
Lain Dika, lain pula Tama. Meski sama-sama mencintai Alila tetapi mereka memilih sikap yang berbeda.
Jika Dika dengan percaya diri menyatakan perasaannya pada Alila dan setelah itu terus-menerus mengejarnya walau sudah ditolak berkali-kali, Tama justru kebalikannya.
Dia memilih untuk menyimpan rapat perasaannya pada Alila. Dia tidak ingin menerima penolakan yang akan berujung pada perubahan sikap di antara mereka berdua. Oleh karena itu, Tama memilih untuk menyembunyikan rasa cintanya pada Alila, agar dia bisa tetap dekat dan bersama dengan Alila meskipun hanya sebagai sahabat.
Menjelang waktu makan siang, Tama keluar dari ruang pertemuan petinggi perusahaan di lantai atas gedung Pandawa Grup. Dia baru saja selesai melakukan rapat dengan beberapa direktur terkait kerjasama perusahaannya dengan perusahaan besar berskala nasional tersebut.
Tama turun menggunakan lift khusus para direktur, karena hanya lift khusus itu yang bisa beroperasi sampai lantai teratas yang digunakan sebagai ruangan kerja para direktur.
Setelah sampai di lantai bawah, Tama segera keluar melewati lobby untuk menuju area parkir. Berjalan lurus menatap depan, dia tidak menyadari keberadaan seseorang yang duduk menunggu di sofa lobby.
"Tama...!"
Tama langsung menghentikan langkahnya dan memutar pandangannya hingga dia melihat satu orang yang dikenalnya tengah melambaikan tangan kepadanya. Dia tersenyum dan segera menghampirinya.
"Hai, Dim..! Alila belum turun ya?" Tangannya terulur untuk bersalaman dengan Dimas dan dengan cepat Dimas pun menyambutnya.
Tanpa perlu bertanya sudah pasti Tama tahu jika Dimas datang menjemput kekasihnya untuk makan siang bersama.
Dimas menggelengkan kepala sebagai jawabannya. Dia memberi kode dengan tangannya untuk mempersilakan Tama duduk di sebelahnya.
"Aku langsung saja, Dim. Kalian juga akan segera pergi makan siang, bukan?"
"Kita makan siang bersama-sama saja, Tam." Ajak Dimas pada Tama yang masih berdiri di hadapannya.
"Apakah tidak akan mengganggu kalian?" Tanya Tama meskipun sebenarnya dia ingin menolak ajakan Dimas.
"Memangnya kenapa? Hanya makan siang saja. Kamu pikir ini kencan?"
Tama tertawa mendengar jawaban dingin Dimas. Kemudian dia duduk di sebelah lelaki itu.
"Baiklah.., baiklah. Aku bergabung dengan kalian, dengan catatan jangan jadikan aku obat nyamuk di sana nanti."
Tama melanjutkan tawanya sambil menepuk bahu sahabatnya. Dalam hatinya dia senang karena bisa tetap dekat dan tidak perlu bersikap canggung kepada Dimas dan Alila, meskipun dia harus mengorbankan rasa cintanya yang dalam pada Alila.
Dengan memilih untuk menyimpan kisah cinta nelangsanya sendiri, dia tetap bisa meneruskan persahabatannya dengan mereka. Lebih dari itu, dia masih bisa melihat senyum dan tawa bahagia Alila walaupun bersama lelaki lain yang dicintainya.
__ADS_1
Tak berapa lama setelah Tama duduk, terlihat oleh mereka kedatangan Alila dan teman-temannya yang baru saja keluar dari lift dengan canda-tawa ringan di antara mereka.
Saat tiba tadi, Dimas sudah memberitahukan kedatangannya pada Alila melalui pesan singkat, sehingga sesampainya di lobby wanita itu segera berpamitan pada teman-temannya dan melangkahkan kakinya menuju sofa yang berada di tengah lobby.
Saat langkahnya semakin dekat, dia baru menyadari keberadaan Tama di samping Dimas. Tanpa harus berpikir lama, Alila sudah mengerti jika siang ini mereka akan pergi makan siang bertiga.
"Siang, Dim, Tam. Maaf menunggu agak lama. Tadi ada briefing karyawan baru dulu."
Dimas hanya menganggukkan kepala lalu berdiri diikuti Tama.
"Kita berangkat sekarang. Tam, ikut mobilku saja. Nanti kita kembali lagi ke sini."
"Ya, terserah kamu, Dim."
Lalu mereka bertiga bersama-sama keluar lobby menuju tempat parkir mobil Dimas. Dimas ditemani Tama duduk di depan, dan Alila duduk di kursi belakang seorang diri.
"Maaf ya, Al. Tempatmu aku pinjam dulu. Ganti pasangan dulu."
Tama tersenyum menggoda mereka, membuat Dimas dan Alila pun membalas senyumannya.
