
Lima menit menjelang pergantian hari. Dimas sudah memegang ponselnya berjam-jam yang lalu. Sudah dua cangkir kopi dengan sedikit gula habis tak bersisa, untuk menangkal rasa kantuk yang sebenarnya sudah mendera matanya sejak beberapa waktu yang lalu.
Tidak seperti tahun-tahun sebelumnya yang mengandalkan dering alarm untuk membangunkannya, kali ini Dimas tidak ingin tidur sebelum melakukannya. Tekadnya sudah kuat dan bulat, dia akan menunggu sampai hari berganti.
Dan akhirnya.., lima, empat, tiga, dua, satu...!!! Waktu menunjukkan tepat tengah malam, di mana haripun telah berganti. Dimas segera menekan tombol panggilan yang sudah dia siapkan di layar utama ponselnya sejak tadi. Panggilan tersambung...
Di waktu yang bersamaan, di dalam kamarnya Alila terbangun dari tidurnya karena mendengar dering panggilan khusus dari ponsel yang selalu digenggamnya. Dia tidak sengaja terlelap beberapa saat ketika menunggu waktu tengah malam tiba.
Seulas senyum manis muncul di bibirnya saat membaca nama kontak si pemanggil. Di awal hari yang masih sangat dini, hatinya telah mulai berbunga-bunga.
(Hadiah spesialku telah datang...)
Alila segera menggeser tombol hijau ke kanan sehingga panggilan pun mulai tersambung.
"Ya, Dim..." Dia menggigit bibirnya menahan senyumnya yang kian merekah.
"Selamat ulang tahun, sayang..." Dimas berucap dari sana dengan wajah penuh senyuman.
Alila terkejut mendengar panggilan sayang dari Dimas. Aaah.., ucapan selamat untuknya kali ini tidak hanya spesial seperti tahun-tahun sebelumnya. Namun sangat istimewa dan terdengar sangat indah di telinganya.
"Terima kasih, Dim." Balas Alila.
"Hmm.., hanya itu saja?"
"Apa, Dim?" Alila malu untuk mengakuinya.
"Hanya terima kasih seperti biasanya saja?"
Alila ragu untuk mengulang jawabannya. Dia tahu apa yang dimaksud oleh Dimas dan apa yang diinginkannya. Beberapa saat dirinya terdiam, sementara Dimas pun hanya menunggu Alila bersuara lagi.
"Terima kasih, sayang." Akhirnya dia menuruti keinginan Dimas.
Di kamarnya, Dimas tersenyum semakin lebar mendengar ucapan Alila. Dia bisa membayangkan rona wajah Alila yang memerah karena mengatakan itu padanya.
(Wajahmu pasti sangat menggemaskan saat ini, Al.)
"Aku tak sabar lagi untuk bertemu denganmu, Al."
"Pastikan dirimu tidak gugup dan mengucapkannya dengan lancar, Dim. Jangan mengecewakan aku."
Maksud hati Alila hanya ingin menggodanya untuk mengurangi ketegangan Dimas menghadapi acara besar mereka hari ini. Namun ternyata Dimas menanggapinya dengan serius.
"Pasti, Al. Akan kubuktikan padamu nanti sore. Tapi setelah itu, kamu harus memberiku hadiah."
"Hadiah? Apa?"
"Aku akan memintanya nanti." Dimas tersenyum simpul penuh rencana.
"Dim, sudah semakin larut. Kamu harus beristirahat." Alila mengingatkan.
Dimas melihat jam dinding di kamarnya. Ternyata sudah setengah jam mereka berbicara.
"Ya, Al. Kita sama-sama tidur setelah ini. Hari ini akan menjadi hari yang panjang untuk kita."
"Iya, Dim. Selamat tidur. Aku mencintaimu."
Dimas kembali tersenyum. Dia bahagia mendengar Alila mengucapkannya lagi.
"Aku juga mencintaimu, Al. Selamat beristirahat, Putri Tidurku."
Alila ikut tersenyum seakan membalas senyuman Dimas di seberang sana. Setelah panggilan tersebut usai, dia segera memejamkan mata dan mulai terlelap kembali.
.
.
.
Sore hari telah tiba. Waktu yang dinanti telah datang. Saatnya memulai satu per satu agenda yang sudah tersusun rapi sesuai arahan dari pihak penyelenggara.
Alila dan seluruh keluarganya telah siap di dalam gedung. Sementara Dimas dan keluarganya baru saja tiba dan mulai memasuki tempat acara.
__ADS_1
Seluruh pihak yang terlibat dalam upacara akad nikah sudah siap di tempatnya masing-masing. Papa Dewa didampingi oleh penghulu, berhadapan dengan Dimas yang masih duduk sendiri dengan kursi kosong di sebelahnya. Sementara kedua orang saksi juga duduk berhadapan di samping kiri dan kanan meja akad.
