
Satu minggu berlalu setelah pernikahan Dimas dan Alila. Sepulangnya dari bulan madu, mereka hanya menghabiskan sisa waktu liburan di rumah saja. Melakukan semuanya berdua, membiasakan hidup bersama dan saling melengkapi satu sama lain.
Dan pagi ini, mereka akan mulai bekerja kembali. Memulai rutinitas harian mereka dengan status baru sebagai pasangan suami istri.
Alila sudah sibuk di dapur, menyiapkan sarapan untuk dirinya dan suami tercinta. Dia masih mengenakan pakaian rumahnya.
"Sarapan kesukaanku, Al?" Alila mengangguk sambil terus mengaduk masakannya.
Dimas menghampiri istrinya dengan pakaian kerja yang sudah rapi. Diciumnya kepala Alila lalu dia ikut membantu membawa minuman yang sudah dibuat istrinya ke meja makan.
Tak lama kemudian, semuanya telah matang dan dibawa Alila ke meja makan. Dia mengambil satu piring lalu mengambil nasi goreng untuk mereka berdua. Dimas mengambil telur mata sapi dan kerupuk udang kemudian diletakkannya di atas piring yang sama.
"Haaa..." Dimas telah siap membuka mulutnya untuk menerima suapan dari istrinya.
Namun ternyata Alila memasukkannya ke dalam mulutnya sendiri membuat Dimas gemas dan mengacak rambut Alila sembari menerima suapan yang sudah disiapkan lagi untuknya.
Mereka menghabiskan sarapan dengan saling menyuapi hingga semua yang dihidangkan Alila habis tanpa sisa lalu menutupnya dengan meminum teh hangat dari gelas yang sama.
"Kamu ke atas saja, Al. Bersiaplah. Biar aku yang membersihkan semua ini."
Alila mengangguk dan berdiri. Sebelum melangkahkan kakinya, dia memeluk erat suaminya lalu mencium kedua pipinya.
"Terima kasih, sayang. Aku mencintaimu."
Dimas tak sempat menjawab karena Alila sudah berjalan cepat menuju tangga dan menaikinya tanpa menoleh lagi ke arahnya. Namun hatinya sangat bahagia mendapatkan kejutan pagi yang menyenangkan dari istri kesayangannya.
(Teruslah seperti ini kepadaku, Al. Manja dan menggemaskan..)
.
.
.
Di halaman parkir gedung Pandawa Grup, Dimas mematikan mesin mobilnya lalu berpaling ke samping, memperhatikan Alila yang tengah merapikan rambutnya.
Dia akan sangat merindukan wanita di sisinya itu. Wanita yang selama satu minggu ini telah menghangatkan tidurnya, menemani malamnya dan menyempurnakan paginya saat dirinya membuka mata.
Hidupnya terasa lengkap dengan hadirnya seorang pendamping yang bersanding dengannya. Kebahagiaannya semakin sempurna setiap kali menatap wajah cantik yang selalu menggetarkan perasaannya. Wajah menawan yang sudah berhasil mencuri hatinya dan mengalihkan dunianya hingga hanya bisa tertuju pada satu nama saja, yaitu Alila istri tercintanya.
"Aku akan sangat merindukanmu, Al."
Tiba-tiba Dimas sudah memeluk erat istrinya, seakan enggan untuk berpisah sekalipun hanya beberapa jam saja. Matanya terpejam di balik bahu Alila yang terkejut dengan pelukan mendadak dari suaminya.
"Aku juga sama, Dim. Tapi kita akan bertemu lagi siang nanti. Sekarang saatnya kita menjalankan tanggung jawab kita di kantor. Sama-sama bekerja demi masa depan dan kebahagiaan keluarga kecil kita."
Alila mencoba menenangkan suaminya walau sebenarnya hatinya juga berat untuk berpisah dari Dimas. Tak ingin turut larut, dia segera melepaskan pelukannya.
"Ayo, antarkan aku ke lobby sekarang. Nanti kamu bisa terlambat sampai di kantor." Satu ciuman hangat dilabuhkannya di kening sang suami.
