Author💜


.


__ADS_2