
Waktu beranjak sore saat Alila mulai terbangun. Beberapa kali dia mengedipkan mata untuk menyesuaikan pandangannya yang masih silau akan cahaya.
Dia mulai mengangkat tubuhnya dan melihat ada bantal yang tadi menjadi alas kepalanya. Tak hanya itu, dia mendapati tubuh Dimas yang masih tidur terduduk di lantai dengan kepala beralaskan kedua tangannya di tepian kursi.
(Mengapa kamu tidak membangunkanku tadi, Dim? Kamu malah menjagaku di sini dan ikut tertidur dengan posisi seperti ini. Tubuhmu pasti terasa tidak nyaman.)
Alila menurunkan tubuhnya dari kursi dengan sangat hati-hati. Sebenarnya dia ingin membangunkan Dimas, tapi melihat tidurnya yang masih pulas dengan nafas teraturnya, dia menjadi tidak tega.
Akhirnya dia berjalan pelan menuju kamar mandi untuk menyegarkan wajahnya. Sambil mengusap wajahnya yang masih basah dia membuka pintu dan langsung melangkah keluar.
"Aakhh..!" Pekik Alila kala tubuhnya menubruk sesuatu yang keras di hadapannya.
Matanya mengerjap kembali untuk menghalau air yang masih membasahi matanya. Kini dia melihat tubuh tegap Dimas yang berdiri di depannya.
"Kamu kok tiba-tiba di sini?"
"Aku terbangun karena orang yang aku jaga sudah tidak ada di sana."
Wajah Alila sontak berubah merah jambu seranum bibir mungilnya. Dia menunduk dan mencari jalan untuk menjauh namun Dimas selalu menghalanginya ke kiri dan ke kanan.
"Dim, aku akan menyiapkan makanan kita."
"Sudah siap semua."
"Kalau begitu ayo kita makan."
"Sebentar, Al."
Dimas langsung maju dan memeluk tubuh Alila, membuat kekasihnya itu terkejut dan bingung.
"Ada apa, Dim?"
Dimas tak menjawab. Dia malah mempererat pelukannya, membuat Alila akhirnya ikut melingkarkan tangannya di tubuh lelaki itu.
"Kamu tidak apa-apa, Dim?"
"Maafkan aku.." Bisik Dimas di telinga Alila.
Alila semakin bingung dibuatnya. Dia tidak tahu apa yang menyebabkan Dimas meminta maaf padanya. Dia menarik tubuhnya dari dekapan Dimas namun tetap melingkarkan tangannya. Keningnya mengerut masih dengan kebingungannya.
"Maaf untuk apa?"
"Maaf karena telah membuatmu lelah hari ini. Pagi-pagi kau sudah harus menemaniku di sini, bertemu dengan keluargaku dan harus menghadapi banyak pertanyaan dan gurauan dari mereka."
"Maafkan aku karena tidak mengatakan padamu sebelumnya, sehingga membuatmu kaget dan merasa tidak nyaman berada di antara mereka secara mendadak."
(Sejujurnya hari ini aku justru sangat bahagia, Dim. Karena kamu telah membawaku bertemu dengan keluargamu dan ternyata aku diterima dengan baik oleh mereka. Aku merasa menjadi wanita yang paling beruntung di dunia ini karena berhasil memenangkan hatimu dan juga keluargamu.)
"Aku tidak apa-apa, Dim. Dan aku juga tidak lelah sama sekali. Aku hanya sedikit mengantuk, sama sepertimu tadi."
"Aku justru mengkhawatirkan dirimu. Sejak kembali kemari, kamu selalu bersamaku. Kamu tidak punya waktu untuk istirahat. Kamu pasti sangat lelah.."
Dimas menggelengkan kepalanya dan kembali tersenyum.
"Begitu melihatmu dan menghabiskan waktu bersamamu, semua lelahku terasa hilang, Al. Sama halnya rasa rinduku yang langsung terobati dengan bertemu denganmu dan memelukmu seperti ini."
Seketika seluruh tubuh Alila terasa begitu hangat karena telah kembali ke dalam pelukan Dimas. Bukan hanya tubuhnya, hatinya pun menghangat oleh desiran halus yang bermain-main di dalam sana, disertai dentuman lembut yang terus memenuhi rongga dadanya.
"Terima kasih, Dim."
"Untuk apa?" Tanya Dimas sambil memejamkan mata dan terus memeluk Alila.
__ADS_1
"Terima kasih karena telah mencintaiku sebaik ini.."
"Aku mencintaimu, Al." Dimas mempererat pelukannya.
"Aku juga mencintaimu, Dim." Alila pun membalas pelukan Dimas lebih erat lagi.
Beberapa saat mereka masih larut dalam kehangatan pelukan yang erat itu. Saling memejamkan mata dan meresapi setiap desiran yang membelai lembut hati mereka.
Setelah itu mereka berjalan kembali ke ruang tamu untuk menikmati makan siang mereka yang tertunda karena kantuk yang sempat melanda.
Alila menyodorkan minuman pada Dimas yang langsung membuka dan meminumnya sampai habis. Alila melihat ke arahnya.
"Kok langsung dihabiskan? Kamu kan belum makan, nanti perutmu....."
"Tidak apa-apa, aku kehausan."
