
"Dim, aku sedang makan siang di sini. Kamu jangan lupa untuk segera makan siang juga."
Setelah meletakkan piring makan siangnya yang telah kosong, Alila mengambil ponselnya dari saku celana dan mengirim pesan pada Dimas.
"Aku menunggu kabarmu dulu, Al. Setelah ini aku akan memesan makanan." Balas Dimas.
Sambil menunggu pesan baru dari Alila, Dimas yang sedang berbaring di tempat tidurnya membuka aplikasi untuk memesan makanan online.
"Setelah ini ada acara di sekitar lembah, Dim. Aku akan menghubungimu lagi nanti malam."
"Hati-hati, Al. Aku tidak ingin kamu kenapa-kenapa di sana."
"Ya, Dim. Aku akan selalu berhati-hati. Ada kamu bersamaku yang selalu menjagaku di sini."
Alila mengirimkan sebuah foto untuk Dimas, di mana di dalam foto itu terlihat tangan kiri Alila yang memakai cincin pemberian Dimas tengah memegang kalung lamaran Dimas yang menghiasi lehernya.
Dimas tersenyum lebar melihat foto itu. Meskipun tidak tampak wajah Alila di sana, tetapi foto tersebut cukup membuatnya bahagia karena Alila selalu menjaga dan memperhatikan barang pemberiannya.
"Aku semakin merindukanmu, Al. Waktu terasa lambat berlalu saat kamu tidak bersamaku seperti ini."
"Aku juga merasakannya, Dim. Aku selalu merindukanmu."
"Jaga dirimu dan jaga hatimu, Al. Aku mencintaimu."
"Pasti, Dim. Aku juga mencintaimu. Aku matikan dulu ponselnya. Acara di sini akan segera dimulai."
Alila menyelesaikan pesan terakhir yang dikirimkannya pada Dimas lalu segera mematikan ponselnya. Dan sebelum melanjutkan kegiatannya, dia menaiki tangga menuju ke kamarnya untuk menyimpan ponselnya terlebih dahulu.
.
.
.
Kegiatan pada siang hingga sore hari adalah kegiatan alam di sekitar lembah wisata. Seluruh kelompok diwajibkan mengikuti perjalanan di alam terbuka sesuai rute yang sudah ditentukan oleh panitia.
Kegiatan tersebut adalah kegiatan yang paling ditunggu oleh seluruh karyawan, karena mereka bisa sekalian berjalan-jalan dan memanjakan mata untuk menikmati keindahan alam sekitar.
Tepat jam dua siang perjalanan dimulai dan direncanakan akan berakhir sekitar pukul empat sore nanti. Kelompok Alila adalah kelompok ketiga yang berangkat dari total dua belas kelompok yang sudah diurutkan oleh panitia.
Kelompok Alila membuat barisan memanjang berjajar dua. Masing-masing dua orang lelaki berada di bagian depan dan belakang barisan, sementara dua orang lainnya bergabung di tengah bersama empat anggota wanita.
Alila semula berjalan sejajar dengan Nadia. Namun tiba-tiba Nadia berhenti karena tali sepatunya lepas. Dan kesempatan itu digunakan oleh Bayu yang berada di belakang Nadia untuk mendahului Nadia dan menjajari langkah Alila yang tampak terkejut dengan keberadaan Bayu di sebelahnya.
"Jangan takut, aku tidak akan mengganggumu, Al. Tetaplah fokus ke depan. Jalannya sudah mulai berbatu."
Bayu bersikap tenang meskipun di dalam hatinya bahagia karena bisa berjalan bersama wanita yang telah dikaguminya sejak lama.
Ya, lelaki itu sangat mengagumi Alila sejak pertama kali melihatnya pada hari pertama mereka bekerja di gedung Pandawa Grup. Bukan hanya karena paras rupawan Alila, tapi juga karena keanggunan dan kesederhanaan sikap wanita itu yang terlihat sangat menarik di matanya.
Pada akhirnya, kekaguman itu perlahan mulai berubah menjadi rasa yang berbeda di hatinya. Rasa cinta. Ya, dia jatuh cinta pada Alila. Perasaan yang sama yang pernah dia rasakan bertahun-tahun yang lalu pada seorang gadis yang tak bisa dimilikinya.
"Awas, Al...!!"
Bayu menangkap bahu Alila dan memegang tangan kanannya dengan cepat, saat tubuh wanita itu oleng ke arahnya.
Alila hampir saja tergelincir jatuh saat kaki kanannya terpeleset bebatuan sungai kering yang mereka seberangi.
Setelah tubuhnya kembali tegak dan dirasa kakinya tidak mengalami masalah serius, Alila segera melepaskan diri dan menjauh dari Bayu.
