Menanti Cinta Untukku

Menanti Cinta Untukku
72 KITA HADAPI BERSAMA


__ADS_3

"Apa kata dokter?"


Setelah mendengarkan cerita istrinya, Dimas bertanya dengan nada serendah mungkin sambil merapikan rambut Alila yang berantakan akibat menangis tak berkesudahan.


Jari telunjuknya menepikan anak rambut di kening istrinya ke arah samping, agar wajah cantik itu terlihat jelas dalam pandangan matanya, meskipun saat ini wajah itu memerah dengan mata sembab penuh kesedihan.


(Aku tak akan membiarkanmu merasakannya sendirian, Al. Aku akan selalu bersamamu..)


Dimas meraih pinggang istrinya sangat pelan, memeluknya dengan hati-hati mengingat ucapan istrinya jika rasa sakitnya masih sering terasa.


"Kita harus datang berdua untuk mengetahui hasil pemeriksaan darahku kemarin." Alila merapatkan tubuhnya pada sang suami. Terbersit lagi ketakutan akan hasil cek laboratoriumnya nanti.


Dimas bisa merasakan ketakutan itu dari gerak tubuh istrinya. Tangan kanannya berpindah ke atas, mendekap lembut wajah Alila yang terus bersembunyi di dadanya yang bidang.


Tangan kirinya tak berhenti mengusapi punggung istrinya, dari atas ke bawah, terus berulang-ulang. Alila merasakan desiran halus yang menenangkan jiwanya. Rasa hatinya mulai membaik seiring perhatian yang terus dicurahkan Dimas kepadanya.


Memang demikianlah seharusnya sepasang suami istri. Saling menemani dan menjaga. Saling menopang dan menguatkan. Tak peduli berapa banyak aral yang akan merintangi, cinta dan kasih sayang adalah pondasi utama bangunan rumah tangga mereka. Ada keyakinan, kepercayaan, kesabaran, ketulusan dan kesetiaan yang menjadi penguat tegak dan kokohnya hubungan yang terjalin di dalamnya.


Tiada kata menyerah untuk memperjuangkan dan mempertahankan cinta yang telah terikat erat. Bukan hanya terikat oleh janji suci di hadapan sesama manusia, tetapi lebih dari itu ada tanggungjawab yang paling besar untuk terus merawat anugerah cinta dari Sang Maha Pemberi.


"Kapan kita harus datang?"


"Awal pekan besok. Tiga hari dari saat aku melakukan pemeriksaan."


"Jangan sembunyikan rasa takutmu, Al. Kita hadapi bersama semua ini. Aku mencintaimu dan aku akan selalu ada di sisimu, apapun yang terjadi!"


Alila mengerjapkan matanya dengan kuat, memeras habis sisa airmatanya agar tak lagi menetes dan melemahkannya.


"Aku takut, Dim..." Akhirnya Alila melepaskan perasaan yang bersemayam di hatinya.


Dimas menghela nafas pelan. Walaupun dirinya sama takutnya, dia tak ingin memperlihatkannya pada Alila. Karena saat ini yang istrinya butuhkan adalah kekuatan dan semangat, bukan malah melihat kesedihan dan ketakutan yang sama darinya.


"Apapun yang kamu takutkan, jangan pernah memikirkan hal yang belum terjadi. Pikirkan saja kesembuhanmu. Kuatlah dan semangatlah, demi dirimu sendiri, demi aku dan demi cinta kita, sayang..."


Alila mengangguk di dalam pelukan suaminya. Di balik semua ketakutannya, dia masih mempunyai satu harapan. Harapan untuk selalu bersama Dimas. Dia tidak mau kehilangan Dimas. Dia juga tidak ingin meninggalkan Dimas.


Mereka baru saja memulai perjalanan baru dari kisah cinta mereka. Dia tidak akan berhenti begitu saja hanya karena cobaan dan ujian yang harus mereka hadapi saat ini.


Dia harus terus bersama Dimas, melanjutkan perjalanan mereka yang masih sangat panjang ke depannya. Melanjutkan manisnya cinta yang telah mereka genggam erat bersama. Melanjutkan indahnya kebahagiaan yang sudah mereka miliki berdua.


"Dim..."


Dimas yang sedang membuka artikel tentang penyakit Alila dari ponselnya, segera menoleh ke arah istrinya. Dilihatnya Alila hanya terbaring diam di sampingnya, menatap langit-langit kamar Dimas di rumah lamanya. Sore ini mereka tengah beristirahat di atas tempat tidur. Sesuai ajakan Dimas pagi tadi, mereka akan menginap di rumah orangtua Dimas, rumah yang sebelumnya ditinggali oleh lelaki itu seorang diri.


"Ya, sayang?"


Ponsel telah dia letakkan di atas meja. Sekarang kedua matanya hanya menatap ke arah istrinya. Tangannya memeluk erat, membawa Alila bersandar ke atas dadanya, yang kata sang istri itu adalah tempat ternyamannya untuk menenangkan diri.


