
"Kamu tidak apa-apa, Dim?"
Alila memperhatikan wajah dingin Dimas. Tatapan matanya kosong dan bibirnya terkatup rapat tanpa senyuman. Lelaki itu masih diam saja sejak bertemu dengan Andita.
"Dim.."
Dimas tersadar dari lamunan sesaatnya. Dia mulai menatap Alila kembali.
"Ya, Al? Aah yaa, aku tidak apa-apa."
Baru saja tadi Alila membicarakan masa lalu itu dan Dimas sudah menghentikannya, tapi tiba-tiba salah satu dari masa lalu itu justru muncul kembali secara nyata di hadapannya.
"Apa kamu menyembunyikan sesuatu dariku, Dim?"
Dimas menarik nafas berat dan segera menghembuskannya dengan cepat. Dia sudah berjanji pada dirinya sendiri untuk tidak menyembunyikan apapun dari Alila.
"Aku akan menceritakannya nanti, Al. Sekarang kita harus kembali ke kantor dulu. Jam istirahat sudah hampir selesai."
Alila masih diam di tempatnya dan melihat Dimas dengan tatapan curiga. Sejujurnya dia merasa tidak nyaman saat mengetahui keberadaan Andita tadi. Ada sekelumit rasa cemburu yang menghinggapi hatinya.
"Aku tidak akan menutupi apapun lagi darimu, Al. Sepulang kerja nanti akan kuceritakan semuanya padamu."
Dimas yang sudah lebih dulu berdiri segera meraih tangan Alila dan mengajaknya keluar dari cafe. Alila mengalah dan mengikuti kemauan Dimas. Mereka berjalan bergandengan tangan menuju mobil Dimas yang terparkir tak jauh dari pintu cafe.
Beberapa menit kemudian, mereka sudah sampai di kantor Alila. Dimas mengantarkan Alila sampai ke dalam lobby. Sudah banyak sekali karyawan di sana yang mengetahui rutinitas mereka berdua setiap pagi dan sore hari tersebut, belum lagi jika mereka makan siang bersama seperti saat ini.
"Aku kembali ke kantor dulu, Al. Tunggu aku nanti sore."
"Iya, Dim. Hati-hati di jalan."
Dimas menganggukkan kepala dan melepaskan genggaman tangan mereka. Sesaat sebelum kakinya melangkah keluar, seperti biasanya dia berbisik di telinga Alila.
"I love you, sayang.."
Dan Alila pun lagi-lagi tersipu malu mendengar kalimat romantis dari Dimas. Dia terus menatap kepergian kekasihnya hingga tak terlihat lagi oleh pandangan matanya.
"Ehemm..! Yang berduaan terus, sampai tidak melihat ada kaum jomblo akut di sini."
Pandangan Alila berpindah ke arah asal suara itu. Dilihatnya Nadia sudah berdiri tak jauh darinya. Sepertinya dia datang dari pintu samping yang terhubung ke arah kantin. Dia tersenyum pada Nadia.
"Sudah makan siang, Nad? Di mana Olla?"
Alila mengalihkan pembicaraan karena dia memang tidak suka membahas masalah pribadinya dengan orang lain, apalagi di kantor.
"Sudah, ini aku baru saja kembali dari kantin. Olla tadi pamit keluar bersama Dika. Sepertinya sekarang dia belum kembali. Beberapa hari ini mereka sering keluar berdua, Al."
"Kita doakan saja yang terbaik untuk hubungan mereka, Nad. Ya sudah, ayo kita kembali ke ruangan saja. Masih banyak tugas yang harus diselesaikan."
Alila dan Nadia berjalan bersama ke depan lift, menunggu lift turun ke lantai bawah dan terbuka untuk mereka dan karyawan lain yang ikut menunggu.
Tepat setelah Alila dan yang lainnya masuk ke dalam lift, Tama datang dan memasuki lobby. Dia memberitahukan kedatangannya ke petugas resepsionis lalu bergegas menuju ke ruangan pemimpin perusahaan menggunakan lift di sebelahnya yang merupakan lift khusus untuk para pimpinan dan tamu penting perusahaan.
