
"Maaf.., aku akan mengganti cairan infusnya dulu."
Keheningan suasana yang tercipta semakin membuat satu sama lain ragu untuk memulai percakapan. Hingga akhirnya Indah yang lebih dulu membuka suara dan melanjutkan tugasnya.
Bayu segera mundur dan memberi ruang pada Indah untuk melakukan tugasnya. Ucapan terima kasih terucap dari bibir Indah dengan seulas senyum tipis yang ragu-ragu dia tunjukkan saat Bayu menatapnya.
Indah merasa sedikit gugup karena Bayu terus memperhatikannya dengan seksama selama dia mengganti cairan infus yang kini sudah tergantung aman pada tiangnya dan mengalir melalui selang ke punggung tangan kiri Alila.
Bila Bayu menunjukkan sikap baiknya pada Indah, berbeda dengan Dimas yang tetap bersikap dingin dari awal. Dia hanya memusatkan perhatiannya pada Alila yang justru sesekali memperhatikan Bayu dan Indah di sisi kirinya.
Dan setiap kali Alila melakukannya, dengan segera Dimas memalingkan wajah Alila dengan tangannya agar kembali menatapnya. Sebegitu sangat cintanya pada Alila hingga Dimas tak rela jika Alila memperhatikan orang lain yang tak penting baginya.
"Al, lihat aku..."
Alila kembali menatap Dimas dengan senyum kecilnya. Dia merasa sungkan kepada Bayu dan Indah karena sikap Dimas yang jelas menunjukkan ketidakpeduliannya dengan keberadaan dua orang dari masa lalunya itu.
Indah yang sudah menyelesaikan tugasnya, berpura-pura masih memeriksa aliran cairan infus yang menetes satu demi satu di dalam tabung bening penghubung antara kantong infus dan selang infus.
Indah diam-diam mencuri pandangan ke arah Dimas yang terlihat sangat dekat dan begitu perhatian pada pasien bernama Alila itu. Dia membaca nama itu di berkas laporan kesehatan pasien yang ada di atas meja di ruang jaga perawat tadi.
Tatapan mata Dimas begitu teduh dan sarat cinta untuk Alila. Indah bertanya-tanya dalam hatinya, hubungan apakah yang terjalin di antara mereka berdua?
Bayu yang masih terus memperhatikan Indah, mengetahui jika wanita itu juga tengah memperhatikan Dimas dan Alila. Tak ingin membuat suasana semakin canggung di antara mereka berempat, Bayu mendekati Indah dan memberitahu tentang wanita yang ditemani oleh Dimas.
"Indah, dia Alila calon istrinya Dimas."
Ucapan Bayu cukup mengejutkan Indah, tetapi dia berusaha menyembunyikan raut keterkejutannya itu. Namun dalam hati dia masih tak percaya, Dimas yang dulu dia kenal sebagai lelaki dingin dan kaku, sekarang telah memiliki calon istri yang sangat dicintainya. Hal itu sangat jelas terlihat dari semua perlakuan spesial Dimas pada wanita yang duduk berbaring sebagai pasien itu.
Alila yang mendengar namanya disebut oleh Bayu, mengalihkan pandangannya ke samping kiri, menatap ke arah Indah yang masih berpura-pura sibuk dengan tugasnya.
Saat melihat Alila menatapnya, Indah pun membalasnya dan tersenyum pada Alila yang juga sudah menyunggingkan senyum manisnya pada Indah.
(Dia cantik dan begitu lembut. Pantas saja Dimas takluk padanya dan sangat mencintainya...)
Sekilas Indah beralih pandang ke arah Dimas yang masih setia duduk di tepi tempat tidur dan menggenggam tangan Alila tanpa lepas sedetik pun.
(Dia tidak berubah sedikit pun. Masih tetap dingin, kaku dan datar. Bagaimana dulu aku bisa sangat mencintai lelaki sepertinya, sampai aku mengabaikan rasa suka yang lebih dulu kurasakan untuk Bayu...)
