Menanti Cinta Untukku

Menanti Cinta Untukku
90 FIRASAT


__ADS_3

"Mau makan di mana, Al?"


Mobil berhenti di lampu merah pertama. Kedua tangan Dimas langsung berpindah untuk menangkup wajah Alila, mengusapnya pipinya dengan lembut, lalu mencium singkat bibir ranum itu. Sepasang matanya terus memandangi kecantikan sang istri yang masih sangat dirindukannya.


"Di mana saja akan terasa nikmat jika bersamamu, Dim." Alila menggoda suaminya dan tertawa kecil. Suasana hatinya sedang berada pada titik terbaik, setelah Dimas memberi kejutan dengan kepulangannya.


Dimas menggelengkan kepala pelan disertai senyuman tipis di bibirnya.


"Sejak kapan kamu suka dengan gombalan receh seperti itu?" Tanya lelaki tampan itu.


"Sesekali tidak apa-apa kan, Dim. Jangan seperti sikapmu, dingin terus." Jawab Alila sambil terus menatap Dimas yang baru saja menarik tangannya kembali ke kemudi mobil dan melajukannya dengan kecepatan sedang, membelah keramaian jalan raya yang mereka lewati.


"Sikap dinginku tidak berlaku untukmu, sayang..." Menoleh sekilas dan melempar senyuman pada sang istri, tangan kiri Dimas terulur membelai dan mengacak lembut rambut di ujung kepala Alila.


Hati Alila berdesir halus serasa dipenuhi kupu-kupu yang riuh beterbangan. Selalu merasakan bahagia yang luar biasa, begitu tenang dan damai, setiap kali Dimas memperlakukannya seperti itu.


Tak lama kemudian mobil mereka melaju melewati cafe milik Aris. Dimas sempat memperhatikan suasana cafe tersebut dan membaca papan nama yang terpasang di bagian depan dinding bangunannya.


"Bukankah itu cafe yang tadi siang kamu datangi, Al?"


Alila menoleh sekilas tepat saat terlihat olehnya Aris yang berdiri di luar cafe dengan pakaian yang masih sama seperti sebelumnya. Mungkin dia baru saja mengantarkan pesanan ke meja bagian teras, karena tangannya masih memegang sebuah nampan kosong.


"Iya. Dan ternyata cafe itu milik teman sekolahku dulu." Pandangan Alila sudah beralih menatap Dimas yang tampak sedikit terkejut, terlihat dari roman mukanya yang berubah datar dengan tatapan menajam ke arahnya.


"Laki-laki?" Dan Alila pun mengangguk menjawab pertanyaan suaminya.


"Kalau tadi kamu lihat, dia yang berdiri di teras cafe sewaktu kita lewat."


Dimas mengingat-ingat sejenak dan sedikit terbayang wajah lelaki yang dimaksud istrinya. Rasa tidak nyaman mulai terasa di hatinya.


"Kamu juga berbicara dengannya di sana?"


"Hanya sebentar, saling sapa saja."


Dimas terdiam sambil memikirkan sesuatu. Wajah lelaki yang sempat dilihatnya tadi begitu mirip dengan seseorang yang dia kenal. Tapi Dimas belum yakin sepenuhnya karena hanya melihatnya sepintas lalu.


"Di mana rumahnya?"


Kali ini pertanyaannya bukan karena kecemburuan yang menghinggapi hatinya meskipun memang dia merasakan hal itu saat ini, tetapi untuk memastikan dugaannya tentang seseorang.

__ADS_1


"Aku tidak tahu sekarang dia tinggal di mana. Tapi dulu rumah orangtuanya di perumahan belakang kantormu."


(Sepertinya dugaanku benar! Alamatnya sama.)


Dimas tidak melanjutkan pembicaraan tentang Aris hingga Alila merasa lelaki itu marah kepadanya. Tangan halusnya menyentuh paha sang suami yang tengah fokus dengan kemudinya.


"Jangan marah, Dim. Sungguh kami tidak sengaja bertemu dan aku tidak tahu kalau cafe itu miliknya. Semua hanya kebetulan." Rajuk Alila lalu mencium pipi kiri suaminya.


Dimas menoleh sesaat lalu tersenyum dan menggenggam tangan kanan istrinya dengan tangan kirinya.


"Aku tidak marah, sayang. Maafkan aku yang terlalu banyak bertanya." Diciumnya tangan Alila dan didekap di dadanya, membuat Alila tersenyum.


"Kapan-kapan kita makan di sana, agar aku bisa mengenalkanmu kepadanya sebagai suamiku, suami tercintaku..." Dimas mengangguk pelan dan merasa sangat bahagia mendengar ucapan wanita kesayangannya.


Mobil Dimas berbelok ke halaman luas sebuah restoran. Alila ingat, ini adalah restoran tempat di mana mereka berdua mengatakan tentang hubungan cinta mereka kepada Tama, Sandy dan Nayla.


