Menanti Cinta Untukku

Menanti Cinta Untukku
43 RESTU PERNIKAHAN


__ADS_3

Mobil Dimas sudah sampai di pelataran parkir sebuah bangunan berlantai dua berukuran sedang yang ditata dengan apik sehingga terkesan sederhana tapi berkelas. Bangunan bercat pink dengan paduan sempurna warna biru laut itu adalah toko kue milik Indira, istri Darma.


Dimas menggandeng tangan Alila dan melangkah bersama memasuki pintu kaca. Alila tampak kagum dengan suasana di dalam toko itu. Ternyata bukan hanya toko kue biasa, tetapi semi cafe yang dilengkapi dengan beberapa meja dan kursi unik untuk bersantap di tempat.


"Bisa bertemu dengan Kak Indira atau Kak Darma, mbak?"


Dimas langsung membawa Alila ke bagian pemesanan untuk mencari kakaknya.


"Bapak dan Ibu ada di atas. Maaf dengan siapa? Akan saya sampaikan."


"Adiknya."


Karyawan tersebut segera menghubungi atasannya dengan telepon toko. Tak lama kemudian, Kak Darma turun dan terlihat sangat kaget melihat kedatangan adik dan calon adik iparnya.


"Dimas, Alila...!"


Darma dan Dimas langsung bersalaman dan berpelukan. Kemudian Darma juga berjabat tangan dengan Alila.


"Kejutan ini, kok tidak ada yang memberitahu sebelumnya? Kapan datang?"


"Semalam." Jawab Dimas.


Darma memberi kode dengan tangannya, mengajak Dimas dan Alila ke ruangan atas untuk menemui Indira dan baby Sekar.


"Alila, Dimas..! Ini benar kalian sampai di kota ini?"


Indira menggendong baby Sekar dan menyambut kedatangan adik ipar dan calon istrinya. Lalu dia mempersilakan mereka duduk.


Dimas mengikuti Darma duduk di sofa yang ada di ruangan itu, sedangkan Alila memilih duduk di karpet bersama Indira untuk menemani baby Sekar dengan banyak mainannya di atas karpet.


Indira menghubungi karyawannya untuk mengantarkan hidangan bagi tamu istimewa mereka. Dan sesaat kemudian seorang karyawan sudah datang membawa satu nampan berisi beberapa minuman dingin dan kue-kue kecil.


"Jadi ini maksudnya papa dan mama meminta kami untuk makan siang di restoran hari ini.." Kata Darma tanpa ada yang menjawab.


Darma menatap ke arah adiknya yang sedari tadi diam dan hanya terpaku menatap Alila yang tengah asyik bermain bersama baby Sekar dengan senyum dan tawa bahagianya.


Darma menyenggol lengan adiknya dengan senyuman jahil.


"Kamu mau menikahinya ya?"


Dimas menoleh arah kakaknya dengan sorot mata yang tajam kepada Darma.


"Ya." Jawabnya singkat.


Darma menepuk bahu adik satu-satunya itu. Dalam hati dia bangga adiknya sudah berpikiran matang dan akan menyusulnya berumah tangga.


"Hmm.., sepertinya acara makan siang di restoran nanti akan ada pembicaraan yang serius."


Darma mengajak Dimas bergabung dengan yang lainnya di karpet sambil menikmati hidangan dari toko kue Indira.


Tak ingin berlama-lama jauh dari Alila, Dimas langsung duduk bersila di samping calon istrinya. Alila yang melihat kehadiran Dimas di sebelahnya tersenyum dan sesaat pandangan mereka beradu dengan tatapan hangat.


"I love you, Al.."


Dimas mencuri kesempatan untuk berbisik secepat kilat di telinga Alila yang langsung menahan malu dengan wajah merona.


Dimas dan Alila sudah puas menikmati kue-kue enak yang disuguhkan Indira, saatnya mereka dan keluarga Darma bersiap untuk berangkat ke restoran orangtuanya.