Sementara itu, Bayu juga melihat kebersamaan Alila dan Dimas dengan senyum kecil di wajahnya. Tidak ada rasa sedih atau sakit di hatinya meskipun dia mengaku mencintai Alila.
Entahlah, mungkin karena perasaannya begitu tulus sehingga hanya senyum dan kebahagiaan Alila saja yang ingin dia lihat di wajah wanita itu. Lagipula, sebentar lagi Alila akan menjadi istri Dimas, apalagi yang bisa dia harapkan...
Kemudian Bayu kembali mengalihkan perhatiannya pada wanita pemilik cinta pertamanya. Indah, wanita dengan paras seindah namanya. Tiba-tiba terasa desiran halus yang mengaliri rongga dadanya dengan begitu lembut.
(Ah, mengapa aku merasakannya kembali..?!)
Indah yang tidak menyadari tatapan mata Bayu kepadanya, menyudahi tugasnya di ruangan Alila dan hendak kembali ke ruangannya.
"Tugasku sudah selesai. Jika ada bantuan yang diperlukan, kalian bisa menekan tombol panggilan di atas tempat tidur pasien. Semoga lekas sembuh."
Dimas diam sementara Alila mengangguk dan tersenyum pada Indah.
"Terima kasih."
Indah telah membawa kantong infus kosong dan beberapa peralatan medis kecil dengan kedua tangannya. Dia mulai melangkah menjauh dari sisi tempat tidur dan berhenti tepat di samping Bayu.
"Bayu, aku tinggal dulu. Senang bisa bertemu kembali denganmu."
__ADS_1
Bayu menatap Indah dengan wajah serius dan pandangan yang penuh arti.
"Indah, bisakah kita berbicara sebentar di luar sana?"
Tak disangka oleh Indah jika Bayu akan meminta waktunya untuk berbicara berdua.
(Mengapa jantungku menjadi berdegup sekencang ini..?)
"Baiklah. Kamu bisa menemuiku di ruang jaga perawat. Ada di ujung koridor, tiga kamar dari ruangan ini."
Indah bergegas meninggalkan ruangan Alila, karena dirinya semakin gugup dan jantungnya masih saja berdetak tak semestinya sejak Bayu berkata ingin menemuinya kembali.
Bayu menatap kepergian Indah hingga tubuh wanita itu menghilang di balik pintu. Sama seperti Indah, dia juga berusaha menormalkan detak jantungnya yang makin memburu saat mendengar jawaban Indah.
"Sepertinya aku harus pergi sekarang agar kamu bisa segera beristirahat, Al. Sekali lagi aku minta maaf untuk semuanya. Semoga kamu lekas pulih dan sehat kembali."
Bayu berpamitan pada Alila lebih dulu. Setelah Alila meresponnya dengan anggukan kepala, dia beralih pada Dimas dan mengulurkan tangannya ke arah lelaki itu.
"Aku pamit, Dim. Jaga Alila dengan hatimu. Aku tunggu undangan pernikahan kalian."
Alila meremas genggaman tangan Dimas, memberinya tanda agar mau menerima uluran tangan Bayu. Dimas mengatur nafasnya lalu menyambut uluran tangan Bayu.
"Terima kasih."
Setelah melepaskan tangan masing-masing, Bayu pun berjalan menuju pintu keluar dan meninggalkan sepasang calon suami-istri yang masih duduk berhadapan dan saling mengukir senyuman di bibir mereka.
"Tidurlah, Al. Sejak pagi tadi kamu belum beristirahat kembali."
"Kamu juga, Dim. Tidurlah dulu di sofa. Semalam kamu tidak tidur dengan baik, karena terus menemani di sampingku sampai pagi.."
Dimas berjalan ke sisi kiri tempat tidur dan menekan tombol pengaturan untuk menurunkan bagian atas tempat tidur agar Alila bisa berbaring lurus dan tidur dengan nyenyak.
"Istirahatlah, Putri Tidurku. Aku mencintaimu."
"Aku juga mencintaimu, Dim."
Dimas menunggu hingga Alila memejamkan matanya dan mulai terlelap, barulah dia beranjak dari sisi Alila dan melangkah pelan menuju sofa panjang yang bisa digunakannya untuk berbaring dan melepaskan penatnya untuk sejenak.
