
Pagi harinya, setelah melepas kepulangan keluarga Dimas ke luar kota, lelaki itu mengajak Alila pergi melepas penat, setelah satu minggu kemarin mereka berdua menpersiapkan banyak hal untuk pernikahan mereka secara maraton.
"Kita akan ke mana, Dim?"
"Pantai kita."
Alila mengeryitkan keningnya bingung.
"Sejak kapan kita punya pantai?"
Dimas menoleh sekilas ke arahnya lalu kembali menatap jalan raya di depannya.
"Sejak pertama kali kita pergi berdua ke sana."
"Maksudmu pantai baru yang sampai sekarang belum punya nama resmi itu?"
Dimas menganggukkan kepala.
"Anggap saja itu pantai kita, Al."
Alila tertawa menanggapi ucapan Dimas. Dia merasa lucu mendengar nama pantai kita, seolah-olah mereka pemilik pantai itu.
"Terserah kalau kamu menertawaiku. Aku akan tetap menyebutnya pantai kita."
Alila menghentikan tawanya. Dia melihat Dimas sudah memasang wajah dinginnya. Sepertinya kekasihnya itu sedang terlalu peka perasaannya, hingga tawa kecilnya saja bisa membuatnya tidak suka dan wajahnya berubah dingin seketika.
Alila bergerak pelan, membawa tubuhnya mendekati Dimas. Tangannya menyentuh tangan Dimas yang masih memegang kemudi. Lelaki itu tetap diam, tidak bereaksi sedikit pun.
"Aku minta maaf, Dim..."
Dimas masih tetap dengan wajah dinginnya dan mulut yang terkunci rapat.
"Aku tidak bermaksud menertawakanmu. Aku hanya merasa lucu mendengarnya, seolah pantai itu milik kita."
Alila menghela nafas panjang. Dia melepaskan tangannya dan kembali duduk dengan benar di tempatnya. Sesaat dia menperhatikan wajah Dimas yang masih dingin dan tidak mempedulikannya. Kemudian dia memalingkan wajahnya ke arah jendela.
Cukup lama suasana hening tercipta di dalam mobil yang terus melaju. Sampai pada detik di mana Dimas mendengar isak Alila yang tertahan. Dia menoleh untuk memastikannya, dan detik itu juga dia segera menepikan mobilnya dan berhenti dengan cepat.
Begitu mobil berhenti, tanpa menunggu lagi Dimas mendekati Alila dan serta-merta menarik tubuh itu ke dalam pelukannya.
"Jangan menangis, Al."
__ADS_1
Alila yang belum bisa mencerna apa yang baru saja terjadi, hanya tertegun dalam pelukan Dimas. Namun sejurus kemudian dia mulai menyadarinya dan menumpahkan tangisan yang semula ditahannya.
Tangannya pun spontan memeluk pria yang dicintainya itu. Pria dingin dan kaku yang selalu bersikap tak terduga dan semau hatinya. Tapi dia sangat mencintainya...
Terasa olehnya saat Dimas menghela nafas panjang, lalu mencium puncak kepalanya sangat lama. Hatinya bergetar dan menghangat merasakan semua itu hingga lambat-laun tangisnya mereda.
Perlahan Dimas melepaskan pelukannya dan menatap wajah Alila yang masih basah oleh air mata. Kedua tangannya menangkup wajah yang memerah karena menangis itu, lalu dia membersihkan air mata Alila dengan kedua ibu jarinya.
"Maafkan aku, Al. Aku terbawa emosi."
Alila hanya menganggukkan kepalanya, karena suaranya masih tercekat akibat menangis tadi.
"Kita lanjutkan perjalanan dulu. Sebentar lagi kita sampai."
Keduanya kembali duduk dengan posisi yang benar. Kemudian Dimas mulai melajukan kembali mobilnya. Sesekali dia masih terus memperhatikan Alila, memastikan jika wanita itu sudah baik-baik saja.
Lima belas menit kemudian, mereka sudah sampai di pantai baru. Sudah satu bulan lebih mereka tidak datang ke tempat itu. Dan sekarang, saat mereka berdua kembali ke sini, ada beberapa perubahan yang mereka lihat.
Area parkir ditata di satu tempat sehingga tidak ada lagi parkir liar yang mendekati pantai. Selain itu, di sepanjang jalan menuju pantai ada beberapa gubuk kecil yang menjual makanan dan minuman untuk bekal ketika berada di pantai. Dan tentu saja tak ketinggalan ada loket pembelian tiket masuk ke lokasi pantai.
