
"Dim, ada apa ini?"
Alila menatap Dimas yang hanya tersenyum membalas tatapan mata istrinya yang masih tak mengerti. Dia mengusap lembut kepala Alila.
"Hadiah dari suamimu. Duduk dan nikmatilah di sampingku."
Seorang panitia acara naik ke atas pelaminan membawa sebuah stand mic panjang yang dia letakkan di samping kursi pengantin yang diduduki oleh Dimas dan Alila. Seorang panitia yang lain mengikuti dan menyerahkan sebuah gitar akustik kepada Dimas.
Mereka mengatur posisi tiang mic agar sejajar dengan tubuh Dimas yang duduk di samping kanan Alila dan supaya tetap tidak mengganggu pandangan para tamu yang melihatnya dari bawah. Gitar pun telah disambungkan dengan arus listrik agar volumenya bisa mengimbangi suara Dimas.
"Selama ini, apakah ada yang tahu jika dia bisa bermain gitar?" Tanya Sandy pada Tama juga Nayla istrinya yang dijawab dengan gelengan kepala. Sementara Dara Nadia yang belum kenal baik dengan Dimas hanya diam menyimak.
Sama halnya dengan Alila, mereka bertiga juga tidak yakin dengan kemampuan lelaki itu karena sebelumnya tidak pernah sekalipun melihat Dimas memegang alat musik apapun.
"Semoga saja dia tidak melakukan tindakan yang memalukan..." Ujar Tama.
"Bicara saja dia pelit, bagaimana mau bernyanyi..?!" Nayla dengan polosnya meragukan Dimas.
Di sudut yang lain, Darma tampak membuka mulutnya lebar-lebar melihat kenekatan yang akan dilakukan adiknya di atas pelaminan.
"Seumur hidupku, aku belum pernah melihatnya memegang gitar, apalagi mendengar dia bernyanyi. Berbicara saja dia hanya sepatah kata seperti baby Sekar. Lantas bagaimana dia bisa seberani itu di depan sana?"
Indira yang duduk di samping Darma segera menutup mulut suaminya dengan tangannya.
"Kalau kau ingin tahu, maka diam saja dan lihatlah, sayang..." Ucap Indira gemas.
"Ya, semoga saja dia tidak sampai merusak telinga kita semua..." Darma melepaskan tangan sang istri dari mulutnya lalu mengenggamnya.
Di atas pelaminan, Dimas sudah siap untuk mempersembahkan hadiah untuk Alila. Dia menatap mata indah istrinya dan tersenyum sebelum memulainya.
Suara musik dan hiburan lainnya telah berhenti atas permintaan panitia acara. Sekarang semua perhatian tertuju ke atas pelaminan, menunggu apa yang akan Dimas berikan untuk sang istri tercinta.
Dimas mulai memetik pelan gitar di pangkuannya. Selanjutnya mulai memainkan sebuah instrumen lagu romantis. Dan tak lama kemudian terdengar dengan jelas suaranya melantunkan lirik lagu yang membuat semua orang semakin terpukau tak percaya.
.
.
Kau begitu sempurna
Di mataku kau begitu indah
Kau membuat diriku akan slalu memujamu
Di setiap langkahku
Ku kan slalu memikirkan dirimu
Tak bisa ku bayangkan hidupku tanpa cintamu
Janganlah kau tinggalkan diriku
Tak kan mampu menghadapi semua
Hanya bersamamu ku akan bisa
Kau adalah darahku
Kau adalah jantungku
Kau adalah hidupku
Lengkapi diriku
Oh sayangku, kau begitu...
Sempurna..., Sempurna...
Kau genggam tanganku
Saat diriku lemah dan terjatuh
Kau bisikkan kata dan hapus semua sesalku
Janganlah kau tinggalkan diriku
Tak kan mampu menghadapi semua
Hanya bersamamu ku akan bisa
Kau adalah darahku
Kau adalah jantungku
Kau adalah hidupku
Lengkapi diriku
Oh sayangku, kau begitu...
Sempurna..., Sempurna...