Selama ini Tama masih rutin datang ke kantor Alila untuk melanjutkan urusan kerjasamanya. Dan setiap kali datang dia memilih untuk langsung menuju ke lantai teratas yang merupakan ruangan para pimpinan perusahaan.
Tama sengaja menghindari untuk bertemu dengan Alila. Dia masih berusaha menata hatinya kembali setelah beberapa bulan yang lalu merasakan patah hati karena mengetahui hubungan Alila dan Dimas.
__ADS_1
.
.
.
Sore harinya, Dimas sudah menunggu Alila di lobby. Tidak lama kemudian, Alila yang baru saja keluar dari lift bersama teman-temannya segera pamit pada yang lain dan melangkah ke arah Dimas.
Teman-teman Alila dan para karyawan wanita yang tengah berjalan melewati lobby menatap kagum pada Dimas yang terlihat sangat gagah dan juga tampan, dengan postur tubuh tinggi tegap dan atletis. Tak heran jika sejak masuk bangku kuliah dulu, banyak wanita berlomba-lomba ingin mendapatkan perhatian dari Dimas.
"Lihatlah, Dim. Pandangan para karyawan wanita di sini, semuanya tertuju padamu. Bukankah seharusnya aku yang cemburu setengah mati?"
Alila menatap mesra mata Dimas yang sedari tadi hanya tertuju pada dirinya. Dia tidak peduli pada tatapan banyak wanita lain di sekitarnya.
"Berarti kita impas, karena kita sama-sama cemburu."
"Tapi aku tidak cemburu buta sepertimu, Dim."
Dimas memilih untuk mengakhiri pembicaraan mereka dan meraih tangan Alila, membawanya keluar dari lobby tanpa mempedulikan karyawan lain yang masih menatap kagum dan juga iri dengan kebersamaan mereka.
Dimas melajukan mobilnya menuju ke rumahnya. Dia ingin menyelesaikan ceritanya tentang Andita pada Alila. Setelah sampai di halaman rumahnya, Dimas segera membuka pintu mobil dan mengajak Alila masuk ke dalam rumah.
"Dim, kenapa kita ke sini?"
"Aku sudah menelepon mamamu jika aku akan terlambat mengantarmu pulang."
Dimas mengajak Alila duduk di ruang tamu. Alila teringat saat terakhir kali dia datang ke rumah Dimas, mereka juga duduk berdua dan bersebelahan seperti saat ini.
"Al, aku akan menceritakan padamu tentang Andita."
"Kamu masih ingat kan Al, siapa Andita. Dia adalah...."
"Dia adalah kekasih terakhirmu dulu."
Dimas memegang tangan Alila dan mengusap-usap punggung tangannya.
"Kamu juga sudah tahu awal dari hubungan kami dulu seperti apa. Seperti yang lainnya, dia yang terus mendekatiku dan memintaku memberinya kesempatan untuk bersama."
"Dia sudah lama menyukaimu. Andita mencintaimu, Dim. Karenanya dia berusaha untuk bisa mengambil hatimu dan tidak ingin melepaskanmu."
Alila masih mengingat semuanya. Dulu Dimas pernah menceritakan padanya tentang Andita. Dari semua wanita yang pernah menjadi kekasih Dimas, hanya Andita-lah yang serius mengejar cinta lelaki itu.
Jika yang lainnya hanya sekedar ingin bersenang-senang dengan Dimas dan akhirnya melepaskannya karena Dimas tidak bisa memberikan perhatian lebih, tidak demikian halnya dengan Andita.
Wanita itu telah jatuh cinta pada Dimas. Dia mencintai Dimas dan ingin selalu berada di sampingnya. Dia terus berusaha untuk menarik perhatian Dimas agar mau membalas perasaannya dan membuka hati untuk dirinya.
"Dari semua wanita yang pernah bersamaku, dia yang paling lama bertahan dan meyakinkan aku untuk menerima cintanya."
"Mengapa dulu akhirnya dia menyerah dan melepaskanmu, Dim? Padahal dia benar-benar mencintaimu dan telah berjuang cukup lama untuk mendapatkan balasanmu."
