
Selama beberapa hari Dimas terus menyimpan gundah di hatinya, dan belum membaginya bersama Alila. Bukan karena ingin menyembunyikannya, tetapi hatinya masih belum sanggup untuk berterus terang kepada istrinya.
Dia tidak ingin membuat Alila sedih karena kabar yang akan disampaikannya. Terlebih lagi, mereka berdua baru saja melalui masa-masa sulit atas kehilangan yang dirasakan Alila akibat sakit dan kegagalan kehamilannya. Dan sekarang, haruskah dia menambah lagi kesedihan baru untuk wanita kesayangannya itu?
"Dim..."
Panggilan istrinya membuat Dimas tersentak kaget karena dia melamun dengan pandang kosong ke arah layar kerja di hadapannya.
Alila bukannya tidak mengetahui perubahan sikap suaminya yang sering termenung sendiri saat membuka dokumen pekerjaan di laptopnya. Dia hanya memberi waktu sampai Dimas bercerita sendiri kepadanya.
"Ya, Al?"
Dimas menutup laptopnya dan meninggalkan meja kerjanya, lalu berjalan menghampiri istrinya yang duduk di sofa kamar mereka.
Dia mencium puncak kepala istrinya, sebelum merebahkan tubuhnya tepat di samping Alila. Bersandar pada punggung sofa, matanya terus terpejam memikirkan suatu cara untuk menyampaikan berita yang mau tak mau harus segera diketahui oleh sang istri.
Alila mematikan televisi yang sebelumnya dia tonton seorang diri. Diletakkannya remot di sampingnya, lalu dia memutar tubuh ke samping, menatap lekat wajah tampan lelaki miliknya yang tengah memejamkan matanya itu.
Perlahan dia menggeser posisi duduknya, merapat ke tubuh sang suami. Dia mencium lembut pipi Dimas lalu melingkarkan kedua tangannya di pinggang lelaki tercintanya. Kepalanya rebah di atas dada Dimas dengan mata terpejam, meresapi kehangatan yang tercipta di antara mereka.
Dimas membuka mata begitu merasakan pergerakan hangat di tubuhnya, juga di pipinya. Senyuman terbit di bibirnya begitu mendapati wajah istrinya yang telah tersembunyi di dadanya yang bidang.
"Aku mencintaimu, sayang..."
Kedua tangan Dimas sudah berpindah merengkuh tubuh Alila dengan erat diiringi ciuman bertubi-tubi di atas kepala wanita kesayangannya. Hatinya berdesir hebat ketika di waktu yang bersamaan dia teringat pada satu hal yang belum dikatakannya pada sang istri.
(Aku harus segera mengatakannya, agar kami bisa bersama-sama menata dan menyiapkan hati...)
"Sudah lama kita tidak kumpul berlima..." Ucap Dimas setengah bergumam namun masih cukup jelas didengar oleh Alila. Jemari tangannya menyusup ke dalam rambut Alila, lalu menyisirnya dengan lembut berulang-ulang.
"Ya, Dim. Sekarang kita semua sama-sama sibuk, sampai kesulitan untuk menyatukan waktu pertemuan." Sesekali bibir Alila mengecupi dada suaminya yang masih tertutupi kaos yang dikenakannya.
"Kapan Sandy pulang?"
__ADS_1
"Kata Nayla minggu ini dia akan pulang. Kalau untuk tugasnya di luar kota, masih tersisa beberapa bulan lagi."
Meskipun jarang bertemu, Alila dan Nayla masih sering bertukar kabar melalui pesan singkat atau pun panggilan video. Karena sudah sama-sama menikah, mereka seringkali bercerita tentang pengalaman awal berumah tangga.
Lebih tepatnya, Nayla yang selalu berbagi cerita, karena Alila selalu bersikap tertutup jika berhubungan dengan masalah pribadinya, sama seperti Dimas.
"Mengapa tiba-tiba kamu bertanya tentang mereka?" Alila mengangkat kepalanya ke atas dan menatap wajah Dimas yang tampak serius.
Lelaki itu menarik nafas dengan berat lalu membuangnya dengan cepat. Kepalanya menunduk, mencium lembut kening Alila dengan perasaan tak menentu. Kedua bola matanya menatap dalam-dalam sepasang mata indah milik wanita kesayangannya.
"Karena kita akan seperti mereka, Al."
Tubuh ramping itu langsung dipeluknya semakin erat tanpa sekat. Dadanya terasa semakin sesak dan tak kuasa lagi menahan perasaan takutnya. Nafasnya tertahan tak sanggup menghelanya walaupun perlahan.