"Terima kasih." Ucap Alila sembari meraih tangan Nadia dan menariknya untuk maju ke sampingnya.
__ADS_1
Bayu yang mengerti maksudnya, segera bergeser dan memberikan tempatnya pada Nadia agar kembali berjalan bersama Alila, sementara dia mundur dan mengikuti di belakang Nadia sambil terus memperhatikan Alila.
"Kamu tidak apa-apa, Al?" Tanya Nadia pada Alila yang segera menggelengkan kepalanya.
"Tidak apa-apa, Nad."
Mereka berdua pun melanjutkan perjalanan bersama kelompoknya dengan saling berpegangan tangan untuk saling menjaga karena kondisi jalan yang terjal dan berbatu.
Hingga tanpa terasa sudah separuh perjalanan mereka lalui. Kelompok mereka tiba di lokasi air terjun yang tidak terlalu tinggi namun sangat indah panoramanya, dengan aliran air jernih di bawahnya yang menganak sungai ke sekitarnya.
Setelah seluruh kelompok tiba di sana, mereka diberi waktu untuk beristirahat dan menikmati bekal yang telah disediakan oleh panitia di tempat yang bersuasana sejuk itu.
Alila mengajak Nadia duduk di salah satu gelaran tikar di sekitar aliran sungai, yang memang disediakan panitia untuk beristirahat sambil menikmati keindahan alam di hadapan mereka.
Beberapa orang ikut bergabung satu tikar dengan mereka, termasuk Bayu yang selalu mengikuti di belakang Alila. Dia memang tidak melakukan apapun, tetapi sikapnya tersebut membuat Alila merasa terganggu karena terus diawasi dan diikuti.
Bayu bisa merasakan gelagat Alila yang terlihat tidak nyaman dengan keberadaannya. Namun entah mengapa, untuk kali ini dia tidak bisa menahan dirinya untuk terus mendekati Alila.
Mungkin tidak akan ada kesempatan lagi bagi dirinya di lain waktu, untuk bisa berdekatan dengan Alila seperti saat ini. Hatinya benar-benar egois kali ini, ingin tetap berada di samping Alila walau apa pun yang akan terjadi nantinya.
"Al, apa kau merasa tidak nyaman dengan keberadaanku di sini?" Tanya Bayu yang berhasil menggeser posisi duduknya sampai di sebelah kanan wanita yang dikagumi dan kini telah dicintainya itu.
Alila melirik sekilas ke arah Bayu lalu menghembuskan nafas jengahnya.
"Sejujurnya iya." Jawabnya singkat.
"Maafkan aku." Ucap Bayu sama singkatnya dan setelah itu mereka kembali terdiam.
Nadia yang duduk di samping kiri Alila hanya menyimak kekakuan di antara mereka. Delapan bulan bekerja bersama dan bersahabat dengan Alila dia sudah memahami sikap Alila yang tidak menyukai adanya pembicaraan yang menyinggung masalah pribadinya sekecil apa pun itu.
Nadia mengalihkan perhatiannya kepada teman di sebelahnya. Mereka berbincang seputar pekerjaan di kantor dan kegiatan kali ini.
"Aku tidak pantas untuk dikagumi." Jawab Alila cepat.
"Ya. Kamu benar, Al. Kamu memang tidak pantas untuk dikagumi saja, karena kamu lebih pantas untuk dimiliki..." Ucap Bayu dengan serius.
Tenggorokan Alila tercekat seketika. Tak sepatah kata pun terucap dari bibirnya meskipun dia ingin membalas dengan segera dan menyudahi pembicaraan yang tidak disukainya itu.
"Tapi sayangnya, bukan aku yang akan memilikimu, tetapi orang lain." Lanjut Bayu melengkapi kalimat yang dia ucapkan sebelumnya.
Dalam hati Alila bersyukur karena Bayu tahu diri dan bahkan sudah mengetahui bahwa dirinya akan menjadi milik orang lain, seseorang yang sangat dicintainya selama ini.
"Apa kau akan terkejut jika aku katakan bahwa aku juga mengenal calon suamimu itu, Al?"
Dan sesuai dugaan Bayu, wajah Alila berubah dan menampakkan keterkejutannya. Namun lagi-lagi Alila tak bergeming sama sekali.
Bersamaan dengan situasi yang semakin kaku di antara mereka, terdengar panggilan menggunakan pengeras suara dari salah seorang panitia yang meminta seluruh rombongan untuk bersiap melanjutkan perjalanan.
Tanpa menunggu lagi, Alila dan yang lainnya segera berdiri dari tempat masing-masing dan kembali membentuk barisan sesuai kelompok mereka.
