Menanti Cinta Untukku

Menanti Cinta Untukku
47 PANTAI KITA - PART 2


__ADS_3

Alila menarik wajahnya ke samping dan memutar pandangannya ke belakang, sehingga wajahnya bisa sedikit berhadapan dengan wajah Dimas. Lelaki itu masih betah memeluknya dari belakang, bahkan semakin rapat menyatukan tubuh bagian depannya dengan bagian belakang tubuh Alila.


"Dim..."


"Ada apa?"


Dimas menundukkan wajahnya dan mencium pipi Alila begitu saja. Alila yang tidak menyangka akan perlakuan lelaki itu segera memutar balik wajahnya dan kembali menatap ke arah depan.


Wajahnya yang seketika bersemu merah justru semakin menggemaskan bagi Dimas, sehingga dia kembali memberikan ciuman di pipi Alila yang satunya.


"Kamu sangat menggemaskan dengan wajah seperti itu, Al. Aku sangat menyukainya dan selalu merindukannya..."


Dimas terus mempererat pelukannya di pinggang Alila, sementara kepalanya terus bersandar di bahu calon istrinya itu, sehingga sesekali pipi mereka saling bersentuhan.


"Apa yang ingin kamu katakan tadi?"


Dimas teringat saat Alila memanggilnya tetapi belum berlanjut lagi karena ulah Dimas yang membuat Alila kehilangan konsentrasi.


"Tidak jadi. Lupakan saja, Dim."


"Katakan, Al."


"Akan aku katakan, tapi lepaskan dulu pelukanmu. Kita duduk saja."


Meski enggan, akhirnya Dimas menuruti permintaan Alila. Namun sebelum benar-benar melepaskan pelukannya, lagi-lagi dia berulah dengan membisikkan sesuatu di telinga calon istrinya.


"I love you, Alila.."


Dimas meninggalkan sebuah ciuman di bahu Alila, setelah itu dia menarik pelan tangan wanita itu untuk duduk bersama di sampingnya.


Masih dengan wajah merona malu, Alila duduk di samping Dimas sambil menerima sebotol minuman dari tangan lelaki itu kemudian bersama-sama meminumnya sedikit demi sedikit.


Pandangan mereka terarah ke lautan lepas nun jauh di hadapan mereka, menikmati keindahan alam ciptaan Sang Illahi.


"Dim..."


"Ya?"


"Kapan kita akan memberitahukan pada yang lainnya tentang rencana pernikahan kita?"


"Lebih cepat lebih baik, Al."


"Apa perlu kita agendakan pertemuan berlima lagi untuk mengatakannya?"


"Terserah kamu saja, Al."


Alila meletakkan minumannya. Mata beningnya kini sudah beralih menatap lelaki yang sejak awal mereka duduk tadi tidak sekalipun mengalihkan pandangannya dari arah depan.


"Aku tidak mau jawaban terserah, karena itu adalah jawaban yang ambigu dan bisa menimbulkan salah paham lagi. Lebih baik kita berdebat di awal tetapi sama-sama mengutarakan pendapat kita, daripada menjawab terserah tapi masih memendam rasa tidak puas kita di dalam hati."


Dimas terdiam melihat tingkah Alila.

__ADS_1


"Baiklah. Kita ajak mereka bertemu minggu depan, Al."


Alila tersenyum puas dengan jawaban dari Dimas.


"Ya, Dim. Kita juga harus menyerahkan kain seragam untuk pernikahan kita kepada mereka."


"Sandy masih bertugas di luar kota. Bisakah dia datang saat pernikahan kita?" Tanya Alila ragu.


"Maka dari itu, kita harus memberitahu mereka secepatnya. Semoga dia bisa mengatur waktu untuk bisa pulang dan datang ke pernikahan kita."


"Ya, Dim. Dua hari yang lalu Nayla mengirim pesan padaku dan dia sempat bercerita juga kalau Sandy berjanji akan selalu mengusahakan pulang setiap dua minggu sekali atau sebulan sekali di akhir pekan. Minggu ini dia belum bisa pulang. Mungkin minggu depan dia baru bisa pulang untuk pertama kalinya."


Tiba-tiba Dimas kembali menatap Alila lekat-lekat. Ada rasa takut yang muncul dalam pikirannya saat ini. Bahkan dadanya pun turut berdentum keras saat memikirkannya. Pandangannya tajam namun menyiratkan ketakutan.


Alila yang menyadari perubahan sikap Dimas segera meraih tangan lelaki itu dan menggenggamnya dengan dua tangan.


(Ada apa denganmu, Dim?)


Dimas tidak mengeluarkan sepatah kata pun dari mulutnya. Hanya tangannya yang bergerak cepat melepaskan genggaman Alila lalu dia mendekap erat tubuh calon istrinya. Dekapan yang erat, sangat erat.


(Aku takut, Al...)


Alila semakin bingung dibuatnya. Pikirannya menerka-nerka di antara rasa khawatirnya pada Dimas.


