
Sebelumnya mohon maaf jika novel MCU dan TKCS agak lambat update nya untuk beberapa minggu ke depan, karena Author harus kejar setoran update novel ALANARA yang alhamdulillah terpilih menjadi salah satu peserta The Next Star Writer season 1. Mohon dimaklumi karena Author juga memiliki tugas dan kewajiban utama di dunia nyata yang sama-sama menyita banyak waktu. Terima kasih...๐๐๐
๐Salam Cinta Selalu๐
.
.
.
Dua bulan berlalu, Tama menepati janjinya, akan mempersiapkan pernikahannya setelah Dimas sembuh total dan bisa beraktivitas seperti semula. Malam nanti, dia mengajak para sahabatnya untuk berkumpul membahas rencana pernikahannya.
Sudah dari satu bulan yang lalu Dimas mulai bekerja di kantornya lagi, walau masih harus menggunakan satu tongkat penyangga.
Tapi sekarang, dia sudah belajar untuk berjalan normal tanpa bantuan tongkat. Hanya butuh beberapa kali fisioterapi lagi untuk memulihkan kondisi tulangnya agar kembali sekuat semula.
"Kita akan pergi ke mana, Dim?"
Siang ini Dimas dan Alila pergi keluar untuk menikmati akhir pekan mereka, sebelum nanti malam datang memenuhi undangan dari Tama.
Sekarang Dimas sudah bisa duduk lagi di kursi kemudi, sementara Alila menjadi penumpang setia di sampingnya.
"Kamu mau kita ke mana, sayang?"
Tangan kiri Dimas sudah membelai kepala Alila dengan mesra. Tatapan matanya lembut penuh cinta, tertuju lurus hanya untuk wanita kesayangannya.
"Dim, lihat ke depan dong...! Hati-hati, sayang...!"
Alila mengusap pipi suaminya sembari mengalihkan pandangan Dimas agar kembali ke arah depan. Dia masih sedikit trauma dengan kecelakaan yang mereka alami dulu.
Dimas patuh, kembali fokus mengemudi meski sesekali pandangannya masih beralih ke samping sekedar untuk memberikan senyuman kepada sang istri.
(Aku mencintaimu, Al. Semakin hari semakin mencintaimu...)
"Kamu belum menjawab pertanyaanku, Al? Kamu ingin kita pergi ke mana sekarang?"
"Nostalgia awal-awal kencan kita berdua, yuk?"
Dimas mengangguk dan segera mengarahkan laju mobilnya ke arah yang Alila mau.
Beberapa menit kemudian, mobil mereka sudah terparkir di lantai atas sebuah mall di pusat kota, tempat Dimas dan Alila sering menghabiskan waktu luang mereka untuk pergi berdua.
Sebelum turun, seperti biasa Dimas menahan tangan Alila dan mendekatkan wajah mereka, membuat hati Alila berdesir halus serasa jatuh cinta lagi.
"Al..."
Sorot mata mereka mulai meredup, saling menatap dengan sayu. Tak berbeda dengan Alila, Dimas juga merasakan getaran indah di hatinya, seperti saat pertama kali menatap pesona wajah Alila di malam itu.
"Dim..."
Pandangan mereka beradu. Mata bertemu mata. Tanpa kata, hanya hati yang bicara dalam bahasa cinta.
Tangan kanan Dimas terulur merapikan anak rambut istrinya yang menutupi tepian wajah cantiknya. Kemudian dengan mata terpejam dia mencium bibir Alila dengan penuh kelembutan.
Alila larut dalam kemesraan yang diciptakan oleh suaminya. Sepasang mata indahnya turut menutup rapat, menyambut ciuman Dimas dan membalasnya dengan penuh kehangatan.
Mereka terus menikmati ciuman mereka yang semakin dalam dan semakin basah. Tak peduli lalu-lalang mobil yang keluar masuk di sekeliling mereka, mereka masih terhanyut dalam suasana penuh cinta di dalam mobil yang tak tembus pandang.
Tangan kiri Dimas terus menahan ciuman mereka, sementara tamgan kanannya bergerak pelan menyusuri tubuh bagian belakang Alila, dari ujung kepala hingga pinggang ramping yang selalu ingin dipeluknya.
__ADS_1
Alila mulai membalas, tangan kirinya melingkar erat di leher kokoh suaminya, sementara tangan kanannya bermain di bagian depan tubuh Dimas yang selalu dirindukannya untuk bersandar dengan nyaman.
