
"Alila, mama titip Dimas ya."
"Jaga dia dan sayangi dia dengan hatimu. Temani dia agar dirinya tidak lagi merasa kesepian di sini. Mama percaya padamu."
Alila begitu terharu mendengar permintaan mama Dimas kepadanya. Dia merasa sedang berhadapan dengan mamanya sendiri. Sosok perempuan berhati lembut yang sangat hangat dan penuh kasih sayang.
"Iya, Tante. Saya akan berusaha untuk selalu bersama dan menemaninya. Meskipun sebenarnya, justru Dimaslah yang telah menjaga dan melindungi saya selama ini."
"Sudah seharusnya Dimas menjaga dan melindungimu seperti itu, Al. Dia seorang laki-laki, dia yang harus bertanggungjawab akan dirimu." Sahut Indira.
Dengan malu-malu Alila bercerita tentang keseharian mereka selama ini. Dengan wajah memerah dia terus menceritakan bagaimana perhatian dan kasih sayang yang diberikan Dimas kepadanya.
Entah mengapa dia mulai merasa nyaman berada di antara mereka.
"Benarkah sikapnya bisa semanis itu padamu? Hmm.., rasa-rasanya mama mulai cemburu padamu..." Mama Dimas menggoda Alila.
Baru saja suasana menghangat, Dimas tiba-tiba sudah berdiri di depan pintu kamar. Dia tidak rela berlama-lama membiarkan Alila di dalam tanpa dirinya. Dia takut Alila masih merasa canggung dan tidak nyaman berada satu ruangan hanya bersama mama dan kakak iparnya.
"Haduhh.., ini anak. Baru sebentar saja ditinggal Alila, sudah tidak tahan dan mencarinya."
Mama berdiri dan berjalan keluar kamar. Beliau berhenti di samping Dimas.
"Ajaklah Alila keluar. Mama mau mengemasi barang-barang dulu."
Setelah itu mama Dimas melanjutkan langkahnya menuju ke kamar.
"Al.."
Dimas menatap Alila dan memberi isyarat tangan untuk mengajaknya keluar kamar.
"Kak Indi, aku tinggal dulu ya."
"Iya, Al. Silakan."
Alila mencium pipi gembul baby Sekar sebelum dia berdiri dan melangkah mendekati Dimas yang tanpa sadar tersenyum saat melihat Alila mencium keponakannya tadi.
(Aku juga ingin mendapatkan ciuman darimu seperti itu, Al.)
"Dim.."
Suara Alila membuyarkan lamunan Dimas. Dia memperhatikan raut wajah Alila, memastikan kekasihnya itu baik-baik saja.
Dia lalu menggandeng tangan Alila dan mengajaknya duduk di ruang tamu. Saat melewati ruang tengah, Alila sudah tidak melihat papa Dimas dan Darma.
"Om dan kak Darma ke mana, Dim?"
"Kak Darma sedang menyiapkan mobil di garasi. Papa berjalan-jalan ke sekitar, sudah lama tidak bertemu dengan tetangga di sini."
Dimas duduk di samping Alila. Dia menatap wajah wanita tercintanya itu dalam-dalam.
"Kamu tidak apa-apa, Al? Apa mama dan kak Indi banyak bertanya padamu?"
"Aku tidak apa-apa. Tapi kenapa kamu tidak memberitahuku kemarin?"
Dimas memegang tangan Alila dan menatap mata indah wanitanya. Tatapan yang menyiratkan penyesalan.
__ADS_1
"Maaf, Al.."
"Setelah kita pulang dari pantai kemarin, mereka sudah berada di rumah, Al. Aku juga tidak tahu kalau mereka akan datang."
"Semalam aku ingin mengatakannya padamu, tapi aku takut kamu akan menolak ajakanku."
Alila tersenyum. Dia mengamati wajah Dimas yang masih tampak menyesal dan terlihat muram.
"Wajahmu kenapa, Dim?"
"Aku takut kamu marah padaku."
Alila menutup mulut dengan satu tangannya karena sebelah tangannya masih dipegang Dimas. Dia tertawa tapi menahannya agar tidak tergelak di hadapan Dimas. Namun gerakan tangannya terlanjur diikuti oleh mata lelaki itu.
"Mengapa kamu tertawa seperti itu, Al?"
"Kamu yang membuatku tertawa, Dim."
"Aku?"
"Wajahmu lucu sekali saat seperti ini.."
"Jangan meledekku, Al. Aku benar-benar takut kalau kamu marah padaku."
Alila buru-buru mengatur nafasnya agar tidak tertawa lagi. Kini dia hanya tersenyum saja dan menggenggam tangan Dimas.
"Mengapa kamu harus takut? Memangnya kenapa jika aku marah padamu?"
"Melihatmu menangis sedikit saja aku tidak tahan, apalagi kalau kamu sampai marah dan tak mau bicara padaku, Al. Kamu tahu, aku hanya ingin kamu selalu tersenyum dan merasa bahagia bersamaku."
Kali ini Alila benar-benar terharu mendengar ucapan Dimas.
"Ehemm..! Maaf iklannya lewat. Anggap saja aku tidak melihat tangan kalian."
Di saat mereka berdua masih larut dalam suasana yang hangat, tiba-tiba Darma masuk melewati ruang tamu begitu saja, tanpa menoleh sedikitpun ke arah Dimas dan Alila.
