
Pagi harinya, selepas subuh Alila meminta suaminya untuk menemani berjalan-jalan di sepanjang pantai. Baru kali ini dia menginap di dekat pantai dan dia ingin sekali menikmati suasana menjelang pagi di tepi pantai.
Berjalan bergandengan tangan menyusuri pantai di sekitar villa, Alila terlihat sangat menikmati suasana yang masih temaram dan sepi. Setelah berjalan agak jauh dan berputar kembali ke arah villa, Dimas menahan langkah Alila untuk berhenti.
Alila menatap Dimas yang juga menatapnya dengan dalam. Mata bertemu mata, ditemani riak pantai yang tenang dan pelan menyentuh jemari kaki mereka. Tubuh mereka berhadapan dengan dua tangan yang saling menggenggam di samping kiri dan kanan.
Hening. Tak ada kata yang terucap dari bibir keduanya. Hanya terus saling menatap dengan pandangan teduh penuh kasih.
Bertahan dalam diam hingga beberapa menit, akhirnya Dimas membuka suara terlebih dahulu, tanpa sedetik pun melepaskan pandangan dan genggamannya dari Alila.
"Terima kasih, Al. Terima kasih sudah melengkapi hidupku dan menjadikannya sempurna dengan kehadiranmu di sisiku. Tetaplah bersamaku dan jangan pernah meninggalkan aku. Aku sangat mencintaimu dan aku selalu membutuhkanmu..."
Langit di ufuk timur mulai menampakkan sinar terangnya, membuat wajah keduanya semakin terlihat satu sama lain. Dimas bisa menatap mata indah Alila lebih jelas. Mata yang kini mulai berkaca-kaca saat mendengar ungkapan hatinya yang terdalam.
"Aku tidak pintar berkata-kata. Tapi apapun yang aku katakan, itu adalah kebenaran dari apa yang aku rasakan. Apapun yang terjadi, jangan pernah kita berhenti saling mencintai. Jika suatu saat nanti kita menghadapi ujian dalam rumah tangga, ingatlah cinta kita, perjuangan kita menyatukannya, dan kita pasti bisa menyelesaikan semua masalah bersama-sama."
Wajah Dimas mendekat ke arah wajah istrinya dan mencium lembut keningnya. Setelah itu dia menyatukan kening mereka hingga ujung hidung mereka bersentuhan dengan mata yang saling terpejam. Nafas mereka berhembus pelan saling menerpa wajah yang begitu dekat dan telah menghangat sedari tadi.
"Aku mencintaimu, Al. Aku tidak akan berhenti mengatakannya setiap saat. Aku mencintaimu, kamulah hidupku dan kamulah takdirku. Aku mencintaimu, sahabatku, kekasihku, istriku, teman hidupku, takdir cintaku, jodohku selamanya..."
Alila tak kuasa menahan haru perasaannya. Dengan mata yang masih tertutup rapat dia menangis tanpa isak, hanya terus meneteskan air mata bahagia mendengar seluruh ucapan Dimas.
Setelah bisa menguasai perasaannya dan kembali mengatur nafasnya, masih dengan memejamkan mata, Alila turut mengungkapkan isi hatinya.
"Terima kasih, Dim. Aku mencintaimu. Sangat, sangat mencintaimu..!"
"Apa yang ingin aku katakan dan aku akui, semua telah kamu ucapkan lebih dulu. Perasaan kita sama. Cinta kita sama. Harapan kita sama."
"Kamulah satu-satunya cinta dalam hidupku. Cinta pertamaku, cinta terakhirku, cinta terindahku, cinta termanisku, cinta terbaikku. Tetaplah menjadi penjagaku, pelindungku, penyejuk jiwaku, pelipur laraku. Tetaplah bersamaku, menjadi pendamping hidupku, apapun yang terjadi dan apapun yang akan kita hadapi nanti."
Mereka membuka mata dan saling menarik wajah hingga bisa saling menatap dan memaku pandangan satu sama lain.
"Tidak akan ada yang bisa memisahkan kita, Al. Kecuali maut dan takdir Yang Kuasa. Tapi sebelum semua itu terjadi, kita akan selamanya bersama, saling mencintai, saling mengingatkan dan saling menguatkan."
"Mungkin di depan sana akan ada banyak rintangan dalam perjalanan kita. Dari sekedar debu yang mudah berlalu, hingga mungkin batu sandungan yang lebih besar, atau bahkan dinding penghalang yang terlalu kokoh. Tetapi apapun itu, tetap genggam tanganku selalu. Kita akan menghadapi semuanya bersama-sama dengan keyakinan dan cinta kita."
__ADS_1
Secara bersamaan mereka pun mempererat genggaman tangan mereka, seolah mengamini ucapan Dimas.