__ADS_1


Sebelumnya, mereka diajak mampir ke rumah Darma yang terletak tak jauh dari toko. Hanya perlu memasuki jalan yang ada di samping toko, mereka sudah sampai di rumah kakak Dimas yang berjarak seratus meter dari ujung jalan.


Sambik menunggu Darma dan Indira bersiap-siap, Dimas dan Alila menunggu di ruang tamu bersama baby Sekar yang terus tertawa menggemaskan di pangkuan Alila.


Mata Dimas tak pernah lepas memperhatikan keceriaan calon istrinya yang sangat sabar dan telaten membawa baby Sekar.


"Kamu sudah siap menjadi ibu dari anak-anak kita nanti, Al?"


"Tentu saja, Dim. Apapun itu, selama aku bersama dirimu aku akan selalu siap mendampingimu."


Hati Dimas bergetar dan menghangat mendengar jawaban Alila. Tangannya bergerak pelan menyentuh puncak kepala Alila dan mengusapinya dengan lembut, membuat hati Alila pun merasakan getaran yang sama yang tak kalah indahnya.


Alila mendudukkan baby Sekar di antara Dimas dan dirinya, sehingga Dimas bisa ikut mengawasi keponakannya itu. Sesekali tangannya juga bermain-main dengan bayi mungil yang menggemaskan itu.


"Ayo, kita berangkat."


Indira datang dan mengajak baby Sekar bersamanya.


"Aku bawa mobil sendiri, Dim. Setelah selesai dari restoran, kamu bisa mengajak Alila berkeliling kota dulu. Selagi kalian di sini bawalah dia berjalan-jalan untuk mengenal kota ini."


Dimas menjawab dengan anggukan kepala lalu mengajak Alila keluar menuju mobilnya, diikuti Darma dan keluarganya. Kemudian mobil mereka melaju beriringan meninggalkan rumah Darma.


.


.


.


Di restoran, rombongan Darma dan Dimas disambut oleh papa dan mamanya yang sudah menunggu di serambi depan. Mama langsung mengambil alih baby Sekar dan mengajaknya berceloteh riang. Namun tak lama kemudian bayi kecil itu mulai terdiam dan tertidur dalam pelukan omanya.


Papa mengajak mereka semua masuk ke sebuah ruangan khusus yang biasa dipakai untuk melakukan rapat atau pertemuan keluarga.


"Baiklah, sekarang kita makan siang dulu."


Papa sudah memulai makan siangnya didampingi mama, yang diikuti oleh Darma dan Dimas yang ditemani Indira dan Alila. Sementara baby Sekar masih tidur pulas di atas kasur lipat miliknya yang selalu dibawa ke mana pun.


Makan siang keluarga itu berlangsung hangat dan penuh keakraban. Sesekali Darma masih saja mengusili adiknya yang tetap bersikap dingin dan tidak banyak bicara. Berbeda dengan Alila yang selalu berusaha untuk tenang dan berbaur dalam kedekatan keluarga Dimas.


"Calon pengantin pria kok masih sedingin es kutub utara begini. Bagaimana nanti bisa menghangatkan hati istrinya yang butuh perhatian.."


Darma selalu mengeluarkan jurus usilnya jika berhadapan dengan adik kesayangannya. Bukannya Dimas yang bereaksi, malah Alila yang tersenyum dengan tatapan mesra yang tertuju pada calon suami di sampingnya.


"Dia bersikap seperti itu hanya kepada orang lain, Darma. Jika bersama Alila papa yakin dia akan menunjukkan sikap yang berbeda. Bukan begitu, Al?"


Papa menanggapi Darma dan memulai pembicaraan keluarga. Beliau mengarahkan pandangannya kepada Dimas dan Alila yang akan menjadi topik utama pertemuan keluarga kali ini.


"Iya, Pa."


Alila menjawab pertanyaan papa Dimas dengan roman muka malu-malu. Dimas yang melihatnya segera memegang tangan Alila di atas meja dan tersenyum lembut untuk menenangkan kekasihnya, lalu dia memulai pembicaraan yang serius dengan wajah yang tak kalah serius.


