
Dua minggu berlalu. Orangtua Alila mengundang Dimas untuk makan malam bersama di rumah. Tujuan mereka adalah untuk memastikan kesungguhan Dimas dalam menjalin hubungan dengan Alila.
Jam tujuh malam, Dimas sudah sampai di teras rumah Alila dan disambut dengan senyuman oleh kekasihnya.
"Ayo masuk, Dim. Papa dan mama sudah menunggu di ruang makan."
Alila hendak mendahului kembali ke dalam, tapi tangannya ditahan oleh Dimas.
"Ada apa?"
Alila menatap Dimas yang masih berdiri tegap di tempatnya. Lelaki itu mendekatinya dengan wajah yang terlihat tegang.
"Aku ingin memelukmu sebentar, Al."
Hati Alila mulai bergetar mendengar permintaan Dimas. Dia tahu jika Dimas gugup karena akan bertemu dengan orangtuanya secara resmi.
Sejujurnya dia juga gugup karena selama ini papa dan mamanya tidak pernah menanyakan apapun tentang kedekatan atau hubungan di antara mereka. Dan tiba-tiba saja mereka meminta Dimas untuk datang ke rumah.
Alila menganggukkan kepalanya dan Dimas segera menariknya ke dalam pelukannya. Dia memeluk Alila dengan sangat erat hingga Alila pun membalas pelukan itu dan semakin merapatkan tubuhnya di dalam dekapan Dimas. Untuk beberapa saat mereka terhanyut dalam pelukan yang menghangatkan itu.
"Aku mencintaimu, Al."
Hati Dimas berdebar tak menentu, terasa sangat sesak di dadanya, merasa takut akan sesuatu yang dia sendiri tidak tahu.
"Aku juga mencintaimu, Dim."
Alila melepaskan pelukannya. Dia memegang kedua tangan Dimas. Matanya menatap mata kekasihnya dengan hangat dan lembut.
"Ada aku di sampingmu, Dim. Kita hadapi semua bersama-sama."
Dimas mencium kedua tangan Alila bergantian. Alila tersenyum karenanya.
"Terima kasih, Al."
"Kita masuk sekarang?"
Dimas menganggukkan kepalanya. Selanjutnya, dengan satu tangan yang masih menyatu, Alila mengajak Dimas masuk dan langsung menuju ke meja makan.
Di meja makan, papa, mama dan Alano sudah duduk di sana. Dimas segera menghampiri kedua orangtua Alila untuk memberikan salam.
"Selamat malam, Om, Tante."
Dimas mencium tangan mereka bergantian. Menunggu balasan dari mereka sebelum duduk.
"Ya, selamat malam, Dimas. Silakan duduk."
Papa menjawab dan mempersilakan Dimas duduk. Dimas menuju kursi kosong di sebelah Alila dan segera duduk dengan perasaan yang masih tidak tenang.
__ADS_1
"Kita makan malam dulu. Baru nanti kita berbicara di depan."
Mama Alila berdiri untuk melayani papanya. Alila pun mengikuti berdiri dan melayani Dimas. Sementara Alano menunggu semua selesai baru kemudian dia mengambil sendiri makanannya.
Malam ini Alano sengaja tidak banyak bicara karena dia tahu orangtuanya akan membicarakan hal yang penting dengan Alila dan Dimas. Dia merasa cukup menjadi pendengar yang baik saja.
Lima belas menit kemudian semua telah menyelesaikan makan malamnya. Papa mengajak mereka pindah ke ruang tamu.
Mama duduk mendampingi papa Alila. Sedangkan Dimas dan Alila duduk bersebelahan di depan orangtua Alila. Alano sebagai pihak pendukung memilih duduk sendiri di kursi paling ujung untuk menyimak.
"Baiklah, Alila dan Dimas. Papa tidak akan berbicara banyak di sini. Kami sudah tahu bagaimana kedekatan kalian selama ini. Jadi papa hanya ingin tahu dan mendengar langsung dari kalian berdua."
Dimas dan Alila mengangguk bersamaan.
"Dimas, papa lihat selama ini kamu dan Alila sangat dekat. Bisa kamu beritahukan pada kami, bagaimana hubungan kalian yang sebenarnya?"
Papa, mama dan Alano sudah siap mendengarkan. Dimas dan Alila saling menatap untuk sesaat. Lalu Dimas kembali menghadap ke depan.
"Dari awal kuliah saya dan Alila sudah bersahabat dan dekat satu sama lain, Om, Tante. Dan sekarang hubungan ini ingin kami jalani lebih serius lagi untuk ke depannya. Saya mencintai Alila."
Kalimat itu meluncur begitu saja dari mulut Dimas, tapi telah berhasil meloloskan seluruh rasa takut yang sebelumnya menguasai hatinya. Kini dia merasa lebih tenang setelah mengutarakan kebenaran perasaannya di hadapan orangtua Alila.
