
Hari lamaran tiba. Seperti yang telah disepakati, kedua keluarga akan mengenakan baju batik dan kebaya. Meskipun hanya acara pertemuan kedua keluarga, tetapi Alila dan Dimas merencanakan semuanya dengan matang. Mereka ingin acara lamaran tersebut berkesan dan penuh kenangan.
Bahkan Dimas sengaja meminta bantuan Alano supaya mengajak temannya yang seorang fotografer untuk datang dan mengabadikan acara lamaran tersebut.
Sepulang dari rumah orangtuanya di luar kota minggu lalu, Dimas yang mengantarkan Alila pulang langsung memberitahukan kepada orangtua Alila tentang rencana kedatangan keluarganya untuk melamar Alila.
Jadilah satu minggu terakhir keluarga Alila sibuk mempersiapkan segala sesuatunya untuk acara lamaran keluarga hari ini.
Di kamarnya, Alila telah siap dengan kain batik dan kebaya modern berwarrna biru tua yang dipersiapkan khusus untuk acara hari ini. Kain batik yang melilit indah di tubuh bagian bawahnya itu seragam dengan kemeja yang akan dipakai Dimas nanti. Sedangkan kebaya yang dikenakan Alila adalah pilihannya sendiri karena dia ingin menyesuaikan dengan warna kesukaan calon suaminya.
Tepat jam sepuluh pagi, dua mobil milik Dimas dan orangtuanya berhenti di halaman rumah orangtua Alila. Tak lama kemudian, dari dalam mobil Dimas keluar tiga orang yang tak lain adalah Dimas dan kedua orangtuanya, papa Yudhi dan mama Kirana. Dan dari mobil satunya ada Darma, Indira dan baby Sekar.
Mereka semua disambut langsung oleh orangtua Alila, papa Dewa dan mama Dian juga Alano. Seluruh keluarga Dimas kemudian dipersilakan masuk dan duduk di ruang tamu yang telah ditata dengan apik untuk acara hari ini.
"Kami ucapkan selamat datang kepada Bapak dan Ibu sekeluarga. Terima kasih sudah berkenan menyediakan waktu untuk kita semua berkumpul hari ini."
Papa Dewa mengawali acara dengan sambutan singkatnya yang dibalas langsung oleh papa Yudhi.
"Terima kasih atas sambutan baik yang diberikan oleh keluarga Bapak dan Ibu atas kedatangan kami di sini. Mohon maaf karena kami hanya membawa buah tangan sekedarnya."
Setelah itu, kedua keluarga mulai berbincang dan saling mengenalkan anggota keluarga masing-masing. Hingga akhirnya keberadaan Alila yang belum terlihat pun ditanyakan oleh orangtua Dimas.
"Di mana calon menantu kami? Kok belum terlihat dari tadi." Tanya Mama Kirana tak sabar.
"Dia masih menunggu di kamarnya. Sebentar akan saya panggilkan dulu."
Mama Dian pun segera beranjak dari tempat duduknya untuk menjemput putri kesayangannya.
Alila yang sudah siap langsung berdiri begitu mama Dian datang menjemputnya. Dia mencoba tersenyum meskipun hatinya terus berdebar sejak tadi.
Kendati yang hadir dalam acara ini hanya dua keluarga mereka saja, tetap saja rasa gugup itu tak bisa disembunyikannya.
"Ayo, Al. Semua sudah menunggumu."
Mama Dian turut tersenyum dan mendekap putri kesayangannya. Ada rasa haru terselip di hatinya mengingat tak lama lagi sang putri akan menjadi milik lelaki pilihannya.
"Ayo, Ma. Jangan kelamaan dipeluk, nanti aku menangis.."
Alila menggenggam erat tangan mamanya lalu mereka berdua melangkah keluar dari kamarnya menuju ke ruang tamu.
Sesampainya di ambang ruang tamu, semua yang berada di sana mendadak mengalihkan pandangannya pada sosok cantik yang datang bersama sang mama.
