
"Al..., kamu....."
Dimas menelan ludahnya karena melihat pemandangan tak terduga di hadapannya.
"Ada apa, Dim?" Alila masih setengah mengantuk dan hanya memperhatikan Dimas.
"Al.., tubuh kamu....."
Dimas bingung mengatakannya karena dia sendiri kini sedang menahan dirinya yang sudah mulai terpengaruh oleh spontanitas istrinya.
"Kenapa dengan tubuh..ku...?" Alila belum mengerti juga dan baru melihat ke arah tubuhnya sendiri.
(Astaga! Mengapa aku melupakannya...)
Seketika dia terlonjak dan dengan cepat menarik selimut untuk menutupi seluruh tubuhnya. Dia benar-benar lupa jika semalam dia dan suaminya terlelap tanpa sempat mengenakan kembali pakaian mereka.
"Ma-Maaf, Dim. Aku lupa.. Aku..."
Setelah membungkus tubuhnya dengan selimut, Alila mengangkat kepalanya dan menatap Dimas, tetapi sekarang dia yang dibuat terkejut karena penampakan di hadapannya.
"Dim....."
Alila menutupi wajahnya dengan ujung selimut yang masih dipegangnya, membuat Dimas menatapnya dengan pandangan yang masih terbayang-bayang tubuh polos istrinya tadi.
"Kamu kenapa, Al?"
"Itu..., kamu...." Aahh, Alila kesulitan mencari kata yang tepat untuk memberitahu suaminya.
Beberapa detik kemudian Dimas baru sadar dan terkejut melihat selimut yang menutupi tubuh Alila. Jika Alila memakai selimut itu, berarti dia...
Dimas melihat ke bawah dan memperhatikan dirinya sendiri. Dia mendapati dirinya terbaring tanpa penutup apa-apa lagi di tubuhnya.
(Hah? Mengapa jadi berbalik kepadaku?)
Dimas sontak terduduk dan mengambil bantal di sampingnya untuk menutupi tubuh bagian bawahnya yang sudah menunjukkan reaksinya dengan sempurna.
"Sudah aku tutupi, Al." Kata Dimas mencoba tenang.
Namun Alila tetap menyembunyikan wajahnya. Dia terlanjur malu karena kealpaannya tadi. Malu pada suaminya sendiri. Satu panggilan lagi dari Dimas membuatnya mengangkat kepala dan memberanikan diri untuk melihat ke arah suaminya.
Meskipun duduk berdekatan, mereka masih sama-sama canggung satu sama lain sehingga mereka terdiam dan hanya saling menatap tanpa kata. Hingga akhirnya Alila mulai beringsut ke tepi tempat tidur dan sudah menurunkan kakinya ke lantai.
Melihat Alila menjauh darinya, tangan Dimas dengan cepat meraih tubuh Alila yang masih berbalut selimut dan memeluknya dari belakang.
"Jangan pergi, Al." Ucapnya lirih.
Alila terdiam di tempatnya. Tubuhnya menghangat, bukan karena selimut yang membelitnya, tetapi karena dekapan kedua tangan Dimas di tubuhnya.
"Aku mau mengambil bajuku..." Alila melihat ke arah bajunya yang tergeletak di lantai, tak jauh dari kakinya.
"Tetaplah di sini..." Pinta Dimas dengan suara paraunya.
Alila terdiam merasakan Dimas merengkuhnya semakin erat. Kepala lelaki itu bersandar di bahu kanannya hingga hembusan nafasnya terasa begitu kencang menyapu kulit leher istrinya dan meremangkan seluruh tubuhnya.
"Dim..."
Alila memejamkan matanya saat dirasakannya ciuman hangat di bahunya yang sudah terbuka. Tanpa dia sadari, Dimas telah menurunkan selimut hingga batas atas dadanya, sehingga dia leluasa menciumi leher, bahu dan punggung atasnya.
"Alila....."
Dimas menyebut nama istrinya di sela-sela ciumannya yang tak bisa terhenti. Dia telah larut dalam hasratnya yang kembali naik dan menguasai dirinya.
Tak berbeda dengan Alila. Sentuhan yang diberikan Dimas pun membuatnya tak bisa menahan diri lagi. Tubuhnya yang semula kaku karena gugup, lama kelamaan mulai melemah dan menyerah pasrah.
Pagi pertama mereka menjelang fajar, diawali dengan penyatuan dua tubuh menjadi satu diiringi dengan desahan lirih dan pekikan tertahan dari keduanya.
Untuk kedua kalinya mereka memadu cinta di dalam kamar yang menjadi saksi awal kehidupan baru mereka sebagai pasangan suami-istri.
Kehidupan bersama untuk selalu berbagi dan saling melengkapi dalam segala situasi. Kehidupan yang akan dipenuhi warna-warni suasana, silih berganti mengisi hari-hari yang akan selamanya dilalui bersama.
__ADS_1
.
.
.
Keluar dari kamar mandi, Dimas melihat pakaiannya sudah disiapkan oleh Alila di atas tempat tidur. Sementara tadi sebelumnya, sang istri memilih mandi dan berganti pakaian di kamar mandi karena masih malu dengan suaminya.