Janganlah kau tinggalkan diriku
Tak kan mampu menghadapi semua
Hanya bersamamu ku akan bisa
Kau adalah darahku
Kau adalah jantungku
__ADS_1
Kau adalah hidupku
Lengkapi diriku
Oh sayangku, kau begitu...
Sayangku, kau begitu...
Sempurna..., Sempurna...
Sempurna....
(Sempurna - Andra and The Backbone)
.
.
Di akhir lagu pada kalimat terakhir, Dimas menghentikan petikan gitarnya dan hanya menatap kedua bola mata Alila lekat-lekat dengan tangan kiri meraih tangan kanan Alila lalu menciumnya usai mengakhiri nyanyiannya.
"Dim..."
Alila tak bisa berkata-kata lagi. Perasaannya lebih dari bahagia. Dia sangat terharu dan tersanjung dengan persembahan manis nan romantis dari suaminya.
"Selamat ulang tahun, istriku..." Ucap Dimas setelah mencium tangan Alila.
Petikan gitar Dimas yang sangat indah dan mengalun merdu, ditambah suara berat bernada lembut miliknya, membuat penampilannya begitu memikat dan menggetarkan hati siapa pun yang melihatnya.
Suasana di dalam gedung masih hening, seolah terbawa suasana romantis yang diciptakan oleh sepasang pengantin baru di atas pelaminan mereka.
Hingga akhirnya, Alano berdiri dan menjadi orang yang pertama kali bertepuk tangan dengan bangga atas apa yang baru saja dilihatnya.
Setelah Alano mengawalinya, tak berselang lama kemudian seluruh ruangan dipenuhi dengan riuh tepuk tangan para tamu disertai pujian-pujian yang terlontar dari mulut mereka secara bersahutan.
Keluarga Dimas dan Alila sangat bahagia. Demikian juga para sahabatnya. Mereka semua tidak ada yang menyangka jika Dimas memiliki kemampuan sebaik itu tetapi tidak pernah sekali pun dia tunjukkan pada orang lain.
Acara masih berlanjut. Beberapa tamu masih berdatangan di akhir waktu, termasuk Olla dan Dika, Bayu dan Indah, serta sejumlah undangan dari kantor Dimas dan Alila.
"Selamat, Dimas dan istri. Semoga langgeng dan bahagia selamanya." Keluarga Pak Albi, atasan Dimas datang dan mengucapkan selamat di atas pelaminan.
"Terima kasih, Pak. Maaf jika saya mengajukan cuti terlalu lama." Dimas menjawab dengan senyuman yang sangat jarang dilihat oleh Pak Albi selama mengenal pegawainya itu.
"Tidak masalah, Dim. Lagi pula kantor sudah menyetujuinya." Jawab Pak Albi.
Untuk sejenak mereka bisa berbincang leluasa karena tamu sudah mulai berpamitan pulang.
"Oya, saya baru tahu kalau kamu bisa bermain gitar dan menyanyi sebaik tadi. Jika ada acara di kantor, saya akan mengajak kamu untuk bermain di sana."
"Maaf, jangan Pak. Saya hanya melakukannya untuk istri saya saja." Dimas menolak dengan halus membuat Alila yang berdiri di sampingnya tersenyum dan kembali tersanjung.
"Oh, begitu. Baiklah, saya mengerti, Dim."
Pak Albi kagum dengan perhatian Dimas pada istrinya. Dia mengingat jika selama di Bandung dulu, Dimas selalu merindukan calon istrinya dan selalu berdiam diri di musholla untuk melepaskan kerinduannya.
.
.
.
Seluruh rangkaian acara telah berakhir. Kedua keluarga sudah kembali ke rumah masing-masing untuk beristirahat. Dimas dan Alila ikut pulang ke rumah lama yang berjarak tidak terlalu jauh dari gedung. Sementara Darma dan Indira menemani keluarga Indira yang menginap di sebuah hotel di dekat rumah orangtuanya.
