
"Arsa..?!?"
Tiba-tiba Tama dan Pak Albi dikejutkan oleh suara seseorang yang tanpa mereka sadari, sudah ikut mendengarkan sebagian pembicaraan serius tersebut.
"Aris..." Pak Albi menyebut nama lelaki yang baru saja terlihat oleh mereka.
Aris berjalan mendekat dan berdiri di hadapan dua orang yang tetap duduk itu.
"Jadi...? Arsa...?!"
Aris masih tak percaya dengan semua yang sempat didengarnya.
"Duduklah dulu. Kita bicarakan lagi di sini."
Pak Albi mempersilakan Aris duduk bersama mereka. Aris yang masih syok karena nama kakaknya disebut sebagai dalang dari kecelakaan Alila dan Dimas, hanya menurut saja.
Tama melihat ke arah Pak Albi, karena dia belum mengenal Aris. Hanya sekilas melihatnya saat kemarin lelaki itu mengajukan diri untuk mendonorkan darahnya.
"Dia Aris, temannya Alila. Dan dia juga adik dari Arsa, teman kerja Dimas."
"Jadi..., kak Arsa dan Dimas.....?!" Aris belum bisa memahami semuanya dengan benar. Ternyata banyak yang tidak diketahuinya.
"Ya. Arsa dan Dimas bekerja di kantor yang sama. Mereka adalah karyawan di divisi yang saya pimpin." Jawab Pak Albi.
Kemudian Pak Albi menceritakan semua masalah yang terjadi di kantornya, yang melibatkan Arsa dan dua orang karyawan lain yang bekerja sama dengannya untuk melakukan penyalahgunaan data penting perusahaan.
Atas bantuan Dimas yang ditugaskan untuk memperbaiki sistem keamanan data perusahaan, Arsa dan dua rekannya mendapatkan sanksi peringatan dari pimpinan.
Namun, bukannya jera, mereka justru membalas Dimas dengan mengacaukan sistem informasi dalam proyek yang dikerjakan oleh tim Pak Albi kemarin, hingga mereka harus membenahi semuanya ke beberapa kota terkait.
Karena tindakannya yang sudah kelewatan tersebut, Arsa dan dua rekannya diberikan sanksi kedua berupa mutasi jabatan, yang kemudian posisinya digantikan oleh Dimas.
"Intinya, Arsa merasa dendam kepada Dimas karena dua kali digagalkan rencananya, begitu, Pak?" Tama berusaha menyimpulkan pemikirannya.
"Ya, kalau kita tidak salah menduga, kurang lebihnya seperti itu. Ditambah lagi sekarang Dimas yang menggantikan posisi jabatannya" Pak Albi mengangguk membenarkan pendapat Tama.
"Tapi, semua penyelidikan resmi, ada pada pihak kepolisian. Kita hanya membantu memberikan bukti yang kita miliki saja." Lanjut Pak Albi.
Aris menyugar rambutnya, lalu mengusap wajahnya dengan kasar. Sepertinya dia cukup marah dengan tindakan sang kakak yang sudah termasuk kategori kriminal itu.
"Apa yang harus saya lakukan? Orangtua kami pasti terpukul dengan tindakannya..."
Aris masih bingung bagaimana harus menghadapi kakaknya nanti, juga orangtua mereka.
"Lebih baik kamu diam dulu saja, pura-pura tidak tahu. Biar besok pihak kepolisian yang lebih dulu bertindak, setelah kita serahkan bukti yang kita miliki."
Arsa yang memang belum bisa berpikir apa pun, memilih untuk mengangguk dan mengiyakan perkataan Pak Albi.
Di dalam hatinya, dia merasa sangat bersalah pada Alila dan Dimas. Karena kemarahan dan dendam kakaknya, mereka berdua harus terbaring lemah di rumah sakit seperti ini.
Di lain sisi, dia cukup bersyukur karena kehadirannya kemarin tepat waktu dan bisa menyumbangkan darahnya untuk Dimas yang masih kritis saat itu.
__ADS_1
Setelah beberapa saat menenangkan diri, Aris memberanikan diri kembali pada tujuan awalnya, yaitu membezuk Alila dan suaminya, yang sudah dicelakai oleh kakaknya sendiri.
Aris masuk ke ruang perawatan Alila dan Dimas diikuti oleh Pak Albi dan Tama.
Melihat kedatangan Aris, tangan kiri Dimas bergerak begitu saja meraih tangan kanan Alila yang sedang duduk di atas pembaringannya. Untunglah jarak tempat tidur mereka tidak terlalu lebar, sehingga tangan mereka masih bisa saling bersentuhan setiap saat.
Melihat tangan Alila dan Dimas yang saling menggenggam erat, Aris mencoba tersenyum dan berhenti di ujung tempat tidur.
"Bagaimana kabarmu, Al? Dim?" Sapa lelaki itu dengan canggung. Dia teringat perbuatan kakaknya.
"Aku baik-baik saja, Ris. Hanya Dimas yang masih butuh perawatan lebih lama." Mata indah itu beralih ke samping, memandang suaminya dengan tatapan penuh cinta.