Dimas mengenakan pakaiannya satu per satu sambil mencari keberadaan Alila yang tak terlihat olehnya. Di saat akan keluar kamar mencarinya, sang istri telah masuk membawa dua cangkir minuman yang masih panas dan diletakkannya di atas meja.
"Ayo, Al. Kita berjamaah dulu. Sudah jam lima." Ajak Dimas yang langsung diikuti oleh Alila menuju ke tempat khusus di samping pintu kamar.
Setelah selesai sepuluh menit kemudian, Alila berjalan pelan untuk membuka pintu balkon. Seketika udara sejuk dan segar pagi hari menyeruak masuk ke dalam kamar.
Alila berjalan menuju pagar balkon sembari menghirup kesegaran hawa pagi yang langsung memenuhi rongga tubuhnya. Dinginnya udara masih sangat terasa di permukaan kulit Alila yang berdiri di bawah langit yang masih cukup gelap.
"Aku mencintaimu, sayang..."
Tiba-tiba Dimas sudah menyusulnya dan merengkuh tubuhnya disertai dekapan erat dari belakang dengan kepala bertopang di atas bahu Alila. Sebuah ciuman di pipi kanan Alila menghangatkan seluruh tubuhnya.
Alila tersenyum melihat tangan kekar yang melingkari bagian dadanya dengan erat. Dia melipat kedua tangannya dan menyatukannya di atas dekapan tangan suaminya.
"Aku juga mencintaimu, Dim..." Alila menoleh ke samping dan memberikan ciuman yang sama di pipi kiri Dimas.
Pagi pertama yang semakin sempurna. Setelah diawali dengan penyatuan raga di atas tempat tidur, sekarang mereka menyambut datangnya sinar mentari dengan pelukan dan ciuman hangat sambil menatap langit yang mulai menampakkan semburat indah keemasannya.
"Aku sangat bahagia, Al."
"Aku juga sangat bahagia, Dim."
Dimas melepaskan dekapannya lalu membalikkan posisi tubuh Alila sehingga mereka menjadi berdiri berhadapan, saling menatap dengan senyuman yang tak pernah lepas dari bibir keduanya.
Tangan mereka saling melingkari pinggang pasangannya dengan tubuh yang kian merapat hangat.
"Kita berdua harus selalu bahagia, Al." Mereka berdua memejamkan mata.
Dimas mencium kening Alila diiringi doa panjang dalam hatinya, berharap kebaikan dan kebahagiaan akan selalu menyertai kehidupan rumah tangga mereka. Alila meresapi ciuman suaminya dan melantunkan doa yang sama di hatinya.
"Sebentar lagi, Al. Aku ingin memelukmu dulu."
Dimas membawa kepala Alila bersandar di atas dadanya. Dia menciumi puncak kepala istrinya dengan penuh ketulusan. Tangannya mengusap lembut rambut panjang yang masih setengah basah itu lalu mengeratkan pelukannya.
Alila membalas pelukan Dimas dengan menyamankan sandaran kepalanya hingga dia bisa mendengar dengan jelas detak jantung belahan hatinya. Detakan yang teratur meski terasa cukup keras di telinga Alila yang menempel rapat di dada suaminya.
Setelah langit mulai semakin terang, Dimas mengajak Alila masuk ke dalam dan duduk di sofa kecil di kamar mereka, menikmati coklat panas yang telah menjadi hangat dan siap mereka habiskan bersama.
.
.
.
"Harusnya tadi kita memesan sarapan saja, Al. Kamu tidak perlu memasak pagi-pagi seperti ini."
Dimas menemani di samping Alila, membantunya menyiapkan sarapan pagi sederhana untuk mereka berdua.
"Karena ini pagi pertama kita, aku ingin belajar melayanimu dengan baik selayaknya seorang istri, Dim."
Hati Dimas membuncah mendengar ucapan Alila yang membuatnya bergerak mendekat dan melepaskan sebuah ciuman di kening samping istrinya.
"Sejak dulu kamu sudah melayaniku dengan baik, Al. Dan aku sudah terbiasa denganmu."
Alila tersenyum menatap Dimas lalu melanjutkan olahan sayurnya. Dimas membantu mengirisi sayuran yang sudah disiapkan istrinya, lalu mencuci bersih dan menuangkannya ke dalam panci berisi kuah bumbu yang telah mendidih.
Acara memasak bersama yang romantis bagi mereka. Tak perlu menu mewah ataupun banyak ragamnya, karena kebersamaan dan cinta merekalah yang membuat semuanya menjadi terasa lebih nikmat dan penuh syukur.
Sambil menunggu sayur matang, Alila beralih untuk menggoreng lauknya. Dimas sudah menyalakan tungku kompor yang satunya dan meletakkan wajan di atasnya lalu menuangkan minyak goreng secukupnya.
Dimas memeluk istrinya dengan sayang dan merapikan helaian rambut yang terlepas dari jepitan yang dikenakannya. Alila menatapnya lagi lalu mencium pipinya dengan cepat sebelum perhatiannya kembali pada beberapa potong daging ayam yang dimasukkannya ke dalam penggorengan satu per satu.
