
Pagi yang cerah di awal pekan. Alila sudah siap dengan pakaian kerjanya lengkap dengan heels dan tas kerja bertali panjang.
Sebelumnya dia sudah berkutat di dapur untuk menyiapkan sarapan untuk keluarganya dan Dimas. Ya, semalam Alila mengirim pesan agar Dimas sarapan di rumahnya sebelum mereka berangkat bekerja bersama-sama.
Alila hanya memasak nasi goreng rempah dengan lauk telur mata sapi. Tak lupa dia juga memberikan taburan bawang goreng kesukaan Dimas dan menggoreng kerupuk udang sebagai pelengkap sarapan mereka kali ini.
Jam setengah tujuh Dimas datang. Di ruang tamu, dia memberikan salam dan mencium tangan mama dan papa Alila seperti biasanya.
"Pagi, Om, Tante.."
"Ya, pagi, Dim. Kamu langsung ke dalam saja. Alila ada di ruang makan." Kata mama Alila.
"Kalian sarapan duluan, supaya tidak terlambat berangkatnya. Kami nanti saja menyusul." Tambah papa Alila yang juga telah siap dengan seragam kerja, namun masih menikmati kopi paginya.
Dimas mengangguk dan langsung masuk ke dalam untuk menemui Alila di meja makan. Dia tersenyum pada kekasihnya yang tengah merapikan hidangan di atas meja.
Sambil duduk menunggu, mata Dimas mencari-cari keberadaan Alano yang belum terlihat sedari dia tiba tadi.
"Mencari Alano? Dia tidur lagi di kamarnya." Alila seolah tahu siapa yang dicari oleh Dimas.
"Apa dia tidak kuliah?"
"Katanya semester ini dia tidak ada kuliah di jam pertama. Makanya mulai hari ini dia mau balas dendam tidur lagi. Kemarin-kemarin dia harus ikut bangun pagi karena ada tugas mengantarkan aku berangkat kerja."
Dimas tersenyum sendiri mengingat selama tiga bulan ini, dia yang meminta Alano untuk menjaga dan menemani kakaknya ke mana pun Alila pergi.
"Kamu juga, seharusnya kamu tidak perlu minta tolong sama dia. Aku masih bisa pergi sendiri dan menjaga diriku sendiri, Dim."
"Aku tidak mau kamu kesepian dan sendirian, Al. Mengapa kamu tidak peka dengan perhatian yang kuberikan." Suara Dimas terdengar sedikit lebih keras dari biasanya.
Alila terdiam menatap Dimas. Ada rasa bersalah di hatinya karena ucapan yang dia lontarkan pada kekasihnya tadi. Harusnya dia bisa lebih menghargai perhatian Dimas, bukan malah menyalahkannya.
Alila duduk di samping Dimas. Tangannya bergerak pelan menyentuh tangan Dimas di atas meja.
"Maaf. Maafkan kata-kataku tadi, Al..."
Dia menunggu, tetapi Dimas masih diam dan tak mau melihatnya. Dalam genggamannya, Alila mengusapi punggung tangan Dimas lalu menciumnya dengan lembut.
Alila meneteskan air matanya. Dia semakin merasa bersalah. Sementara Dimas merasakan punggung tangannya basah oleh tetesan air mata Dinda. Dia mengarahkan kedua bola matanya ke wajah Alila yang masih bertahan menatapnya dengan sorot mata penuh penyesalan.
Dimas tak tega melihat mata indah itu mengeluarkan air matanya walaupun hanya beberapa tetes. Dengan tangannya sendiri, dia menyeka air mata Alila. Dia menghela nafas panjang, menahan rasa sesak di dalam dadanya.
"Jangan menangis lagi. Aku tidak marah."
Dimas membalas ciuman tangan Alila dengan hal yang sama.
"Aku hanya mengkhawatirkanmu. Karena aku sudah terbiasa bersamamu, Al."
"Iya, Dim. Aku tahu. Aku minta maaf."
Dimas dan Alila sama-sama tersenyum. Alila menarik tangannya yang masih bergenggaman dengan tangan Dimas. Dengan cekatan dia segera mengambilkan sarapan untuk kekasihnya dan juga untuk dirinya, lalu berdua mereka mulai menikmati sarapannya.
Selesai sarapan, Alila membersihkan piring dan gelas yang baru saja mereka gunakan, kemudian kembali dan berdiri di samping kursi Dimas.
__ADS_1
"Kita berangkat sekarang, Al?"
"Iya."
Dimas berdiri lalu mendekatkan wajahnya ke wajah Alila, membuat detak jantung Alila terasa berloncatan di dalam sana.
(Apa yang akan kamu lakukan, Dim?)
Dimas merapikan anak rambut di sekitar telinga Alila lalu berbisik tepat di telinganya tanpa jarak.
"Terima kasih sarapannya, calon istriku..."