Berbeda dengan Dimas yang pelit bicara, Tama lebih mudah mencairkan suasana saat sedang bersama dengan para sahabatnya. Obrolan demi obrolan mengalir begitu saja dengan nyamannya, hingga mereka sampai di sebuah rumah makan padang yang sering mereka datangi berlima.
Sambil menunggu pesanan diantar, mereka duduk di salah satu tempat di bagian tengah dan melanjutkan obrolan mereka.
"Jadi kapan pernikahan kalian akan dilaksanakan?" Tanya Tama sambil melayangkan pandangan pada Dimas dan Alila bergantian.
Semalam Dimas sudah menghubungi Tama dan yang lainnya, meminta mereka untuk bertemu berlima di akhir pekan besok. Dimas hanya mengatakan tentang rencana pernikahan mereka tanpa penjelasan lebih lanjut.
"Dua bulan lagi." Jawab Dimas.
"Waah.., mengapa semua sahabatku menikah cepat-cepat? Kemarin Sandy dan Nayla tiba-tiba menentukan pernikahan mereka dalam waktu satu bulan saja. Sekarang kalian juga mengikuti mereka, merencanakan pernikahan dua bulan lagi. Sungguh aku merasa ditinggalkan sendiri di garis start, sementara kalian semua sudah mencapai garis finish.."
Tama berbicara panjang lebar dengan lepas dan tanpa beban. Kata-katanya keluar begitu saja dari mulutnya tanpa ada rasa kecewa, marah atau pun sedih.
Dimas dan Alila justru merasa sedikit bingung hingga keduanya bertatapan mata seolah saling melemparkan tanya yang sama atas sikap tenang Tama yang di luar dugaan mereka.
Tama yang mulai menyadari sikapnya yang dipertanyakan oleh mereka, membalas dengan senyum dan sikap yang tetap tenang.
__ADS_1
"Hei.., jangan khawatirkan aku. Sungguh aku masih sehat dan baik-baik saja. Aku senang mendengar kabar bahagia ini, sama seperti saat aku mendengar kabar yang sama dari Sandy dan Nayla dulu."
Tama berucap dengan tulus dari dalan hatinya. Tidak ada yang dibuat-buat, tidak ada pula yang ditutup-tutupi. Saat ini, hatinya benar-benar telah pulih dari patah hatinya.
(Walaupun pada awalnya sangat sulit, akhirnya aku berhasil melepaskan perasaanku padamu, Al.)
"Doakan saja aku bisa segera bertemu dengan jodoh sejatiku, agar aku bisa segera menyusul kalian semua." Pinta Tama dengan wajah sungguh-sungguh.
"Kami pasti mendoakanmu, Tam. Lelaki baik sepertimu pasti akan bertemu dengan jodoh yang terbaik."
(Sekali lagi maafkan kami yang telah menyakiti perasaanmu, Tam.)
Alila merasa terharu dengan sikap yang ditunjukkan oleh Tama. Sikap seorang lelaki sejati, yang tidak larut dalam kesedihannya dan segera bangkit dari keterpurukannya.
Dan seperti yang diminta oleh Tama tadi, Alila pun yakin lelaki sejati seperti Tama pasti akan mendapatkan jodoh sejati yang sama baiknya, layaknya cerminan diri sendiri.
Tak lama kemudian, akhirnya pesanan yang ditunggu telah terhidang di hadapan mereka. Mereka bertiga segera menyantap makan siang mereka dengan lahap.
Sesekali mereka saling mencicipi lauk masing-masing tanpa rasa canggung, seperti kebiasaan mereka berlima saat sedang makan bersama seperti ini. Dekat, akrab dan penuh rasa kebersamaan.
Bagaimanapun juga, sahabat tetaplah sahabat. Sebanyak apapun masalah yang datang, tidak akan menjadikannya sebagai alasan untuk menciptakan jarak yang membentang. Sebesar apapun kesalahan yang dilakukan, tidak akan menjadikannya sebagai alasan untuk pergi dan meninggalkan. Sesulit apapun keadaan yang menguji, tidak akan menjadikannya sebagai alasan untuk menyerah dan melupakan janji.
Seperti itulah persahabatan mereka berlima selama ini. Suka dan duka, susah dan senang, tangis dan tawa, sedih dan bahagia, pernah mereka alami bersama. Namun semua itu tidak pernah membuat mereka saling menjauh, tetapi membuat mereka saling menguatkan dan tak terpisahkan.
.
.
.
Note :
Jangan lupa untuk selalu menyemangati kami dengan Like, Komentar, Bintang 5, Vote & Favorit ya..🙏💜🙏
Terima kasih banyak untuk semua pembaca yang telah berkenan membaca dan menikmati novel kami.
Salam cinta dari kami..
__ADS_1
~Author~
.