Menanti Cinta Untukku

Menanti Cinta Untukku
09 CEMBURU


__ADS_3

Hari berikutnya Dimas mengajak Alila ke mall. Tidak seperti biasanya, kali ini Dimas membawanya ke mall yang berbeda, bukan mall yang sering mereka datangi.


"Kenapa tidak ke mall yang biasanya, Dim?"


"Tidak apa-apa."


Dimas merangkul bahu Alila dan berjalan dengan tenang di sampingnya.


Dia tidak mungkin mengatakan alasannya, karena dia tahu Tama juga membeli pakaian kerja di mall yang kemarin mereka datangi. Dimas tidak mau Alila justru akan mengingat saat pergi bersama Tama, karena hari ini dia pun ingin membeli pakaian kerja untuk kebutuhannya selama di Bandung.


"Kita mau ke mana?"


"Ke mall."


Dimas menjawab asal tanpa menoleh.


"Ini juga sudah di mall, Dim. Maksudku kita di sini mau beli apa?"


Dimas diam saja. Langkah kakinya yang diikuti Alila sudah masuk ke salah satu toko pakaian pria. Alila mulai mengerti. Dimas pasti akan membeli pakaian yang dibutuhkannya selama di Bandung.


"Pilihkan untukku, Al." Pinta Dimas.


"Apa saja yang kamu butuhkan?"


Tangan Alila mulai memilih-milih kemeja polos yang tergantung berjejer-jejer.


"Kemeja polos lengan panjang, celana kerja warna gelap, kaos singlet, celana boxer, celana dalam......"


Spontan tangan Alila menutup mulut Dimas yang masih nyerocos. Sedangkan pramuniaga yang mengikuti hanya tersenyum geli melihat tingkah mereka berdua.


"Dim, jangan keras-keras!"


"Kenapa? Aku cuma menjawab pertanyaanmu saja."


"Tapi tidak perlu kamu sebutin sampai dalamannya juga, Dim. Maluu.."


Alila cemberut sambil melanjutkan memilih beberapa kemeja untuk Dimas.


(Aku semakin gemas melihatmu cemberut seperti itu, Al )


Setelah kemeja, Alila berpindah ke bagian celana formal. Tak butuh waktu lama, dia sudah mengambil tiga buah celana panjang sesuai ukuran Dimas.


"Al, kamu tahu ukuran celanaku?"


"Tentu saja. Apa yang tidak aku tahu dari kamu, Dim."Sahut Alila berlagak sombong.


"Apa kamu juga tahu isi hatiku padamu?"


Dimas memiringkan wajahnya menatap Alila.


Tanpa aba-aba wajah Alila langsung merona menahan malu. Mulutnya tertutup rapat tanpa berani mengeluarkan suara lagi.


Dimas masih bertahan dengan posisinya menatap Alila tadi, membuat pramuniaga yang melayani mereka merasa rikuh sendiri melihat tingkah Dimas dan Alila yang dinilainya mesra dan so sweet.


Alila mengalihkan pandangannya dari Dimas, lalu berbalik untuk menyerahkan barang yang dipilihnya kepada pramuniaga yang setia menunggu. Dimas tersenyum puas melihat Alila yang menghindari tatapan mata mereka.

__ADS_1


Sekarang giliran Alila yang mengikuti Dimas memilih pakaian dalamnya. Dimas tidak terlalu lama memilih karena baginya toh semuanya tidak akan terlihat saat dia memakainya. Kecuali saat dia tidur di kamarnya sendiri, dia memang terbiasa hanya memakai celana boxer dan kaos singlet atau kaos oblong saja.


Selesai dengan pilihannya, Dimas menyerahkan semuanya pada pramuniaga dan bersama dengan Alila dia menuju kasir untuk melakukan pembayaran. Mereka keluar dari toko dengan menjinjing tiga buah paperbag berukuran besar.


Dimas mengajak Alila beristirahat di salah satu kedai minuman di area foodcourt. Setelah memesan mereka segera mencari tempat duduk.


"Dim, sejak kapan kamu cemburu dengan Tama?"


Dimas menatap Alila yang duduk di hadapannya.


"Cemburu?"


"Iya, kamu cemburu melihat aku jalan bersama Tama. Kamu cemburu melihat aku menemani Tama belanja pakaian waktu itu. Makanya kamu tidak mau membeli keperluanmu di tempat yang sama dengan Tama. Benar kan ucapanku?"


Alila sudah mulai bicara terbuka dengan Dimas. Dia tidak mau ada kesalahpahaman antara dirinya dan Dimas. Ditambah lagi sekarang dia tahu Dimas sudah tidak lagi menganggapnya hanya sebatas sahabat.


Alila ingin memberi kesempatan pada Dimas untuk menyayanginya lebih dari kedekatan mereka selama ini. Alila tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan untuk bisa membuat Dimas yakin dengan perasaan Dimas pada dirinya.


Dimas yang dicecar pertanyaan oleh Alila malah menatap wanita itu dengan serius.