Dimas yang setiap hari bertemu pun, seketika terpaku menatap wajah cantik yang masih berdiri di tempatnya. Sorot matanya tak bisa berbohong jika dia tengah mengagumi penampilan Alila kali ini.
"Ehemm.., ehemm..!!"
Darma sengaja berdehem keras untuk menggoda adiknya yang masih tak berkedip menatap calon istrinya. Sementara yang lain mulai beralih memperhatikan tatapan mata Dimas kepada Alila yang membuatnya seolah melupakan keberadaan orang-orang di sekitarnya.
"Sepertinya ada yang semakin terpesona dengan calon istrinya sendiri.."
Papa Yudhi tak mau kalah ikut mengganggu anak bungsunya membuat yang lainnya ikut tersenyum.
__ADS_1
Alila tertunduk malu. Malu karena tatapan mata Dimas padanya, dan malu karena yang lainnya juga memperhatikan dirinya.
Mama Dian mengajak Alila duduk. Sama seperti Dimas yang duduk diapit kedua orangtuanya, Alila juga duduk di antara papa Dewa dan mama Dian.
"Baiklah. Karena semua sudah ada di sini, kita bisa mulai untuk membicarakan tentang rencana pernikahan putra putri kita."
Papa Dewa memulai acara inti mereka, yaitu membahas tentang pelaksanaan pernikahan Dimas dan Alila. Tapi sebelumnya Papa Yudhi menyela sebentar untuk melontarkan sebuah pertanyaan kepada Alila.
"Sebelum kita membahas hal yang lainnya, sekali lagi saya ingin bertanya kepada calon menantu saya."
Alila segera memusatkan perhatiannya pada papa Yudhi.
"Alila, apakah kamu menerima lamaran Dimas untuk menikahimu?"
"Iya, saya menerimanya."
Alila menjawab dengan singkat dengan suara bergetar karena rasa gugup bercampur bahagia. Di seberangnya, Dimas tersenyum tipis menatap kedua mata Alila dengan hati bergetar.
Setelah itu, papa Dewa kembali memimpin pertemuan dan melanjutkan pembicaraan mengenai rencana pernikahan Dimas dan Alila.
"Sesuai permintaan mereka berdua, pernikahan akan dilaksanakan tepat pada hari ulang tahun Alila. Dan sesuai permintaan mereka pula, acara tersebut akan kita selenggarakan secara sederhana saja."
Pembahasan demi pembahasan terus dimatangkan oleh kedua belah pihak. Akhirnya tercapai kesepakatan bahwa akad nikah dan syukuran akan dilaksanakan pada sore hari setelah ashar hingga sebelum maghrib.
Untuk tempat pelaksanaan acara, para orangtua tetap meminta diselenggarakan di gedung yang telah ditentukan bersama. Dimas dan Alila juga telah memilih menggunakan jasa wedding organizer agar tidak merepotkan kedua keluarga.
Karena kedua keluarga besar sama-sama berasal dari kota yang sama, maka tidak perlu mempersiapkan penginapan untuk mereka. Cukup menyediakan kain seragam untuk seluruh keluarga besar, yang sudah disiapkan oleh Dimas dan Alila beberapa hari yang lalu, dan tinggal diantarkan ke rumah masing-masing.
"Waah, baru satu minggu berlalu ternyata kalian berdua sudah mempersiapkan semuanya dengan cepat ya.."
Kali ini Darma benar-benar salut dan memuji kesigapan adik dan calon adik iparnya dalam mempersiapkan pernikahan mereka.
"Maklum, kak. Sepertinya mereka memang sudah tidak sabar menunggu dua bulan lagi.."
Alano melihat ke arah Darma, kali ini dia seakan mendapatkan teman baru untuk menjahili kakak dan calon kakak iparnya itu. Sifat usilnya sama dengan Darma.
Setelah pembicaraan utama usai dan diselingi dengan sendau-gurau antar keluarga, saatnya makan siang bersama.