"Kata dokter, aku harus segera menjalani operasi untuk mengangkat penyakitku, sebelum kista itu pecah dan menyebabkan pendarahan hebat yang membahayakan diriku.."


Diciumnya puncak kepala Alila membuat wanita itu merespon dengan pelukannya yang semakin erat melingkar di atas tubuh suaminya.


Dimas memejamkan matanya, mencoba melawan ketakutannya sendiri setelah mendengar penuturan istrinya. Apalagi dia juga baru saja membaca beberapa tulisan dokter tentang sakitnya Alila.

__ADS_1


(Kamu harus sembuh, Al. Apapun yang akan terjadi setelah ini, aku tidak peduli. Aku hanya ingin kamu tetap ada di sampingku, bersamaku..)


"Apapun yang terbaik untukmu, kita akan ikuti semua perintah dokter, Al."


Alila merenggangkan pelukannya, mengangkat kepalanya dan menatap lekat kedua bola mata suaminya. Ada keraguan untuk mengatakannya tetapi harus segera dia sampaikan.


"Dokter juga melarang kita untuk berhubungan dulu, untuk menghindari kemungkinan buruk itu terjadi.."


Dimas terkejut dan langsung duduk seraya membantu Alila bangun dan duduk di sampingnya.


"Mengapa tidak kau katakan sebelumnya, Al? Bahkan semalam kita masih melakukannya karena aku tidak tahu..."


Pandangan Dimas beralih ke arah perut Alila. Perlahan tangannya mengusapi perut itu. Dia membayangkan kesakitan istrinya semalam saat mereka menyatukan raga bersama.


"Maafkan aku, Al. Jika aku tahu, aku pasti tidak akan melakukannya." Dimas merengkuh tubuh Alila ke dalam dekapannya.


(Aku tidak ingin membuatmu lebih sakit lagi, Al..)


"Aku takut mengecewakanmu jika aku mengatakannya, Dim. Maafkan aku..." Jawab Alila.


(Bahkan aku sendiri pun selalu menginginkannya, Dim..)


Mereka baru menikah selama satu bulan. Hubungan yang masih sangat hangat, bahkan panas. Mereka sedang berada pada puncak kebahagiaan, menikmati manisnya hidup berdua dan merajut indahnya hari-hari bersama.


"Sudah berapa kali kukatakan, Al. Pikirkan kesembuhanmu, bukan yang lain. Karena yang utama bagiku adalah kesembuhanmu.." Dimas mengulang ucapannya yang sudah berkali-kali dikatakannya.


"Iya, Dim. Mulai sekarang aku tidak akan menyembunyikan apapun lagi darimu."


Satu ciuman menghangatkan pipi Dimas, membuatnya tersenyum melihat istrinya yang juga tersenyum malu setelah memberinya ciuman singkat.


"Boleh aku memintanya lagi, Al?"


Tanpa jawaban Alila segera mencium pipi Dimas yang satunya. Namun kali ini Dimas tidak membiarkan wajah cantik yang sedikit pucat itu menjauh darinya. Dia menahannya dengan menyentuh tengkuk istrinya lalu menyatukan bibir mereka dengan lembut.


Ciuman hangat di sore hari, seolah menjadi penawar kesedihan yang tengah mereka rasakan. Sejenak mereka melupakan semua yang terjadi, dan hanya ingin menikmati saat-saat bersama yang penuh cinta kasih seperti ini.


Awal pekan, Dimas dan Alila memutuskan untuk tidak masuk kerja. Mereka akan menemui dokter di pagi hari, agar bisa segera mengetahui hasilnya dan memperoleh keputusan yang lebih cepat tentang tindakan yang harus mereka lakukan demi kesembuhan Alila.


Dan di sinilah mereka berdua sekarang. Di depan ruangan dokter yang telah dikunjungi Alila sebelumnya. Mereka menunggu giliran untuk pemeriksaan.


"Aku takut, Dim. Sangat takut..."


Kedua tangan Alila memeluk erat lengan kiri Dimas di sampingnya dan menyandarkan kepalanya di bahu sang suami. Matanya terpejam mencoba untuk menghalau kecemasan dan kemungkinan buruk yang melintasi pikirannya.


Dimas menoleh ke samping, menatap istrinya yang terlihat tidak tenang dan sebentar-sebentar menghela nafas sembari mempererat pelukan di tangannya.


"Aku di sini, Al. Selalu bersamamu."


Dimas mencoba menenangkan dirinya sendiri yang sebenarnya begitu mengkhawatirkan kondisi istrinya. Setelah merasa lebih tenang, dia menyentuh kepala Alila dengan tangan kanannya. Dielus-elus dengan sayangnya dan dikecupinya berulang kali.


Di dalam hati, terus dilantunkannya doa-doa panjang, memohon kesembuhan dan kesehatan untuk istrinya, wanita yang sangat dicintainya. Tak lupa Dimas pun meminta kekuatan untuk dirinya sendiri agar dia selalu bisa menjaga dan melindungi Alila serta mendampinginya dengan penuh kasih dan kesabaran.


