
Hari terus berganti. Tak terasa sudah satu bulan lebih Alila bekerja. Selama itu pula dia mulai menikmati waktunya sebagai karyawan yang berangkat pagi dan pulang sore hari. Dia bersyukur, sama seperti sahabatnya yang lain, dia juga bisa segera diterima bekerja setelah mereka lulus kuliah beberapa bulan yang lalu.
Malam minggu ini, ketiga sahabatnya mengajak Alila berkumpul untuk makan malam bersama. Tentu saja dia sangat senang karena sudah hampir tiga bulan ini mereka tidak pernah berkumpul lagi.
Jam setengah tujuh malam, sebuah pesan dari Tama masuk ke ponsel Alila.
"Al, aku jemput kamu ya?"
Alano yang kebetulan melewati kamar kakaknya yang terbuka, melihat Alila sudah berdandan rapi dengan setelan casualnya. Dia tidak tahu kalau kakaknya akan pergi.
Dia langsung berbelok masuk ke kamar Alila.
"Mbak, kamu mau pergi ke mana? Sama siapa?" Tanyanya beruntun.
Alila berhenti menulis balasan pesan untuk Tama. Dia menoleh ke arah Alano yang sudah berdiri di sampingnya.
"Mau ketemuan di cafe. Biasalah, sama Sandy, Nayla dan Tama."
"Berangkat sama siapa? Kok tidak memberitahu aku?"
Alila memang lupa memberitahu adiknya, karena seharian tadi dia hanya beristirahat di kamarnya.
"Tadinya mau pesan taxi pakai aplikasi. Tapi baru saja Tama mengirim pesan jika ingin menjemputku." Jawab Alila dengan tenang tanpa pikiran apapun.
Alano teringat sesuatu yang penting. Dia tidak boleh membiarkannya.
"Bareng sama aku saja, mbak. Sekalian aku mau keluar. Nanti pulangnya aku jemput juga."
Alano berbalik badan hendak keluar dari kamar Alila.
"Tunggu aku di bawah, mbak. Aku bersiap diri dulu sebentar."
Alila tidak menjawab. Dia segera membalas pesan Tama karena pasti Tama menunggu jawabannya.
"Maaf, Tam. Aku bersama Alano. Dia juga mau keluar ada acara. Sampai ketemu di cafe."
Terkirim sudah pesan untuk Tama.
.
.
.
Di cafe yang telah ditentukan, empat sahabat kembali bersua setelah sekian waktu sibuk dengan kesibukan masing-masing.
"Akhirnya kita bisa bertemu lagi. Walaupun kurang lengkap rasanya tanpa adanya Dimas."
Nayla membuka suara dan mulai asyik berswafoto bersama Alila dan juga yang lainnya.
__ADS_1
(Dim, bukan hanya aku, kami semua merindukanmu..)
"Tempat kerja kita juga terpencar kemana-mana. Jadi jarang bisa bersapa-ria atau sekedar berjumpa untuk makan siang." Kata Tama.
Semenjak mereka semua bekerja, Tama yang paling sibuk karena harus memegang kendali di anak cabang perusahaan milik keluarganya sendiri.
Sambil menikmati makanan dan minuman, mereka terus bertukar cerita seputar pengalaman bekerja mereka selama ini. Canda dan gelak tawa riuh terdengar di meja mereka, saling bergantian penuh keceriaan.
"Al, kamu masuk di bagian apa di kantormu yang megah itu?" Tanya Tama.
Karena kesibukannya, Tama yang paling terakhir mengetahui kabar jika Alila sudah bekerja.
"Aku di HRD, Tam." Jawab Alila seperlunya.
Bertemu lagi dengan Tama malam ini mengingatkannya pada kecemburuan Dimas. Alila masih tidak habis pikir mengapa Dimas bisa cemburu pada sahabatnya sendiri hanya karena dia merasa bahwa Tama diam-diam juga menaruh hati pada Alila.
Alila sendiri tidak pernah memikirkan hal itu. Dia tidak pernah mempedulikan perasaan Tama ataupun perasaan orang lain padanya. Dia hanya peduli pada perasaan satu orang, yaitu Dimas.
Maka dari itu, meskipun sebenarnya dia tidak mempermasalahkannya, tapi dia tetap menjaga perasaan Dimas dengan menuruti permintaannya yang tidak ingin dia terlalu dekat atau jalan berdua dengan Tama.
(Kami berempat, ada Tama juga di sini. Apa kamu masih cemburu padanya, Dim?)
"Dimas juga keren tuh, bisa melenggang masuk ke perusahaan telekomunikasi paling elit. Padahal di sana dikenal sangat ketat dan selektif dalam proses perekrutan karyawan baru." Kata Sandy.
