Menanti Cinta Untukku

Menanti Cinta Untukku
67 SUAMI BALOK ES


__ADS_3

"Hai, Dimas!"


Seorang wanita bertubuh seksi dan bersikap centil menyapa dengan santai saat mereka baru saja melangkahkan kaki di bandara Pulau Dewata.


Dimas menatap wanita itu sekilas lalu memalingkan wajahnya kembali ke arah istri tercinta di sampingnya. Alila memperhatikan wanita yang masih tersenyum lebar itu. Meskipun tidak mengenalnya tetapi dia merasa tidak asing dengan wajah dan kecentilan wanita sebaya mereka itu.


"Dia istrimu?" Tanya wanita itu setelah melihat dua cincin yang sama di jari manis Dimas dan Alila.


Dimas tak menjawab. Dia ingin segera melangkah lagi, tapi wanita itu masih berdiri di hadapan mereka.


"Kemajuanmu pesat sekali sampai berani menikah. Aku pikir kamu masih seperti dulu, robot berwujud manusia yang tak punya perasaan. Kelihatannya saja pergi bersama gadis kampus berganti-ganti tetapi ternyata kami cuma dianggap debu yang ingin menempel sedikit saja sudah kamu singkirkan dengan tanganmu."


Mendengar kalimat panjang wanita itu, Alila mulai mengingatnya. Dia adalah salah satu gadis kampus yang dulu mengejar Dimas dan berhasil berkencan dengan Dimas untuk beberapa waktu. Ada seiris perih yang Alila rasakan di hatinya mengingat masa-masa itu.


Dimas yang sejak turun dari pesawat terus menggenggam tangan Alila, bisa merasakan ketidaknyamanan istrinya karena Alila semakin mengeratkan genggamannya.


"Maaf." Tak diduga, Dimas mengucapkan satu kata pada wanita yang Alila tidak tahu namanya itu dengan tatapan tajam. Wanita itu tertawa mendengar ucapan Dimas.


"Sudahlah, tak masalah bagiku juga. Itu hanya masa lalu di saat aku sedang penasaran dengan lelaki beku sepertimu. Ternyata beberapa bulan mencoba bertahan denganmu, kamu tetap kaku dan tidak berubah meskipun aku sudah berusaha merayu dan mengikatmu. Tetap saja kamu dingin dan datar."


Wanita centil itu berbalik hendak meninggalkan mereka, tapi sebelumnya dia berbicara lagi pada Dimas.


"Oya, selamat atas pernikahan kalian. Semoga istrimu yang cantik ini kuat dan sabar melayani suami balok es sepertimu."


Wanita itu berjalan mendahului dan menghampiri sekelompok wanita yang sudah menunggunya untuk masuk ke area check in.


"Ayo, Al."


Dimas mengajak Alila menuju pintu keluar dengan tangan kanannya menarik koper bawaan mereka. Tepat bersamaan mereka sampai di luar, sebuah mobil minibus berwarna putih berhenti tepat di depan mereka.


Seorang pria berusia tiga puluhan tahun keluar dan menyapa mereka. Sebelumnya dia sudah menghubungi Dimas dan memperkenalkan diri sebagai penanggungjawab villa yang akan mereka tempati.


Setelah bersalaman dan berkenalan singkat, pria bernama Agung itu segera membantu meletakkan koper ke dalam bagasi lalu mempersilakan kedua tamunya masuk ke dalam mobil dan mulai mengendarai mobilnya meninggalkan kawasan bandara.


Satu jam perjalanan akhirnya mereka sampai di halaman depan villa yang akan menjadi tempat bulan madu Dimas dan Alila. Mereka disambut oleh seorang wanita bernama Ayu yang tak lain adalah istri Agung. Mereka berdua tinggal di sebuah paviliun di bagian depan villa.


Alila tampak takjub dengan keindahan villa yang akan mereka tempati. Bangunan villa satu lantai yang cukup besar dengan halaman yang luas dan berfasilitas sangat lengkap. Ada kolam renang pribadi di bagian belakang villa yang mengarah langsung ke bibir pantai yang tertutup untuk umum.


Lokasi villa tersebut memang berdekatan dengan sebuah pantai yang tidak terjamah oleh wisatawan umum. Hanya penghuni villa yang berada di sekitarnya saja yang bisa menikmati keindahan pantai itu sekaligus bermain di sana sepuasnya tanpa ada yang menganggu.


Agung membantu membawakan koper ke dalam, mengikuti Ayu yang sedang memperlihatkan ruangan-ruangan yang ada di dalam villa kepada kedua tamunya.


Setelah dirasa cukup memberikan penjelasan, Agung dan Ayu pamit untuk kembali ke paviliun mereka. Tinggallah Dimas dan Alila berdua di dalam villa. Mereka masuk ke dalam kamar utama yang berada di bagian belakang villa, dengan pintu belakang yang langsung terhubung dengan kolam renang di halaman belakang.


Alila meletakkan tasnya di atas tempat tidur lalu melepaskan sepatunya. Dia berjalan ke belakang untuk membuka pintu. Udara pantai yang sejuk langsung terasa saat dia melangkah keluar kamar dan berdiri di tepi kolam renang. Tak ada pembatas yang menghalangi pandangan ke arah pantai di hadapannya. Semuanya alami seolah pantai itu adalah milik pribadi mereka yang tinggal di dalam villa.


"Al..."


Dimas datang dan memeluknya dari belakang. Selalu ada getaran indah di hati Alila setiap kali Dimas memeluknya seperti itu. Hatinya merasa sangat bahagia.

__ADS_1


"Ya, Dim?"


Alila membalas pelukan suaminya dengan menyatukan kedua tangannya dengan tangan Dimas yang melingkar erat di pinggangnya.


"Sudah siap?"


