Menanti Cinta Untukku

Menanti Cinta Untukku
2.6. ANAK MAGANG - PART 2


__ADS_3

Siang hari, seperti biasa Dimas menjemput Alila untuk makan siang bersama. Dia menunggu di lobby dengan sabar karena Alila sudah mengirim pesan bahwa akan turun terlambat karena masih ada pemeriksaan laporan pekerjaan yang langsung disambangi di ruangannya.


Selang lima belas menit kemudian terlihat Alila dan beberapa teman satu ruangannya keluar dari lift kemudian berpencar masing-masing.


Ada yang hanya pergi ke kantin, ada yang datang ke lobby untuk mengambil pesanan makanan online mereka, ada pula yang akan keluar seperti dirinya.


Alila menghampiri Dimas yang segera berdiri dan meraih tangan istrinya untuk digenggam. Berdua mereka berjalan ke halaman parkir dan memasuki mobil Dimas.


"Kita ke cafe yang paling dekat saja ya, sayang. Supaya hemat waktu," kata Dimas sambil melajukan mobilnya ke arah jalan raya.


"Ya, Dim."


Alila menyandarkan kepalanya ke belakang sambil memejamkan mata sejenak, mengusir lelah yang mendera karena terus berkonsentrasi pada banyak data baru yang ada di dalam laporan pekerjaannya tadi.


Dimas mengulurkan tangan kirinya,mengusapi puncak kepala wanita kesayangannya.


"Lelah sekali, ya?" tanyanya kemudian, yang hanya dijawab Alila dengan senyuman tanpa membuka matanya.


"Hanya sedikit pusing karena terlalu lama berhadapan dengan layar kerja tanpa jeda istirahat."


Rasanya dia tidak tega untuk mengajak istrinya makan di keramaian dalam kondisi Alila yang baru saja didera kesibukan pekerjaannya di kantor.


Tepat saat mobil berhenti di lampu merah, Dimas mengambil ponselnya dan menghubungi seseorang.


"Halo, Dea. Kamu di mana sekarang?"


Alila membuka matanya dengan cepat begitu mendengar suaminya menyebut nama anak magang yang centil itu.


Setelah mendengarkan jawaban dari Dea, Dimas kembali berucap dengan nada perintah.


"Pesankan aku dua menu take away apa saja, juga minumannya. Aku akan menunggu di depan. Sepuluh menit lagi aku sampai."


Dimas menutup teleponnya bersamaan dengan lampu yang sudah menyala hijau. Dia melajukan mobilnya ke arah yang disampaikan oleh Dea sebelumnya.


"Kenapa harus menghubungi anak magang itu sih, Dim?"


Lelah di mata Alila hilang seketika dan berganti rasa kesal di hatinya. Sudah satu minggu berlalu tapi wanita itu masih saja merasa tidak nyaman setiap kali mendengar suaminya berkomunikasi dengan Dea di luar jam kerja mereka.


"Aku tidak mau kamu semakin lelah jika kita makan di tempat dan harus menunggu lama."


"Lebih baik kita makan di dalam mobil saja, sambil beristirahat."


Dimas gemas melihat Alila yang kesal karena sikap Dea yang dinilainya terlalu sok akrab dan manja pada suaminya.


Mereka sudah sampai di depan cafe yang tadi disebutkan oleh Dea. Tanpa perlu mematikan mesin mobil, Dimas sudah melihat Dea yang berjalan ke arah mereka dengan membawa dua kantong makanan dan minuman.

__ADS_1


Seorang gadis cantik alami yang terlihat lincah dan ceria, dengan penampilan rapi dan sederhana, sudah berdiri di samping pintu mobil sebelah kiri. Sama sekali tidak centil seperti pikiran Alila, hanya memang terlihat manja dan ramah dengan orang lain.


Dia menggoyangkan tubuhnya ke kiri dan ke kanan, menunggu kaca mobil dibuka oleh mentor magangnya.


"Lihatlah, sayang. Dia masih lugu dan lucu. Mana mungkin dia berpikiran yang aneh-aneh terhadapku."


Dimas mencium pipi istrinya sebelum menekan tombol untuk membuka kaca jendela di samping Alila.


"Hai, Mas! Kok tidak makan langsung saja di dalam?" tanya gadis itu sambil menyerahkan pesanan Dimas yang diterima oleh Alila.


"Hai, Mbak," sapa Dea dengan senyum manisnya. Alila membalasnya dengan senyuman yang sama, sambil memangku makanan dan minuman yang baru saja diterimanya.