(Itulah harapanku, Al.)
Dimas segera menarik wajahnya kembali untuk melihat reaksi Alila atas ucapannya.
Alila membulatkan matanya, tak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya. Telinganya masih terasa hangat karena hembusan nafas Dimas saat berbisik tadi.
(Apa yang kamu katakan, Dim? Aku tidak salah dengar, kan?)
Dimas tersenyum gemas melihat wajah Alila yang telah merah merona. Dia berjalan meninggalkan Alila, mendahuluinya untuk berpamitan pada papa dan mama Alila.
Tak lama kemudian Alila sudah menyusul muncul di ruang tamu dan pamit pada kedua orangtuanya. Mereka berdua segera melangkah keluar rumah dan masuk ke dalam mobil Dimas. Tanpa menunggu lagi Dimas pun melajukan mobilnya membelah keramaian lalu-lintas pagi yang mulai padat di segala penjuru.
Di dalam mobil, Alila terdiam. Mulutnya tertutup rapat, sesekali dia menggigit bibirnya sendiri. Dia masih memikirkan ucapan Dimas di ruang makan tadi. Sampai dia tidak menyadari jika Dimas memperhatikannya sedari tadi.
"Al.."
Suara Dimas memecah pikirannya. Kepalanya menoleh ke arah Dimas yang ternyata tengah menatapnya karena mobil berhenti di lampu merah. Pikirannya masih terbelah, antara ucapan Dimas tadi dan tatapannya saat ini.
"Kamu kenapa?" Tanya Dimas.
"Hah? Oh? Ti-tidak apa-apa."
(Mengapa aku jadi gugup dan salah tingkah sendiri seperti ini, Dim..)
"Apa kamu memikirkan ucapanku tadi?"
Alila mulai menunduk. Dia malu jika ternyata Dimas hanya bermain-main dengan ucapannya.
"Kamu tahu aku, Al. Aku tidak akan mengatakan sesuatu yang tidak aku inginkan atau tidak aku rasakan."
Mobil telah kembali melaju. Pandangan Dimas beralih pada lalu lintas jalan di depannya. Namun itu tidak menghentikan kata-katanya.
"Kita jalani saja semua ini, Al. Kita nikmati prosesnya bersama-sama. Kamu mau, kan?"
Alila memberanikan diri untuk kembali menatap Dimas. Tepat bersamaan dengan tatapan mata dan senyum sekilas dari lelaki itu ke arahnya.
"Ya, Dim. Aku mau."
Senyum mengembang di bibir mereka berdua.
Beberapa menit kemudian mereka sudah sampai di pelataran parkir Pandawa Grup. Dimas memarkir mobilnya agak jauh dari pintu masuk gedung. Dia ingin mengantarkan Alila sampai ke lobby.
__ADS_1
Sebelum keluar dari mobil, tiba-tiba tangan Dimas telah menyatu dengan tangan Alila dengan jemari mereka yang saling menyela satu sama lain.
"Selamat bekerja, Al. Kita sama-sama berjuang untuk masa depan kita."
"Selamat bekerja juga, Dim. Ini hari pertamamu bekerja di kantor. Jangan lupa istirahat."
Dimas mencium tangan Alila lalu mendekap di dadanya, hingga degup jantungnya pun terasa oleh Alila. Pandangannya terus menatap Alila yang juga menatapnya dengan hati penuh debaran.
Setelah meredakan gejolak di hati masing-masing, mereka keluar dan berjalan bersama ke arah pintu masuk gedung. Dalam hati Alila merasa sangat senang karena hari ini pertama kalinya Dimas menemaninya masuk ke kantor.
Sesampainya di dalam lobby, mereka berhenti dan saling berhadapan.
"Terima kasih, Dim. Sudah mengantarku sampai di sini."
"Ya. Aku tinggal dulu, Al. Jika ada waktu, nanti siang aku akan menjemputmu untuk makan bersamaku."
Alila menganggukkan kepalanya. Sebelum melangkah keluar, Dimas berbisik lembut di telinga Alila yang sukses membuat wajahnya merah merona.
"I love you.."
Kemudian Dimas berjalan meninggalkan Alila yang masih diam terpaku dengan senyum malunya.
.
.
Selamat Hari Raya Idul Fitri 1 Syawal 1441 H
MOHON MAAF LAHIR DAN BATIN ATAS SEGALA SALAH DAN KHILAF
TAQOBBALALLAHU MINNA WA MINKUM
BARAKALLAHU FIIKUM
Author & Keluarga
🙏🙏🙏
.
.
.
Note :
Jangan lupa untuk selalu menyemangati kami dengan Like, Komentar, Bintang 5, Vote & Favorit ya..🙏💜🙏
Terima kasih banyak untuk semua pembaca yang telah berkenan membaca dan menikmati novel kami.
Salam cinta dari kami..
Author
__ADS_1
.