Dimas menyambut tatapan istrinya dengan hal sama, diiringi genggamannya yang semakin erat.
"Semoga kamu segera pulih, Dim. Aku mendoakan yang terbaik untukmu." Ucap Aris tulus dari hati.
(Maafkan kakakku yang sudah tega membuatmu menjadi seperti ini...)
"Terima kasih." Dimas membalasnya dengan cepat lalu kembali menatap lembut ke arah istri tercintanya.
Dimas melihat bayangan Tama yang memghampiri Alano dan menyerahkan laptop milik adik iparnya. Dia teringat akan sesuatu.
"Tam, tolong laptopnya."
"Ada apa, Dim?" Tanya Pak Albi.
Dimas masih diam menunggu Tama mendekat, sementara Aris semakin gugup karena merasa bersalah atas tindakan kakaknya.
Dimas melepaskan tangan Alila saat Tama sudah mendekatinya, berdiri di sela antara dua tempat tidur. Alila hanya diam memperhatikan suaminya, yang hanya bisa menggerakkan tangan kirinya.
Tama membukakan laptop di tangannya, lalu diarahkan kepada Dimas. Terlihat Dimas menggerakkan tangannya, mengetik sesuatu untuk membuka sebuah file miliknya.
Setelah menemukan yang dicari, dia meminta Tama untuk menunjukkannya pada Pak Albi.
"Mungkin ini bisa membantu, Pak."
Pak Albi terkejut melihat rekaman cctv yang ditunjukkan oleh Dimas. Tama belum mengerti karena memang tidak mengenal sosok yang terekam di dalam video tersebut.
Tanpa diduga, Pak Albi membawa laptop itu dan menunjukkannya pada Aris yang masih berdiri di ujung tempat tidur. Dimas yang bingung dengan sikap atasannya, hanya bisa diam menunggu reaksi Aris.
Dan benar saja, setelah melihatnya, wajah Aris seketika berubah pucat lantaran sangat terkejut dan tidak percaya. Mulutnya terkatup rapat, wajahnya diusap dengan kasar.
Apa pun yang ada di pikirannya saat ini, dia yakin Dimas pasti sudah mengetahuinya. Mengetahui kebenaran tentang dirinya, juga hubungannya dengan Arsa yang tak lain adalah kakak kandungnya sendiri.
Menarik nafas panjang lalu melepaskannya perlahan, dia memberanikan diri untuk mengangkat kepala dan menatap Dimas, lelaki yang terbaring tak berdaya di hadapannya kini, akibat perbuatan nekat sang kakak.
"Dim..."
Aris masih menunggu, sampai Dimas melihat ke arahnya.
"Maaf. Aku minta maaf atas perbuatan kakakku padamu..."
__ADS_1
Setelah mengucapkannya, Aris kembali menundukkan kepalanya.
"Sungguh, aku sama sekali tidak tahu tentang semua ini sebelumnya. Bahkan aku juga tidak tahu jika kak Arsa adalah rekan kerjamu, Dim."
"Aku tidak pernah merasa punya masalah dengan Pak Arsa. Bagiku, dia sama seperti rekan kerjaku yang lainnya. Di luar kejadian ini, hubungan kami juga selalu baik sejak awal. Jadi, tidak ada yang perlu dimaafkan."
Jawaban Dimas membuat Aris semakin malu, bukan karena dirinya sendiri, tetapi karena apa yang sudah diperbuat oleh kakaknya.
"Tapi jika kamu atau Pak Arsa meminta maaf, tentu saja aku akan memberikan maafku."
"Terima kasih, Dim. Dan, Al...."
Aris berpaling ke arah Alila membuat Dimas serta-mengikuti pandangan mata lelaki itu, yang sudah menatap istrinya dengan lekat.
"Aku minta maaf atas semua kejadian ini." Ucap Aris kemudian.
Alila yang belum terlalu memahami duduk masalahnya, hanya bisa mengangguk dan segera menoleh ke kanan, di mana tangan Dimas sudah terulur kepadanya.
Segera diraih dan digenggamnya tangan Dimas dengan hati-hati, agar tidak sampai menyentuh bagian yang terpasangi jarum infus.
Dimas memejamkan matanya. Dia terlihat lelah setelah terbangun cukup lama dan terlalu banyak bicara.
Alila memindahkan genggaman tangan mereka ke atas tempat tidur Dimas tepat di samping tubuhnya, sehingga tangan Dimas tidak lagi menggantung.
"Tidurlah, Dim. Aku ada di sini bersamamu."
Dimas mendengar suara lirih Alila dan membalasnya dengan isyarat tangannya yang menggenggam lebih erat.
.
.
.
Mohon dukungannya untuk novel terbaru kami, ALANARA. Semoga bisa menghibur para pembaca semua...๐๐๐
.
.
.
Jangan lupa untuk selalu menyemangati kamiย dengan Like, Komentar, Bintang 5, Vote & Favorit.
Terima kasih banyak untuk semua pembaca yang telah berkenan membaca dan menikmati novel kami.
Salam cinta dari kami.
๐Author๐
.
__ADS_1