"Berikan aku semangat dulu." Tanpa menunggu, Dimas segera mencium bibir Alila dengan mata tertutup diikuti oleh istrinya yang juga memejamkan mata.
Alila membalas ciuman itu sama inginnya. Dia tidak peduli lagi dengan penampilannya yang sudah rapi dan sekarang pasti sudah kembali tak karuan.
Setelah puas bermain bibir dan sedikit sentuhan tangan di beberapa bagian tubuh pasangannya, mereka menyudahi ciuman yang cukup panjang itu.
__ADS_1
"Maaf, sayang. Aku jadi merusak riasan wajahmu." Dimas tersenyum melihat wajah istrinya yang berubah seperti buah tomat segar.
Dia mengambil selembar tisu di bagian depan mobil lalu membersihkan seputar bibir Alila yang masih basah dan kehilangan warna lipstiknya. Setelah itu dia juga membersihkan bibirnya sendiri yang telah dipenuhi bekas lipstik dari bibir istrinya.
"Sepertinya setiap pagi kamu harus merias wajahmu dua kali, Al. Karena aku akan selalu meminta semangat kerjaku seperti tadi."
Dimas memperhatikan istrinya yang sudah sibuk merapikan kembali riasan wajahnya.
"Kamu akan membuat bedak dan lipstikku cepat habis, Dim." Jawab Alila saat memasukkan bedak dan lipstrik ke dalam tas kerjanya sambil terus tersenyum.
"Aku akan membelikan yang banyak untukmu, Al. Aku pasti akan sering memintanya di manapun kita berada. Dan kamu tidak boleh menolaknya."
Kata-kata Dimas membuat Alila geleng-geleng kepala.
"Dasar suami nakal! Kamu sangat nakal sekarang..."
"Aku hanya nakal denganmu, Al. Dengan istriku sendiri." Dimas memberikan ciuman terakhir di kening Alila lalu mengajaknya turun dari mobil.
Bergandengan tangan mereka meninggalkan halaman dan berjalan menuju lobby gedung seperti biasanya. Di dalam lobby mereka disambut oleh dua orang yang sejak tadi sudah melihat kedatangan mobil Dimas.
"Sepertinya ada adegan dewasa dulu di dalam mobil..."
Tama menyambut kedatangan suami istri itu dengan sindiran yang tepat sasaran. Dara Nadia yang berdiri di sampingnya hanya tertawa kecil memperhatikan tingkah Alila yang tampak menutupi rasa malunya.
"Sudah lama, Tam?" Tanya Dimas mengalihkan pembicaraan.
"Cukup lama sampai kami harus menunggu lebih dari sepuluh menit hingga akhirnya kalian turun dari mobil. Aku pikir kalian akan berubah pikiran dan kembali pulang untuk melanjutkan pekerjaan rumah yang belum tuntas."
Tama masih terus menggoda kedua sahabatnya meskipun sang kekasih menyikut lengannya agar menghentikan serangan kata-katanya.
"Ya, Dim. Kamu hati-hati di jalan."
Alila meraih tangan kanan Dimas untuk diciumnya, membuat suaminya segera membalas mencium keningnya dengan singkat.
Tama tersenyum melihat ritual baru mereka.
"Ehem.., ehemm...!" Dara Nadia pura-pura berdehem dengan suara lebih keras.
"Apa kau juga menginginkannya, hmm..?" Tanya Tama yang sudah memalingkan wajahnya menatap kekasihnya.
"Tidak, tidak..! Tidak sekarang. Takutnya mereka akan kalah mesra dari kita." Balas Dara Nadia tak mau kalah dan Tama pun tertawa mendengarnya. Mereka memang pasangan yang kompak dan seru.
"Ayo, Nad." Alila menarik lengan sahabatnya setelah sebelumnya bersalaman dengan Tama untuk pamit mendahului.
Dimas dan Tama tak lepas menatap masing-masing wanitanya hingga mereka menghilang masuk ke dalam lift.
