Menanti Cinta Untukku

Menanti Cinta Untukku
18 AKU KEMBALI


__ADS_3

"Ayo, Lan. Cepat pul-lang...."


Alila memalingkan wajahnya ke samping. Raut wajahnya seketika berubah, terasa mulai menghangat dan tidak percaya sama sekali.


"..............." Dia ingin mengucapkan sesuatu namun bibirnya terkunci rapat.


Hening di dalam mobil. Tanpa suara. Hanya dua pasang mata yang saling memandang dengan tatapan penuh kerinduan.


"Aku kembali, Al."


Suara yang paling dirindukannya itu, kini terdengar langsung oleh telinganya. Di dekatnya, bersamanya.


Dia terdiam, masih saja tak percaya dengan penglihatan dan pendengarannya sendiri. Dia berada di dalam mobil Alano, tapi yang ada bersamanya bukanlah sang adik.


"Dim..."


Seucap kata keluar dari mulutnya yang sedari tadi tercekat.


Senyuman lelaki itu mengembang sempurna di bibirnya. Mengundang Alila untuk turut mengulas senyuman yang sama untuknya.


Entah siapa yang memulai, keduanya saling mendekat tanpa melepaskan pandangan satu sama lain. Hingga akhirnya pelukan kerinduan itu menyatukan mereka berdua.


Tanpa sekat mereka berpelukan sangat erat. Satu per satu air mata kerinduan luruh perlahan membasahi wajah Alila yang telah rebah di bahu Dimas.


Beberapa saat mereka larut dalam pelukan yang hangat dan saling menghangatkan itu. Rasanya sangat nyaman bisa berada sedekat ini bersama seseorang yang kita sayangi.


"Aku sangat merindukanmu, Al."


Dimas berbisik lembut di telinga Alila, membuat wanita itu semakin mempererat pelukannya.


(Aku juga sangat merindukanmu, Dim.)


Dimas tidak membutuhkan jawaban yang keluar dari bibir Alila. Tatapan mata penuh kerinduan serta pelukan hangat yang semakin erat itu sudah cukup bagi Dimas untuk mengetahui bahwa Alila pun menyimpan rasa rindu yang sama dengannya.


Menyadari bahwa mereka masih berada di dalam area gedung, mau tak mau Dimas mulai melepaskan pelukannya. Kedua tangannya menyentuh wajah Alila, menghapus airmata yang masih tersisa di sana.


"Kita pulang dulu, Al."


Dimas menarik tubuhnya kembali ke belakang kemudi. Ditatapnya Alila yang masih terdiam dan terus menatapnya.


"Kalau masih ingin kupeluk, kita lanjutkan nanti di rumah."


Dimas mengucapkan kalimat yang sontak membuat Alila terkejut dan memalingkan wajahnya yang seketika merah merona.


Dimas tersenyum puas melihat wajah yang tersipu malu itu.


(Akhirnya aku melihat kembali raut wajahmu yang sangat menggemaskan itu, Al.)


Dimas menyalakan mesin mobil dan mulai melajukan mobilnya keluar dari halaman gedung Pandawa Grup.


.


.


.


Dimas membelokkan mobil masuk ke halaman rumahnya. Terlihat mobil Dimas telah berada di luar garasi.


Dimas mengajak Alila keluar dari mobil. Terdengar deru mobil Dimas meraung-raung seakan hendak melaju kencang.

__ADS_1


Melihat sang pemilik mobil sudah datang, mesin mobil langsung dimatikan dan muncullah cowok ganteng plus macho sesuai perkataannya sendiri, dari samping pintu kemudi.


"Aman, mas. Sekali ceklek langsung brum..."


Dia menyerahkan kunci mobil kepada Dimas, sementara Dimas juga menyerahkan kunci mobil yang baru saja dipakainya.


"Terima kasih, Lan."


Dimas mengucapkan terima kasih sambil menepuk bahu cowok yang tak lain adalah adik Alila.


"Sama-sama, mas. Jangan lupa bonusnya segera dicairkan."


Alano menjawab diikuti tawanya yang penuh kemenangan.


"Kamu pilih saja sendiri. Nanti aku transfer."


Alila yang sedari tadi hanya diam menyaksikannya mulai marah ketika mendengar Alano dan Dimas membahas soal uang.


"Lan, kamu apa-apaan sih! Kalau butuh sesuatu jangan sembarangan minta sama orang lain!"


"Tidak apa-apa, Al. Aku yang sudah janji sama Alano, bukan dia yang minta."


Dimas menenangkan Alila sedangkan Alano justru menjulurkan lidahnya mengejek sang kakak.


