Menanti Cinta Untukku

Menanti Cinta Untukku
41 MALAM PERTAMA


__ADS_3

Alila merebahkan tubuhnya di tengah tempat tidur Dimas. Dia tersenyum sendiri, senyum bahagia bercampur tak percaya. Saat ini dia bisa tidur di kamar Dimas, suatu hal yang membuatnya sangat bahagia.


Dia memperhatikan setiap sudut kamar Dimas. Memang Dimas tidak lagi menempati kamar ini karena dia jarang pulang ke sini. Namun segala tentang Dimas tetap terlihat di kamar yang didominasi warna biru tua itu, warna kesukaan Dimas.


Ponsel Alila berbunyi, ada pesan baru yang masuk. Dia meraih ponsel yang dia letakkan di samping bantalnya. Senyum terulas di bibirnya mengetahui siapa pengirimnya.


"Al.." Tulis Dimas dalam pesannya.


"Ya, Dim. Kamu belum tidur?" Balas Alila.


"Aku tidak bisa tidur."


Di kamar sebelah, Dimas juga tengah berbaring di atas tempat tidur. Tangannya memegang ponsel yang menyala, menunggu balasan pesan dari Alila.


Sama dengan Alila, dia juga tersenyum sendiri membayangkan Alila yang berada di dalam kamarnya. Wanita yang sangat dicintainya, malam ini tidur di dalam kamarnya.


"Coba pejamkan matamu. Kamu harus tidur. Seharian tadi kamu pasti sangat lelah, Dim. Aku tidak mau calon suamiku sakit."


Balasan dari Alila masuk ke ponselnya, membuat Dimas semakin melebarkan senyumannya. Dia bangun dan duduk di atas tempat tidur.


"Kalau aku sakit, ada kamu yang menjadi obatku."


Dimas mengirim pesannya lalu beranjak dari tempat tidur. Dia berjalan menuju pintu, membukanya pelan-pelan. Setelah dirinya keluar, dia menutup pintu kamarnya dengan sangat hati-hati.


Dia berjalan tiga langkah, hingga sampai di depan pintu kamarnya sambil berharap pintu itu tidak terkunci. Lelaki itu bernafas lega saat berhasil membuka pintu tanpa menimbulkan suara sama sekali.


Alila yang masih berbaring miring dan memeluk guling sontak terkejut bukan main melihat Dimas tiba-tiba sudah berdiri di samping tempat tidur. Dia hanya menggunakan celana boxer dan kaos rumahan.


"Dim, kamu......"


"Ssttt.., tetaplah di situ, Al."


Dimas mulai membaringkan tubuhnya di samping Alila yang masih menatapnya dengan pandangan tak mengerti. Dia diam dan memejamkan matanya.


"Aku rindu tidur di kamar ini, Al."


"Kau rindu kamarmu atau orang yang sedang menempati kamarmu?"


Mata Dimas membuka seketika mendengar pertanyaan Alila. Sedangkan Alila pun tak kalah terkejutnya menyadari ucapannya sendiri.

__ADS_1


(Sepertinya aku telah salah ucap, Dim.)


"Dua-duanya."


Dimas menoleh ke samping, menatap wajah Alila yang juga menatapnya dengan mata sayu.


"Dim, sebaiknya kamu segera keluar dari sini. Nanti kalau papa dan mamamu tahu, aku......."


Dimas mengambil guling yang masih didekap Alila dan meletakkannya di belakang tubuh kekasihnya.


"Ijinkan aku memelukmu di sini sebentar saja, Al."


Dimas merentangkan tangan kanannya ke samping, menunggu jawaban Alila dengan pandangan mata yang tak kalah sayunya.


Sesaat Alila ragu, tetapi kepercayaannya pada Dimas membuatnya berani untuk menganggukkan kepala.


Dengan perlahan, dia mendekatkan tubuhnya ke tubuh Dimas, lalu merebahkan kepalanya di atas lengan yang telah siap untuk menjadi bantalannya.


Dimas merengkuh tubuh Alila ke dalam pelukannya. Alila membalasnya dengan melingkarkan tangannya di atas tubuh Dimas. Mereka berdua diam dengan mata yang terpejam, sama-sama menikmati hangat dan nyamannya pelukan mereka satu sama lain.


"Terima kasih, Al. Aku mencintaimu."


Terdengan lirih bisikan Dimas di dekat telinga Alila, diikuti sebuah ciuman lembut di keningnya, membuat Alila semakin membenamkan wajahnya di atas dada sang kekasih.


"Aku kembali ke kamar dulu."


