Menanti Cinta Untukku

Menanti Cinta Untukku
81 ISTIRAHAT SIANG


__ADS_3

"Bolehkah kami bergabung satu meja dengan kalian?"


Dimas menatap Tama dan Dara Nadia dengan wajah datarnya yang tidak berubah sedikit pun.


"Ayo."


Berjalan lebih dulu meninggalkan keduanya, dia melanjutkan langkahnya menuju meja di mana Alila sudah duduk menunggu.


"Siang, Al." Tama menyapa sahabatnya lalu duduk bersama kekasihnya di hadapan Alila dan Dimas.


"Siang, Tam. Tumben makan siang di kantin." Jawab Alila.


"Kita sering lho makan siang di sini. Kamu saja yang tidak tahu karena selalu keluar bersama suamimu, Al." Dara Nadia menatap wajah Tama dengan tawa kecilnya yang membuat hati Tama berbunga-bunga.


(Siangku semakin ceria dengan melihat tawa indahmu, Ra..)


"Kapan datang?" Dimas bertanya dengan mata tertuju pada Tama di depannya, tanpa merubah raut wajahnya yang tetap sedingin es balok.


"Baru saja. Tadinya kami berencana makan siang di luar, tetapi mendadak pertemuanku dengan direktur pemasaran Pandawa Grup diajukan setengah jam dari jadwal semula. Jadilah kami putuskan untuk pergi ke sini saja.."


Pesanan mereka datang bersamaan. Jika Dimas dan Alila memesan bakso kesukaan Alila, Tama dan Dara Nadia memesan gado-gado sayur.


Menjeda obrolan, mereka mulai menyantap makan siang mereka sampai habis.


Dalam hati Dimas senang karena istrinya menikmati bakso yang diingininya dengan lahap. Dia mengambil tas Alila yang berada di pangkuan wanita itu. Dibukanya lalu mencari obat yang harus diminum oleh istrinya.


Dimas membuka dan menyiapkan obat sesuai aturannya lalu membuka tutup botol air mineral dan memberikannya pada Alila. Alila menerimanya kemudian menelan satu per satu obatnya dengan bantuan air mineral.


"Terima kasih." Ucapnya setelah selesai.


"Apa masih terasa sakit di bekas luka operasimu, Al?" Tanya Nadia. Alila menggeleng pelan.


"Tidak. Hanya nyeri sesekali saja." Jawab Alila.


"Syukurlah kalau begitu. Tapi tetap harus banyak istirahat, Al. Jangan kecapekan dulu, apalagi kamu sudah masuk kerja lagi." Kata Nadia menoleh ke arah Dimas.


"Alila susah sekali dibilangin, Dim. Dikebut tadi pekerjaannya sampai lupa istirahat." Imbuh Nadia lagi. Dia kembali menatap Alila tanpa rasa bersalah.


"Maaf ya, Al. Aku adukan ke suamimu, biar kamu tidak bandel lagi." Ucap Nadia tulus. Dia sangat menyayangi sahabatnya itu dan tidak ingin Alila jatuh sakit lagi.


Dimas langsung memalingkan wajahnya ke samping, menatap Alila yang juga sudah lebih dulu menatapnya dengan senyuman yang berusaha meluluhkan hati sang suami agar tidak marah padanya.

__ADS_1


Namun sia-sia, kedua mata Dimas menatapnya dengan tajam dan dalam. Wajah datarnya yang terpasang sedari tadi, semakin menampakkan aura dingin yang menjadi ciri khasnya sebagai lelaki balok es.


Suaranya tenang namun penuh penekanan di setiap kata yang diucapkannya.


"Ingat kondisi tubuhmu. Jangan dipaksakan."


Alila hanya bisa mengangguk tanpa bantahan.


Tama tersenyum melihat kedua sahabatnya yang sudah menjadi pasangan suami-istri itu. Meskipun cara mencintai mereka berbeda dari pasangan lain tetapi terlihat cinta yang dalam di antara keduanya.


Tama melihat jam yang melingkar di pergelangan tangan kanannya. Dia menatap Dara Nadia lalu mengangguk tipis. Dara pun membalasnya dengan anggukan yang sama. Mereka berdua bersiap untuk pergi lebih dulu.


"Aku pamit duluan karena harus segera ke atas." Kata Tama sambil berdiri demikian juga Dara.


"Aku juga. Al, aku tunggu di ruangan ya." Ucapnya pada Alila yang dibalas dengan satu anggukan kepala.


Sama dengan Alila, Dimas hanya mengangguk untuk mengiyakan. Tama dan Dara Nadia meninggalkan dua orang yang masih menyelesaikan minuman mereka yang belum habis.


Wajah Dimas mulai menghangat dan sikapnya mulai lunak setelah duduk berdua saja bersama Alila. Sepasang matanya menatap teduh kedua mata indah istrinya yang masih terlihat merasa bersalah kepadanya.


"Maafkan aku, Dim. Tapi sungguh aku baik-baik saja." Tangannya menyentuh punggung tangan lelaki yang masih diam menatapnya. Dia memberikan usapan lembut lalu menggenggam tangan suaminya.


