
"Ibu Alila hamil..."
Dimas dan Alila saling berpandangan.
"Apakah akhir-akhir ini Ibu mengalami pendarahan atau keluar darah seperti haid?"
Alila mengangguk dengan ragu dan kembali menatap Dimas dengan rasa bersalah. Dia belum menceritakan hal ini pada suaminya. Dimas pun membalas tatapan mata istrinya dengan kebingungan.
"Tidak banyak, Dok. Hanya beberapa kali ada flek dan tidak banyak. Saya pikir saya akan datang bulan karena memang sudah waktunya.."
Dokter kembali menuliskan sesuatu di lembar pemeriksaannya.
"Kehamilan Ibu berada di luar kandungan. Yang seharusnya menempel dan berkembang di dalam rahim, tetapi ini menempel pada saluran tuba, yaitu saluran penghubung antara indung telur dan rahim. Hal inilah yang menyebabkan Ibu sering merasakan nyeri hebat pada perut bagian bawah yang sering datang tiba-tiba."
Airmata Alila semakin deras mengalir tanpa henti. Sedangkan Dimas sudah bisa menguasai dirinya dan berusaha untuk menenangkan istri tercintanya.
Tak ada kata yang terucap dari bibirnya. Hanya genggaman tangan dan pelukan erat yang bisa dia lakukan untuk menyalurkan kekuatan dan ketenangan pada Alila.
(Kamu harus kuat, Al. Kita berdua pasti kuat!)
"Bagaimana dengan kondisi kehamilannya, Dok?"
"Dengan berat hati harus kami sampaikan bahwa kehamilan Ibu saat ini harus diakhiri. Karena memang tidak berada pada tempat yang semestinya dan tidak akan bisa berkembang. Jiks tidak segera dilakukan, justru akan merusak saluran tuba tempatnya menempel tersebut."
Lagi-lagi Dimas dengan sekuat hatinya mencoba menenangkan istrinya yang sedari tadi hanya menangis dengan isakan yang semakin menyayat kalbu.
Cobaan memang selalu datang tanpa terduga. Namun ujian di awal pernikahan mereka ini sungguh terasa begitu luar biasa. Luar biasa berat bagi pasangan baru seperti mereka.
Dalam sekejap semua kebahagiaan yang ada berganti kesedihan karena rasa kehilangan yang menyelimuti hati mereka. Di saat mereka baru saja mengetahui tentang kehamilan Alila, di saat itu pula mereka harus rela untuk melepaskan anugerah yang membahagiakan itu.
Alila tidak menyangka, akan seperti ini jadinya kisah awal pernikahannya dengan Dimas. Baru beberapa saat mereka menikmati indahnya kehidupan bersama, sekarang mereka harus menghadapi ujian sebesar ini.
"Apakah saya masih bisa hamil lagi, Dok?"
Satu-satunya pertanyaan yang sangat mengusik pikiran Alila akhirnya dilontarkannya pada sang dokter.
"Dengan kondisi satu indung telur yang baik dan rahim yang sehat seperti ini, sangat mungkin bagi Ibu untuk bisa hamil kembali. Hanya saja, prosentase keberhasilannya tentu tidak akan sebesar kondisi sebelumnya, mengingat Ibu hanya memiliki satu indung telur. Tetapi, kembali lagi, tidak ada yang tidak mungkin jika Yang di Atas menghendakinya lebih cepat."
Ada kelegaan yang terasa dari helaan nafas Alila disertai pancaran harapan dari kedua matanya yang sembab. Dia tidak ingin larut dalam kesedihan dan keputusasaan.
Kepalanya berpaling ke samping, menatap wajah suami tercintanya. Dimas yang tak henti memperhatikan istrinya sejak tadi, membalas tatapan mata Alila dengan senyuman di bibirnya dan genggaman tangan yang semakin dieratkannya.
Dia menganggukkan kepala seolah ingin menguatkan harapan yang terpancar di mata indah istrinya yang masih sembab dan membengkak.
"Kapan operasinya akan dilaksanakan, Dok?" Tanya Alila setelah mendapatkan kekuatan dari genggaman tangan suaminya. Dia tak ingin menunda untuk memulai proses penyembuhannya.
__ADS_1
"Secepatnya akan semakin baik. Jika Bapak dan Ibu sudah menyetujuinya, kita bisa melakukannya hari ini juga. Karena jujur, saya khawatir kista yang sebesar ini akan bisa pecah sewaktu-waktu jika tidak segera diangkat."
Alila kembali menatap suaminya untuk meminta persetujuan. Dimas pun kembali mengangguk dan menjawab ucapan sang dokter.
"Baik, Dok. Silahkan lakukan persiapannya sesegera mungkin. Kami percaya sepenuhnya kepada Dokter."
Dimas menyatakan persetujuannya. Dan dokter pun segera melakukan seluruh persiapan bersama perawat yang mendampinginya.
.
.
.
Selepas maghrib, Alila sudah dipindahkan ke ruang perawatan setelah menjalani observasi pasca operasi di ruang pemulihan.
Dimas masih menemaninya sendirian sejak mereka datang berdua pagi tadi. Sesuai permintaan Alila, Dimas baru memberi kabar kepada mertuanya setelah Alila dipindahkan ke ruang perawatan. Dia tak ingin membuat orangtuanya khawatir mengenai keadaannya.
Alila juga meminta kepada suaminya untuk menyembunyikan tentang pengangkatan salah satu indung telurnya kepada siapapun termasuk keluarga mereka. Dia tidak mau menjadi bahan pembicaraan dan membuat pikirannya menjadi tidak tenang.
