Menanti Cinta Untukku

Menanti Cinta Untukku
48 CALON TUNANGAN


__ADS_3

Awal pekan yang cerah, secerah wajah sepasang kekasih yang baru saja tiba di halaman gedung Pandawa Grup.


"Nanti aku jemput untuk makan siang, Al."


"Ya, Dim."


Alila bersiap untuk keluar dari mobil tetapi tangan Dimas tiba-tiba sudah berada di pinggangnya. Wajahnya sudah dekat dengan wajah Alila yang masih tampak bingung karena tidak biasanya Dimas menahannya seperti ini.


"Ada apa, Dim?" Tanya Alila pada Dimas yang masih terdiam dan memaku pandangannya pada wajah cantik milik calon istri yang sangat dicintainya itu.


"Tidak apa-apa. Aku hanya enggan berpisah denganmu."


(Aku takut para lelaki di kantormu akan mengganggumu, Al.)


Senyum terukir di bibir tipis milik Alila. Untuk sesaat dia membalas tatapan mata Dimas agar kekasihnya itu merasa senang dan tenang.


"Di mana pun aku berada, kamu akan selalu ada bersamaku, Dim. Di dalam hatiku."


"Aku titipkan juga hatiku padamu, agar kamu selalu ingat ada aku bersamamu. Jadi jangan pernah mengkhawatirkan apa pun lagi, Dim."


Dimas percaya akan semua ucapan Alila. Namun tetap saja hatinya gelisah jika memikirkan kekasihnya bersama lelaki lain meskipun itu sebatas teman kerja semata.


"Aku hanya tak rela waktumu lebih banyak bersama lelaki lain di gedung itu, daripada dengan diriku, Al."


"Kamu salah, Dim."


Alila menggelengkan kepalanya dengan tegas, mencoba meyakinkan calon suaminya. Calon suami yang terlalu ingin memilikinya seorang diri dan setiap saat ingin selalu bersamanya. Calon suami yang selalu mengkhawatirkan keadaannya dan setia menanyakan kabarnya hampir setiap jam sekali saat mereka tidak bersama.


"Aku tidak punya banyak waktu dengan mereka. Aku bahkan tidak punya cukup waktu untuk menyelesaikan pekerjaanku. Karena di dalam gedung sana, aku menghabiskan lebih banyak waktuku untuk memikirkanmu dan merindukanmu."


Memang hanya Alila yang bisa menaklukkan hati Dimas. Sedingin apapun sikapnya, sekeras apapun kemauannya, dia akan dengan mudah luluh dan patuh di hadapan Alila.


"Baiklah, sayang. Aku percaya padamu."


Dimas melepaskan tangannya dari pinggang Alila, setelah memberikan ciuman di keningnya. Alila pun tersenyum lega setelah melihat lelaki itu menampakkan senyumnya walau hanya sekilas.


Mereka keluar dari mobil dan bersama-sama berjalan menuju lobby gedung.


"Jaga dirimu, Al. Aku mencintaimu."


Dimas melepaskan genggaman tangannya, setelah mereka sampai di dalam lobby. Tangan kanannya menyentuh puncak kepala Alila dan meninggalkan usapan lembutnya di sana.


"Selamat bekerja, Dim. Aku tunggu nanti siang." Ucap Alila sebelum mereka berpisah.


Dimas mengangguk dan berbalik meninggalkan Alila yang masih terus menatap kepergiannya dengan senyuman di bibir manisnya.


Di dua tempat lain yang tak terlihat oleh Alila, dua orang pria terus memperhatikan kebersamaan Alila dan Dimas dari awal mereka berdua datang hingga Dimas kembali pergi meninggalkan Alila.


Tidak hanya sekali ini saja mereka melakukannya, tetapi kedua pria itu sudah sering tanpa sengaja menyaksikan kebersamaan Alila dan Dimas di gedung Pandawa Grup.


Walau selalu tanpa sengaja melihatnya, tetapi mereka tetap saja melanjutkan untuk menyaksikan kebersamaan itu. Antara rasa sakit dan patah di hati, beradu dengan rasa penasaran yang masih saja ada di pikiran kedua pria itu.


Seperti apakah sebenarnya hubungan sepasang kekasih itu? Sudah sejauh manakah hubungan itu terjalin? Dan lagi-lagi masih saja terselip pertanyaan sekaligus asa terpendam mereka, masih adakah harapan untuk mereka mendapatkan cinta seorang Alila dan mengalihkan perasaannya dari Dimas untuk berpaling pada mereka...??

__ADS_1


Sebuah pertanyaan yang sebenarnya sudah mereka ketahui jawabannya. Sebuah harapan yang sudah pasti tidak akan pernah terwujud bagi kedua pria tersebut, karena kenyataannya Alila dan Dimas akan segera menikah dalam waktu dekat. Hanya dua bulan lagi, sepasang kekasih itu akan bersatu dalam ikatan suci pernikahan selamanya.


.


.


.


"Pagi, Al."


Alila yang hendak masuk ke dalam ruangan menghentikan langkahnya. Mencari-cari siapa yang memanggilnya, akhirnya dia menemukan sosok lelaki yang berdiri tak jauh dari samping pintu.


"Oh, Dika. Pagi..."


Alila menggeser tubuhnya ke samping agar tidak menghalangi karyawan lain yang akan masuk ke ruang kerjanya. Suasana belum terlalu ramai karena Alila memang selalu datang lebih awal supaya Dimas yang harus mengantarkannya lebih dulu tidak terlambat sampai ke kantornya.


"Kamu kok sampai ke sini? Mengantarkan Olla?"


