Menanti Cinta Untukku

Menanti Cinta Untukku
36 RENCANA SEMULA


__ADS_3

"Bulan depan?"


Alila menatap Dimas tak percaya. Sementara Dimas yang ditanya menjawab dengan anggukan kepala.


"Iya. Pernikahannya sesuai rencana semula. Bagaimana?"


"Hah? Apanya yang bagaimana? Kamu membuatku semakin bingung dan menjadi gugup, Dim."


Dimas tertawa melihat tingkah Alila. Dia memang jarang sekali tertawa. Jangankan tertawa, tersenyum pun dia sangat hemat, kecuali kepada Alila.


Begitu melihat Dimas tertawa, kedua sudut bibir Alila terangkat membentuk sebuah senyuman. Dia senang bisa melihat tawa kekasihnya karena itu adalah momen langka baginya dan bagi semua orang.


"Kalau bingung, mengapa kamu tersenyum?"


"Itu karena kamu tertawa, Dim. Aku senang sekali melihat tawamu."


Dimas terdiam. Baginya tertawa memang bukan hal yang mudah. Sejak kecil dia sudah terbiasa berpembawaan serius dan fokus, sehingga semuanya selalu dia sikapi dengan penuh perhitungan.


"Sering-seringlah tertawa, Dim. Karena aku sangat menyukainya. Setidaknya lakukan itu untukku."


"Aku akan mencobanya, Al. Demi dirimu."


Alila dan Dimas tersenyum bersama sebelum kembali membahas tentang persiapan pernikahan.


"Jadi mau pakai yang mana undangannya, Al? Desainnya sudah dikirimkan ke ponselku, tinggal kita pilih saja yang mana."


"Sovenirnya juga jangan lupa, Al. Sudah ada tiga pilihan, kamu pilih sekarang juga, yang mana yang paling cocok."


Dimas menyerahkan ponselnya kepada Alila. Akhir pekan kali ini, mereka tidak ada acara ke mana-mana. Mereka berdua harus mendahulukan hal yang lebih penting, karena hari pernikahan tinggal satu bulan lagi.


"Yang desain klasik saja, Dim. Tapi disesuaikan dengan tema pernikahannya. Biar serasi semuanya."


"Baiklah, kamu saja yang tentukan. Nanti aku yang akan menghubungi pihak wedding organizer. Untuk daftar undangan tadi sudah diserahkan juga kepada pihak penyelenggara. Mereka tinggal menunggu desain undangan yang kita pilih."


Alila masih sibuk memilih beberapa desain yang baru saja dilihatnya. Mereka harus menentukan dengan cepat karena pernikahan akhirnya dimajukan kembali sesuai rencana semula. Dan itu berarti persiapan mereka hanya empat minggu dari sekarang.


Untuk persiapan yang lain, hampir semuanya sudah dipegang langsung oleh pihak penyelenggara agar lebih cepat ditangani dan diselesaikan.


"Dim, kita pilih yang ini saja ya. Untuk warna undangan disesuaikan dengan temanya. Sedang sovenirnya, kita pilih yang couple ini, sepasang gantungan kunci berbentuk hati dengan warna yang berbeda, pink dan biru muda."


Alila menunjukkan desain undangan dan sovenir yang sudah dipilihnya kepada Dimas. Lelaki itu hanya mengangguk dan tersenyum, lalu mengirimkannya kepada pihak penyelenggara untuk segera dikerjakan. Karena dua minggu lagi, undangan harus sudah siap untuk dibagikan.


"Dim, pakaian kita bagaimana? Apakah sudah disediakan juga atau kita harus mengurusnya sendiri?"


"Kita siapkan sendiri saja, Al. Mumpung sekarang masih ada waktu, kita bisa langsung pergi ke butik."


Alila segera masuk ke kamarnya untuk bersiap. Beberapa menit kemudian dia sudah berganti pakaian dan siap untuk pergi bersama Dimas.


.


.


.


Dua minggu kemudian, Dimas dan Alila kembali disibukkan dengan urusan pembagian undangan pernikahan.

__ADS_1


Meskipun tidak semua undangan menjadi tanggung jawab mereka, tetap saja membutuhkan waktu beberapa hari untuk menyelesaikannya. Itupun sebagian harus mereka kirimkan melalui jasa kurir, agar lebih cepat sampai ke masing-masing tujuan.


Beruntung teman-teman kuliah mereka sebagian besar tinggal dalam satu kota. Sedangkan untuk teman-teman yang rumahnya di luar kota, mereka menggunakan jasa pengiriman cepat, setelah sebelumnya mereka juga mengirimkan foto undangan tersebut melalui pesan dari ponsel mereka.


"Akhirnya tanggung jawab masalah undangan sudah selesai, Dim. Ternyata seperti ini repotnya mengurusi persiapan pernikahan."


"Baru undangan saja sudah serepot ini, Al. Apalagi kalau semua kita urus sendiri."


Dimas mengusap kepala Alila yang bersandar di bahunya. Mereka duduk bersama di ruang tamu rumah Alila, setelah seharian berkeliling kota mengantarkan undangan.


"Kamu lelah, Al?"


Alila hanya tersenyum. Dia menengadahkan kepalanya menatap wajah Dimas.


"Bersamamu membuat lelahku tidak terasa, Dim. Yang penting seluruh persiapan pernikahan berjalan sesuai rencana. Kita tinggal menunggu saatnya tiba."


"Oya, bagaimana dengan pakaian kita? Aku sampai lupa memikirkannya, Dim."


"Aku sudah menghubungi butik, Al. Besok pagi kita akan pergi ke sana untuk fitting terakhir."


"Terima kasih, Dim."


"Untuk apa?"