"Nanti malam aku ingin berbicara sekali lagi denganmu, Al. Aku akan mengatakan sesuatu tentang Dimas. Aku harap kamu bersedia."
Dimas? Bayu menyebutkan nama Dimas, membuat Alila semakin terkejut dan menoleh ke arah lelaki itu. Namun seolah tak peduli lagi dengan Alila, Bayu berjalan meninggalkannya dan menyusul ke dalam barisan kelompok mereka.
.
.
.
Selepas makan malam dan dilanjutkan dengan acara penutupan, seluruh rombongan dipersilakan untuk beramah-tamah sendiri dan menghabiskan malam tanpa agenda dari panitia lagi.
__ADS_1
Terlihat sebagian besar karyawan memilih untuk tetap berada di halaman penginapan sekedar bercengkerama dan bersendau-gurau bersama. Sebagian yang lain memilih untuk duduk bersama di ruang makan dan sebagian lagi memilih untuk langsung beristirahat di kamarnya.
Alila sendiri sebenarnya ingin segera beristirahat di kamarnya, tetapi Bayu lebih dulu menghampirinya dan mengajaknya berbicara di luar penginapan.
Dengan sedikit terpaksa Alila mengikuti Bayu yang mengajaknya duduk di teras penginapan. Angin malam yang sejak acara penutupan tadi sudah terasa begitu dingin, kian malam kian terasa menusuk hingga ke tulang.
"Aku ingin segera beristirahat." Alila lebih dulu memberi peringatan jika dia tak ingin berlama-lama berada di sana.
Bayu yang mengerti maksud perkataan Alila hanya menganggukkan kepala dan memulai pembicaraan.
"Aku mencintaimu, Al."
Pengakuan yang membuat Alila langsung menjaga jarak tubuh mereka dan menyiapkan jawaban yang harus disampaikannya pada lelaki itu.
"Tetapi sejak dulu sepertinya aku memang ditakdirkan hanya sebagai pengagum rahasia dari para perempuan yang mencintai Dimas."
Alila tetap diam mendengarkan walaupun hatinya mulai bertanya-tanya tentang hubungan Bayu dengan calon suaminya.
"Aku dan Dimas adalah teman SMA. Dan ketika itu, kami sempat terlibat cinta segi tiga dengan seorang gadis bernama Indah. Aku mencintai Indah, tetapi Indah sangat mencintai Dimas. Dan Dimas sendiri..., dia tidak pernah mencintai siapa pun."
"Aku diam-diam mengagumi gadis teman sekelas kami itu sejak kelas satu. Dan pada saat kelas tiga aku memberanikan diri untuk menyatakan perasaanku pada Indah dan dia menolakku. Kami sama-sama patah hati. Aku ditolak oleh Indah dan Indah sama sekali tidak dihiraukan oleh Dimas yang sikapnya sangat dingin dan kaku."
Alila tetap diam tanpa menunjukkan reaksi apa pun. Dia merasa semakin kedinginan, tetapi masih berusaha ditahannya dengan mendekap erat jaket milik Dimas yang dikenakannya.
"Dan sekarang aku mengalaminya lagi. Aku mengagumimu sekian lama hingga akhirnya aku jatuh cinta padamu, Al. Tetapi sekali lagi aku harus menerima kenyataan bahwa kamu ternyata mencintai Dimas. Dan kali ini, Dimas memiliki perasaan yang sama denganmu. Kalian saling mencintai dan menjadi sepasang kekasih yang akan segera menikah."
Alila yang semakin tidak tahan dengan dinginnya malam di lembah, berdiri dan melangkah meninggalkan Bayu tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Dia memasuki penginapan dan terus berjalan menuju tangga dan menapaki satu per satu anak tangga dengan tubuh menggigil dan kaki gemetar.
Di saat kakinya hampir sampai pada anak tangga terakhir, tiba-tiba tubuhnya limbung dan...
Bruukkk...!!!
"Alila...!" Bayu berteriak dari ambang pintu penginapan.
Sementara di tempat lain...
Pyaarrr...!!!
Di dalam rumahnya, Dimas menjatuhkan gelas yang dipegangnya setelah mengambil air minum dari dapur.
"Alila..."
Tanpa sadar dia langsung menyebut nama kekasihnya dengan perasaan tidak enak.
.
.
.
Note :
Jangan lupa untuk selalu menyemangati kami dengan Like, Komentar, Bintang 5, Vote & Favorit ya..🙏💜🙏
Terima kasih banyak untuk semua pembaca yang telah berkenan membaca dan menikmati novel kami.
Salam cinta dari kami..
~Author~
.
__ADS_1