"Kalau iya kenapa? Aku cemburu dengan Tama karena aku sayang sama kamu, Al. Bukan lagi rasa sayang sebagai sahabat seperti selama ini. Aku sayang sama kamu karena--.."


Dimas memutus kalimatnya dan menatap mata Alila dengan sorotan tajam.


"Karena apa?"


"Aku sayang sama kamu karena itu yang hatiku rasakan, Al. Bukan karena apa dan mengapa. Rasa sayang ini hadir begitu saja tanpa alasan."


Sorot mata Dimas berubah teduh dan penuh kelembutan. Tidak ada kebohongan di sana. Yang ada hanya kejujuran dan ketulusan.


Pembicaraan mereka terhenti sejenak saat pramusaji mengantarkan minuman yang mereka pesan.


"Boleh aku tahu Dim, sejak kapan kamu merasakannya?"


"Aku harus menjawab yang mana, Al? Sejak kapan aku cemburu pada Tama atau sejak kapan aku mulai menyayangimu?"


"Dua-duanya.."


Alila terus memanfaatkan kesempatan yang ada untuk mengetahui isi hati Dimas yang sebenarnya.


"Sejak aku mulai mendapati Tama sering mencuri pandang padamu diam-diam, sejak saat itu aku mulai merasa tidak nyaman jika melihatmu dekat atau bicara dengannya. Aku mulai merasa tidak rela jika kamu dekat dengan lelaki selain aku."


"Dari situlah, perasaanku padamu juga mulai berubah meskipun aku belum menyadarinya. Aku hanya merasa ada yang berbeda setiap kali bersama kamu, apalagi saat berdua denganmu. Ada perasaan yang aneh di hatiku, entahlah, aku juga belum bisa memahami sepenuhnya, Al.."


(Cukup ini saja untuk saat ini, Al. Aku ingin meyakinkan hatiku dulu sebelum kukatakan semuanya padamu..)


"Boleh aku tanya satu hal lagi padamu, Dim?"


"Katakan saja, Al."


"Apa selama ini kamu juga merasakan hal yang sama saat bersama kekasihmu?"


Alila tahu jika selama ini Dimas dijuluki playboy karena sering bergonta-ganti pasangan. Tapi yang dia lihat Dimas selalu dingin pada wanitanya dan tidak pernah mengumbar kata-kata cinta atau bersikap mesra dengan kekasihnya.


"Tidak. Aku tidak pernah merasakan apapun yang lebih dengan mereka, Al. Rasanya justru seperti pengawal pribadi mereka. Hanya pergi ke sana ke mari sesuka hati. Dan pada akhirnya mereka sendiri yang pergi meninggalkan aku."

__ADS_1


Dimas tersenyum kecut lalu menertawakan dirinya sendiri.


"Hmm.., benarkah kamu tidak pernah jatuh cinta pada mereka, Dim?


"Bukankah aku sudah pernah menceritakan semuanya padamu, Al? Aku tidak peduli orang lain percaya atau tidak, tapi seperti itulah kenyataannya."


Alila menyembunyikan rasa bahagianya rapat-rapat. Apa yang dia dengar semalam di mobil dan yang baru saja didengarnya di sini, sudah membuatnya semakin yakin untuk tetap menanti cinta dari orang yang selama empat tahun ini telah dia cintai sepenuh hati.


"Al.."


"Ya?"


"Aku ingin minta sesuatu padamu.."


"Apa?"


"Jangan melupakan aku, Al. Jangan biarkan orang lain menggantikan aku saat aku tidak bisa bersamamu."


(Apa permintaanku ini berlebihan, Al?)


Alila kembali teringat bahwa lusa Dimas sudah akan berangkat meninggalkannya selama tiga bulan.


Tiba-tiba wajahnya berubah sendu dan hatinya merasakan sesak yang tertahan.


"Aku mungkin akan merasa kehilangan, Dim. Tapi aku tidak mungkin bisa melupakan kamu."


Dimas bisa melihat kesedihan di wajah Alila. Tapi dia tidak bisa berbuat apa-apa.


"Jangan tunjukkan kesedihanmu itu Al, atau aku tidak akan pergi."


"Maafkan aku, Dim.."


Alila berusaha untuk kembali tersenyum dan terus menatap mata Dimas.


"Kita pulang sekarang?"


Alila menganggukkan kepala. Dimas berdiri dan membawa semua paperbag dengan tangan kirinya. Lalu tangan kanannya meraih tangan Alila mengajaknya pergi dari tempat itu.


Dimas terus menggenggam erat tangan Alila. Alila yang merasakan kehangatan sentuhan itu, tanpa sadar membalas genggaman Dimas sama eratnya, membuat Dimas menoleh ke arahnya lalu tersenyum dengan perasaan bahagia.


.


.


.


Note :


Jangan lupa untuk selalu menyemangati kami dengan Like, Komentar, Vote & Favorit ya..🙏💜🙏


Terima kasih banyak untuk semua pembaca yang telah berkenan membaca dan menikmati novel kami.


Salam cinta dari kami..


Author

__ADS_1


__ADS_2