Menanti Cinta Untukku

Menanti Cinta Untukku
86 TUGAS KHUSUS


__ADS_3

Malam pertama tanpa ada suami bersamanya, Alila merasa kesepian tidur seorang diri di kamarnya. Sudah hampir dua bulan, malam-malamnya selalu terasa hangat dengan pelukan erat sang suami di sampingnya. Tapi sekarang, dia harus tidur memeluk guling sebagai pengganti Dimas yang tengah berada di kota lain.


(Belum juga berlalu satu malam, tapi aku sudah sangat merindukan kehangatan tubuhmu, Dim...)


Dengan rasa sepi dan kerinduan yang sama, di kota yang lain Dimas pun tengah merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur dalam kamar penginapannya. Apalagi baru saja dia menemukan sesuatu yang membuatnya semakin merindukan istri tercintanya.


Diambilnya pakaian tidur tipis milik istrinya itu dan dia bawa ke atas tempat tidur, sementara dalamannya dia simpan kembali di dalam koper. Dia takut pikirannya akan semakin liar jika terus menerus melihatnya.


(Apa yang kamu pikirkan saat menyertakan milikmu ini di antara pakaianku, Al?)


Dia tersenyum sendiri membayangkan tingkah Alila tersebut. Sementara tangan kirinya terus menggenggam pakaian Alila, tangan kanan Dimas meraih ponselnya yang tergeletak tak jauh dari tubuhnya.


Ditatapnya wallpaper dengan tampilan foto pernikahan mereka, dia semakin melebarkan senyumannya. Kemudian dia melakukan panggilan video dengan istrinya yang langsung diterima oleh Alila.


Tanpa saling meminta, keduanya segera memasang earphone di telinga mereka sehingga bisa lebih jelas dan terasa dekat dengan suara pasangannya.


"Malam, Dim..."


"Malam, sayang..."


Dua pasang mata itu saling menatap dalam diam. Tatapan yang teduh dan sayu, menyiratkan kerinduan yang dalam satu sama lain.


"Belum mengantuk?" Tanya Dimas sambil terus memandangi wajah cantik yang memenuhi layar ponselnya.


Alila menggeleng pelan. Dia merubah posisinya menjadi berbaring miring ke samping lalu memasang ponselnya pada penyangga berkaki tiga, kemudian meletakkan di hadapan wajahnya. Dia atur sedemikian rupa agar separuh tubuhnya ikut terlihat di dalam layar.


Melihatnya, Dimas pun mengikuti apa yang dilakukan Alila. Dulu dia yang membeli sepasang penyangga ponsel itu untuk mereka. Satu yang berwarna biru tua untuknya dan satu lagi yang berwarna merah hati untuk Alila.


"Apa pekerjaanmu di sana terlalu banyak, Dim?"


"Tidak. Biasa saja, Al. Hanya saja, untuk masalah ini kami dituntut untuk menyelesaikannya lebih cepat, karena masih ada beberapa kota lain yang harus kami datangi selanjutnya."


"Jangan kecapekan, Dim. Jangan lupa makan tepat waktu dan luangkan waktu untuk beristirahat di sela-sela pekerjaanmu."


Dimas tersenyum mendengar ucapan istrinya yang selalu mengingatkannya tentang banyak hal. Semua itu justru membuatnya merasa sangat dicintai karena Alila selalu memperhatikan segala sesuatu tentang dirinya.


"Iya, istri bawelku..." Ingin rasanya dia mencium bibir mungil yang terus bergerak dan terlihat sangat menggemaskan itu.


Setelah bercengkerama tentang banyak hal, Dimas baru menyadari ada yang berbeda dari Alila. Dia terdiam memperhatikan tubuh istrinya.


"Ada apa? Mengapa tatapanmu menjadi berbeda seperti itu, Dim?"

__ADS_1


"Baju siapa yang kamu pakai, Al?"


Mendapat pertanyaan seperti itu, Alila baru mengerti dan melihat ke arah tubuhnya sendiri. Seluruh wajahnya berubah merona.


"Ini..., aku memakai kaos milik suamiku." Sebuah kaos oblong berwarna abu-abu terlihat longgar menutupi tubuhnya. Lalu mata indahnya kembali menatap wajah suaminya di layar.


"Kamu curang, Al."


"Curang? Memangnya aku kenapa?" Tanya Alila.


"Kamu bisa tidur dengan memakai bajuku, tapi aku...? Apa aku harus memakai ini untuk menawarkan kerinduanku padamu?" Dimas memperlihatkan pakaian tidur Alila yang sejak tadi digenggamnya dan belum ditunjukkannya di dalam layar.


Setelah mengetahui maksud Dimas, Alila tertawa dan menutup mulutnya. Seketika dia membayangkan apa jadinya sang suami jika mengenakan pakaian tidur miliknya itu.