Dika bekerja di divisi yang berbeda dan ruangannya juga berada di lantai yang berbeda.


"Tidak. Dia belum datang."


Alila sudah mulai bersikap biasa kepada Dika, karena beberapa waktu ini dia sudah menunjukkan sikap baiknya pada Alila. Apalagi selama di kantor, dia lebih sering terlihat bersama dengan Olla.


Dari cerita Olla pada Alila, hubungan mereka berdua sudah semakin baik dan lebih dekat lagi seperti layaknya pasangan kekasih. Terlebih lagi Dika dan Olla memang sudah dijodohkan oleh kedua orangtua mereka.


"Al, apa hubunganmu dengan Dimas baik-baik saja? Ehmm.., maksudku, apa dia bersikap baik padamu dan tidak menyakiti hatimu?"


Alila terdiam seketika mendengar pertanyaan Dika. Sesaat matanya menyorot tajam menatap Dika, membuat hati lelaki itu bergetar dan menghangat. Ya.., perasaan itu masih ada meskipun dirinya sudah berusaha untuk melupakan Alila dan membuka hatinya untuk Olla.


"Apa maksudmu mengatakan aku salah pilih orang?"


"Maaf, Al. Tapi kita semua tahu bagaimana Dimas dulu. Kebiasaannya yang suka tebar pesona dan berkali-kali berganti pasangan, membuatnya dikenal sebagai seorang playboy."


Alila menghela nafas panjang untuk menahan amarahnya pada Dika. Dia tidak ingin ada masalah lagi dengan lelaki itu setelah hubungan mereka mulai membaik seperti sekarang.


"Aku baik-baik saja dan hubungan kami juga baik-baik saja. Terima kasih atas perhatianmu, tetapi tolong jangan pernah menilai seseorang hanya dari apa yang terlihat olehmu saja. Karena apa yang kamu lihat dan kamu pikirkan itu belum tentu kebenarannya."


"Aku hanya tidak mau dia mempermainkanmu dan menyakiti hatimu, Al."


Kedua bola mata Alila menatap lurus ke arah lawan bicaranya.


"Dengarkan aku baik-baik. Aku tidak suka membicarakan hal pribadiku dengan orang lain. Jadi sekali lagi aku minta tolong padamu, jangan pernah lagi bertanya apalagi menganggu hubungan kami."


Alila memutar tubuhnya dan berjalan mendekati pintu ruangannya. Saat kakinya akan melangkah masuk, Olla datang menghampiri dan menyentuh pundaknya.


"Al, tumben baru datang. Biasanya si tampan itu mengantarmu lebih awal.."


Olla memberi julukan khusus pada Dimas yang selalu terlihat menawan dan serasi bersama Alila. Dia belum menyadari keberadaan Dika di samping pintu.


"Aku sudah datang dari tadi. Oya, ada yang menunggumu, La. Temuilah, aku tinggal masuk dulu.."


Tanpa menunggu jawaban dari keduanya, Alila bergegas masuk ke dalam ruangannya, meninggalkan Olla yang seketika terlihat sangat bahagia melihat Dika yang sudah berdiri di sampingnya dan tersenyum menyambut kedatangannya.

__ADS_1


"Dika, kau sudah datang?"


"Ya, La." Jawab Dika singkat sambil memperhatikan raut bahagia di wajah wanita itu.


"Apa benar kamu menungguku?"


"Apa aku tidak boleh menunggu calon tunanganku sendiri?"


Kedua mata Olla terbelalak kaget. Wajahnya kian berbinar mendengar ucapan Dika.


"A-Apa kamu bilang..?"


"Calon tunangan. Bukankah minggu depan kita akan bertunangan..?"


Jawaban Dika membuat Olla melonjak hendak memeluk lelaki itu, tetapi segera ditahan oleh kedua tangan Dika.


"Ssttt.., jaga sikapmu, La. Kita ada di kantor."


Olla tersadar dan segera membetulkan sikap tubuhnya.


"Maaf, aku hanya terlalu senang mendengar ucapanmu tadi. Mmm.., jadi benar kamu sudah menyetujui rencana pertunangan kita?" Tanya Olla pada Dika yang masih memegang sebelah tangannya.


"Untuk apa aku menolaknya?" Dika bertanya balik pada Olla yang masih memasang wajah tak percayanya.


"Kamu benar-benar sudah menerima aku, Dik..?"


Nada kalimat Olla terdengar ragu, seolah belum sepenuhnya percaya dengan semua ucapan Dika. Sementara Dika hanya bisa mengangguk untuk meyakinkan calon tunangannya.


"Terima kasih sudah bersedia menungguku. Maaf jika aku terlalu lama memberimu jawaban." Tangannya masih terus memegang tangan Olla yang terasa gemetar menahan perasaannya.


Olla menggelengkan kepala sembari menghapus air mata yang telah menetes karena rasa bahagianya. Dia rela menunggu tanpa kepastian demi orang yang sangat dicintainya.


Tak peduli berapa lama waktu yang harus dilalui untuk mendapatkan jawaban akhirnya, di dalam hati dia selalu percaya bahwa cintanya akan berlabuh pada pemilik hati sebenarnya di saat yang terbaik.


Dan sekarang, saat itu telah tiba..


Olla merasa bahagia, sangat bahagia...


.


.


.


Note :


Jangan lupa untuk selalu menyemangati kami  dengan Like, Komentar, Bintang 5, Vote & Favorit ya..🙏💜🙏


Terima kasih banyak untuk semua pembaca yang telah berkenan membaca dan menikmati novel kami.


Salam cinta dari kami..


~Author~

__ADS_1


.


__ADS_2