Jemari lentiknya menari lincah di permukaan tubuh kekar Dimas, di balik kaos yang dikenakan lelaki dingin yang jarang tersenyum kecuali kepada istrinya itu.
Dimas mulai menegang dengan sentuhan Alila yang membuatnya hilang kendali. Namun dia masih berusaha menahan untuk tidak membalas Alila, dengan segera mengakhiri ciuman mereka.
"Jangan membuatku melakukan lebih dari ini sekarang juga, sayang. Kamu tahu aku sudah sangat lama menahannya..."
"Aku juga sudah sangat merindukan sentuhanmu, Dim. Maafkan aku yang terlalu terbawa suasana..."
Alila mengeluarkan tangannya dari balik pakaian Dimas dan merebahkan kepalanya di dada bidang suami tercintanya dengan kedua tangan memeluk tubuh Dimas.
Dimas mencium puncak kepala Alila dan membalas pelukannya dengan lebih erat.
"Aku sangat mencintaimu, Al. Terima kasih sudah bertahan dan melayaniku dengan tulus di saat-saat terburuk dan terjatuh dalam hidupku. Entah apa jadinya aku di hari yang lalu, jika tanpa ada kamu yang mendampingiku."
Tanpa Alila tahu, Dimas menitikkan air mata haru yang buru-buru dihapus dan ditahannya sebelum menetes semakin deras.
"Aku juga sangat mencintaimu, Dim. Tak ada yang lebih aฤทu inginkan selain kehadiranmu di sisiku, menemaniku melalui hari-hari bersamaku dalam keadaan apa pun itu."
Mereka saling mengeratkan pelukan, menyatukan getaran indah di hati keduanya dan merasakannya bersama-sama.
Setelah menghabiskan waktu cukup lama di dalam mobil, mereka merapikan penampilan dan segera keluar, lalu berjalan bergenggaman tangan memasuki mall menuju ke arena food court untuk makan siang.
Sesekali Dimas mendekap tangan Alila di dadanya dan mengecup punggung tangan istrinya dengan penuh kasih.
Beberapa kali pula tatapan mata mereka bertemu, membuat Dimas dan Alila saling melemparkan senyuman bahagia, tanpa mempedulikan perhatian dari orang-orang di sekeliling mereka yang mulai tertuju pada keduanya.
Dimas membawa Alila masuk ke dalam kedai es krim kesukaan wanita itu. Mereka memesan dua mangkuk es krim lalu duduk menunggu di salah satu meja kosong yang dulu pernah mereka tempati bersama.
"Kamu tunggu di sini dulu, Al. Aku akan membeli makan siang untuk kita."
Alila mengangguk dan Dimas pun kembali berdiri.
"Ya, sayang."
Dimas mengusap kepala istrinya sebelum melangkah keluar menuju ke sudut arena kuliner yang lain.
Sambil menunggu, Alila mengeluarkan ponsel dari tas kecil yang dibawanya, lalu membuka akun media sosial miliknya.
Ada dua buah pemberitahuan baru yang menyertakan nama akun miliknya. Karena penasaran, dia membukanya dan melihat tampilan foto yang membuatnya terkejut dan langsung mengedarkan pandangan ke sekelilingnya.
Bersamaan dengan itu, dari jauh Dimas sudah terlihat berjalan ke arahnya membawa satu nampan makanan.
Begitu Dimas sampai dan duduk di sampingnya, Alila segera menunjukkan foto yang baru saja dilihatnya. Dimas sama terkejutnya, meskipun wajahnya tetap terlihat datar tanpa ekspresi berlebihan.
Foto-foto itu memperlihatkan kemesraan Dimas dan Alila ketika berjalan memasuki mall beberapa saat yang lalu. Keterangan yang menyertai foto tersebut menuliskan tentang rasa syukur mereka karena melihat keduanya sudah sembuh dan terlihat bahagia, setelah kecelakaan parah yang mereka alami beberapa bulan yang lalu.
"Siapa mereka? Kamu mengenalnya?" Tanya Dimas.
Dimas memang tidak memiliki satu pun akun media sosial. Sebaliknya, Alila mempunyai beragam akun media sosial yang sering dibukanya sekedar untuk memperoleh informasi terbaru dan beberapa berita yang sedang menjadi minat besar bagi khalayak di sekitarnya.
"Tidak. Mereka hanya menyertakan nama akunku sehingga aku bisa mengetahuinya."
"Abaikan saja. Mungkin karena ramainya pemberitaan tentang kecelakaan kita dulu, sehingga sekarang banyak orang yang mengenali kita."