Dimas berdiri dan melangkah pelan menuju pintu kamar. Saat tangannya hendak meraih pegangan pintu, terdengar suara Alila memanggilnya pelan.


"Dim..."


Dimas kembali menoleh ke arah Alila. Calon istrinya itu turun dari tempat tidur lalu berjalan cepat menghampiri dan menghambur ke pelukannya.


Alila memeluk tubuh kekasihnya sangat erat membuat Dimas membalas begitu saja pelukan itu dengan lebih erat. Mereka berpelukan, saling merapatkan tubuh satu sama lain, berbagi kehangatan dan kenyamanan seperti sebelumnya.


Alila tak juga melepaskan pelukannya. Dia seakan tak rela berpisah dari Dimas, padahal mereka hanya akan terhalang satu dinding kamar.


Menyadari malam kian larut dan mereka belum beristirahat, Dimas segera melepaskan pelukannya. Tangannya beralih ke bagian leher dan paha Alila, lalu membopong tubuh itu menuju tempat tidur.


Alila refleks mengalungkan kedua tangannya ke leher Dimas dengan pandangan mata yang lurus menatap wajah lelaki yang dicintainya.

__ADS_1


Sampai di tepi tempat tidur, Dimas menurunkan Alila dengan hati-hati tepat di tengah tempat tidur. Dia menyelimuti tubuhnya dengan rapat dan terakhir meninggalkan ciuman penuh cinta di kening kekasihnya.


"Tidurlah, sayang. Selamat malam."


"Selamat malam, Dim."


Alila membalas dengan hati berbunga-bunga karena panggilan sayang dari Dimas. Dia terus menatap kepergian Dimas hingga pintu kamar tertutup dari luar.


Alila mulai memejamkan matanya dengan perasaan bahagia. Malam ini dia merasakan malam pertama yang indah bersama Dimas.


Malam pertama berada dalam satu atap yang sama, meski hanya sementara. Malam pertama berada dalam satu kamar yang sama, meski hanya sebentar. Malam pertama berada dalam satu tempat tidur yang sama, meski hanya sesaat.


Alila merasa bersyukur bisa sampai pada tahap di mana dirinya diterima dengan baik oleh keluarga Dimas. Jika mengingat lagi masa penantiannya yang begitu panjang hingga empat tahun lamanya, rasanya dia masih tidak percaya jika cintanya kini telah bersambut, terikat erat dengan cinta Dimas kepadanya. Bahkan sekarang mereka telah mulai melangkah ke tahap berikutnya, mempersiapkan rencana pernikahan bersama kedua keluarga.


Di atas tempat tidur yang lain, Dimas telah kembali membaringkan tubuhnya dan bersiap untuk tidur. Namun matanya masih enggan terpejam walaupun raganya sudah terasa sangat lelah dan lemah.


"Selamat malam, Putri Tidurku."


Dimas berucap sendiri sambil memandangi foto cantik Alila yang tersimpan di galeri ponselnya. Foto yang dilihatnya dengan penuh senyuman itu adalah foto yang diambilnya diam-diam saat Alila tertidur lelap di mobilnya, sepulang mereka dari perpisahan fakultas malam itu.


Mengingat kenangan saat mereka kuliah bersama dulu, Dimas teringat pada masa di mana Alila harus memendam sendiri perasaan cinta pada dirinya. Empat tahun lamanya Alila melewati waktu bersamanya tanpa dia tahu sama sekali bahwa wanita itu telah mencintainya dalam diam. Cinta yang sangat dalam dan begitu tulus.


"Maafkan aku, Al. Maafkan aku yang telah begitu menyakiti hatimu karena aku yang tak bisa memahami isi hatiku yang sesungguhnya sangat membutuhkanmu dan menginginkanmu. Maafkan aku yang telah membuat cintamu menunggu terlalu lama karena aku yang tidak bisa menyadari rasa cintaku yang sebenarnya hanya untukmu."


Dimas terus berbicara sendiri seakan-akan foto di dalam ponselnya itu adalah sosok nyata Alila yang sedang berada di hadapannya. Lambat laun, kedua matanya pun terpejam membawanya menuju ke alam mimpi yang indah, di mana hanya ada Alila, dirinya dan cinta mereka.


.


.


.


Note :


Jangan lupa untuk selalu menyemangati kami  dengan Like, Komentar, Bintang 5, Vote & Favorit ya..🙏💜🙏


Terima kasih banyak untuk semua pembaca yang telah berkenan membaca dan menikmati novel kami.


Salam cinta dari kami..

__ADS_1


~Author~


.


__ADS_2