
Dua jam berlalu, operasi Dimas masih berlangsung. Sementara itu, Alila telah selesai ditangani dan sudah dipindahkan ke kamar perawatan. Kondisinya cukup stabil, hanya masih tidak sadarkan diri karena pengaruh obat penenang yang disuntikkan oleh dokter ke dalam cairan infusnya.
Saat dalam penanganan tadi wanita itu sempat terbangun dari pingsannya dan terus-menerus memanggil nama Dimas hingga tubuhnya meronta ingin menemui suaminya. Akhirnya demi kebaikannya, dokter memutuskan untuk memberinya obat penenang demi memulihkan kondisi psikisnya lebih dulu.
Mama Dian ditemani Nayla dan Nadia, menunggu di dalam ruangan Alila. Sementara para lelaki masih menunggu di depan ruang operasi. Hanya Tama dan Sandy yang sesekali datang sebentar secara bergantian untuk mengetahui kondisi Alila karena di sana hanya ada tiga wanita yang menjaga Alila.
Di depan ruang operasi, polisi dan beberapa orang yang sama masih setia menunggu kabar operasi Dimas yang sudah berlangsung hampir tiga jam lamanya dan belum juga selesai.
Pak Albi, dengan insting yang kuat diam-diam memperhatikan dengan seksama orang-orang yang masih berkumpul di sana dengan tujuan yang sama, menunggu hasil operasi Dimas.
Sama halnya dengan pihak kepolisian yang sudah melakukan olah tempat kejadian perkara dan mulai mengumpulkan beberapa bukti awal untuk penyelidikan lebih lanjut, atasan Dimas tersebut juga menduga adanya unsur kesengajaan dalam kecelakaan yang menimpa Dimas dan istrinya.
Pasalnya, di daerah itu tidak pernah terjadi kecelakaan sebelumnya dan lalu lintas kendaraan yang melintas di sepanjang jalan tersebut cenderung lancar, tidak terlalu ramai juga tidak terlalu sepi. Hanya jika pagi dan malam hari memang sedikit lebih sepi karena jalur di sana bertepatan dengan jalur perbatasan ke arah luar kota.
Tidak ada yang mencurigakan dalam pandangan mata Pak Albi saat ini. Hanya saja, saat melihat keberadaan Aris yang tadi bersama-sama dengannya mendonorkan darah untuk Dimas, dia teringat pada seseorang. Orang lain yang berwajah mirip dengan Aris, sama seperti yang pernah dipikirkan oleh Dimas tempo hari saat melihat Aris untuk pertama kalinya.
Daripada menerka-nerka, Pak Albi mencoba untuk mencari tahu langsung kepada orang yang dimaksud. Dia berjalan mendekati Aris yang masih duduk seusai proses pengambilan darah tadi.
"Maaf, boleh saya duduk di sini? Capek juga menunggu sambil terus berdiri..." Pak Albi membuka percakapan basa-basi dengan senyum ramahnya.
Aris menoleh ke sampingnya di mana Pak Albi sudah duduk tanpa menunggu jawabannya.
"Oh ya, silahkan, Pak. Bapak pasti cukup lelah, karena kita sama-sama baru saja diambil darahnya." Aris membalas sama ramahnya.
"Emm.., mas...., maaf saya belum tahu nama anda..." Pak Albi mengulurkan tangannya karena tadi mereka belum sempat berkenalan.
"Aris, Pak. Panggil saja Aris." Lelaki itu menerima uluran tangan lawan bicaranya.
"Ya, baiklah. Saya Albi, rekan kerja Dimas." Pak Albi memperkenalkan diri.
"Kalau boleh saya tahu, mas Aris ini teman atau saudaranya Dimas?" Tanya Pak Albi pelan-pelan.
"Bukan, Pak. Saya teman sekolahnya Alila, istri Dimas."
Lelaki sebaya Darma itu manggut-manggut dan mencoba mengorek informasi lebih banyak lagi.
"Oh begitu. Tahu dari mana mereka mengalami kecelakaan?"
__ADS_1
"Tadi di rumah tanpa sengaja saya melihat kakak saya begitu serius memperhatikan sebuah berita online di meja kerjanya, dan saya merasa mengenal mobil yang ringsek dalam berita yang sedang dilihatnya, karena beberapa hari yang lalu mereka baru saja datang ke cafe saya."
"Dan ternyata benar, setelah melihat wajah dua orang korbannya, mereka adalah Alila dan Dimas."
"Kakak? Anda punya kakak rupanya. Apakah dia juga mengenal Dimas atau Alila?" Pak Albi mulai antusias melanjutkan keingintahuannya.
Aris menggelengkan kepala.
"Sepertinya tidak, saya tidak tahu. Mungkin hanya kebetulan juga dia melihat berita yang sedang trending tadi pagi."