"Aku akan selalu bersamamu, Dim. Cintaku dan cintamu, cinta kita berdua akan mengikat kita satu sama lain sebagai pasangan yang tak akan pernah terpisahkan. Seperti embun yang setia menemani pagi. Seperti mentari yang setia menemani siang. Seperti rembulan yang setia menemani malam. Seperti itulah kita berdua akan selalu saling setia. Aku dan kamu, kamu dan aku, selamanya."
Perlahan Alila mengangkat tubuhnya, berjinjit menjangkau wajah Dimas hingga dia bisa mencium kening suaminya dengan penuh haru. Dimas begitu bahagia menerima ciuman itu, hingga tangannya dengan lembut melepaskan genggaman tangan mereka untuk beralih memeluk tubuh istri tercintanya.
Alila merebahkan kepalanya di dada bidang suaminya dengan rasa nyaman, menghangatkan tubuhnya dengan membalas rengkuhan mesra kedua tangan Dimas dengan pelukan yang sama eratnya, semakin menyatukan tubuh mereka tanpa jarak.
Semesta pagi seolah merestui cinta suci dua insan yang saling menginginkan itu. Sang surya mulai memancarkan sinar hangatnya, diiringi hembusan angin laut yang dingin menyejukkan, diikuti deru ombak kecil yang tenang menyapu pasir putih tempat mereka berpijak. Indahnya suasana alam pagi itu seindah kisah cinta dua anak manusia yang baru saja mengarungi bahtera kehidupan baru sebagai sepasang suami-istri.
.
.
.
Hari kedua di Bali, Dimas dan Alila masih ingin menghabiskan waktu berdua di villa saja. Tidak ada agenda keluar ataupun berwisata ke tempat lain.
Mereka hanya ingin menikmati waktu berdua selama masa bulan madu singkat mereka, karena setelah mereka kembali pada rutinitas pekerjaan nanti, waktu seperti saat inilah yang akan mereka rindukan dan akan menjadi kesempatan langka yang sulit mereka dapatkan lagi.
Dimas menghampiri Alila yang sedang duduk di tepi tempat tidur, menghadap ke arah jendela kaca kamar mereka yang menampakkan panorama indah pantai di sore hari.
"Foto?" Alila bingung pasalnya hanya ada mereka berdua di sepanjang pantai di pagi buta tadi.
"Iya. Dia sudah terbiasa melakukannya, semata-mata untuk mengabadikan momen romantis yang tercipta saat sepasang anak manusia tengah menikmati kebersamaan bulan madunya di luar villa. Dia juga sangat menghargai privasi tamunya, sehingga selalu menghapus semua foto yang dia ambil setelah dikirimkan kepada tamunya."
"Lihatlah. Kamu pasti menyukainya."
Dimas menyerahkan ponselnya pada Alila agar istrinya bisa melihat sendiri hasil foto yang diambil oleh Agung. Alila melihat satu per satu foto di galeri ponsel Dimas dan matanya langsung berbinar karena hasil foto yang luar biasa indah menurutnya.
"Dim, ini indah sekali! Cahayanya, pemandangan alamnya, semuanya begitu indah.."
"Ada yang lebih indah lagi bagiku. Yaitu wanita cantik di dalam foto-foto itu. Dialah yang terindah.."
Dimas menarik tubuh Alila ke belakang sehingga mereka berdua rebah di atas tempat tidur dengan posisi tangan Dimas memeluk Alila di sampingnya.
__ADS_1
"Dim..."
Ponsel Dimas terlepas begitu saja dari tangan Alila yang tersentak kaget saat tubuh suaminya bergerak miring menghadap ke arah tubuhnya yang masih terkungkung dalam pelukan kedua tangan Dimas yang melingkari tubuhnya.
"Kamulah keindahan sesungguhnya di mataku, juga di hatiku, Al."
Satu kecupan mesra di bibir Alila membuat wanita itu menyunggingkan senyum malunya atas pujian sang suami. Dimas tak menyia-nyiakan kesempatan dan segera menyatukan bibir mereka kembali untuk waktu yang lama. Penuh cinta namun juga diikuti hasrat yang menginginkan lebih dari sekedar ciuman yang telah semakin larut dalam gairah asmara, lagi dan lagi...
.
.
.
🙏Ucapan Terima Kasih🙏
Terima kasih banyak atas dukungan dan doa dari para reader semua, akhirnya kedua novel kami, Terima Kasih Cinta Sejati dan Menanti Cinta Untukku telah lulus kontrak dan berhasil menjadi novel kontrak karya di aplikasi Noveltoon/Mangatoon.
Semoga ke depannya, kami bisa menyajikan cerita yang lebih baik lagi dalam segala hal, demi kepuasan para reader tercinta.
.
.
.
Jangan lupa untuk selalu menyemangati kami dengan Like, Komentar, Bintang 5, Vote & Favorit.
Terima kasih banyak untuk semua pembaca yang telah berkenan membaca dan menikmati novel kami.
Salam cinta dari kami.
💜Author💜
.
__ADS_1