"Kamu selalu ada untukku dan menjadi pelengkap hidupku."


Dimas tidak menjawab ucapan Alila. Dia hanya mempererat pelukannya dan mencium kepala Alila dengan penuh kelembutan.


.


.


.


Dimas dan Alila datang bersama. Namun sesampainya di dalam gedung, mereka berpisah untuk bergabung dengan rombongan masing-masing.


Alila bergabung bersama rombongan calon pengantin wanita. Sedangkan Dimas berbaur dengan rombongan calon pengantin pria. Semuanya tampak sangat bahagia.


Pihak wedding organizer sudah sibuk kesana-kemari mengatur semua persiapan sesuai rangkaian acara. Tak lama kemudian, waktu telah menunjukkan saatnya ijab qobul dilaksanakan.


Semua yang datang sudah duduk dengan tenang menantikan momen sakral yang akan segera berlangsung.


Calon pengantin pria sudah duduk berhadapan dengan ayah kandung calon pengantin wanita, didampingi penghulu dan dua orang saksi. Sementara calon pengantin wanita bersama pendampingnya masih menunggu di ruangan yang lain.


"Saahhh..!!"


Selanjutnya, ucapan syukur terus menggema di dalam gedung, tanda ijab qobul telah terlaksana dengan lancar dan khidmat.


Saatnya sepasang pengantin yang telah sah dan resmi akan dipertemukan untuk pertama kalinya.


Dari arah samping, pengantin wanita datang didampingi dua orang wanita muda yang sama-sama cantik. Dia berjalan pelan dan anggun menuju ke arah pengantin pria yang telah berdiri menunggunya dengan wajah penuh senyuman.


Dan akhirnya, mereka pun bertemu. Ciuman di tangan yang dibalas dengan ciuman di kening, menjadi awal kisah sepasang pengantin baru, Sandya Putra Pradana dan Nayla Kharisma Putri.


Pancaran kebahagiaan juga terlukis di wajah para sahabat terbaik mereka, Tama, Dimas dan Alila. Mereka bertiga merupakan bagian tak terpisahkan dari pelaksanaan pernikahan Sandy dan Nayla hari ini.

__ADS_1


Dimas dan Alila yang diminta untuk mempersiapķan undangan dan souvenir pernikahan, rela meluangkan banyak waktu mereka demi memberikan yang terbaik untuk Sandy dan Nayla.


Demikian pula halnya dengan Tama yang dipercaya untuk mengurus akomodasi dan transportasi untuk seluruh keluarga besar, dengan sigap mempersiapkan semuanya dengan sempurna untuk kedua sahabat dekatnya.


Pernikahan mereka dipercepat atau lebih tepatnya kembali kepada rencana semula, karena Sandy mendapatkan tugas kerja ke luar kota selama beberapa bulan ke depan.


Demi menjaga kepercayaan dan karena sebelumnya mereka juga sudah lama berencana untuk menikah, akhirnya kedua keluarga memutuskan untuk menggelar pernikahan mereka sebelum Sandy berangkat ke luar kota.


Setelah menyelesaikan prosesi akad nikah berikut administrasi dan segala ritualnya, tiba saatnya untuk pengambilan foto keluarga dan seluruh tamu akad nikah, sebelum acara beralih ke resepsi pernikahan.


Dimas dan Alila juga Tama ikut menunggu giliran untuk berfoto bersama sang pengantin baru. Tama yang belum mempunyai pasangan, datang bersama adik bungsunya, Tami. Dia tidak ingin terlihat semakin mengenaskan jika hanya datang sendiri tanpa seseorang yang menemaninya.


Dan hari ini adalah pertemuan pertama Tama dengan Dimas dan Alila, setelah acara makan malam berlima waktu itu. Meskipun sejak datang tadi dia bersikap tenang dan penuh senyuman, sesungguhnya di dasar hatinya Tama masih merasakan sakit dan patah hati.


Sambil menunggu gilirannya, Alila menarik tangan Dimas untuk berfoto di salah satu sudut gedung yang telah disulap menjadi taman bunga yang indah dan dipenuhi aneka bunga berwarna-warni.


"Ada apa , Al?"


"Aku ingin mengabadikan kenangan kita di sini. Sudah lama sekali kita tidak melakukan foto berdua, Dim."


Dimas yang sebenarnya tidak suka berfoto akhirnya tetap mengikuti kemauan Alila. Baginya kebahagiaan Alila adalah yang terutama untuknya.


Alila yang merasa senang segera meminta bantuan seseorang di sana untuk mengambil foto mereka berdua dengan berbagai gaya yang diinginkan Alila.


Setelah puas dengan semua hasil fotonya, Alila mengajak Dimas kembali menuju ke dekat pelaminan untuk bersiap berfoto bersama Sandy dan Nayla.


Tama bersama adiknya terlebih dahulu berfoto bersama sang pengantin, kemudian dilanjutkan oleh Dimas dan Alila yang tampak serasi dengan balutan pakaian yang mereka pesan khusus dari butik untuk menghadiri pernikahan Sandy dan Nayla.


Setelah itu, mereka berlima melakukan foto bersama-sama dengan senyum bahagia yang mengembang di bibir lima sahabat dekat tersebut.


Turun dari panggung pelaminan, Dimas menggenggam erat tangan Alila dan membawanya duduk berdua.


"Al.."


"Ya, Dim?"


"Kapan kita akan menikah?"


.


.


.


Note :


Jangan lupa untuk selalu menyemangati kami dengan Like, Komentar, Bintang 5, Vote & Favorit ya..🙏💜🙏


Terima kasih banyak untuk semua pembaca yang telah berkenan membaca dan menikmati novel kami.


Salam cinta dari kami..


Author


.

__ADS_1


__ADS_2