__ADS_1
Setelah tiga puluh menit berdua menyiapkan sarapan, akhirnya semuanya telah matang dan terhidang di atas meja makan. Mereka duduk bersebelahan untuk memulai sarapan pertama mereka sebagai suami-istri.
Alila mengambil dua piring untuk dirinya dan suaminya, tetapi Dimas segera mengembalikan satu piring ke tempatnya semula.
"Al, aku ingin kebiasaan kita selama ini terus kita lakukan setiap kita makan berdua di rumah. Aku tidak mau kehilangan hal indah yang sudah biasa kita lakukan berdua selama ini."
Dimas meminta dengan sungguh-sungguh membuat Alila terharu dan menganggukkan kepala. Dia segera mengambil nasi beserta sayur dan lauknya, dilengkapi dengan satu buah sendok untuk mereka pakai berdua. Kemudian dengan bahagia mereka mulai menyantap sarapan dari piring yang sama secara bergantian. Sesekali mereka pun saling menyuapi dengan tatapan penuh cinta.
.
.
.
Siang harinya, Dimas dan Alila duduk berdua di sofa ruang tengah. Dimas masih menerima telepon dari Darma, sementara Alila menunggunya sambil menyalakan televisi dan memilih tayangan kuliner di salah satu stasiunnya.
"Lusa kita jadi berangkat, Al." Kata Dimas sembari meletakkan ponselnya di atas meja. Tangannya sudah beralih memeluk tubuh istrinya.
Mereka berdua mendapat hadiah dari Darma dan Indira berupa bulan madu ke sebuah villa pribadi di Bali, milik salah seorang sahabat Darma.
"Ya, Dim. Berapa hari kita di sana?"
"Tiga hari, Al. Jadi setelah pulang nanti kita masih punya waktu beberapa hari untuk istirahat di rumah sebelum masuk kerja lagi."
Alila menyandarkan kepalanya di dada bidang Dimas, tempat ternyamannya setiap kali bermanja memeluk suaminya. Satu tangannya bergerak pelan memainkan jari-jemarinya di atas tubuh Dimas.
"Besok aku akan mempersiapkan koper kita, Dim."
"Akan aku bantu, sayang..." Ucap Dimas tepat di atas kepala Alila yang baru saja diciuminya.
Dia mematikan televisi dengan remote yang ada di samping Alila, lalu pelan-pelan merebahkan tubuh wanita itu di atas sofa.
"Dim, apa yang kamu lakukan...?" Alila terkejut dan mulai berdebar.
Masih dalam posisi duduk, Dimas membungkukkan badannya mengikuti posisi tubuh Alila. Tangan kirinya bertumpu siku di samping Alila agar wajah dan tangan kanannya leluasa bergerak di atas tubuh Alila tanpa menindihnya.
"Aku hanya ingin menciummu, Al. Biarkan aku menikmati lagi ciuman kita..." Dia menepikan rambut yang menutupi wajah istri tercintanya lalu menatap lekat-lekat bibir Alila.
Dimas sangat menyukai ciuman mereka dan selalu ingin melakukannya. Mungkin karena selama ini dia sudah begitu kuat menahannya, sehingga saat telah merasakan nikmatnya, dia tidak bisa lagi menahan diri untuk terus menginginkannya.
Alila pasrah dengan keinginan suaminya. Bagaimanapun, dia juga menyukai dan menikmati ciuman mereka yang sama-sama menjadi pengalaman pertama. Dan sejak semalam, bibir mereka sudah menjadi sebuah hasrat satu sama lain.
Dengan dada yang semakin berdebar keras, Alila menerima ciuman demi ciuman yang diberikan oleh suaminya. Tangannya berpindah ke bahu Dimas dan lama-kelamaan mulai menyatu melingkari leher lelaki itu, menjadikan Dimas semakin leluasa menguasai bibir ranum Alila dengan bibirnya.
Dimulai dari kecupan demi kecupan, pada akhirnya Dimas dan Alila semakin larut dalam ciuman panjang yang saling menginginkan, saling meminta dan saling berbagi untuk bersama-sama menikmatinya tanpa ada yang ingin mengakhirinya.
.
.
.
🙏Ucapan Terima Kasih🙏
Terima kasih banyak atas dukungan dan doa dari para reader semua, akhirnya kedua novel kami, Terima Kasih Cinta Sejati dan Menanti Cinta Untukku telah berhasil menjadi novel kontrak karya di aplikasi Noveltoon/Mangatoon.
Semoga ke depannya, kami bisa menyajikan cerita yang lebih baik lagi dalam segala hal, demi kepuasan para reader tercinta.
.
.
.
Jangan lupa untuk selalu menyemangati kami dengan Like, Komentar, Bintang 5, Vote & Favorit.
Terima kasih banyak untuk semua pembaca yang telah berkenan membaca dan menikmati novel kami.
Salam cinta dari kami.
__ADS_1
💜Author💜
.