Hanya kedua keluarga besar dan ketiga sahabat Dimas dan Alila yang hadir dalam acara akad nikah. Sehingga suasana terlihat tenang dan begitu khidmat.
Alila berada di sebuah ruangan khusus di belakang pelaminan. Dia duduk ditemani oleh Nayla dan Indira. Telinganya dengan seksama mendengarkan apa yang akan diucapkan oleh Papa Dewa dan Dimas di tempat acara sana.
Setelah penghulu menyampaikan pendahuluan dan beberapa penjelasan, tibalah saat yang paling ditunggu.
Papa Dewa dan Dimas sudah saling berjabat tangan. Dan setelah penghulu memberikan waktunya, mereka segera melakukannya.
"Dimas Akbar Yudhistira bin Yudhistira Pratama, saya nikahkan dan kawinkan engkau dengan anak kandung saya Alila Luna Amalia binti Dewa Prasetya dengan mas kawin seperangkat alat sholat dibayar tunai!"
Di akhir ucapannya Papa Dewa mempererat jabatan tangannya dan langsung dijawab dengan lantang oleh Dimas.
"Saya terima nikah dan kawinnya Alila Luna Amalia binti Dewa Prasetya dengan mas kawin seperangkat alat sholat dibayar tunai!"
"Bagaimana para saksi?"
Penghulu bertanya pada kedua orang saksi yang segera dijawab bergantian oleh mereka.
"Sah!"
Semua yang mengikuti prosesi tersebut bernafas lega dan mengucapkan syukur yang tiada henti dan terus menggema di seluruh ruangan.
Di tempat yang masih terpisah, Dimas dan Alila sama-sama meneteskan air mata bahagia mereka. Penantian panjang mereka usai sudah. Cinta tulus di antara mereka kini telah dipersatukan dalam ikrar suci yang mengikat keduanya.
Alila keluar menuju tempat akad masih didampingi oleh Nayla dan Indira. Pandangannya terus mencari keberadaan lelaki yang beberapa saat yang lalu telah resmi menjadi suaminya.
Dan akhirnya mata indah itu telah menemukan sosok yang dicarinya, yang seketika berdiri tegap menanti kedatangannya dengan tatapan mata penuh cinta dan kerinduan.
Mereka telah berdiri berhadapan saling menahan haru yang memenuhi seluruh kalbu. Dada mereka semakin berdebar-debar saat kedua pasang mata itu saling mengunci pandangan satu sama lain.
Pembawa acara memandu mereka untuk melakukan ritual pertama sebagai suami-istri.
Alila meraih tangan kanan Dimas dan dengan segenap perasaan dia pun mencium punggung tangan suaminya dengan lembut.
(Terima kasih, Dim. Mulai sekarang aku akan mengabdikan diriku untuk mendampingimu selamanya. Aku mencintaimu, suamiku.)
Tak ingin menunggu lagi, dengan kedua tangannya Dimas segera menarik pelan kepala Alila dan mendekatkan wajah mereka, hingga satu ciuman di kening istrinya dia berikan dengan sepenuh hati.
Setelah itu, mereka saling menyematkan cincin di jari manis tangan kanan masing-masing. Dimas sengaja memilih cincin yang bukan berbahan emas karena dia juga ingin mengenakan cincin pernikahan yang sama sebagai wujud cintanya yang begitu dalam kepada Alila.
Acara berlanjut dengan beberapa hal yg masih harus diselesaikan dengan penghulu selaku petugas pernikahan yang akan menyerahkan buku nikah dan memberikan sedikit nasehat pernikahan untuk pasangan yang baru saja menyandang status baru sebagai suami-istri.
.
.
.
Ritual demi ritual telah terlaksana dengan lancar. Saatnya seluruh keluarga dan sahabat melakukan pengambilan foto bersama pengantin baru yang telah siap berdiri di atas pelaminan.
"Dim, tersenyumlah. Jangan mengecewakan keluarga kita dan juga tamu undangan kita nanti."
Selama acara foto bersama, Alila tak henti mengingatkan suaminya agar menampakkan senyum bahagia di wajahnya.
"Aku tidak terbiasa, Al. Tapi demi kamu dan demi hari ini, aku akan melakukannya."
Tanpa aba-aba dari fotografer, mereka berdua terus bersikap mesra dan menunjukkan perhatian satu sama lain tanpa peduli sekitarnya. Mereka hanya ingin melepaskan kerinduan setelah satu minggu tidak bertemu. Dan sekarang mereka sama-sama tak ingin berjarak sama sekali. Kedua tangan mereka selalu bergenggaman dan kadang saling memeluk, dengan tatapan mata yang penuh kebahagiaan.