"Dia juga sudah mau menggantikan aku untuk menjaga dan menemani kamu selama aku pergi."


Dimas menatap Alila dengan senyuman tipisnya, membuat Alila mulai salah tingkah lagi.


"Aku pulang dulu, mas. Tugasku sudah selesai ya."


Alano segera membuka pintu mobilnya dan duduk di kursi kemudi.


"Tolong sampaikan pada Tante, nanti aku yang akan mengantar Alila pulang."


"Apa yang dia minta padamu, Dim?"


"Hanya perlengkapan anak gamer saja. Sudah jangan dipikirkan, aku yang minta tolong padanya, sudah sepantasnya aku memberinya hadiah."


"Ayo masuk, Al. Aku mau mandi dulu."


Dimas mengajak Alila masuk ke dalam rumahnya yang sudah terbuka lebar sejak mereka tiba tadi.


Alila tidak banyak bicara, hanya mengikuti Dimas dan menunggunya di ruang tamu sambil membuka-buka ponselnya, meskipun pikirannya masih terpaku pada kepulangan Dimas yang tiba-tiba lebih cepat.


Setengah jam kemudian, Dimas sudah muncul dengan wajah segar dan pakaian casual. Tanpa sadar Alila terus melihat ke arah Dimas dengan hati yang berdesir tanpa henti.


"Al.."


"Ya, Dim?"


Dada Alila semakin berdebar kencang saat Dimas duduk di sampingnya.


"Terima kasih."


"Untuk apa?" Alila semakin tak tenang karena gugup.


"Kamu tidak melupakan aku selama aku pergi."


Dimas memandang wajah Alila di sampingnya. Jantungnya berdetak keras dan semakin cepat. Ada rasa bahagia menyeruak di hatinya saat bisa melihatnya kembali sedekat ini.

__ADS_1


"Apa di sana kamu melupakan aku, Dim?"


"Jika setiap saat aku terus mengingatmu, bagaimana aku bisa lupa padamu, Al."


Alila menyembunyikan senyum bahagianya. Namun Dimas tetap saja melihatnya.


"Kamu senang aku pulang?" Tanya Dimas.


"Ya. Aku pikir masih dua hari lagi, Dim."


"Karena semua agenda sudah selesai, acara pun ditutup lebih cepat dari jadwal semula, Al."


"Beruntung aku bisa mendapatkan tiket pesawat hari ini juga. Jadi aku bisa langsung pulang."


"Kenapa tidak memberi kabar dulu?"


"Kalau kuberi tahu, tidak akan jadi kejutan seperti tadi."


Alila tersenyum mengingat pertemuan mereka di halaman gedung kantornya.


"Sudah semakin sore. Aku antar kamu pulang, Al."


Alila mengangguk dan berdiri. Dia hendak berjalan keluar dari ruang tamu namun langkahnya terhenti karena Dimas meraih tangannya dan menariknya kembali ke sisi lelaki itu.


Pandangan mereka bertemu. Kerinduan itu masih terpancar jelas dari sorot mata keduanya.


Dimas menghela nafas panjang, mencoba menahan gemuruh di dadanya. Rasanya semakin sesak jika harus menahan isi hatinya lebih lama lagi.


"Aku menyayangimu, Al."


Dimas menggenggam erat jemari tangan Alila. Alila pun tidak bisa menahan perasaannya lebih lama lagi.


"Aku juga menyayangimu, Dim."


Entah keberanian dari mana yang membuat Alila turut mengungkapkan perasaannya dengan mata berkaca-kaca.


Tanpa menunggu lagi, Dimas memeluk tubuh Alila. Kedua tangannya mendekap punggung Alila disertai usapan lembut penuh kasih.


Alila mulai membalas pelukan lelaki yang sangat dicintainya itu. Tangannya melingkar erat di pinggang Dimas. Matanya terpejam meresapi hangatnya pelukan mereka.


Sedikit ketakutan menghampiri hatinya, membuat Alila semakin mempererat pelukannya. Di dalam hatinya terselip sebuah doa agar dirinya dan Dimas akan selalu bersama dan terikat dalam perasaan yang sama.


"Jangan pergi lagi, Dim."


Dimas tersenyum bahagia mendengar ucapan Alila. Hatinya bergetar merasakan dirinya sangat berarti untuk wanita di pelukannya.


"Aku akan selalu bersamamu, Al."


.


.


.


Note :


Jangan lupa untuk selalu menyemangati kami dengan Like, Komentar, Vote & Favorit ya..🙏💜🙏


Terima kasih banyak untuk semua pembaca yang telah berkenan membaca dan menikmati novel kami.

__ADS_1


Salam cinta dari kami..


Author


__ADS_2