"Kamu mau kembali ke kantor atau masih di sini, Tam?" Tanya Dimas.
"Aku masih menunggu direktur pemasaran datang. Ada urusan pekerjaan yang harus aku selesaikan." Jawab Tama.
"Baiklah. Kalau begitu aku tinggal dulu." Dimas menyalami dan memeluk Tama.
"Kapan-kapan kita bisa makan siang berempat, Dim. Sepertinya kita akan sering bertemu di sini."
Dimas mengangguk lalu berbalik melangkah keluar sementara Tama juga berjalan masuk menuju ke bagian lift khusus petinggi perusahaan.
__ADS_1
Di ruang kerja, Alila segera membersihkan dan merapikan semua berkas yang ada di atas meja kerjanya. Dia segera menyalakan perangkat utama dan membuka file pekerjaannya.
"Al, boleh tidak aku menanyakan sesuatu tentang Tama?"
Alila menoleh ke samping, di mana meja Nadia berada. Sahabatnya itu terlihat begitu antusias ingin mengetahui banyak hal tentang Tama, karena dia tahu Alila dan kekasihnya sudah lama bersahabat.
"Sepertinya kalian sudah sangat dekat dan saling mengenal pribadi masing-masing. Apa yang ingin kau ketahui lagi, Nad?"
"Emmm.., tentang wanita yang pernah dicintai Tama. Apa kamu mengetahuinya, Al?"
Sontak Alila menghentikan pekerjaannya. Matanya beralih menatap wajah Nadia yang terlihat serius menunggu jawaban darinya.
(Mengapa aku harus selalu berada di posisi serba salah seperti ini? Dulu Olla, sekarang Nadia...)
"Al.., kamu tahu siapa wanita itu?" Nadia kembali bertanya di tengah diamnya Alila yang masih bingung harus bagaimana menjawabnya.
"Aku tidak tahu, Nad. Apa dia sendiri yang bercerita padamu?" Alila balik bertanya kepada Nadia.
(Anggap saja aku tidak tahu. Karena Tama memang tidak pernah mengatakan padaku siapa wanita yang dicintainya. Maafkan aku, Nad..)
"Iya, Al. Tama sudah bercerita banyak hal tentang dirinya dan keluarganya. Dia juga jujur mengakui bahwa dia pernah mencintai seseorang. Cukup lama memendam cintanya hingga akhirnya dia menyerah untuk melepaskan perasaannya."
Alila tersentuh dengan cerita Nadia. Dia tidak menyangka Tama bisa sejujur itu bercerita tentang masa lalunya pada wanita yang dicintainya sekarang.
(Kamu memang lelaki yang baik, Tam. Lelaki sejati yang sudah seharusnya bahagia bersama cinta sejatimu.)
"Aku rasa dia benar-benar tulus mencintaimu dan sudah membuka hatinya seutuhnya untukmu, Nad. Kalau tidak, mungkin dia lebih memilih untuk menyimpan sendiri cerita cinta masa lalunya dan menyembunyikannya darimu."
Nadia menganggukkan kepala dan tersenyum lebar mendengar kata-kata Alila. Wajahnya tampak berseri bahagia dan semakin yakin dengan perasaan Tama padanya karena dia juga merasakan hal yang sama pada kekasihnya.
.
.
.
🙏Ucapan Terima Kasih🙏
Terima kasih banyak atas dukungan dan doa dari para reader semua, akhirnya kedua novel kami, Terima Kasih Cinta Sejati dan Menanti Cinta Untukku telah berhasil menjadi novel kontrak karya di aplikasi Noveltoon/Mangatoon.
Semoga ke depannya, kami bisa menyajikan cerita yang lebih baik lagi dalam segala hal, demi kepuasan para reader tercinta.
.
.
.
Jangan lupa untuk selalu menyemangati kami dengan Like, Komentar, Bintang 5, Vote & Favorit.
Terima kasih banyak untuk semua pembaca yang telah berkenan membaca dan menikmati novel kami.
Salam cinta dari kami.
💜Author💜
__ADS_1
.