Mama Dian sudah mempersilakan semuanya untuk menuju meja makan yang sudah disiapkan sedemikian rupa dengan bantuan dua orang teman karib mama Dian.
Namun sebelum ada yang beranjak dari tempatnya, tiba-tiba Dimas berdiri dan meminta sedikit waktu untuk menyampaikan sesuatu.
Setelah itu, Dimas mengambil sebuah kotak beludru berwarna biru tua yang berbentuk persegi panjang kecil dari saku celananya. Kedua matanya hanya tertuju lurus pada wanita cantik yang sedari tadi duduk berhadapan dengannya, berbatasan sebuah meja hidangan di antara kedua keluarga.
Sebelum mulai berbicara, Dimas menyerahkan kotak yang dibawanya tersebut kepada Alila.
"Bukalah, Al."
Dengan tangan bergetar dan hati yang berdebar, Alila menerima dan membukanya. Detik itu juga mata indahnya berkaca-kaca dan bibir manisnya tak kuasa untuk berkata-kata.
"Alila, jika dulu aku telah menyematkan cincin tanda cintaku di jari manismu, maka hari ini bertepatan dengan pertemuan kedua keluarga kita, ijinkan aku untuk memasangkan seuntai kalung sederhana di lehermu, sebagai tanda keseriusanku untuk melamarmu dan menjadikanmu sebagai istriku."
__ADS_1
Seketika suasana haru menyeruak memenuhi ruangan itu. Tidak ada yang mengetahui hal ini sebelumnya karena Dimas memang sengaja menyembunyikan rencananya. Dia ingin memberi kejutan khusus untuk Alila.
Tanpa membuang waktu lagi, Alila menganggukkan kepalanya. Dia tersenyum dan membalas tatapan mata Dimas dengan binar bahagia.
Dimas berjalan pelan mengitari meja dan berhenti tepat di hadapan Alila yang sudah berdiri menantinya. Sesaat pandangan mereka bertemu, memunculkan desir-desir halus yang kembali menghangatkan hati mereka.
Dimas mengambil kalung tersebut dari dalam kotak yang berada di tangan Alila. Kemudian dengan hati yang terus bergetar, dia melingkarkannya di leher Alila dan mengaitkan kedua ujungnya di bagian belakang.
Semua orang memusatkan perhatiannya pada perhiasan yang baru saja melingkar indah di leher jenjang Alila. Sebuah kalung emas dengan rangkaian inisial nama mereka tepat di bagian tengahnya. D♡A
(Ternyata karena alasan ini, semalam kamu memintaku untuk menyanggul rambutku hari ini. Agar kalung indah ini terlihat sempurna di leherku. Terima kasih, Dim.)
"Aku mencintaimu, Al.."
Dimas membisikkan kalimat cinta untuk Alila tepat di samping telinganya, sebelum kembali berdiri di samping calon istrinya.
Usai kejutan dari Dimas, acara makan siang bersama segera dimulai. Kedua keluarga berbaur santai dan berbincang akrab sambil menikmati makan siang yang telah disiapkan oleh keluarga Alila.
Alila dan Dimas duduk bersebelahan di ruang makan.
"Terima kasih, Dim."
"Untuk apa?" Tanya Dimas.
"Terima kasih untuk kalung indah ini."
Alila menyentuh kalung itu tepat di bagian tengahnya dan memperhatikan inisial nama mereka yang terangkai di sana, membuat Dimas tersenyum karenanya.
"Kamu suka, Al?"
"Sangat, aku sangat menyukainya, Dim.."
Mereka berdua tersenyum bersama dengan tatapan mata yang saling bertemu dan memancarkan cahaya cinta. Cinta tulus yang tak berujung, yang akan terus tumbuh menghiasi kalbu.
.
.
.
Note :
Jangan lupa untuk selalu menyemangati kami dengan Like, Komentar, Bintang 5, Vote & Favorit ya..🙏💜🙏
Terima kasih banyak untuk semua pembaca yang telah berkenan membaca dan menikmati novel kami.
Salam cinta dari kami..
~Author~
.
__ADS_1