Dimas melihat gelas Alila telah kosong. Dia mengambil gelasnya sendiri lalu menghabiskan sedikit isinya yang masih tersisa, kemudian berdiri dengan tangan kirinya tetap menggenggam tangan Alila sementara tangan kanannya membawa serta botol air mineral yang masih berisi setengahnya.


Sesampainya di samping mobilnya, Dimas membukakan pintu mobil sebelah kiri dan segera meminta Alila masuk tanpa berucap apapun. Lelaki itu lantas mengitari bagian depan mobil dan ikut masuk dari pintu sebelah kanan.


Dimas menyalakan mesin mobil dan segera mengatur temperatur AC agar lebih cepat mendinginkan ruangan dalam mobil.


Kedua tangannya berpindah mengatur posisi kursi penumpang yang diduduki oleh Alila. Dia menurunkannya ke arah belakang lalu membaringkan tubuh istrinya layaknya posisi tidur.


"Istirahatkan tubuhmu. Masih ada waktu setengah jam lebih sebelum aku antar kembali ke ruanganmu."


Alila menurut dengan patuh. Dia menyamankan posisi berbaringnya. Tangan kanannya meraih tangan Dimas yang duduk di kursi kemudi. Perlahan dia menyelakan satu per satu jemarinya di antara jari-jari tangan Dimas, lalu menariknya dan didekapnya di atas dada kemudian segera memejamkan matanya.


Melihat Alila yang sudah memejamkan matanya dengan mendekap jalinan erat tangan mereka, Dimas menyunggingkan satu senyuman di wajahnya.


(Aku mencintaimu, Al. Maaf jika sikapku sedikit keras padamu, kulakukan itu karena aku terlalu mengkhawatirkan dirimu..)


Dimas memajukan wajahnya mendekati wajah Alila, lalu dengan lembut memberikan ciuman penuh kasih di kening wanita yang sangat dicintainya itu. Terlantun doa-doa terbaik dalam hatinya, memohon kesehatan dan kebahagiaan untuk mereka berdua.


Alila membuka matanya dan mendapati wajah menawan sang suami di hadapannya. Senyum seketika mengembang di bibirnya, meluruhkan kecemasannya akan sikap dingin Dimas sebelumnya.

__ADS_1


"Dim..."


Tanpa sadar Alila sudah menarik tubuh Dimas dan memeluknya. Tangannya segera melingkar erat di tubuh Dimas, tak ingin bila lelaki itu menarik diri dan menjauhinya kembali.


"Aku minta maaf..."


Dimas menghela nafas pelan dalam pelukan Alila. Tangan kirinya menahan beban tubuhnya agar tidak menimpa bagian perut istrinya, sementara tangan kanannya menyentuh lengan atas Alila.


Sesaat dia merebahkan kepalanya di bahu Alila. Ada yang bergetar di hatinya, memupus seluruh kekhawatirannya. Rasanya begitu tenang berada dalam pelukan hangat istrinya sendiri.


Menarik pelan kepalanya menjauh dari bahu Alila, kini wajahnya kembali berhadapan dengan wajah cantik milik wanita kesayangannya.


Beberapa detik berlalu, mereka hanya diam saling berhadapan, saling menatap dalam diam, saling menyelami isi hati masing-masing.


"Istirahatlah, Al." Satu ciuman kembali dilepaskan Dimas di atas kening Alila.


Alila mengangguk tetapi satu tangannya bergerak meraih kepala belakang Dimas lalu menekannya ke bawah hingga bibir mereka bersentuhan. Wanita itu mencium bibir suaminya, menyatukan kehangatan dalam setiap gerakan lembut bibir keduanya.


"Aku sangat mencintaimu, Dim." Ucap Alila setelah mereka melepaskan bibir mereka yang menyatu mesra.


"Aku lebih mencintaimu, Al. Hanya kamu..." Dimas mengulangi ciuman mereka untuk beberapa saat. Lalu melepaskannya dengan senyuman di wajahnya yang memerah, sama seperti wajah Alila yang telah merona.


Dimas duduk di belakang kemudi sambil membuka ponselnya. Sesekali dia menengok ke arah Alila yang sudah memejamkan matanya, mengistirahatkan raganya untuk sejenak.


Tiba-tiba perhatiannya tertuju penuh pada satu email khusus yang masuk dari tim kerja di perusahaannya. Dia membacanya dengan cermat tanpa satu katapun yang terlewati. Wajahnya mendadak berubah serius dan dingin.


Pandangannya beralih kepada Alila yang mulai terlelap. Sorot mata lelaki itu berubah sendu, menyimpan satu kegundahan baru di hatinya setelah mengetahui isi email penting tadi.


(Al, bagaimana ini? Aku tidak bisa.......)


.


.


.


Jangan lupa untuk selalu menyemangati kami  dengan Like, Komentar, Bintang 5, Vote & Favorit.


Terima kasih banyak untuk semua pembaca yang telah berkenan membaca dan menikmati novel kami.


Salam cinta dari kami.

__ADS_1


💜Author💜


.


__ADS_2