Seorang perawat keluar mengantarkan pasien sebelumnya, lalu memanggil nama Alila. Dimas segera membantu Alila berdiri pelan-pelan kemudian mengenggam tangannya dan berjalan bersama memasuki ruang pemeriksaan.

__ADS_1


Di dalam, mereka disambut ramah oleh dokter yang sebelumnya telah bertemu dengan Alila. Perempuan berusia paruh baya itu mempersilahkan suami-istri tersebut duduk di hadapannya.


Sebelum menjelaskan tentang hasil cek darah Alila, dokter meminta ijin untuk melakukan pemeriksaan ultrasonografi dalam, karena sebelumnya beliau hanya melakukan pemeriksaan di luar.


Setelah lima belas menit melakukan pemeriksaan ultrasonografi dalam, Alila yang selalu didampingi Dimas kembali duduk bersebelahan menunggu dokter yang masih menuliskan hasil pemeriksaannya pada berkas kesehatan Alila.


Raut serius tampak di wajah sang dokter. Sesekali beliau membaca kembali hasil cek darah yang dipegangnya, lalu kembali menuliskan beberapa diagnosa baru.


"Begini Bapak dan Ibu.."


Dimas dan Alila mulai mendengarkan dengan seksama apa yang akan disampaikan oleh dokter tersebut.


"Sesuai dengan diagnosa awal saya kemarin, dan ditambah dengan hasil cek darah Ibu Alila juga pemeriksaan dalam tadi, memang benar ada kista di indung telur sebelah kiri. Dan sayangnya, kista tersebut sudah sangat besar, lebih dari sepuluh sentimeter dan sudah terjadi perlekatan di beberapa jaringan sekitarnya. Jadi....."


Diamnya sang dokter memacu detak jantung Dimas dan Alila semakin keras dan cepat disertai nafas yang mulai tertahan pelan-pelan.


Dimas terus menyatukan tangan mereka dengan erat, saling mengalirkan kekuatan dan menenangkan satu sama lain.


"Demi keselamatan Ibu ke depannya, kami harus segera melakukan operasi untuk mengangkat kista yang ada berikut indung telur sebelah kiri..."


"Apa, Dok? Indung telur saya harus diangkat..??" Alila melebarkan matanya tak percaya, begitu mendengar kata-kata dokter.


"Iya, Ibu. Karena sudah ada perlekatan yang merusak indung telur. Jika dibiarkan tentu akan semakin membahayakan nantinya."


Luruh sudah airmata Alila, mengalir tak terbendung setelah mendengar vonis dokter untuk mengangkat satu indung telurnya. Kedua telapak tangannya menyatu menutupi wajahnya yang telah banjir airmata.


Sama halnya dengan kesedihan yang dirasakan sang istri, Dimas pun tak kuasa menghentikan tetesan airmatanya. Meski dia sudah menahannya, namun saat melihat tangisan istrinya yang semakin menjadi, butiran-butiran bening itu terus saja mengalir membasahi kedua pipinya.


Dia merengkuh tubuh Alila, mendekapnya sangat erat, menyatukan seluruh kesedihan dan ketakutan mereka dalam satu tangisan yang sama pilunya.


Dokter dan perawat membiarkan pasangan suami-istri itu menangis berdua. Memberikan waktu pada mereka untuk menumpahkan semua kesedihannya dalam tangisan bersama, setidaknya agar mereka merasa lebih tenang kemudian.


Setelah keduanya lebih tenang dan bisa mengendalikan perasaan, dokter melanjutkan kembali penjelasannya yang belum selesai.


"Masih ada satu hal lagi yang harus saya sampaikan kepada Bapak dan Ibu..." Ucap sang dokter dengan tatapan mata ke arah keduanya bergantian.


Dimas dan Alila yang masih terus berpelukan dengan kepala Alila yang rebah di bahunya, sama-sama mengalihkan pandangan mereka ke depan, menunggu untuk mendengarkan lagi apa yang akan disampaikan oleh sang dokter.


"Indung telur sebelah kanan dalam kondisi yang baik. Rahimnya juga sangat sehat. Dan...."


Dimas dan Alila menunggu lagi karena dokter memberikan penjelasannya satu per satu dengan tutur kata yang pelan dan hati-hati.


"Ibu Alila hamil..."


🙏Ucapan Terima Kasih🙏


Terima kasih banyak atas dukungan dan doa dari para reader semua, akhirnya kedua novel kami, Terima Kasih Cinta Sejati dan Menanti Cinta Untukku telah berhasil menjadi novel kontrak karya di aplikasi Noveltoon/Mangatoon.


Semoga ke depannya, kami bisa menyajikan cerita yang lebih baik lagi dalam segala hal, demi kepuasan para reader tercinta.


Jangan lupa untuk selalu menyemangati kami  dengan Like, Komentar, Bintang 5, Vote & Favorit.


Terima kasih banyak untuk semua pembaca yang telah berkenan membaca dan menikmati novel kami.

__ADS_1


Salam cinta dari kami.


💜Author💜


__ADS_2