"Pa, Ma, kak Darma dan kak Indi, aku berencana untuk segera menikahi Alila. Aku sudah memilih tanggal pernikahan kami dan Alila juga menyetujuinya."


Mata Darma tak berkedip melihat Dimas yang semakin erat menggenggam tangan Alila dan kembali tersenyum saat menatap mata wanita itu di hadapan mereka semua.


Dia masih terpana tak percaya, adiknya yang dingin dan kaku itu bisa bersikap manis dan romantis kepada wanita pujaan hatinya.


"Sayang, apa benar dia adalah Dimas adikku..?!"

__ADS_1


Darma berbisik-bisik dengan Indira untuk mencari kebenaran dari apa yang baru saja dilihat oleh kedua matanya.


"Iyaa.., dia Dimas adikmu, adik kesayanganmu."


Kembali pada topik pembicaraan, papa mengalihkan pandangan kepada istrinya. Mereka seolah berdiskusi melalui mata batin. Cukup dengan saling memandang dan sama-sama menganggukkan kepala, mereka sudah mencapai kata sepakat.


"Kapan rencana pernikahan kalian?" Tanya Papa.


"Dua bulan lagi. Tepat pada pertengahan bulan."


"Apakah tidak terlalu cepat untuk mempersiapkannya, Dim?" Darma menatap ke arah Dimas dan papanya.


"Kami ingin pernikahan yang sederhana saja."


Dimas kembali menatap calon istrinya yang dibalas oleh Alila dengan senyuman.


"Apakah ada alasan khusus mengapa kalian memilih tanggal tersebut?"


Papa masih mengulik alasan di balik pemilihan waktu pernikahan anak bungsunya.


"Aku ingin menikahi Alila tepat di hari ulang tahunnya."


Dimas mengulangi pernyataan yang tadi pagi telah dia sampaikan pada Alila.


"Mengapa aku jadi terharu mendengarnya.."


Mata Darma sedikit berkaca-kaca saat berkata lirih pada istrinya. Indira yang juga larut dalam rasa haru pun segera mengelus punggung suaminya.


Papa dan mama yang semalam sempat melihat kebersamaan anak dan calon menantunya itu tidak terlalu kaget atas sikap dan perhatian Dimas yang begitu besar untuk Alila. Namun tak bisa dipungkiri, di dalam hati mereka juga sama terharunya dengan Darma dan Indira.


Setelah menghela nafas yang cukup panjang, dengan hati yang tenang dan ikhlas akhirnya papa memberikan restu untuk putranya.


"Papa dan mama merestui niat baik kalian. Minggu depan, kita akan mengunjungi keluarga Alila dan menyampaikan lamaran resmi dari keluarga kita. Dan kalian berdua bisa mulai mempersiapkan segala sesuatunya dari sekarang."


Di samping papa, mama tak bisa lagi menahan air matanya. Air mata haru bercampur bahagia dari seorang ibu yang hendak melepaskan anak tercintanya untuk memasuki babak baru kehidupan dalam sebuah ikatan suci pernikahan.


"Kami juga merestui dan mendoakan semoga niat baik kalian dimudahkan dan dilancarkan hingga terlaksana pada waktunya nanti."


Darma dan Indira turut mengungkapkan kebahagiaan mereka dengan senyum haru keduanya.


"Terima kasih.."


Dimas dan Alila berucap bersamaan. Selanjutnya mereka berdua berdiri dan menghampiri orangtua Dimas serta kakak dan kakak iparnya. Mereka berpelukan bergantian dalam suasana yang semakin hangat dan penuh haru, dihiasi butiran air mata bahagia.


.


.


.


Note :


Jangan lupa untuk selalu menyemangati kami  dengan Like, Komentar, Bintang 5, Vote & Favorit ya..🙏💜🙏


Terima kasih banyak untuk semua pembaca yang telah berkenan membaca dan menikmati novel kami.


Salam cinta dari kami..

__ADS_1


~Author~


.


__ADS_2