Sikap dan perhatian mereka satu sama lain yang begitu hangat dan sangat manis, justru menguntungkan sang fotografer karena dia dengan cepat bisa mendapatkan hasil yang alami dan maksimal tanpa harus bekerja keras mengarahkan kedua obyek fotonya.
"Bisakah kita pinjam tangan kalian sebentar untuk memberikan ucapan selamat?"
Sandy yang sudah menghampiri Dimas dan Alila bersama Nayla dan Tama, mulai menggoda kedua sahabatnya, membuat mereka segera melepaskan genggaman dan menyambut uluran tangan para sahabatnya.
Mereka saling bersalaman dan berpelukan. Meskipun ada rasa tak rela saat Alila dipeluk sekilas oleh Sandy dan terutama Tama, tapi hari ini Dimas mengesampingkan ego dan kecemburuannya demi kebersamaan dengan ketiga sahabatnya.
"Selamat untuk kalian. Tak perlu disebutkan doa dari kami karena kita akan terus saling mendoakan yang terbaik satu sama lain."
Tama mewakili mereka bertiga tersenyum tulus menatap Dimas dan Alila bergantian. Setelah puas bercengkerama di atas pelaminan, mereka segera mengambil posisi untuk pengambilan foto bersama. Lima sahabat yang saling menyayangi dan akan selalu bersama apapun yang terjadi.
__ADS_1
.
.
.
Acara akad nikah usai, berlanjut dengan pesta resepsi di tempat yang sama. Dimas dan Alila sudah mengganti pakaian akad mereka dengan busana resepsi yang sangat serasi dan menawan, mengundang decak kagum para tamu undangan.
Ada hal tak terduga yang ditunjukkan oleh Tama saat pesta resepsi. Setelah foto bersama ketika akad nikah tadi, dia pamit pergi sebentar untuk menjemput seseorang. Dan sekarang, Dimas dan Alila dibuat terkejut karena ternyata Tama datang kembali bersama dengan Nadia, sahabat Alila.
"Kenalkan, ini Dara." Tama sengaja memancing reaksi keduanya, saat dia membawa pasangannya ke atas pelaminan untuk berfoto dalam suasana resepsi.
"Dara? Namanya Nadia, Tam..." Kata Alila bingung.
"Bukankah namanya Dara Nadia Ayunita? Dan dia yang memintaku memanggilnya Dara. Bukan begitu, Ra?"
Tama menoleh ke arah Dara yang berdiri di sebelahnya. Dara tersenyum malu dan menganggukkan kepala.
"Iya, Al. Nadia adalah panggilanku di sekolah, kuliah dan tempat kerja. Tapi di luar itu, keluarga dan teman lainnya memanggilku Dara." Nadia mencoba menjelaskan.
Alila dan Dimas berpandangan lalu kembali menatap Tama dan Nadia bergantian.
"Jadi....., kalian berdua...??"
Alila mulai penasaran karena selama ini di kantor Nadia tidak pernah bercerita sedikit pun tentang Tama.
"Kami baru memulai hubungan yang lebih dekat, Al. Doakan saja, semoga kami berjodoh."
Tama merangkul bahu Dara dan tersenyum menatap wanita itu dengan tatapan yang berbeda, membuat Alila tersenyum menyadari adanya sesuatu yang tengah merekah indah di hati mereka.
"Doa yang terbaik untuk kalian."
Dimas memeluk Tama diikuti Alila yang berpelukan dengan Nadia.
.
.
.
Di tengah resepsi yang masih berlangsung, pembawa acara naik ke pelaminan dan memberikan sebuah informasi kepada para tamu undangan, bahwa hari ini adalah hari ulang tahun Alila. Dan ada sebuah hadiah khusus yang akan diberikan oleh sang suami untuk istri tercintanya.
"Dim, ada apa ini?"
Alila menatap Dimas yang hanya tersenyum membalas tatapan mata istrinya yang masih tak mengerti. Dia mengusap lembut kepala Alila.
"Hadiah dari suamimu. Duduk dan nikmatilah di sampingku."
.
.
.
🙏Ucapan Terima Kasih🙏
Terima kasih banyak atas dukungan dan doa dari para reader semua, akhirnya kedua novel kami, Terima Kasih Cinta Sejati dan Menanti Cinta Untukku telah lulus kontrak dan berhasil menjadi novel kontrak karya di aplikasi Noveltoon/Mangatoon.
Semoga ke depannya, kami bisa menyajikan cerita yang lebih baik lagi dalam segala hal, demi kepuasan para reader tercinta.
.
.
.
Jangan lupa untuk selalu menyemangati kami dengan Like, Komentar, Bintang 5, Vote & Favorit.
Terima kasih banyak untuk semua pembaca yang telah berkenan membaca dan menikmati novel kami.
Salam cinta dari kami.
__ADS_1
💜Author💜
.