"Ada apa, Dim?"


Diam. Tak ada jawaban dari Dimas. Hanya pelukannya yang terasa semakin kencang.


"Dim..."


Terpaan angin pantai yang sepoi-sepoi dan sangat menyejukkan pun, bahkan tak mampu menenangkan hatinya yang terus dilanda ketakutan.


Alila sudah tidak bisa menunggu lagi. Dia sama takutnya dengan Dimas.


"Dim.., jangan diam saja. Aku tidak suka itu. Aku lebih suka kamu terbuka dan mengatakan semua yang kamu rasakan, dari pada aku harus melihatmu diam dan mendiamkan aku seperti ini..."


Sekuat tenaga Alila berusaha merenggangkan pelukan Dimas. Sedangkan Dimas yang terpengaruh dengan ucapan Alila tanpa sadar juga mulai melemahkan tenaga yang dipakainya untuk memeluk Alila sehingga pelukan itu akhirnya merenggang.


Alila menghela nafas lega setelah Dimas bereaksi dengan kata-kata yang diucapkannya. Dia memegang kedua tangan Dimas di pangkuannya. Tatapan matanya mengunci pandangan Dimas agar tetap beradu dengannya.


"Katakan, apa yang mengganggu pikiranmu?"


"Aku memikirkan tentang perpisahan, Al. Aku takut akan berpisah lagi darimu..."


Alila terkejut mendengar jawaban Dimas. Entah hal apa yang membuat calon suaminya sampai berpikiran seperti itu.


"Al..."


"Ya?"


"Jika suatu saat aku harus berkerja jauh darimu, apa kamu akan mengijinkannya, Al? Atau aku harus mengajakmu untuk tetap mendampingiku ke mana pun aku pergi?"

__ADS_1


Satu pertanyaan yang sungguh di luar dugaan Alila. Bahkan sekali pun belum pernah terlintas di pikirannya. Dan sekarang dia sama sekali tidak tahu harus menjawab apa.


"Dim..."


"Tadi saat kau bercerita tentang Sandy dan Nayla, tiba-tiba saja terlintas di pikiranku, jika kita berada dalam situasi seperti mereka dan aku berada di posisi Sandy, apakah aku sanggup berpisah jauh darimu, Al..."


(Sebesar itukah rasa takutmu akan kehilangan diriku, Dim?)


"Dulu aku berpisah denganmu selama tiga bulan saja, rasanya aku sudah tak ingin mengulanginya lagi, Al. Padahal saat itu, hubungan kita belum sedekat ini. Bagaimana jika hal itu akan terjadi lagi di saat nanti kita sudah menikah...?"


Alila bisa merasakan kegelisahan hati Dimas. Jika pertanyaan yang sama ditujukan untuk dirinya, dia pasti akan merasakan ketakutan yang sama seperti yang lelaki itu rasakan saat ini.


"Dim, kita jalani saja semua yang ada di hadapan kita sekarang. Tak usah kita khawatirkan apa pun yang belum terjadi. Jika pada suatu saat nanti akhirnya kita akan mengalaminya, aku percaya di saat itu kita pasti bisa menyikapinya dengan bijaksana dan akan mengambil keputusan yang terbaik untuk kita berdua."


Dimas mencoba memahami satu demi satu kalimat yang Alila ucapkan. Dia berusaha untuk menepis perasaan takutnya. Rasa takut yang tak beralasan, rasa takut akan sesuatu yang belum tentu akan terjadi di masa depan.


"Ya, Al. Kamu benar. Maafkan aku yang terlalu berlebihan memikirkannya."


Tak ada lagi gurat kekhawatiran dan pias ketakutan di wajah Dimas. Dia sudah bisa tersenyum tipis demi Alila. Hatinya sudah benar-benar tenang sekarang.


"Terima kasih."


Satu ciuman hangat terasa oleh Alila di keningnya.


"Dim, boleh aku tanya satu hal padamu?"


"Ya?"


"Dulu aku yang selalu menyimpan rasa takut jauh darimu, takut kehilangan kamu. Mengapa sekarang kamu juga bersikap seperti itu kepadaku?"


"Karena sekarang, perasaanku sama dengan perasaanmu selama ini. Aku mencintaimu begitu dalam, sedalam cinta yang selama ini kamu rasakan untukku, Al."


Satu senyuman terukir di wajah Alila, menyempurnakan kecantikan parasnya yang memancarkan ketulusan cinta di hatinya untuk seseorang yang selalu membuat hari-harinya berwarna seindah pelangi yang menghiasi langit di atas cakrawala.


.


.


.


Note :


Jangan lupa untuk selalu menyemangati kami  dengan Like, Komentar, Bintang 5, Vote & Favorit ya..🙏💜🙏


Terima kasih banyak untuk semua pembaca yang telah berkenan membaca dan menikmati novel kami.


Salam cinta dari kami..


~Author~


.

__ADS_1


__ADS_2