Alila dengan cepat melepaskan genggaman mereka dan segera menarik kembali tangannya. Wajahnya sudah bersemu merah menahan malu. Sedangkan Dimas hanya terdiam dengan wajah datar, menatap punggung kakaknya yang mulai menghilang masuk ke ruang tengah.
Selepas Dhuhur, keluarga Dimas sudah siap untuk pulang ke luar kota. Dimas membantu Darma memasukkan semua koper dan tas ke dalam bagasi. Sedangkan tas bekal dan mainan baby Sekar dimasukkan ke dalam mobil.
Tiba saatnya berpamitan. Alila mendahului Dimas, dia mencium tangan papa dan mama Dimas, lalu bersalaman dengan Darma dan Indira. Terakhir dia mencium dengan gemas kedua pipi gembul baby Sekar.
"Alila, baik-baik sama Dimas ya. Jangan suka bertengkar. Bicarakan semuanya dengan baik-baik." Kata Papa sambil mengusap kepala Alila.
"Iya, Om."
"Temani Dimas ya, Nak. Ingatkan juga lima waktunya." Mama memeluk Alila dengan hangat.
"Iya, Tante. Setahu saya, Dimas sudah rajin kok, tidak pernah tinggal sholatnya."
"Titip adikku yang aneh itu ya, Al. Yang sabar saja kalau menghadapi dia. Kalau bicaranya masih pelit, pukul saja nanti juga dia berteriak." Darma melirik Dimas yang sudah menatapnya dengan tajam.
"Ya, kak." Alila menahan tawanya karena Dimas sudah memasang muka dingin.
"Kalau sudah cocok, buruan saja menikah, Al. Biar punya sendiri yang lucu dan imut seperti Sekar ini."
__ADS_1
Kecuali Dimas, semuanya tersenyum mendengar ucapan Indira yang membuat Alila tersipu malu lalu mengalihkan perhatiannya dengan menciumi baby Sekar yang tertawa geli karenanya.
Kemudian Dimas mengantarkan semuanya masuk ke mobil satu per satu. Dia mencium tangan mama dan papanya, menyalami Indira dan mencium kening baby Sekar sambil mengusap kepala mungilnya, terakhir berpelukan dengan Darma.
"Jaga baik-baik anak gadis orang. Jangan dinakali dan jangan dibuat menangis."
Darma menepuk bahu adiknya beberapa kali. Dibalas Dimas dengan anggukan kepala dan senyuman tipisnya.
"Bekerjalah dengan ikhlas, jujur dan amanah, Dim." Papa Dimas duduk di depan, mendampingi Darma yang memegang kendali mobil.
Mama Dimas dan Indira juga baby Sekar duduk di kursi tengah bersama-sama.
"Baik-baik di sini ya, Nak. Jaga kesehatanmu." Mama mencium kening putra bungsunya sebelum masuk ke dalam mobil, diikuti Indira dan baby Sekar.
"Dadaaa Om Dimas, Sekar pulang dulu.." Indira memangku baby Sekar menghadap ke arah Dimas membuat lelaki itu tersenyum lebar melihat tawa keponakannya.
Setelah semuanya siap, mobil pun mulai melaju perlahan meninggalkan halaman rumah Dimas. Setelah tak terlihat lagi, Dimas mengajak Alila masuk kembali ke dalam rumah.
Alila membersihkan beberapa gelas kotor yang masih tertinggal di atas meja. Dia membawanya ke dapur dan segera bersiap untuk mencucinya.
Dengan menyandarkan satu lengannya di pintu dapur, Dimas terus mengamati Alila yang sibuk di dapur hingga tidak menyadari keberadaannya di sana.
Pandangannya tak bisa lepas dari wajah cantik wanitanya yang di sela-sela kesibukannya, sesekali tangannya menyibak rambut yang menutupi pandangannya saat mencuci gelas.
Dimas berjalan pelan mendekati Alila dan berhenti tepat di sampingnya. Alila melihatnya sekilas kemudian melanjutkan pekerjaannya.
Deg..! Mendadaknya dirinya terkejut dan merasakan hatinya berdesir lembut saat tangan Dimas bergerak menyibak rambutnya yang terurai ke depan lalu dengan gerakan lembut segera menyelipkan di belakang telinganya.
Di saat Alila ingin segera merampungkan pekerjaannya, Dimas malah membantunya, mengeringkan gelas yang telah dicucinya dan meletakkan di tempatnya, sehingga semuanya lebih cepat selesai.
Alila berbalik hendak berjalan keluar dari dapur tapi Dimas menahan langkahnya.
"Aku akan ke ruang tamu, Dim."
Alila berusaha melepaskan pegangan tangan Dimas, namun lelaki itu justru menariknya untuk mundur dan membalikkan badan.
"Al..."
Sepasang bola mata lelaki itu menatapnya lekat-lekat. Alila yang semula mengalihkan pandangannya, mulai membalas tatapan mata Dimas.
"Apakah kamu merasa senang? Emm.., maksudku bertemu dengan keluargaku.."
"Tadi saja kamu bilang takut aku marah, tapi sekarang malah bertanya aku senang atau tidak.."
.
.
.
Note :
Jangan lupa untuk selalu menyemangati kami dengan Like, Komentar, Vote & Favorit ya..🙏💜🙏
Terima kasih banyak untuk semua pembaca yang telah berkenan membaca dan menikmati novel kami.
__ADS_1
Salam cinta dari kami..
Author