"Aku dengar katanya yang ikut pelatihan di Bandung itu mereka yang berpotensi lebih dan langsung mendapatkan status sebagai karyawan tetap."
Tama menambahkan informasi yang dia ketahui.
Alila sendiri seperti biasanya dia lebih banyak diam dan mendengarkan obrolan para sahabatnya. Apalagi saat perbincangan tentang Dimas, dia memilih untuk menyimak saja.
"Al, kapan Dimas kembali dari Bandung? Sepertinya ini sudah hampir tiga bulan ya?"
Sandy menanyakan tentang kepulangan Dimas pada Alila.
Alila mencoba bersikap sewajar mungkin karena dia tidak ingin yang lain mencurigai hubungannya dengan Dimas yang belum pasti saat ini.
"Aku juga kurang tahu, San. Tapi kalau dihitung dari waktu keberangkatannya, mungkin saja dia akan pulang minggu depan atau awal minggu berikutnya."
"Siap-siap saja kalau gitu, kalau dia sudah kembali kita todong makan-makan lagi berlima.." Sandy tertawa diikuti yang lainnya.
Tak terasa malam sudah semakin larut. Akhirnya mereka menyudahi acara mereka saat Alano datang untuk menjemput sang kakak.
.
.
.
Jauh di tempat yang berbeda, Dimas dan teman-temannya pun sedang menghabiskan malam minggu di sana dengan bercengkerama penuh keakraban.
__ADS_1
Hampir tiga bulan bersama membuat mereka merasa sudah seperti keluarga besar. Satu sama lain sudah mulai tahu sifat dan kebiasaan masing-masing.
Meski riuh dan penuh sendau-gurau, Dimas memilih menepi dari keramaian yang ada. Dia melihat satu per satu teman-temannya, mengingat banyaknya momen yang sudah tercipta di antara mereka selama di tempat itu.
Memorinya terbang ke suatu tempat yang berbeda. Dia teringat kebersamaan yang sama yang sering dilakukannya bersama Tama, Sandy, Nayla dan Alila.
Tiba-tiba dia sangat merindukan kebersamaan mereka berlima.
(Apakah kalian berempat sedang berkumpul tanpa diriku?)
Persahabatan mereka tidak selalu berjalan mulus. Seringkali masalah datang silih berganti. Selisih paham, pertentangan, amarah pun kadang harus mereka alami. Namun semua itu tak akan berlangsung lama. Kasih sayang akan selalu menyatukan mereka kembali.
Dimas masih terus melamun hingga tak menyadari kehadiran Pak Albi di sampingnya. Ketua tim itu sudah memperhatikan Dimas sedari tadi. Dia berpikir, Dimas memilih sendiri karena sedang memikirkan calon istrinya.
"Ada hal lain yang mengganggu pikiranmu? Atau hanya sedang rindu pada calon istrimu?"
Pertanyaan Pak Albi mengagetkan Dimas yang sebelumnya tidak mengetahui keberadaan ketua timnya itu di dekatnya.
"Ah, maaf Pak. Saya tidak tahu kalau Bapak ada di sini." Dimas tetap tidak ingin bercerita apapun.
"Satu minggu lagi kita selesai. Tetaplah fokus pada materi pembelajaran di sini. Pertahankan prestasimu. Saya senang kantor cabang kita bisa mendapatkan karyawan seperti dirimu."
"Terima kasih, Pak."
"Ya sudah, saya mau masuk. Kamu?" Tanya Pak Albi lagi.
"Saya di sini dulu saja, Pak. Teman-teman juga masih berada di sini semua."
"Baiklah, saya tinggal dulu." Pak Albi berjalan masuk ke dalam ruangan.
Dimas kembali memperhatikan teman-temannya yang masih asyik berkumpul dan saling mengakrabkan diri satu sama lain. Beberapa di antaranya ada yang memilih untuk berkelompok kecil dan ada juga yang duduk berdua melepaskan tawa bersama.
Tiba-tiba bayangan wajah Alila kembali hadir menyapa hati yang terus merindukannya. Dimas tersenyum saat mengingat momen terakhirnya bersama Alila malam itu. Saat mereka berdua berpelukan sangat erat di teras rumah Alila.
(Beberapa hari lagi aku pulang, Al. Tak sabar rasanya ingin memelukmu kembali.)
.
.
.
Note :
Jangan lupa untuk selalu menyemangati kami dengan Like, Komentar, Vote & Favorit ya..🙏💜🙏
Terima kasih banyak untuk semua pembaca yang telah berkenan membaca dan menikmati novel kami.
Salam cinta dari kami..
__ADS_1
Author