Setelah membeli tiket masuk dan minuman ringan untuk bekal selama di pantai, mereka segera melewati pintu masuk dengan menyerahkan tiket yang sudah mereka beli.
Berdua mereka berjalan bersama menyusuri bibir pantai ditemani semilir angin sejuk khas lautan lepas. Dimas merangkul bahu Alila dengan mesra sementara tangan Alila memeluk erat pinggangnya.
Sampailah mereka di tempat yang selalu mereka tuju setiap datang ke pantai ini. Tempat teduh di bawah pepohonan besar nan tinggi dengan kursi unik dari bekas kapal kecil nelayan yang diletakkan terbalik di bawah pohon.
Dimas meletakkan kantong plastik berisi minuman yang mereka beli sebelumnya di atas kursi. Dan sebelum Alila duduk, tangan Dimas telah menahannya lebih dulu dan menarik tubuh Alila ke dalam pelukannya.
"Dim..."
Alila terkejut dan mengedarkan pandangannya ke sekeliling mereka. Hanya ada beberapa kelompok orang yang bermain di bibir pantai dan sama sekali tidak memperhatikan keberadaan mereka berdua yang masih cukup jauh dari air pantai.
"Aku minta maaf, Al."
Dimas semakin mempererat pelukannya membuat Alila segera membalas pelukan itu. Dimas memejamkan mata dan menyandarkan kepalanya di bahu Alila.
"Mengapa kamu minta maaf padaku, Dim?"
"Di mobil tadi, aku terbawa emosi sehingga aku mendiamkanmu. Tidak seharusnya aku bersikap seperti itu, padahal kamu tidak melakukan kesalahan apa-apa."
Alila merenggangkan pelukannya, memberi jarak di antara tubuh mereka, agar mereka bisa saling menatap dalam jarak wajah yang cukup dekat.
__ADS_1
"Aku mengerti, Dim. Aku juga terbawa perasaanku hingga aku menangis tadi. Aku merasa sedih karena kamu mendiamkan aku seperti itu."
Mata mereka terus beradu, tak ingin sedetik pun terlewati tanpa memandangi satu sama lain.
Raga mereka boleh saja lelah, tetapi hati mereka terlalu kuat untuk melemah sekalipun di saat-saat terberat yang mereka hadapi.
"Mungkin karena satu minggu kemarin kita berdua terlalu banyak kegiatan yang menguras tenaga dan juga pikiran, sehingga emosi kita menjadi mudah tersulut hanya karena hal-hal kecil yang tidak berarti seperti tadi, Al."
"Itulah sebabnya aku sengaja ingin mengajakmu kemari, agar kita bisa melepaskan segala beban yang kita rasakan, dan memulihkan diri kita dengan energi baru dari tempat ini."
Alila mengangguk dan terus mengulas senyuman di bibirnya, membuat Dimas yang melihatnya spontan mendaratkan ciuman di keningnya hingga senyuman Alila semakin merekah indah.
"Kamu tahu, Al. Apa alasan sebenarnya mengapa aku menyebut tempat ini pantai kita?"
"Apa itu, Dim?"
Sebelum menjawabnya, Dimas merubah posisi pelukan mereka. Dari yang semula berpelukan berhadapan, kini Dimas membawa tubuhnya ke belakang Alila dan kembali merapatkan tubuh mereka dengan pelukan erat di pinggang Alila yang dibalas dengan sentuhan hangat kedua tangan Alila di atas kedua tangan Dimas.
Berdua bersama-sama melepaskan pandangan ke arah pantai dan laut lepas yang terbentang penuh pesona di hadapan mereka.
"Pantai ini adalah saksi perjalanan kisah cinta kita, Al."
"Di sini pertama kalinya aku mengajakmu kencan berdua, sebelum aku pergi selama tiga bulan. Di sini pula saat aku telah kembali, aku berani menyatakan perasaan cintaku kepadamu."
"Karena itulah pantai ini sangat istimewa untukku, seperti halnya dirimu dan cintamu yang teramat sangat istimewa bagi diriku dan cintaku, Al."
.
.
.
Note :
Jangan lupa untuk selalu menyemangati kami dengan Like, Komentar, Bintang 5, Vote & Favorit ya..🙏💜🙏
Terima kasih banyak untuk semua pembaca yang telah berkenan membaca dan menikmati novel kami.
Salam cinta dari kami..
~Author~
__ADS_1
.