"Setidaknya ada yang bisa kupeluk saat tidur, meskipun hanya pakaianmu..." Dimas mencium pakaian tipis itu lalu mendekapnya di dada.


"Tapi tetap saja, yang aku rindukan adalah dirimu, bukan pakaianmu, sayang..." Lanjut Dimas.


"Aku juga merindukan dirimu, Dim. Aku sudah terbiasa tidur bersamamu, memelukmu dan terlelap dalam kehangatan tubuhmu..." Alila menatap wajah suaminya dengan sendu. Dia melampiaskan kerinduan dengan memeluk gulingnya lebih erat.


Dimas melihat tanda waktu di sudut layar. Sudah lewat dari jam sepuluh. Dilihatnya tadi, Alila juga sudah beberapa kali menguap kecil dengan ditutupi telapak tangannya.


"Jangan ditutup teleponnya. Biarkan terus seperti ini."


Dimas menganggukkan kepalanya. "Apapun yang kamu minta, Al."


"Selamat malam, Dim. Aku mencintaimu..."


"Selamat malam, sayang. Aku juga mencintaimu..."


Mereka saling melemparkan senyuman dan terus saling menatap hingga Alila mulai memejamkan mata dan lama kelamaan mulai terlelap.


Dimas tersenyum melihat istrinya yang sudah tertidur dengan menampakkan senyuman kecil di sudut bibirnya.


(Selamat tidur, Al. Bermimpilah yang indah dengan diriku di dalamnya. Aku mencintaimu...)


.


.


.

__ADS_1


Hari berganti hari, satu bulan sudah berlalu. Dimas masih sibuk dengan penyelesaian pekerjaannya di beberapa kota yang saling berdekatan. Total sudah sembilan kota yang Dimas dan timnya datangi serta sudah mereka tuntaskan permasalahannya. Tersisa tiga kota lainnya yang belum mereka kunjungi.


Selama satu bulan itu pula, Dimas juga membantu Pak Albi untuk mengungkap dalang di balik rusaknya sistem teknologi informasi yang sudah mereka rancang dengan rapi guna mendukung proyek sosial masyarakat berupa akses internet pintar di sejumlah wilayah yang sebelumnya masih terkendala minimnya jaringan komunikasi data yang memadai.


Secara diam-diam Dimas berhasil mengumpulkan bukti yang terkait dengan masalah yang dihadapi oleh timnya. Belum diketahui pasti alasan sekelompok orang itu melakukan perusakan sistem dalam proyek yang sudah berlangsung lancar sebelumnya. Namun sepertinya masalah pribadi antar karyawan menjadi salah satu alasan kuat yang mendorong terjadinya tindakan tersebut.


"Dim, kirimkan semua bukti yang sudah kita kumpulkan kemarin. Besok saya akan mulai menyusun laporan pertanggungjawaban tentang masalah ini, karena pimpinan perusahaan sudah memintanya."


Malam hari di kamar masing-masing, Pak Albi menghubungi Dimas melalui email pribadinya. Selama ini Pak Albi selalu mengandalkan kemampuan Dimas dalam melaksanakan proyek yang dilimpahkan kepada tim kerjanya, terutama dalam hal perumusan sistem komunikasi terkait.


"Siap, Pak. Segera saya kirimkan sekarang juga."


"Tolong kamu perketat seluruh sistem keamanan data dari semua proyek yang sudah dan akan kita tangani. Saya khawatir mereka juga akan merusak proyek kita yang lainnya."


"Baik, Pak. Akan saya laksanakan. Saya juga minta ijin dari Bapak untuk menerapkan sistem keamanan berlapis pada seluruh data proyek kita, untuk mengatisipasi terjadinya kejadian tak terduga seperti saat ini."


"Lakukan saja apapun yang menurutmu perlu untuk ditindaklanjuti. Saya percayakan semuanya kepadamu."


"Terima kasih atas kepercayaannya, Pak. Saya sangat menghargainya."


Setiap malam, tanpa memutuskan panggilan untuk Alila sampai pagi, Dimas juga mengerjakan beberapa tugas khusus dari Pak Albi. Dia membawa laptopnya ke atas tempat tidur sambil terus memantau Alila dari layar ponselnya.


Dia tersenyum saat sesekali mengalihkan perhatiannya ke layar ponsel dan melihat wajah wanita kesayangannya yang selalu dia rindukan setiap waktu.


(Kamu adalah penyemangatku, Al. Aku akan terus berusaha memberikan yang terbaik demi kebahagiaanmu dan keluarga kecil kita.)


.


.


.


Jangan lupa untuk selalu menyemangati kami  dengan Like, Komentar, Bintang 5, Vote & Favorit.


Terima kasih banyak untuk semua pembaca yang telah berkenan membaca dan menikmati novel kami.


Salam cinta dari kami.


💜Author💜


.

__ADS_1


__ADS_2