Sementara itu di koridor depan ruangan Alila, Bayu berjalan menuju ruang jaga perawat untuk menemui Indah. Sesampainya di sana dia menanyakan keberadaan Indah pada seorang perawat lain yang duduk di belakang meja pelayanan.
Perawat itu masuk ke dalam ruangan di belakangnya, dan tak lama kemudian kembali bersama Indah yang mengikutinya.
Indah berbicara sebentar pada teman kerjanya itu, lalu keluar melalui pintu kecil di samping ruangannya. Dia mengajak Bayu duduk di bangku panjang di ujung koridor yang kebetulan masih kosong. Mereka duduk bersampingan dengan wajah yang saling berhadapan satu sama lain.
"Bagaimana kabarmu selama ini, In?"
"Kabarku baik, Yu."
Mereka berdua kembali terdiam. Masih terlihat sama-sama canggung setelah sekian tahun tidak bertemu dan tidak bertukar kabar sama sekali.
"Aku tidak menyangka kita bisa bertemu lagi hari ini."
Bayu kembali membuka suara dan memberanikan diri menatap kedua mata Indah. antungnya kembali berdetak keras seperti sebelumnya.
"Aku juga."
Indah menjawab singkat sembari merasakan degupan jantungnya yang semakin kencang tak terkendali.
__ADS_1
"Kamu masih tinggal di rumahmu yang dulu, In?" Tanya Bayu.
"Masih." Jawab Indah.
Bayu ingat, saat sekolah dulu dia sering menawarkan diri untuk mengantarkan Indah pulang ke rumahnya mengendarai motor andalannya, dan Indah tidak pernah menolaknya.
"In, nanti malam bolehkah aku mengantarmu pulang?"
Pertanyaan itu terlontar begitu saja dari mulut Bayu setelah dia mengingat masa lalunya bersama Indah.
Untuk sesaat Bayu menyesali pertanyaannya yang terkesan terburu-buru. Namun sesaat kemudian dia merasa lega karena Indah tidak menunjukkan reaksi penolakan.
"Apakah tidak akan ada yang marah jika aku menerima tawaranmu ini, Yu?"
Spontan Bayu menggelengkan kepalanya dan tertawa kecil.
"Haahh... Siapa yang akan marah pada jomblo kesepian ini, In..."
"Aku hanya memastikan dulu, Yu. Daripada nanti ternyata aku dilabrak oleh wanita yang mengaku sebagai kekasih atau mungkin istrimu..."
Mereka tertawa bersama, melupakan kegugupan yang mereka rasakan sebelumnya.
"Bagaimana jika sebaliknya, aku yang akan diarak dan digantung karena membawa pergi kekasih atau istri orang..??" Tanya Bayu lagi.
"Kita sama, Yu. Sama-sama jomblo..." Indah menjawab dengan senyum manisnya yang masih sama seperti dulu.
Kali ini Bayu bernafas dengan lega setelah mengetahui status Indah sama dengan dirinya. Sama-sama masih sendiri dan belum dimiliki oleh siapapun.
Sepertinya, ini adalah awal yang baik untuk memulai hubungan baru yang lebih baik di antara mereka berdua.
.
.
.
🙏Ucapan Terima Kasih🙏
Terima kasih banyak atas dukungan dan doa dari para reader semua, akhirnya novel Menanti Cinta Untukku berhasil menyusul novel Terima Kasih Cinta Sejati menjadi novel kontrak karya di aplikasi Noveltoon/Mangatoon.
Semoga ke depannya, kami bisa menyajikan cerita yang lebih baik lagi dalam segala hal, demi kepuasan para reader tercinta.
.
.
.
Note :
Jangan lupa untuk selalu menyemangati kami dengan Like, Komentar, Bintang 5, Vote & Favorit.
Terima kasih banyak untuk semua pembaca yang telah berkenan membaca dan menikmati novel kami.
Salam cinta dari kami.
💜Author💜
__ADS_1
.