Alila yang mendengar kejujuran Dimas pun merasa sangat bahagia. Hatinya yang semula turut merasakan ketakutan kini sudah berganti kelegaan dan ketenangan seperti halnya Dimas.
Papa Alila tersenyum dan menghela nafas lega mendengar pengakuan Dimas. Demikian juga mamanya, beliau tersenyum menatap Alila dan Dimas bergantian.
"Saya sangat mencintai Alila, Om, Tante. Saya akan berusaha semampu saya untuk selalu membahagiakan Alila. Saya ingin menikahi Alila."
Hati Dimas dan Alila sama-sama berdesir hebat dengan perasaan indah yang membuncah. Keduanya merasakan cinta yang sama dan kini pun merasakan keyakinan yang sama untuk melanjutkan langkah mereka ke depannya dengan ikatan yang lebih erat dan kuat.
Tatapan mata papa Alila beralih kepada putri cantik kesayangannya. Sesaat beliau larut dalam perasaannya, melihat gadis kecilnya yang dulu selalu ditimang, disayang dan dimanja kini telah tumbuh dewasa dan memiliki perasaan untuk seorang lelaki lain.
"Alila, katakan pada kami bagaimana perasaanmu pada Dimas?"
"Alila mencintai Dimas. Alila bahagia bersamanya, Pa, Ma."
Papa terdiam. Berusaha menenangkan hatinya yang kini terharu dan bahagia. Melihat kesungguhan yang terucap dari jawaban Alila dan tersirat dalam sorot matanya, papa percaya bahwa putri kesayangannya itu benar-benar mencintai lelaki di sebelahnya.
"Dimas, apakah orangtua kamu sudah mengetahui tentang hubungan kalian ini?"
"Iya, Om, Tante. Saya sudah memperkenalkan Alila kepada orangtua dan keluarga saya. Mereka menerima Alila dan merestui hubungan kami."
Sesaat papa dan mama Alila saling berpandangan. Mereka merasakan hal yang sama dan telah memutuskan sesuatu yang sama sebelumnya.
"Papa dan Mama percaya pada kalian. Kami merestui hubungan kalian."
Akhirnya semua telah menemukan jawabannya. Kebahagiaan tak hanya terlihat dari wajah kedua orangtua Alila, tapi juga terpancar jelas dari wajah Dimas dan Alila. Demikian juga Alano yang sedari awal hanya terdiam, dia ikut tersenyum bahagia melihat semuanya.
__ADS_1
Setelah pembicaraan selesai, papa dan mama kembali ke dalam untuk beristirahat. Sedangkan Alano langsung pamit keluar untuk menghabiskan malam minggu bersama teman-temannya.
Hanya ada Alila dan Dimas di ruang tamu. Mereka tetap duduk bersebelahan dan saling berpegangan tangan. Mata mereka beradu pandang dan memunculkan senyum bahagia yang sama di bibir keduanya.
"Terima kasih, Dim"
"Untuk apa?"
"Untuk kesungguhanmu dan kejujuran perasaanmu, yang telah kamu ungkapkan di hadapan orangtuaku juga teman-teman kita kemarin."
"Kamu bahagia, Al?"
"Aku sangat bahagia, Dim. Penantianku yang sekian lama kini berakhir seindah ini. Terkadang aku masih merasa tidak percaya dan mengira semua ini hanya khayalanku saja."
Dimas terkejut dengan jawaban. Ada yang terdengar aneh dari kata-kata Alila tadi. Dia merasa ada sesuatu yang masih disembunyikan oleh kekasihnya.
"Sebentar, Al. Kamu tadi mengatakan tentang penantian yang sekian lama? Apa maksudnya? Apakah ada yang belum aku ketahui darimu, Al?"
Mata Dimas menatap tajam ke arah Alila. Dia butuh penjelasan darinya. Sementara Alila hanya tersenyum membalas tatapan mata kekasihnya. Dia merasa sudah saatnya Dimas tahu semua kebenaran tentang perasaannya.
"Sebenarnya tidak ada yang aku sembunyikan, Dim. Aku hanya tidak pernah mengatakannya, karena memang tidak pernah ada yang menanyakannya."
Dimas semakin bingung dengan jawaban Alila yang hanya berputar-putar tidak jelas, membuatnya semakin penasaran.
"Katakan padaku, Al. Ada apa sebenarnya?"
"Aku mencintaimu, Dim."
"Iya, aku tahu itu. Lalu?"
"Aku mencintaimu sejak awal pertemuan kita."
.
.
.
Note :
Jangan lupa untuk selalu menyemangati kami dengan Like, Komentar, Bintang 5, Vote & Favorit ya..🙏💜🙏
Terima kasih banyak untuk semua pembaca yang telah berkenan membaca dan menikmati novel kami.
Salam cinta dari kami..
Author
__ADS_1
.