Alila merasakan dadanya berdebar sangat keras bagai dihantam palu besar bertalu-talu. Kedua tangannya dengan sendirinya mencengkeram tubuh Dimas semakin kencang bersamaan dengan degup jantungnya yang berdentum cepat dan terasa sangat kuat.
"Apa maksudmu, Dim? Apa kamu...." Alila menarik tubuhnya dari pelukan Dimas. Dia menatap wajah sendu suaminya yang juga menatapnya dengan pandangan yang begitu sayu.
"Iya, Al. Aku harus pergi untuk sementara waktu."
"Ada masalah dengan proyek terbaru kami di beberapa wilayah. Dan tim kami selaku penanggungjawab proyek tersebut diminta oleh pimpinan cabang untuk segera menyelesaikannya tanpa tambahan waktu tenggang. Proyek harus tetap selesai tepat waktu sesuai rencana."
Alila kembali menghambur ke pelukan Dimas yang langsung mendekap tubuhnya dengan kehangatan yang berselimut keresahan hati.
"Aku tidak akan lama, Al. Proyek ini sudah setengah jalan dan kami harus menyelesaikannya sesuai target waktu yang telah ditentukan."
"Aku tidak mengkhawatirkan proyek itu. Aku justru memikirkan kamu, Al."
(Bagaimana aku bisa meninggalkanmu sendirian di sini, Al? Siapa yang akan menjagamu?)
Membayangkannya pun Dimas enggan. Apalagi Alila, dia lebih tidak siap lagi dengan situasi yang harus dihadapinya. Tetapi sekarang, mau tak mau mereka berdua harus bisa menerimanya.
"Kapan kamu akan berangkat, Dim?" Suara Alila bergetar saat menanyakannya. Dia menahan tangis yang sudah semakin menyesakkan dadanya.
__ADS_1
(Akan sangat sulit bagiku menjalani hari-hari tanpamu lagi, Dim. Apalagi sekarang kita sudah bersatu dan bersama...)
Dimas bisa merasakan getaran suara sang istri yang menyayat hatinya. Tak ada yang bisa dilakukannya selain terus mengeratkan pelukan dan memberikan kehangatan untuk menenangkan Alila.
"Minggu depan, Al. Tapi belum pasti waktunya, bisa maju atau mundur dari jadwal. Untuk saat ini kami masih memantau penyelesaian masalahnya dari sini. Setelah mengatasi kendala utamanya, barulah kami satu tim akan terjun langsung untuk memantau di lapangan secara maraton dari satu wilayah ke wilayah yang lain."
Alila memeras habis airmatanya di atas dada bidang suaminya. Dia tak bisa lagi menahannya. Dia lepaskan seluruh perasaan yang sedari tadi ditahannya dalam hati dan membuat dadanya semakin sesak oleh perasaan yang bercampur aduk menjadi satu kesedihan tak terkira.
Dimas turut larut dalam isak tangis Alila yang tak lagi terbendung. Airmatanya terpançing keluar membasahi seluruh wajah rupawan lelaki itu.
Cukup lama mereka saling menumpahkan isak tangis dan airmata hingga lelah menghampiri. Mereka masih tetap berada dalam posisi ternyamannya, saling memeluk dan mendekap erat tubuh pasangannya.
Dimas duduk tegak setelah merenggangkan pelukan mereka. Kedua tangannya menangkup wajah Alila agar terus menatapnya dan tidak berpaling ke arah lain, lalu perlahan mulai menghapus sisa air mata di wajah cantik sang istri dengan jari-jemarinya.
"Lebih baik kita memanfaatkan waktu yang ada untuk menciptakan kenangan indah sebanyak mungkin, Al. Supaya saat kita berjauhan nanti, kita bisa mengingat semua kenangan itu sebagai penawar kerinduan."
Dimas mencium lembut kening Alila, lalu turun pada kedua kelopak mata indahnya, kemudian beralih ke pipi kanan dan kiri, pucuk hidung dan terakhir pada bibir mungil nan ranum yang telah merekah menggoda hasratnya.
"Lupakan semuanya, Al. Kita nikmati saja waktu berdua kita seperti ini..."
Dimas menyatukan bibir mereka dengan segenap rasa, berbagi kehangatan dalam ciuman mesra yang mereka mulai dengan pelan dan lembut, semakin lama semakin dalam dan basah, terus berlanjut dengan desahan yang mulai terdengar menggoda, hingga mereka mulai kehabisan nafas karena mengejar kenikmatan yang terus memuncak penuh gairah.
.
.
.
Jangan lupa untuk selalu menyemangati kami dengan Like, Komentar, Bintang 5, Vote & Favorit.
Terima kasih banyak untuk semua pembaca yang telah berkenan membaca dan menikmati novel kami.
Salam cinta dari kami.
__ADS_1
💜Author💜
.