Dan di malam yang sama di tempat ini pula, Dimas melamar dirinya dan memintanya untuk menjadi istri dan ibu dari anak-anak mereka. Tanpa sadar Alila tersenyum sendiri dan hal itu terlihat oleh suaminya yang baru saja mematikan mesin mobil.


Tanpa bertanya, Dimas tahu apa yang tengah dipikirkan istrinya. Sebab karena hal itulah dia mengajak Alila makan malam di tempat ini. Untuk mengenang kembali saat-saat bersejarah bagi hubungan mereka berdua.


Cupp! Dimas mencuri ciuman singkat di bibir Alila, saat wanita itu masih setengah sadar dan terus menatap ke luar jendela mobil. Alila mengerjapkan mata indahnya hingga terlihat semakin indah dalam pandangan Dimas.


Menatap wajah suaminya yang masih berada dekat dengan wajahnya, senyum Alila mengembang sempurna.


"Aku mencintaimu, Dim..."


"Aku lebih mencintaimu, Al..."


Dan ciuman mereka pun berlanjut, semakin dalam namun penuh kelembutan. Begitu lembut dan hangat hingga hati keduanya pun merasakan desir-desir halus yang menelusup indah menembus relung kalbu, mengiringi ciuman penuh kasih dan sayang yang masih sarat kerinduan.


Melepaskan ciuman mereka, Dimas mengusap bibir basah sang istri dengan penuh perhatian. Alila mengikuti, melakukan hal yang sama di bibir lelaki kecintaannya. Lalu mereka keluar dari mobil dan bergandengan tangan memasuki restoran yang tidak terlalu ramai pengunjung.


Sampai di dalam, mereka memilih tempat yang sama seperti dulu, tetapi dengan meja yang lebih kecil karena hanya akan mereka gunakan berdua. Pesanan mereka sudah dicatat oleh seorang pramusaji dan menunggu untuk dihidangkan.


"Bagaimana pekerjaanmu, Dim? Proyek itu? Apakah semuanya sudah selesai?"


Alila memperhatikan wajah Dimas lebih dalam lagi. Terlihat gurat lelah di wajahnya, meski samar. Bukan raganya, mungkin lebih pada pikirannya yang dituntut untuk terus berkonsentrasi pada tugas yang harus segera diselesaikannya secara cepat dan beruntun.


"Sudah. Hanya tinggal menunggu peresmian dari pimpinan cabang, tapi sudah ada tim lain yang menanganinya. Semoga ke depannya tidak ada masalah lagi."

__ADS_1


Alila merasa sedih melihat wajah lelah Dimas yang selalu ditutupinya dengan senyum dan perhatian untuk dirinya. Mendadak hatinya turut melemah dan memunculkan genangan bening di pelupuk matanya.


Terus digenggamnya sebelah tangan Dimas dan diusapinya dengan rasa sesak yang menyeruak di hati. Entahlah, tiba-tiba ucapan Alano pagi tadi terngiang kembali di telinganya, dan seketika membuatnya didera ketakutan.


Dimas yang sebelumnya membuka ponselnya sebentar untuk mengecek laporan terakhir yang dibuatnya sepanjang perjalanan pulang tadi siang, terkejut mendapati Alila sudah berkaca-kaca menatapnya tanpa suara.


"Ada apa? Mengapa seperti ini, hmm...??" Tangannya terulur mengusap wajah sendu sang istri.


Ditanya seperti itu membuat genangan airmata Alila akhirnya luruh membasahi kedua pipinya yang mulai memerah menahan isak. Dimas semakin cemas dibuatnya.


"Aku takut..." Hanya itu yang diucapkannya membuat Dimas semakin bingung dan penuh selidik.


"Takut? Apa yang yang membuatmu takut? Katakan padaku. Jangan membuatku khawatir, Al!"


Pramusaji datang menyajikan makan malam pesanan mereka. Sejenak Dimas mengalihkan pandangan untuk mengucapkan terima kasih, lalu kembali menatap dan menunggu jawaban Alila.


"Aku takut terjadi sesuatu yang buruk padamu, Dim. Perasaanku tidak enak. Aku sangat takut..."


"Ssttt...!! Tenangkan dirimu, Al. Aku baik-baik saja. Tidak akan terjadi apapun padaku."


Dimas merengkuh tubuh Alila dan mencium bagian samping kening istrinya. Tiba-tiba dia teringat pesan yang pernah dikirimkan Pak Albi padanya melalui sebuah email tempo hari.


"Dim, berhati-hatilah!"


.


.


.


Jangan lupa untuk selalu menyemangati kami  dengan Like, Komentar, Bintang 5, Vote & Favorit.


Terima kasih banyak untuk semua pembaca yang telah berkenan membaca dan menikmati novel kami.


Salam cinta dari kami.


💜Author💜


.

__ADS_1


__ADS_2