
Ponsel Dimas berdering. Ada panggilan telepon masuk, sementara Dimas masih membersihkan diri di kamar mandi.
Alila memeriksa ponsel suaminya yang ditaruh di atas meja dan mendapati kontak si pemanggil dengan nama yang masih asing baginya.
"Dea?" Alila membacanya dengan lirih.
(Siapa dia? Mengapa Dimas tidak menceritakannya padaku?)
"Sayang, terima saja teleponnya!" Terdengar suara Dimas dari dalam kamar mandi.
"Ya, Dim. Akan aku terima," jawab Alila sebelum menggeser tombol hijau untuk menerimanya mewakili sang suami.
"Halo, Mas Dimas?"
Alila terkejut mendengar suara lembut mendayu dari seberang. Terkesan centil atau memang sengaja dibuat centil. Alila mulai cemberut.
"Dimas sedang mandi. Maaf, ini dengan siapa?"
"Aku Dea, asisten baru Mas Dimas. Kamu istrinya Mas Dimas, ya?"
Alila melebarkan matanya, tak percaya dengan pendengarannya. Aku? Kamu? Apa dia tidak salah dengar?
Belum sempat dia menjawab, sepasang tangan Dimas sudah melingkar di pinggangnya. Lelaki yang sekarang menjadi sangat manja itu masih bertelanjang dada dengan handuk tersampir di lehernya.
Sembari mencium pipi sang istri, Dimas mencari tahu siapa yang meneleponnya. Dia menarik tangan Alila yang masih memegang ponselnya di telinga kanan.
Tak hendak mengambil alih gawai itu, Dimas hanya membaca nama kontak yang tertera di layar seraya menyalakan pengeras suara agar mereka bisa mendengarkannya bersama.
Alila menghela nafas dengan wajah masih cemberut, membuat suaminya menahan senyum di belakangnya.
"Dia anak magang, baru kemarin mulai ditugaskan untuk mendampingiku," bisik Dimas sangat lirih tepat di lubang telinga istrinya hingga Alila menahan nafas dan menggeliat geli.
"Ada perlu apa dengan suami saya?" Alila tidak suka dengan gaya bicara perempuan sok akrab itu.
"Aku mau mengembalikan flashdisk milik Mas Dimas yang tadi aku pinjam untuk memindahkan beberapa data yang aku perlukan untuk laporanku. Tapi Mas Dimas telanjur pulang," jawab Dea masih dengan suara mendayunya.
Alila mendekatkan ponsel Dimas ke bibir lelaki itu agar dia yang menjawabnya. Lelaki itu kembali mencium pipi istrinya sebelum menjawab Dea.
"Dea, ini aku," ucap Dimas yang langsung disahut oleh perempuan centil itu.
"Mas Dimas, flashdisknya aku antar ke mana? Ini aku baru mau pulang, sekalian aku antar ya, Mas ...."
__ADS_1
Sekali lagi Alila membulatkan sepasang mata indahnya begitu mendengar Dea bicara dengan gaya santainya.
Dimas yang melihatnya semakin mempererat pelukannya dari belakang sambil menggoyangkan kepala sehingga memercikkan tetesan air dari rambutnya yang basah ke wajah cantik Alila.
"Tidak usah diantar sekarang. Besok kamu taruh saja di meja kerjaku."
"Tapi, Mas ...."
"Aku sudah ada copy-annya di laptopku."
"Oh gitu ... ya sudah Mas, sampai jumpa besok pagi di kantor. Daaa, Mas Dimas!" Perempuan centil itu akhirnya menutup panggilannya.
Alila meletakkan ponsel Dimas di atas meja lalu melepaskan pelukan suaminya. Tapi Dimas mendekapnya lagi, lebih erat.
"Aku suka kalau kamu cemburu, sayang."
"Aku tidak cemburu," sanggah Alila lalu berbalik menghadap ke arah Dimas dan disambut lelaki itu dengan ciuman singkat di bibirnya.
Alila tidak tergoda, dia menarik handuk di leher suaminya dan segera mengeringkan rambut Dimas, juga tubuhnya yang kembali basah terkena aliran air dari rambut basahnya.
Biasanya dia akan tertarik untuk bermanja di dada bidang suaminya yang belum mengenakan pakaian itu. Tapi kali ini, dia menahannya karena masih kesal lantaran Dimas belum menceritakan padanya tentang anak magang yang centil itu.
Diambilnya kaos yang sudah dia siapkan di atas tempat tidur dan dengan cepat memakaikannya ke tubuh Dimas. Setelah itu dia menjauh dan keluar dari kamar untuk menjemur handuk di belakang.
