
Hampir satu minggu berlalu, Alila tak sabar lagi menunggu kepulangan suaminya. Semalam Dimas mengatakan bahwa dia dan timnya sudah berada di kota terakhir dan setelah semua masalah di sana selesai, mereka akan segera pulang.
"Mas Dimas kapan pulang, mbak?" Tanya Alano saat sarapan bersama kakaknya.
Alila menggeleng sembari terus mengunyah pelan makanan di mulutnya.
"Dia belum memberi kabar lagi. Mungkin satu atau dua hari lagi." Jawab Alila setelah mulutnya kosong.
"Mas Dimas itu sekarang bekerja di divisi sistem informasi atau divisi data, mbak?"
"Dua-duanya..."
"Kok bisa?"
"Pak Albi pernah meminta bantuannya untuk merancang sistem penyimpanan data rahasia perusahaan yang baru dan hasil rancangannya disetujui oleh pimpinan. Jadi untuk sekarang, dia masih diperbantukan di divisi data untuk menyelesaikan proses pemindahan data tersebut."
"Setahuku pekerjaan yang berhubungan dengan data perusahaan itu riskan lho, mbak. Apalagi ini data rahasia. Resiko kerjanya besar dan banyak musuhnya." Ucap Alano jujur sebagaimana yang dia tahu.
"Dia hanya sementara di divisi data. Setelah tugasnya selesai dia akan kembali ke divisi semula karena kemampuan utamanya lebih dibutuhkan di sana. Pak Albi tidak mau melepaskan Dimas untuk divisi yang lain." Terang Alila seperti apa yang Dimas ceritakan padanya.
Tepat setelah obrolan tentang Dimas mereka sudahi, Alila menerima panggilan telepon dari suaminya. Dia meminta tolong adiknya untuk membereskan peralatan makan mereka lalu bergegas kembali ke kamar agar tidak terganggu.
Alano bangkit berdiri dan mulai membereskan meja makan, kemudian membersihkan peralatan kotornya di dapur. Setelah selesai dia ikut kembali ke kamarnya untuk bersiap pergi ke kampus.
Di kamarnya, Alila sudah berbincang pagi dengan Dimas sambil menyiapkan tas dan sepatu yang akan dipakainya.
"Belum berangkat, Al?"
"Sebentar lagi, Dim. Aku baru saja selesai sarapan bersama Alano. Kamu sudah sarapan?"
Alila berdiri di depan cermin. Tangan kirinya terus memegang ponsel sementara tangan kanannya sibuk merapikan pakaian dan riasannya, lalu dia duduk di tepi tempat tidur untuk memakai sepatunya.
"Sudah, sayang..." Jawab Dimas dengan mesra membuat Alila tersenyum meski tak terlihat oleh suaminya.
"Kapan pulang? Aku sudah rindu. Sangat rindu..." Tanya Alila tanpa malu lagi. Dia tak sabar lagi ingin bertemu suami tercintanya.
"Secepatnya aku akan pulang, Al. Aku juga sangat merindukanmu." Di seberang telepon sana, Dimas tersenyum dengan hati bergetar, membayangkan sesuatu tentang dirinya dan Alila.
"Baiklah. Kabari aku jika kamu akan pulang. Aku akan menjemputmu ke kantor."
__ADS_1
Setelah beberapa saat saling bertukar kabar, Dimas menyudahi panggilannya. Dia harus segera menyelesaikan pekerjaan terakhirnya, sedangkan Alila juga sudah waktunya berangkat ke kantornya.
.
.
.
"Suamimu belum pulang juga, Al?" Tanya Olla yang dijawab dengan gelengan kepala oleh Alila. Kedua bola matanya bergerak-gerak pelan, tetap menatap layar kerjanya dengan fokus.
"Nanti siang makan di luar lagi, yuk. Mumpung si tampan belum balik. Besok kalau dia sudah kembali, kamu sudah tidak bisa kita ganggu-gugat lagi, Al..." Lanjut Olla lagi.
"Boleh dong, yuk. Kita ke cafe yang baru dibuka minggu lalu itu saja. Dilihat dari iklannya, sepertinya menunya menggugah selera." Sahut Nadia yang memang suka berwisata kuliner. Apalagi sekarang dia punya Tama dengan hobi yang sama, jadilah mereka pasangan yang klop.
Alila hanya bisa mengiyakan ajakan dua sahabatnya itu. Tadinya dia sudah berencana ingin mengajak Dimas ke cafe itu setelah suaminya pulang. Tetapi sekarang Olla dan Nadia sudah mengajaknya lebih dulu, dan dia tidak bisa menolaknya.