"Istriku sedang kecapekan. Kasihan kalau harus berada di tempat yang terlalu ramai," jawab Dimas.


"Mas, istrinya cantik banget. Pantas saja setiap hari maunya makan siang bersama terus. Takut didekati sama cowok lain, ya?" goda Dea dengan polosnya.


Dimas tidak menanggapinya, hanya tersenyum sama seperti Alila. Dia mengambil dua lembar uang seratusan ribu dan diserahkan pada Dea yang langsung membelalakkan matanya.


"Ambil saja kelebihannya, untuk membayar makananmu dan teman-temanmu di dalam sana."


Mata gadis itu langsung berbinar bahagia. Tubuhnya kembali bergoyang senang.


"Terima kasih, Mas. Mas Dimas memang mentor terbaikku. Aku masuk dulu, ya. Daaa, Mas Dimas. Daaa, Mbak cantik!"


Dea segera berbalik dan berjalan sambil menggoyangkan kepala, seperti sedang bernyanyi.


Dimas menutup kembali kaca jendela, lalu menatap wajah istrinya dari jarak dekat, di tepat hadapannya.


Alila tersenyum menahan rasa malunya, karena ternyata perempuan yang satu minggu ini membuatnya resah adalah gadis yang masih polos dan manja.


"Maaf, Dim."


Dimas tersenyum dan mengecup singkat bibir istrinya, sebelum melajukan mobilnya untuk mencari tempat yang lebih nyaman untuk berhenti dan menikmati makan siang mereka di dalam mobil.


.


.


.


Satu minggu berikutnya, saat mengantarkan Alila ke kantornya, Dimas seperti melihat seseorang yang dikenalnya, tapi dia lupa siapa dan di mana dia mengenalnya.


Ingin bertanya pada Alila tapi sepertinya dia tidak melihatnya karena orang itu telanjur masuk ke dalam lift.


"Ada apa, Dim?" Melihat suaminya terus memperhatikan ke arah lift, Alila pun bertanya.

__ADS_1


"Aku seperti melihat seseorang, tapi aku lupa siapa dia," kata Dimas.


"Mantan kekasihmu?" goda Alila membuat Dimas menatap tajam ke arahnya.


"Mantan yang mana? Mantan kekasihku banyak," jawab lelaki itu.


Dimas tersenyum kecut mengingat kelakuannya dulu, yang selalu meladeni para gadis yang mendekatinya tanpa pernah bisa membuka hatinya untuk mereka, kecuali hanya untuk Alila pada akhirnya.


"Lupaksn saja ucapanku tadi. Mungkin aku hanya salah lihat."


Alila mencium tangan Dimas yang dengan mesra membalas istrinya dengan ciuman hangat di kening Alila.


"Aku ke kantor dulu, sayang. I love you!"


"Hati-hati, Dim. I love you, too ...."


Alila tetap berdiri di tengah lobby, melepas kepergian suaminya. Sampai sosok Dimas tak terlihat lagi, barulah dia berbalik dan berjalan menuju lift.


Di depan pintu lift, Alila menunggu bersama beberapa karyawan yang lain. Belum ada pintu lift yang terbuka, tiba-tiba terdengar suara seseorang memanggil namanya.


"Alila ...!"


Alila menoleh ke arah asal suara tersebut, yaitu dari depan pintu lift khusus pimpinan perusahaan. Seorang lelaki yang baru keluar dari dalam lift, berdiri dan terus menatap ke arahnya.


Alila terus menajamkan pandangannya karena jarak antara mereka tidak terlalu dekat. Lelaki itu berjalan mendekatinya dan kembali menyapanya.


"Apa kabar, Alila? Tidak lupa denganku, kan?" tanya lelaki itu dengan senyuman manis di bibirnya.


Alila mundur menjauh dari pintu lift agar tidak mengganggu yang lainnya. Dia belum menjawab sapaan untuknya, karena masih belum mengingat siapa lelaki yang sekarang sudah berdiri di hadapannya tersebut.


Beberapa saat kemudian, dia mulai mengenalinya namun masih belum yakin, karena penampilannya yang berubah, tidak seperti sebelumnya.


"Mas Pandu ...?"


.


.


.


Jangan lupa untuk selalu menyemangati kami dengan Like, Komentar, Bintang 5, Favorit dan Share / bagikan juga kepada yang lain.


Terima kasih banyak untuk semua pembaca yang telah berkenan membaca dan menikmati novel kami.


Salam cinta dari kami.

__ADS_1


💜Author💜


.


__ADS_2