Satu ciuman mendarat lembut di pipi Alila. Lalu perlahan turun ke leher dan juga bahunya. Seluruh tubuhnya menghangat seketika.


"Siap..? Siap untuk apa?"


Dimas membalikkan posisi badannya sehingga dirinya berdiri di hadapan Alila. Tangannya sudah berada di kedua sisi wajah istrinya. Untuk sesaat dia terdiam dan hanya menikmati paras cantik yang telah menjadi miliknya seutuhnya dan selamanya.


Sampai pada akhirnya wajah Alila berubah memerah dengan senyum sipu malunya saat Dimas menjawab pertanyaannya dengan nada ajakan yang terdengar sangat menggoda.


"Siap untuk berbulan madu..."


.


.


.


Dua jam setelahnya, mereka sudah segar kembali usai membersihkan diri dan bersuci karena ritual bulan madu yang langsung mereka lakukan begitu sampai di villa.


Makan siang hantaran dari Ayu sudah mereka nikmati berdua sebelum mereka duduk bersama di sebuah bangku di beranda kamar utama.


"Tanyakan saja, Al. Jangan pernah memendam sesuatu tanpa aku tahu. Kita harus saling terbuka dalam hal apapun."


Alila sedikit ragu untuk melanjutkan keingintahuannya. Tetapi dia tidak ingin menyembunyikan apapun lagi dari suaminya.


"Tentang ucapan wanita yang bertemu dengan kita di bandara tadi..., emm..., apa benar kamu sedingin itu saat berhubungan dengan mereka?"


Alila menarik kepalanya dari dekapan Dimas. Dia menatap suaminya dengan rasa ingin tahu yang besar.


Dimas tidak marah dengan pertanyaan istrinya. Dia justru merasa senang jika Alila mempunyai keinginan untuk mengetahui segala hal tentang dirinya.


"Dengarkan aku, Al." Dimas menatap mata indah istrinya dengan penuh keyakinan. Tidak ada sedikit pun keraguan untuk menjawab pertanyaan Alila tentang masa lalunya.


"Pertama kali aku berani menyentuh dan memeluk wanita adalah dengan dirimu. Aku tidak pernah melakukannya sebelum itu."


Ada kelegaan di hati Alila mendengar penuturan Dimas padanya. Dia tersenyum saat sang suami menyentuh pipinya dengan usapan yang lembut.


"Dia memang benar, aku adalah lelaki beku, seperti sepotong balok es yang hanya punya rasa dingin. Meskipun sedang berdua dengan seorang wanita pun, aku tetap tidak bisa berubah sama sekali."


Dimas menarik kepala Alila untuk bersandar kembali di dadanya. Dia menciumi puncak kepala istrinya dengan mata tertutup rapat lalu mengusapi dengan penuh rasa cinta.


"Tapi saat bersamamu, hatiku bisa menghangat seketika, Al. Bahkan ada getaran aneh yang selalu terasa saat aku menatap wajahmu. Getaran cinta yang belum pernah aku rasakan sebelumnya."


Alila mempererat pelukannya dan semakin menenggelamkan wajahnya di dada bidang Dimas yang selalu membuatnya nyaman untuk berlama-lama di sana.

__ADS_1


"Aku mencintaimu, Dim. Sangat mencintaimu..."


Dimas membalas pelukan erat istrinya dengan mendekap tubuh Alila sama eratnya.


"Aku juga sangat mencintaimu, Al..."


"Aku minta maaf karena kelakuanku di masa lalu yang membuatmu dulu, sekarang atau mungkin nanti, bertemu dengan mereka yang pernah berhubungan denganku seperti tadi."


"Aku sama sekali tidak berpikir jika akibat dari tindakanku itu akan terbawa sampai sekarang, sehingga kamu harus menghadapi situasi tidak nyaman seperti tadi. Sama seperti saat dulu kita bertemu dengan Andita. Dan mungkin ke depannya nanti masih ada pertemuan tak sengaja lainnya dengan beberapa wanita yang akan membuat hatimu sakit."


"Maafkan aku, Al..."


Alila mengangkat kepalanya ke atas, menatap wajah suaminya yang juga tengah menunduk menatapnya.


"Aku tidak apa-apa, Dim. Aku menerimamu apa-adanya termasuk juga masa lalumu. Aku juga punya masa lalu yang mungkin saja suatu saat nanti akan membuatmu merasa tidak nyaman."


Dimas tersenyum dan membelai wajah cantik Alila dengan tangan kanannya.


"Kita hadapi semuanya bersama-sama. Berdua, aku dan kamu. Cinta kita akan selalu menguatkan dan menyatukan kita, Al."


Dimas mencium kening istrinya membuat Alila segera memejamkan matanya dan membiarkan ciuman dari suaminya mulai turun ke bibirnya. Mereka terus menyatukan bibir mereka dengan lembut dan penuh kasih, hingga keduanya terbuai kenikmatan yang tak ingin mereka akhiri begitu saja.


.


.


.


🙏Ucapan Terima Kasih🙏


Terima kasih banyak atas dukungan dan doa dari para reader semua, akhirnya kedua novel kami, Terima Kasih Cinta Sejati dan Menanti Cinta Untukku telah lulus kontrak dan berhasil menjadi novel kontrak karya di aplikasi Noveltoon/Mangatoon.


Semoga ke depannya, kami bisa menyajikan cerita yang lebih baik lagi dalam segala hal, demi kepuasan para reader tercinta.


.


.


.


Jangan lupa untuk selalu menyemangati kami  dengan Like, Komentar, Bintang 5, Vote & Favorit.


Terima kasih banyak untuk semua pembaca yang telah berkenan membaca dan menikmati novel kami.


Salam cinta dari kami.


💜Author💜


.

__ADS_1


__ADS_2