"Apakah sakitnya mulai terasa, sayang?"
Dimas mencium kening Alila dan mengusap lembut kepalanya. Untuk kedua kalinya dia harus melihat wanita kesayangannya terbaring lemah di rumah sakit. Hatinya sakit seolah ikut terluka merasakan kesakitan yang dirasakan istrinya.
"Ya, Dim. Tentu saja sakit karena perutku terluka seperti ini..."
Dimas membantu istrinya yang ingin menyamankan posisi kepalanya di atas bantal sehingga harus sedikit menarik tubuhnya.
"Tapi aku lega sekarang, kistaku sudah diangkat dan aku tidak akan merasakan sakit dan nyeri hebat lagi seperti sebelumnya." Lanjut Alila setelah bisa berbaring dengan lebih nyaman.
Tangan kanannya terus memegangi ujung kemeja yang dikenakan Dimas seraya menatap dalam-dalam wajah tampan yang terlihat lelah itu.
Dimas yang masih membenarkan selimut Alila segera memalingkan wajahnya karena merasa diperhatikan sedari tadi.
Senyum tipis diperlihatkannya setelah menggeser tubuhnya dan berdiri lebih dekat dengan wajah istrinya yang terbaring lemah tetapi tetap membalas senyumannya.
"Ada apa, hmm...?" Punggung tangannya membelai pipi halus istrinya membuat pemiliknya sejenak memejamkan mata, merasakan desiran hangat di dadanya yang bercampur dengan sedikit nyeri karena luka di perutnya.
Alila membuka matanya kembali. Tangannya yang semula terus memegang ujung kemeja Dimas, bergerak perlahan melingkari pinggang belakang suaminya. Dimas yang merasakannya membiarkan tangan lemah itu tetap memeluknya.
"Terima kasih karena kau selalu bersamaku..." Ucapnya sambil membawa tangan kirinya menyatu dengan tangan kanannya sehingga posisi tubuh Dimas terkungkung dalam lingkaran kedua tangan istrinya.
"Awas, hati-hati, Al...!"
Dimas mengingatkan karena di tangan itu masih terpasang jarum infus. Dia membantu meluruskan selang infus yang tertarik dan terlilit karena gerakan Alila yang ingin memeluknya.
__ADS_1
"Jangan bertindak ceroboh hanya karena kau rindu ingin memelukku..!" Dibelainya lg pipi halus nan mulus yang mulai bersemu merah itu, lalu tangannya beralih ke puncak kepala sang istri.
"Auwh..!!" Belum terjeda ucapannya, sebuah cubitan terasa di pinggang kanannya.
"Ternyata kesadaranmu sudah pulih sepenuhnya hingga tenagamu pun terkumpul kembali untuk menyakitiku..."
"Aku tidak menyakitimu. Aku hanya mencubitmu, Dim." Sanggah Alila dengan wajah cemberut yang telah merona sempurna.
"Kau menyakitiku. Kau akan menyakiti hatiku jika kau sampai sakit lagi, Al..."
Dimas menunduk, dengan bertumpu pada tangan kirinya dia mendekatkan wajahnya dengan wajah Alila, lalu mencium keningnya lagi. Kali ini cukup lama, hingga dia memejamkan kedua matanya.
"Aku mohon, jangan sakit lagi. Cukup ini yang terakhir kalinya aku melihatmu lemah begini. Kau tahu..., aku seperti kehilangan separuh hidupku setiap melihatmu sakit dan tak berdaya seperti ini..."
Dimas membuka matanya, memberi sedikit jarak di antara wajah mereka untuk saling menatap dalam romansa haru. Alila menatapnya dengan mata yang telah berkaca-kaca.
"Dim... Maaf..."
Tangan Alila sudah terlepas dari pinggang suaminya, berganti membalas menyentuh pipi Dimas dengan tangan kanannya.
"Mengapa harus minta maaf? Aku juga salah, kurang memperhatikan dirimu dan kesehatanmu sehingga aku tidak mengetahui setiap keluhan yang kamu rasakan selama ini. Kalau kau minta maaf, maka aku juga minta maaf padamu karena kelalaianku menjagamu..."
Dimas meraih tangan istrinya yang masih menempel lembut di pipinya, lalu mencium punggung tangannya kemudian mendekapnya di dada. Pandangan mata mereka terus beradu dalam heningnya suasana malam.
"Aku minta maaf, karena kehamilan pertamaku harus berakhir seperti ini... Kamu pasti merasa sedih dan kecewa, Dim..."
"Jangan lagi memikirkan hal itu, Al. Kondisi kehamilanmu itu di luar kuasa kita. Tidak ada yang bisa menentang takdir dari Yang Maha Pemberi Hidup."
"Pikirkan saja sisi positifnya. Kita masih diberi waktu untuk menikmati kebersamaan berdua seperti ini dulu sepuasnya. Bukankah itu lebih baik...?"
Alila tersenyum tipis dan mengangguk menatap wajah Dimas yang masih berada di hadapan matanya. Bersamaan dengan itu, pintu ruangan terbuka perlahan karena didorong oleh seseorang dari luar.
.
.
.
Jangan lupa untuk selalu menyemangati kami dengan Like, Komentar, Bintang 5, Vote & Favorit.
Terima kasih banyak untuk semua pembaca yang telah berkenan membaca dan menikmati novel kami.
Salam cinta dari kami.
💜Author💜
__ADS_1
.