Sesampainya di rumah, semua orang segera membersihkan diri dan melaksanakan kewajiban maghrib bersama-sama. Setelah itu, mama dan papa pergi ke kamar untuk mandi dan beristirahat sambil menunggu waktu isya tiba.
Dimas menarik pelan tangan Alila, mengajak istrinya masuk ke dalam kamarnya. Ini adalah pertama kalinya Alila masuk ke kamar Dimas. Meskipun sudah sering datang kemari, tetapi dia tidak pernah memasuki kamar Dimas yang merupakan wilayah pribadinya.
"Al...."
"Ya, Dim?"
Mereka berdiri berhadapan di balik pintu. Dimas mendekatkan tubuhnya ke tubuh Alila lalu segera memeluknya dengan erat. Alila melingkarkan kedua tangan di pinggang suaminya dan menyandarkan kepalanya di dada Dimas. Rasa hangat mulai menyelimuti tubuh mereka. Keduanya memejamkan mata dan menikmati pelukan mereka.
Pelukan pertama sebagai sepasang suami-istri. Mereka larut dalam perasaan bahagia tak terkira. Tak ada suara. Hanya diam meresapi setiap desiran yang mengaliri hati.
Tubuh mereka semakin memghangat dengan pelukan yang semakin erat. Degup jantung yang terdengar begitu kencang berkejaran dan bersahutan satu sama lain di dalam dada mereka dengan tubuh yang kian melekat sempurna.
"Al, aku sangat bahagia."
"Aku juga, Dim."
Dengan mata yang masih terpejam, Dimas mencium puncak kepala Alila. Dia mengusapi rambut yang masih tersanggul acak sisa riasan pengantinnya. Tangannya lalu turun dan berhenti sejenak di bagian leher belakangnya yang tak tertutup apapun, membuat hati Alila berdesir halus. Kemudian tangan itu turun lagi dan kembali mendekap punggung istrinya.
"Terima kasih sudah bersedia menjadi istriku. Menjadi pendampingku dengan segala apa-adanya aku yang seperti ini. Hanya kamu yang paling mengerti aku, Al. Dan sekarang aku telah memilikimu seutuhnya..."
Kepala Alila bergerak pelan masih di atas dada suaminya. Dia mengangguk dan mempererat pelukannya.
"Terima kasih sudah mewujudkan impianku menjadi kenyataan seindah ini, Dim. Memiliki dirimu dan cintamu seutuhnya. Aku hanya ingin terus bersamamu sepanjang waktuku, hanya denganmu..."
.
.
.
Selepas isya, pengantin baru itu berpamitan pada Papa Yudhi dan Mama Kirana untuk pulang ke rumah mereka. Tak banyak yang mereka bawa karena selama satu minggu kemarin Dimas telah mempersiapkan semuanya di rumah baru. Termasuk semua keperluan pribadi miliknya dan milik istrinya.
Tak sampai setengah jam perjalanan, mereka sudah berada di dalam rumah. Dimas menggandeng tangan Alila dan naik menuju kamar mereka di lantai atas.
"Al, kamu mandilah dulu. Aku juga akan mandi di kamar mandi ruang belakang."
Alila mengangguk sambil meletakkan tas kecilnya di atas meja rias yang baru dilihatnya hari ini. Waktu pertama kali ke sini, meja rias itu belum ada dan Alila juga belum sempat memintanya. Namun Dimas sudah menyiapkan sendiri untuknya.
__ADS_1
"Dim..."
"Ya, Al?"
Dimas yang tengah meletakkan kunci mobil dan ponselnya di atas meja kerjanya menoleh, menunggu Alila yang berjalan menghampirinya.
"Terima kasih. Meja riasnya sangat cantik."
Alila memeluk Dimas sebentar lalu melepaskannya kembali.
"Secantik istriku ini..." Balas Dimas dengan mencium kening Alila.
Alila merona dan segera mengalihkan perhatian dengan mempersiapkan pakaian ganti untuknya dan untuk suaminya.
Dia membuka lemari besar yang sudah berisi pakaian mereka. Di sisi kanan berisi pakaian Dimas dan di sisi kiri adalah pakaiannya.