Menyiapkan dua cangkir di atas meja, lelaki itu lalu mengambil dua buah teh celup dan menyeduhnya dengan air panas di dalam cangkir masing-masing.
Alila yang menyusulnya turun, mengambil alih toples berisi gula pasir yang sudah dipegang Dimas lalu melanjutkan membuat teh hangat untuk mereka berdua.
Dimas mundur dan bergeser ke samping, memperhatikan wajah istrinya yang masih ditekuk dan menghindari tatapannya.
Meskipun sedang kesal, wanita tercintanya itu tidak pernah melupakan tugasnya sebagai seorang istri sekalipun hanya hal-hal kecil dan ringan seperti saat ini.
"Terima kasih, sayang," ucap Dimas seraya mengambil dua cangkir teh hangat yang sudah siap itu untuk dibawanya ke ruang tengah, yang mau tak mau diikuti juga oleh Alila.
Mereka duduk bersebelahan dengan secangkir minuman di tangan masing-masing. Diam tanpa suara, hanya menyecap dan meneguk teh hangat tersebut pelan-pelan.
"Maaf, karena aku belum sempat menceritakan tentang Dea kepadamu. Kemarin sore kita langsung pergi ke rumah sakit untuk bertemu dengan dokter tulangku dan sesampainya di rumah, aku masih harus memeriksa beberapa laporan dari teman-teman satu timku."
Berusaha untuk memberi penjelasan kepada Alila dengan selembut mungkin, Dimas ingin menghindari kemarahan yang berlarut-larut dari sang istri.
Meskipun gemas melihat tingkah kesal dan kemarahan istrinya, tetapi Dimas juga tidak betah berlama-lama menerima sikap diam Alila.
__ADS_1
"Mengapa dia mengatakan kalau dia adalah asisten baru kamu?" tanya Alila tanpa melihat ke arah suaminya.
Dimas meletakkan cangkirnya juga cangkir yang dipegang Alila, lalu menarik tubuh istrinya mendekat untuk dipeluknya. Alila hanya menurut dan menyandarkan kepalanya di dada Dimas, meskipun hatinya belum lega dengan separuh penjelasan suaminya.
"Ada beberapa anak magang di bagianku, dan oleh Pak Albi sudah dibagi masing-masing tugasnya. Termasuk Dea yang bertugas untuk membantu pekerjaanku selama dia magang nanti." Dimas menjelaskan semuanya agar Alila tidak lagi berpikiran buruk.
"Mungkin karena itu dia menyebut dirinya sebagai asisten. Dia merasa bangga karena bisa membantu salah seorang kepala bidang di salah satu divisi dari sebuah perusahaan besar."
"Bukankah dulu kamu juga sama seperti Dea? Selalu bercerita tentang baiknya karyawan laki-laki yang menjadi mentormu saat magang. Selalu mengatakan jika dia ramah dan selalu membantumu menyelesaikan tugas dan laporanmu."
Diam-diam Alila tersenyum malu mendengar ucapan Dimas. Rupanya lelaki itu masih mengingat masa-masa magang mereka dulu.
"Apa kamu juga merasa cemburu saat itu?" tanya Alila seraya mengangkat wajahnya untuk menatap suaminya.
Dimas menunduk membalas tatapan mata istrinya yang mulai melembut seperti biasanya. Dia menggelengkan kepalanya.
"Tidak. Aku hanya bosan mendengar kamu terus bercerita tentang dia setiap hari selama hampir satu semester perkuliahan kita." Sama seperti Alila, Dimas juga mengelak dengan mengatakan hal lain yang diingatnya.
Akhirnya Alila tersenyum pada suaminya. Kekesalannya sudah hilang, rasa cemburu sesaatnya tadi juga sudah berganti dengan kelegaan di hatinya.
Lelaki itu mencium kening istrinya dengan hangat dan penuh kasih.
"Hanya kamu wanita yang aku cintai, Al. Selamanya tidak akan ada yang bisa menggantikan posisi penuhmu sebagai ratu di hatiku. Ingatlah itu selalu."
Alila mengangguk di tengah rasa bahagia yang kembali menguasai hati dan jiwanya.
"Aku juga mencintaimu, Dim."
.
.
.
Jangan lupa untuk selalu menyemangati kami dengan Like, Komentar, Bintang 5, Favorit dan Share / bagikan juga kepada yang lain.
Terima kasih banyak untuk semua pembaca yang telah berkenan membaca dan menikmati novel kami.
Salam cinta dari kami.
💜Author💜
__ADS_1
.