Akhirnya setelah menyelesaikan pekerjaannya dan tiba waktunya istirahat siang, mereka bertiga segera keluar dari ruangan dan turun ke area parkir di samping gedung.
Mobil Alila melaju pelan menuju lokasi tempat makan yang sudah mereka bicarakan sedari tadi. Hanya sepuluh menit perjalanan, mobil sudah terparkir manis di halaman cafe bertajuk ArSen Cafe & Cake.
Sama seperti cafe-cafe sejenisnya, cafe ini juga menyediakan beragam menu khas ala cafe yang sedang digemari anak muda. Yang membedakannya dari cafe yang lain, di dalam cafe ini terdapat satu sudut khusus yang menyajikan kue-kue hits kekinian yang banyak diminati oleh para pecinta kuliner.
Setelah masuk dan memilih meja di bagian tengah, mereka bertiga sepakat memilih beberapa macam kue untuk mereka cicipi bersama. Tak lupa mereka juga memesan minuman segar sebagai pelepas dahaga di cuaca yang cukup terik siang ini.
"Selamat siang, nona-nona cantik. Pesanan sudah siap untuk disantap."
Olla dan Nadia membalas sapaan pramusaji itu dengan ramah, sementara Alila yang masih berbalas pesan dengan Dimas hanya diam karena tidak memperhatikan sekitarnya.
Dengan cekatan, lelaki berpostur tinggi tegap dan berwajah rupawan itu memindahkan seluruh isi nampan ke atas meja.
"Selamat menikmati..." Ucap pramusaji itu sebelum pergi.
Saat hendak berbalik arah untuk pergi, tak sengaja siku tangan lelaki itu menyenggol ponsel yang dipegang Alila hingga terjatuh ke atas meja.
"Ooh..., maaf nona cantik, saya tidak sengaja..."
Alila mengambil kembali ponselnya lalu mengangkat wajahnya untuk melihat ke arah pramusaji yang masih berdiri di sampingnya. Saat tatapan mata mereka bertemu sejenak, mereka sama-sama terkejut dan memastikan penglihatannya.
"Alila...!" Seru lelaki itu dengan wajah ceria.
__ADS_1
Alila masih diam terpaku menatap lelaki itu. Dia masih berusaha memastikan jika ingatannya tidak salah.
"Aris..." Ucapnya lirih.
Setelah sama-sama saling mengenali, lelaki bernama Aris tersebut mengulurkan tangannya ke arah Alila. Dengan ragu Alila menyambut uluran tangan itu secara singkat dan buru-buru melepaskannya kembali.
"Bagaimana kabarmu, Al? Tidak menyangka kita bertemu lagi di cafeku ini."
(Sepertinya takdir masih memberiku kesempatan sekali lagi...)
Alila juga Olla dan Nadia terkejut dengan ucapan Aris. Jadi ternyata cafe ini adalah milik Aris, teman sekolah Alila, semasa SMA dulu. Nama ArSen untuk cafenya diambil dari penggalan nama depan dan nama tengahnya yaitu Aris Sena.
Alila tidak banyak membalas obrolan Aris, hanya jawaban singkat dan senyum tipis yang ditampakkan di wajah cantiknya, tanpa menunjukkan ekspresi berlebihan.
Sebelum meninggalkan ketiga wanita itu untuk menikmati pesanan mereka, Aris sempat meminta nomor ponsel Alila yang akhirnya diberikan oleh Alila dengan berat hati.
(Semoga dia tidak membuat ulah yang berlebihan, agar Dimas tidak berpikir yang macam-macam tentang hubunganku dengannya di masa lalu.)
Alila melanjutkan berbalas pesan dengan Dimas sambil mencicipi kue-kue yang tersaji apik di beberapa piring artistik, bersama Olla dan Nadia.
Hampir tiga puluh menit kemudian, Alila mengajak kedua sahabatnya untuk kembali ke kantor. Mereka meninggalkan area cafe tanpa berpamitan pada Aris yang sedang menerima telepon penting di dalam ruangannya.
.
.
.
Jangan lupa untuk selalu menyemangati kami dengan Like, Komentar, Bintang 5, Vote & Favorit.
Terima kasih banyak untuk semua pembaca yang telah berkenan membaca dan menikmati novel kami.
Salam cinta dari kami.
💜Author💜
.
.
__ADS_1
.
.