"Karena dirimu, Al."
"Aku?"
Alila mengeryitkan dahinya, dia bingung mengapa dia jadi terbawa-bawa dalam masalah antara Dimas dan Andita.
__ADS_1
"Ya. Dia cemburu padamu. Dia tahu kalau kamu mencintaiku dan dia mengatakannya padaku. Dia juga mengatakan bahwa aku juga mencintaimu dan selalu mengutamakan dirimu daripada dia."
"Bagaimana dia bisa tahu perasaanku, Dim? Aku tidak pernah mengatakannya pada siapapun."
Alila semakin tidak memahami semua yang terjadi. Apalagi waktu itu Dimas sepertinya juga belum menyadari perasaannya pada Alila. Lantas bagaimana Andita bisa mengetahui perasaannya pada Dimas dan juga sebaliknya?
"Aku juga tidak mengerti, Al. Mungkin karena dia seorang wanita, jadi lebih peka perasaannya dan bisa membaca perasaan wanita lain. Terlebih lagi, kalian memiliki perasaan yang sama kepadaku."
"Aku menyangkalnya, Al. Aku terus saja membelamu dan mengatakan padanya bahwa kita berdua saling menyayangi hanya sebatas sahabat."
"Tapi dia bersikeras mengatakan bahwa aku menyayangimu lebih dari seorang sahabat, Al. Dia terus mengatakan bahwa aku mencintaimu. Dan itulah yang menyebabkan aku tidak bisa membuka hatiku untuk wanita lain."
"Karena itukah dulu kamu tidak bercerita padaku bahwa kalian sudah tidak bersama lagi?"
Dimas menganggukkan kepalanya dan mencium tangan Alila. Dia terus memandangi cincin di jari manis Alila dan memainkannya dengan jemarinya.
"Saat terakhir kami bertemu dan dia melepaskan aku waktu itu, dia mengatakan sesuatu yang terus aku ingat sampai sekarang, Al."
"Apa itu?"
"Dia mengatakan bahwa suatu saat aku pasti akan menyadari perasaanku yang sesungguhnya. Dia mengatakan bahwa cepat atau lambat aku pasti akan jatuh cinta padamu dan akan mencintaimu sepenuh hatiku."
Alila tertawa kecil mendengar cerita Dimas. Dia merasa lucu karena ada seseorang yang bisa membaca pikiran orang lain setepat itu, bahkan perasaan dua orang sekaligus, yaitu Dimas dan dirinya.
"Dan saat bertemu dengan Andita tadi, kamu merasa malu padanya, karena apa yang dikatakannya dulu ternyata benar dan telah menjadi kenyataan. Benar begitu, Dim?"
"Iya, Al. Dulu aku bersikeras menyangkalnya, dan sekarang aku kena batunya. Aku jatuh cinta padamu dan sangat mencintaimu."
Wajah Alila merona merah muda saat kedua tangan Dimas menangkup kedua pipinya dengan pelan dan lembut, serta menatapnya dengan sorot mata penuh cinta.
"Aku tidak akan pernah melepaskan dirimu, Al."
"Dan aku juga tidak akan pernah membiarkanmu melepaskan aku, Dim."
Mereka saling memaku pandangan satu sama lain dalam diam yang lambat-laun mulai menghangatkan suasana.
Dan untuk kedua kalinya, Dimas mencium kening Alila dengan penuh perasaan. Dia menciumnya cukup lama hingga kedua mata mereka terpejam untuk meresapi kehangatannya.
Mereka menikmati getaran indah yang menyesakkan dada namun memunculkan rasa bahagia di dalamnya, menciptakan desir-desir halus yang menggelitiki hati keduanya, dan berakhir dengan pelukan erat penuh cinta.
.
.
.
Note :
Jangan lupa untuk selalu menyemangati kami dengan Like, Komentar, Bintang 5, Vote & Favorit ya..🙏💜🙏
Terima kasih banyak untuk semua pembaca yang telah berkenan membaca dan menikmati novel kami.
Salam cinta dari kami..
~Author~
__ADS_1
.