Alila sudah membuka kedua kotak makanan mereka. Saat hendak menyerahkan pada Dimas, dia sudah menyela terlebih dahulu.
"Suapi aku, Al."
"Hah?"
"Tolong suapi aku."
Tatapan itu terus meminta membuat Alila luluh dan mengiyakan permintaan Dimas. Mereka sudah duduk di atas kursi yang tadi menjadi alas tidur mereka berdua.
Alila mulai menyuapi Dimas dengan tangannya. Dimas memesan menu ayam bakar kesukaan Alila. Jadilah mereka makan tanpa menggunakan sendok.
Suapan kedua sudah siap di depan mulut Dimas, namun oleh Dimas tangan itu dia belokkan kembali
ke arah mulut Alila sendiri.
Alila tersenyum lalu membuka mulutnya dan ikut makan bersama Dimas. Satu suapan untuknya lalu satu suapan untuk Dimas lagi, terus bergantian hingga dua kotak makanan telah mereka habiskan tanpa sisa.
Alila minum setengah gelas miliknya lalu diberikannya untuk Dimas.
"Habiskan minumannya. Aku cuci tangan ke belakang dulu."
Dia berdiri dan berjalan masuk ke dapur untuk membersihkan tangannya. Setelah bersih dan kering, dia kembali keluar.
Dilihatnya meja yang tadinya masih penuh dengan bekas kotak makanan dan gelas minuman, sekarang sudah bersih dan rapi. Dimas telah membereskan dan membuangnya ke tempat sampah di halaman rumah.
Dimas sudah sibuk dengan ponselnya, membalas beberapa pesan yang masuk. Alila duduk di sampingnya, juga ikut sibuk dengan ponsel di tangannya.
Ada satu pesan dari Tama. Alila melirik sebentar ke arah Dimas, lalu membuka pesan itu. Sebelumnya dia menyetel volume ponselnya ke mode diam agar Dimas tidak terganggu.
"Al, sudah makan siang?" Pesan itu dikirim sejak siang tadi.
Alila segera membalasnya dengan singkat secukupnya.
"Sudah, Tam. Maaf tadi aku tertidur."
"Baiklah. Besok aku ada urusan lagi ke kantormu. Semoga kita bisa bertemu di sana."
Alila memilih untuk tidak membalas pesan itu. Hanya membacanya lalu menutupnya dan beralih ke pesan lainnya yang belum dia buka.
Sementara itu, Dimas masih membalas pesan dari Pak Albi, yang mulai besok akan menjadi pimpinan di divisi kerja yang dia tempati.
Selesai dengan Pak Albi, dia beralih ke pesan terakhir dari Sandy.
Kemarin siang, Dimas memang sudah memberitahukan tentang kepulangannya pada Sandy, Nayla dan Tama. Dan mereka sudah membuat agenda untuk berkumpul berlima minggu depan.
__ADS_1
"Semalam aku seperti melihatmu dan Alila di warung bakso Kang Budi. Benar?" Bunyi pesan dari Sandy.
"Iya." Dimas membalas singkat.
"Saat aku lewat, aku melihat kalian berdua duduk berdekatan dan berpegangan tangan. Apakah ada sesuatu di antara kalian?"
Sandy memang lebih suka berbicara langsung pada pokoknya. Meski sedikit cerewet, tapi dia bukan lelaki yang banyak basa-basi.
"Seperti yang kamu lihat." Balas Dimas seadanya.
"Ahhaa.., kamu hutang penjelasan padaku nanti..!"
"Tidak ada yang perlu dijelaskan." Balas Dimas menutup percakapannya.
Dia mengalihkan perhatiannya pada Alila yang juga telah selesai dengan ponselnya. Tatapan matanya tertuju lurus pada kedua bola mata indah milik Alila.
"Ada apa melihatku seperti itu?" Tanya Alila.
"Apa aku tidak boleh melihat kekasihku sendiri?"
Wajah Alila mulai merona lagi. Dimas selalu mengatakan hal yang tak terduga yang selalu membuat Alila salah tingkah.
"Nanti kamu bosan." Jawab Alila.
"Kalau cinta tidak akan pernah bosan." Bantah Dimas.
"Benarkah?"
"Lihat saja orangtua kita, meskipun bersama setiap saat dan sepanjang waktu, mereka tidak akan bosan apalagi berpisah. Itu karena cinta yang menyatukan mereka."
Alila hanya diam. Dalam hati dia membenarkan perkataan Dimas.
"Apa kamu juga ingin seperti orangtua kita?"
"Tentu saja. Aku ingin menikah sekali seumur hidup dengan orang yang benar-benar aku cintai dan mencintaiku."
"Semua butuh proses, Dim."
"Aku akan menikmati proses itu. Bersamamu."
Degg..!! Detakan jantung paling dahsyat yang pernah Alila rasakan. Hingga membuatnya menahan nafas seketika itu juga.
.
.
.
Note :
Jangan lupa untuk selalu menyemangati kami dengan Like, Komentar, Bintang 5, Vote & Favorit ya..🙏💜🙏
Terima kasih banyak untuk semua pembaca yang telah berkenan membaca dan menikmati novel kami.
Salam cinta dari kami..
Author
.
.
__ADS_1