"Kakak perempuankah? Biasanya wanita lebih cepat tanggap dengan berita terbaru di dunia maya..."
"Kakak saya laki-laki, Pak." Sanggah Aris.
"Oh maaf, saya salah kira."
Aris hanya membalas dengan senyuman tanpa menaruh rasa curiga sedikit pun.
Operasi Dimas masih berlangsung dan belum menunjukkan tanda-tanda telah selesai. Pak Albi melanjutkan kembali percakapannya dengan Aris.
"Pak Albi tinggal di mana?" Sebelum bertanya kembali, Pak Albi lebih dulu ditanyai oleh Aris.
Aris menyebutkan sebuah alamat perumahan yang sama seperti yang Alila beritahukan pada Dimas ketika suaminya juga menanyakan rumah Aris beberapa waktu yang lalu.
Dan Pak Albi pun berpikiran sama dengan Dimas. Tidak salah terka dan tidak salah mencurigai seseorang yang mereka maksud.
Pembicaraan mereka terhenti saat pintu ruang operasi terbuka, bersamaan dengan kedatangan keluarga Dimas dari luar kota.
Papa Yudhi, Mama Kirana dan Darma disambut oleh Papa Dewa dan Alano, juga Tama dan Sandy. Wajah mereka terlihat sangat cemas bercampur lelah setelah menempuh perjalanan mendadak selama hampir empat jam.
Seorang dokter keluar diikuti perawat yang mendampinginya. Polisi dan yang lainnya mulai mendekat dan mengerumuni sang dokter untuk mengetahui kondisi terakhir Dimas.
"Dengan keluarga pasien Dimas?" Dokter mengawali pembicaraannya.
"Saya papanya, Dok." Papa Yudhi maju selangkah didampingi Darma.
"Bagaimana operasinya, Dok?" Darma pun tak sabar lagi untuk mengetahui keadaan adik kesayangannya.
__ADS_1
Dokter ahli tulang yang sudah berumur dan pastinya sangat berpengalaman tersebut menghela nafas panjang sebelum memberikan penjelasannya.
"Operasinya sudah selesai dan berjalan dengan baik tanpa kendala." Dan semua orang pun bernafas lega.
"Pasien sendiri masih belum sadar. Selain karena pengaruh anestesi selama operasi, juga ada kemungkinan pasien mengalami syok hipovolemik akibat kehilangan banyak darah dan....."
"Bukankah tadi sudah ada dua kantong darah dari kami untuknya, Dok?" Pak Albi menyela ucapan dokter tanpa permisi.
Beruntunglah sang dokter cukup sabar dan sudah terbiasa menghadapi hal-hal yang demikian. Beliau hanya mengangguk dan melanjutkan penjelasannya.
"Selama operasi berlangsung, pasien masih mengalami perdarahan sehingga tingkat kesadarannya masih sangat rendah dan membutuhkan tambahan darah lagi, guna mempercepat pemulihan paska operasi."
"Saya siap, Dok." Papa Yudhi segera mengajukan diri untuk memberikan darahnya demi si bungsu. Hanya darahnya yang cocok dengan darah Dimas, karena sang istri dan Darma berbeda golongan darahnya.
"Baik. Suster, segera lakukan prosesnya. Jika nanti masih ada yang bisa mendonorkan darahnya, bisa menyusul ke ruang pengambilan darah."
Papa Yudhi mengikuti perawat dengan langkah cepat agar darahnya bisa segera dialirkan ke tubuh putranya.
Dokter kembali ke dalam ruang operasi untuk menyelesaikan prosedur pemulihan pasiennya. Sementara yang lainnya kembali duduk menunggu, para polisi mencatat pernyataan dokter sebagai laporan lanjutan untuk pembuatan berita acara.
Darma membawa Mama Kirana ke ruang perawatan Alila ditemani oleh Alano. Sedangkan Papa Dewa dan Sandy masih berada di luar ruang operasi sembari menunggu papanya Dimas selesai diambil darahnya.
Seperti Pak Albi, Tama dengan caranya sendiri mulai menghubungi orang-orang papanya untuk melakukan penyelidikan mandiri. Biasanya, orang-orang tersebut akan bertindak lebih cepat dan mendapatkan hasil yang lebih lengkap, karena tidak membutuhkan banyak aturan prosedural sebagaimana alur tugas yang harus dipatuhi oleh pihak kepolisian.
.
.
.
Jangan lupa untuk selalu menyemangati kami dengan Like, Komentar, Bintang 5, Vote & Favorit.
Terima kasih banyak untuk semua pembaca yang telah berkenan membaca dan menikmati novel kami.
Salam cinta dari kami.
💜Author💜
__ADS_1
.