Dia mengambil celana pendek dan kaos oblong untuk Dimas dan satu dress rumahan untuk dirinya lalu meletakkannya di atas tempat tidur. Wajahnya kembali memerah saat mengambil pakaian dalamnya dan pakaian dalam milik Dimas.
(Aah.., aku harus mulai membiasakannya dari sekarang. Meskipun aku masih malu memegangnya...)
Buru-buru Alila menaruh pakaian dalamnya dan pakaian dalam Dimas, membuat suaminya yang sejak tadi memperhatikan menjadi gemas karena tingkahnya.
Dia memeluk Alila dari belakang dan mencium pipinya dengan lembut.
"Terima kasih sudah menyiapkannya untukku."
Alila menahan nafasnya karena pelukan tiba-tiba dari suaminya.
"I-Iya, Dim. Sudah menjadi kewajibanku mulai sekarang."
Masih merasa gugup, diapun melepaskan tangan Dimas dari pinggangnya dan segera menyerahkan handuk yang baru saja diambilnya kepada Dimas.
"Ini handukmu. A-Aku akan mandi sekarang."
Bergegas Alila mengambil pakaian dan handuknya lalu masuk ke dalam kamar mandi, meninggalkan Dimas yang menahan senyumnya sendiri melihat kegugupan istrinya.
(Tunggu setelah kita mandi, Al. Aku akan membuatmu tak bisa menghindar lagi...)
.
.
.
"Kamu mau makan lagi, Dim?" Tanya Alila saat melihat Dimas menyusulnya ke dapur untuk membuat minuman hangat.
Dimas menggelengkan kepala. Dia hanya menunggu Alila yang masih mengaduk minuman buatannya.
"Ini untukmu." Lanjutnya dengan menyodorkan secangkir teh hangat pada sang suami yang berdiri di sampingnya lalu mengajak Dimas duduk di ruang makan.
Dimas duduk di samping Alila dan mulai menyesapi minumannya, demikian juga istrinya. Dimas diam memandangi wajah Alila dari samping. Pikirannya sudah tertuju pada sesuatu yang sudah diinginkannya sedari tadi.
"Al..."
Alila menoleh menatap Dimas sambil terus menghabiskan minumannya.
"Aku ingin meminta hadiahku sekarang."
"Hadiah? Hadiah apa, Dim?"
"Aku sudah memenuhi permintaanmu. Kamu tidak lupa kan, pembicaraan kita dini hari tadi?"
Alila mengangguk pelan. Dia tidak lupa, tetapi dia tidak tahu apa yang diminta oleh suaminya.
"Kamu minta apa?"
Dimas meletakkan cangkirnya juga cangkir yang dipegang Alila di atas meja. Dia menarik bahu Alila agar lebih mendekat ke arahnya.
Dan saat wajah mereka sudah berdekatan, dia membisikkan permintaannya di telinga Alila, lalu tersenyum menunggu reaksi istrinya.
Alila membulatkan kedua mata indahnya. Seluruh tubuhnya menegang seketika. Wajahnya yang semula putih bersih telah berubah menjadi merah padam setelah mendengar apa yang diminta oleh suaminya.
"A-Aku..."
"Aku memintanya sekarang, Al..."
.
.
.
🙏Ucapan Terima Kasih🙏
Terima kasih banyak atas dukungan dan doa dari para reader semua, akhirnya kedua novel kami, Terima Kasih Cinta Sejati dan Menanti Cinta Untukku telah lulus kontrak dan berhasil menjadi novel kontrak karya di aplikasi Noveltoon/Mangatoon.
Semoga ke depannya, kami bisa menyajikan cerita yang lebih baik lagi dalam segala hal, demi kepuasan para reader tercinta.
.
.
.
Jangan lupa untuk selalu menyemangati kami dengan Like, Komentar, Bintang 5, Vote & Favorit.
Terima kasih banyak untuk semua pembaca yang telah berkenan membaca dan menikmati novel kami.
Salam cinta dari kami.
💜Author💜
__ADS_1
.