Selama tidak mengganggu kehidupan pribadinya, Dimas tidak peduli dengan berbagai pemberitaan tentang mereka, terutama tentang dirinya.
Berbeda dengan Alila yang merasa sedikit terganggu dengan pemberitaan tentang dirinya dan sang suami, karena dia tidak terbiasa menjadi perhatian banyak orang.
__ADS_1
Pesanan es krim mereka datang. Dimas pun segera meletakkan satu piring nasi goreng berikut satu gelas air putih yang baru saja dibawanya di atas meja.
Alila menyimpan kembali ponselnya di dalam tas, lalu segera mengambil sendokan pertama nasi goreng dan menyuapkannya pada Dimas.
Mereka mulai menyantap hidangan makan siang dengan saling menyuapi bergantian. Sesekali Alila membersihkan ceceran nasi yang menempel di bibir suaminya, dengan selembar tisu yang tersedia.
Selesai dengan menu makan siang, mereka segera menikmati es krim yang sudah lama tidak mereka rasakan.
"Kamu ingat kencan pertama kita di sini, Al?"
Alila mengangguk dan tersenyum membalas tatapan mata Dimas kepadanya.
"Mengapa kamu menganggapnya sebagai kencan pertama kita, padahal saat itu kamu belum mengungkapkan perasaanmu kepadaku?"
"Karena saat itu adalah pertama kalinya aku mengajakmu pergi berdua dengan perasaan yang tak menentu, Al. Aku mulai menyayangimu tapi aku masih ragu dengan perasaan di hatiku..."
"Dan semuanya semakin jelas aku rasakan ketika kita duduk berdua di dalam bioskop. Pesonamu kala itu benar-benar menyita perhatianku dan mengalihkan duniaku menjadi hanya tentang dirimu seorang."
Alila tersipu mendengar pengakuan jujur Dimas yang baru sekali ini diungkapkannya. Wajahnya bersemburat merah membuat Dimas tak tahan untuk menyentuh pipinya dan membelainya dengan lembut dan penuh cinta.
"Terima kasih, sayang. Karena kamu selalu sabar dan setia bersamaku selama empat tahun sebelumnya, walaupun saat itu aku sama sekali belum menyadari rasa sayang dan cintaku kepadamu..."
"Mencintaimu adalah hal terindah yang pernah aku rasakan dalam hidupku, dan akan selamanya aku rasakan bersama dirimu, Dim."
Tangan Dimas yang masih menyentuh pipi merona Alila mulai turun, berpindah ke arah bibir tipis Alila yang masih menikmati es krim kesukaannya.
Ujung ibu jarinya mengusap bibir Alila dengan pelan dan lembut, membersihkan lelehan es krim yang tercecer di tepian bibirnya, lalu mencecap rasa es krim dari bibir Alila yang melekat di jarinya.
"Meskipun aku sudah bisa merasakan nikmatnya kelembutan bibirmu setiap waktu, tetap saja di saat seperti ini, manis bibirmu selalu menggoda hasratku, Al."
Wajah Alila semakin memerah mendengar ucapan Dimas. Dia buru-buru mengambil tisu dan membersihkan bibirnya, lalu meraih tangan Dimas dan membersihkan ibu jarinya juga.
"Jangan membuatku malu di tempat umum lagi, Dim. Aku masih ingat rasanya menahan maluku saat itu, sekarang kamu menambahnya lagi dengan rasa malu yang baru."
Dimas menghabiskan air putih yang sebelumnya sudah diminum Alila separuhnya, kemudian berdiri seraya menarik tangan Alila untuk digenggamnya. Alila mengikuti, berdiri di samping Dimas dan segera meraih tasnya sebelum terlupakan.
"Kita ke bioskop sekarang, Al. Sudah mendekati waktunya pemutaran film."
Mereka berjalan meninggalkan kedai es krim, diiringi dengan tatapan mata para pengunjung yang berada di sekitarnya. Rupanya beberapa foto mereka yang tersebar di berbagai media sosial, membuat banyak orang mulai mengenali Dimas dan Alila.
.
.
.
Mohon dukungannya untuk novel terbaru kami, ALANARA. Semoga bisa menghibur para pembaca semua...๐๐๐
.
.
.
Jangan lupa untuk selalu menyemangati kamiย dengan Like, Komentar, Bintang 5, Vote & Favorit.
Terima kasih banyak untuk semua pembaca yang telah berkenan membaca dan menikmati novel kami.
Salam cinta dari kami.
__ADS_1
๐Author๐
.